{"id":95911,"date":"2026-04-26T10:05:21","date_gmt":"2026-04-26T03:05:21","guid":{"rendered":"https:\/\/katolikindonesia.org\/?p=95911"},"modified":"2026-04-26T10:05:21","modified_gmt":"2026-04-26T03:05:21","slug":"minggu-26-april-2026-5","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/katolikindonesia.org\/?p=95911","title":{"rendered":"Minggu, 26 April 2026"},"content":{"rendered":"<p>Sabda Kehidupan<br \/>\nMinggu 26 April 2026<br \/>\nHari Minggu Paskah IV<br \/>\nHari Minggu Panggilan<br \/>\nYohanes 10:10b (Yoh 10:1-10)<br \/>\n\u201dAku datang, supaya mereka mempunyai hidup, dan mempunyainya dalam segala kelimpahan.\u201d<\/p>\n<p>Hidup Yang Berkelimpahan Dalam Yesus<\/p>\n<p>Hidup dalam Yesus itulah hidup yang berkelimpahan.<br \/>\nDengan indahnya Yesus menyampaikan gambaran hidup berkelimpahan di dalam Dia, dalam perumpamaan mengenai pokok anggur. Kata Yesus, \u201cAkulah pokok anggur dan kamulah ranting-rantingnya. Barangsiapa tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia, ia berbuah banyak.\u201d (Yoh 15:5).<br \/>\nRasul Paulus dalam Galatia 5:22 menyebutkan buah-buah itu yang berkelimpahan itu, sebagai buah-buah Roh. Inilah buah-buah itu, \u201ckasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri.\u201d<br \/>\nKita tahu bahwa anugerah terbesar yang Yesus berikan pada kita adalah RohNya sendiri agar Ia hidup di dalam kita dan kita hidup di dalam Dia, seperti halnya kita menyatu dengan Sang Pokok Anggur.<\/p>\n<p>Jadi, bila Yesus yang adalah sumber segala sumber rahmat ilahi, hidup dalam kita, maka mengalirlah dari dalam diri kita sumber-sumber rahmat ilahi yang melimpah dan tak berkesudahan.<br \/>\nBahagianya hidup yang melimpah dalam kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan dan penguasaan diri.<br \/>\nBukankah ini semua yang kita dambakan? Apalah artinya orang berkelimpahan materi, bahkan memiliki seluruh dunia tapi tak ada kasih, sukacita dan damai sejahtera dalam hidupnya.<\/p>\n<p>Di pihak lain, kita tahu bahwa pohon tak pernah menahan buahnya untuk dirinya sendiri. Pohon selalu merelakan buahnya untuk diambil orang.<br \/>\nDemikian juga kiranya hidup kita yang berkelimpahan dalam Tuhan adalah hidup yang memberi dan menjadi saluran berkat Tuhan.<\/p>\n<p>\u201dTrimakasih ya Yesus, kasihMu melimpah dalam hidupku, jadikanlah aku saluran kasihMu.\u201d<\/p>\n<p>Selamat Hari Minggu. Tuhanlah Gembala kita, kita tak akan berkekurangan.&#x1f64f;&#x2764;&#xfe0f;&#x1f607;<br \/>\nPs Revi Tanod Pr<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Kalender Liturgi 26 Apr 2026<br \/>\nMinggu Paskah IV<br \/>\nWarna Liturgi: Putih<br \/>\nBait Pengantar Injil: Yoh 10:14<br \/>\nBacaan Injil: Yoh 10:1-10<br \/>\n*************<\/p>\n<p>Bait Pengantar Injil<br \/>\nYoh 10:14<br \/>\nAkulah gembala yang baik, sabda Tuhan.<br \/>\nAku mengenal domba-domba-Ku,<br \/>\ndan domba-domba-Ku mengenal Aku.<\/p>\n<p>Bacaan Injil<br \/>\nYoh 10:1-10<br \/>\nAkulah pintu kepada domba-domba.<\/p>\n<p>Inilah Injil Suci menurut Yohanes:<\/p>\n<p>sekali peristiwa<br \/>\nYesus berkata kepada orang-orang Farisi,<br \/>\n&#8220;Aku berkata kepadamu:<br \/>\nSesungguhnya, siapa yang masuk ke dalam kandang domba<br \/>\ndengan tidak melalui pintu tetapi dengan memanjat tembok,<br \/>\nia adalah seorang pencuri dan seorang perampok.<br \/>\nTetapi siapa yang masuk melalui pintu, ia adalah gembala domba.<br \/>\nUntuk dia penjaga membuka pintu,<br \/>\ndan domba-domba mendengarkan suaranya;<br \/>\nia memanggil dombanya masing-masing menurut namanya,<br \/>\ndan menuntunnya ke luar.<br \/>\nJika semua domba telah dibawanya ke luar,<br \/>\nia berjalan di depan mereka,<br \/>\ndan domba-domba itu mengikuti dia,<br \/>\nkarena mereka mengenal suaranya.<br \/>\nTetapi seorang asing pasti tidak mereka ikuti,<br \/>\nmalah mereka lari dari padanya,<br \/>\nkarena suara orang-orang asing tidak mereka kenal.&#8221;<\/p>\n<p>Itulah yang dikatakan Yesus dalam perumpamaan kepada mereka,<br \/>\ntetapi mereka tidak mengerti<br \/>\napa maksudnya Ia berkata demikian kepada mereka.<\/p>\n<p>Maka kata Yesus sekali lagi,<br \/>\n&#8220;Aku berkata kepadamu,<br \/>\nsesungguhnya Akulah pintu kepada domba-domba itu.<br \/>\nSemua orang yang datang sebelum Aku,<br \/>\nadalah pencuri dan perampok,<br \/>\ndan domba-domba itu tidak mendengarkan mereka.<br \/>\nAkulah pintu;<br \/>\nbarangsiapa masuk melalui Aku, ia akan selamat;<br \/>\nia akan masuk dan keluar, dan menemukan padang rumput.<br \/>\nPencuri datang hanya untuk mencuri,<br \/>\nmembunuh dan membinasakan;<br \/>\nAku datang, supaya mereka mempunyai hidup,<br \/>\ndan mempunyainya dalam segala kelimpahan.<\/p>\n<p>Demikianlah sabda Tuhan.<br \/>\n*************<\/p>\n<p>Dalam Injil, Yesus menggambarkan perbedaan yang mencolok antara gembala yang baik dan pekerja upahan. Keduanya memiliki peran yang sama, yaitu menjaga dan merawat domba-domba. Namun, bagi pekerja upahan, peran itu hanyalah pekerjaan; itu adalah sarana untuk mencapai tujuan, tujuan itu adalah upah yang akan didapatnya sebagai imbalan. Ia mengambil peran itu untuk mendapatkan sesuatu. Dan jika apa yang diberi lebih besar daripada apa yang didapat, maka ia akan meninggalkan peran itu. Jika, pada suatu saat, peran itu menjadi terlalu menuntut, ia akan berpaling darinya.<\/p>\n<p>Namun, bagi gembala yang baik, peran itu bukan hanya pekerjaan namun itu adalah sebuah komitmen yang penuh kasih. Gembala yang baik mengambil peran itu bukan terutama untuk mendapatkan sesuatu darinya, tetapi untuk memberikan sesuatu kepadanya. Sesungguhnya, Yesus menggambarkan gembala yang baik sebagai seseorang yang siap memberikan segalanya, bahkan nyawanya sendiri. Yesus adalah gembala yang baik dalam pengertian itu. Yesus telah mendekati kita, telah menjalin hubungan dengan kita, bukan untuk mendapatkan sesuatu dari kita, tetapi untuk memberikan segalanya kepada kita.<\/p>\n<p>Allah memberikan segalanya kepada kita dengan memberikan kita Kristus sebagai gembala yang baik yang memberikan nyawa-Nya bagi kita. Santo Paulus mengungkapkannya dalam suratnya kepada orang Roma, &#8216;Allah yang tidak menahan Anak-Nya sendiri, tetapi menyerahkan Dia untuk kita semua agar Dia memberikan segalanya utk kita.\u201d<\/p>\n<p>Oleh karena itu, marilah kita mendengarkan suara gembala, mengikuti tuntunan-Nya, dan masuk melalui Dia, menemukan keselamatan, kebenaran, dan kehidupan yang berkelimpahan. Di dalam Dia, kita menemukan bukan hanya kelangsungan hidup, tetapi kehidupan yang dijalani dengan penuh semangat dan utuh.<\/p>\n<p>RP. PAUL KERANS, SVD<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Sabda Kehidupan Minggu 26 April 2026 Hari Minggu Paskah IV Hari Minggu Panggilan Yohanes 10:10b (Yoh 10:1-10) \u201dAku datang, supaya mereka mempunyai hidup, dan mempunyainya dalam segala kelimpahan.\u201d Hidup Yang Berkelimpahan Dalam Yesus Hidup&#46;&#46;&#46;<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":90462,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[1,20],"tags":[],"class_list":["post-95911","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-bacaan-harian","category-renungan-text"],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/katolikindonesia.org\/wp-content\/uploads\/2025\/12\/app-2026.png","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/95911","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=95911"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/95911\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":95912,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/95911\/revisions\/95912"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/90462"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=95911"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=95911"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=95911"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}