{"id":95948,"date":"2026-04-26T20:02:44","date_gmt":"2026-04-26T13:02:44","guid":{"rendered":"https:\/\/katolikindonesia.org\/?p=95948"},"modified":"2026-04-26T20:02:44","modified_gmt":"2026-04-26T13:02:44","slug":"benarkah-paus-hanya-kecam-trump-dan-diam-terhadap-iran-dan-nigeria","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/katolikindonesia.org\/?p=95948","title":{"rendered":"Benarkah Paus Hanya Kecam Trump dan Diam terhadap Iran dan Nigeria?"},"content":{"rendered":"<p>Benarkah Paus Hanya Kecam Trump dan Diam terhadap Iran dan Nigeria?<\/p>\n<p>Banyak yang menyerbu Kanal Youtube dan akun Tiktok saya dengan berbagai komentar kasar dan kesaksian dusta. Pemicunya: saya membahas bahwa Paus Leo XIV tidak takut pemerintahan Presiden Donald Trump. Mereka makin &#8220;kepanasan&#8221; saat saya menayangkan video lain: Wakil Presiden Amerika Serikat JD Vance mendapat teguran keras!<\/p>\n<p>Tapi komentar mereka sangat miris. Mereka menyebarkan kesaksian dusta. Mereka juga mendukung kejahatan perang. Mereka mendukung Trump yang menyerang Iran bersama Israel, sekutu setia AS. Mereka mendukung Trump yang pernah memposting foto AI di akun resminya di mana Trump ditampilkan seperti Yesus Kristus!<\/p>\n<p>Umumnya mereka sesumbar berkata: Paus mengecam perang AS-Israel terhadap Iran. Tapi, kok Paus diam ketika Iran mengembangkan senjata nuklir? Mengapa Paus diam saat Iran &#8220;membantai&#8221; 42 ribu warganya dalam gelombang demonstrasi Januari 2026? Mengapa Paus diam ketika banyak korban umat Kristen di Nigeria? Mengapa Paus tidak bersuara ketika Hamas menyerang Israel, dan Israel menyerang Hamas? Mengapa Paus diam ketika Rusia menyerang Ukraina?<\/p>\n<p>Dari komentar-komentar mereka ini, jelas mereka tidak baca berita. Mereka lemah literasi. Mereka lemah pengetahuan internasional. Atau, seolah jika mereka belum baca berita apa yang telah dilakukan Paus, lalu mereka menganggap Paus tidak berbuat apa-apa.<\/p>\n<p>Video ini menanggapi komentar-komentar mereka yang penuh dusta dan hoax itu. Kita harus meluruskan tuduhan dan kesaksian dusta mereka.<\/p>\n<p>Tonton video ini hingga selesai. Saya yakin, Anda akan tercengang mendengar berbagai usaha Paus dan Gereja Katolik di berbagai negara. Misalnya saja, mobil kepausan (papamobile) disumbangkan ke Gaza, Palestina untuk membantu anak-anak korban perang Israel-Palestina. Mobil kepausan itu dijadikan Klinik Keliling yang dioperasikan Caritas Internasional Yerusalem. Caritas adalah satu badan amal Katolik yang membantu para korban akibat konflik, perang, bencana alam dan kemiskinan.<\/p>\n<p>Bahkan, Paus Fransiskus saat masih hidup, hampir setiap hari menelpon umat Katolik di Gaza. Mereka ini salah satu kelompok minoritas yang paling terdampak. Paus Fransiskus memastikan keamaan mereka, kebutuhan hidup mereka. Dan, yang jauh lebih penting: Paus menunjukkan &#8220;kehadirannya&#8221; di tengah-tengah mereka sehingga mereka hidup dalam pengharapan, merasa tidak ditinggalkan.<\/p>\n<p>Pernyataan Paus Leo XIV yang menegaskan: saya tidak takut pemerintahan Trump, adalah salah satu tindakan berani untuk tetap menyuarakan pesan Injil, pesan perdamaian dan usaha-usaha menentang perang!<\/p>\n<p>#infokatolik<br \/>\n#katekeseimankatolik<br \/>\n#hukumgerejakatolik<br \/>\n#popeleoxiv<br \/>\n#popefrancis<br \/>\n#nohoax<br \/>\n#stopwar<\/p>\n<p>Sumber Romo Postinus Gul\u00f6, OSC<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Benarkah Paus Hanya Kecam Trump dan Diam terhadap Iran dan Nigeria? Banyak yang menyerbu Kanal Youtube dan akun Tiktok saya dengan berbagai komentar kasar dan kesaksian dusta. Pemicunya: saya membahas bahwa Paus Leo XIV&#46;&#46;&#46;<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":28971,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"video","meta":{"footnotes":""},"categories":[6,27,26,28,2],"tags":[],"class_list":["post-95948","post","type-post","status-publish","format-video","has-post-thumbnail","hentry","category-berita-sekitar","category-ekonomi","category-pengembangan","category-sosial","category-tokoh","post_format-post-format-video"],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/katolikindonesia.org\/wp-content\/uploads\/2023\/02\/ki.jpg","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/95948","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=95948"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/95948\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":95949,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/95948\/revisions\/95949"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/28971"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=95948"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=95948"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=95948"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}