{"id":95648,"date":"2026-04-20T09:37:56","date_gmt":"2026-04-20T02:37:56","guid":{"rendered":"https:\/\/katolikindonesia.org\/?p=95648"},"modified":"2026-04-20T09:37:56","modified_gmt":"2026-04-20T02:37:56","slug":"senin-20-april-2026-5","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/katolikindonesia.org\/?p=95648","title":{"rendered":"Senin, 20 April 2026"},"content":{"rendered":"<p>Sabda Kehidupan<br \/>\nSenin 20 April 2026<br \/>\nYohanes 6:27 (Yoh 6:22-29)<br \/>\n\u201dBekerjalah, bukan untuk makanan yang akan dapat binasa, melainkan untuk makanan yang bertahan sampai kepada hidup yang kekal, yang akan diberikan Anak Manusia kepadamu; sebab Dialah yang disahkan oleh Bapa, Allah, dengan meterai-Nya.&#8221;<\/p>\n<p>Santapan Untuk Hidup Kekal<\/p>\n<p>Menurut Aristoteles, seorang filsuf Yunani (384 &#8211; 322 SM), di dunia ini ada 3 jenis tingkatan kehidupan. Yang pertama dinamakannya anima vegetativa. Inilah makhluk hidup yang dengan makan-minum-bernapas, bereproduksi, ia hidup. Di antaranya adalah tumbuh-tumbuhan.<br \/>\nYang ke dua, disebutnya anima sensitiva. Untuk hidup ia perlu makan-minum-bernapas sambil menggunakan inderanya (sense) yakni penglihatan, penciuman dan rasa. Inilah kehidupan binatang di bumi ini.<br \/>\nTingkatan yang ke 3, disebutnya anima intelletiva atau anima rationale. Inilah tingkatan hidup manusia yang mempunyai akal budi. Untuk hidup ia perlu makan-minum-bernapas-menggunakan panca indra dan terutama akal budi.<br \/>\nHanya saja, ketiga tingkatan kehidupan ini berakhir saat kematian datang menjemput.<\/p>\n<p>Allah yang menciptakan kita menghendaki agar supaya kita mencapai hidup kekal. Untuk itu Allah mengutus Yesus PutraNya menganugerahkan bagi kita hidup Allah sendiri agar kita dapat bersatu denganNya selamanya dalam kehidupan kekal. Hidup Allah yang dianugerahkan kepada kita dalam Yesus afalah anugerah Allah semata, yang kita terima melalui kelahiran kembali dalam pembaptisan. Ketika dibaptis kita menerima hidup ilahi atau anima divina. Inilah tingkat yang tertinggi dari semua kehidupan di dunia ini, yang tidak lain hidup Allah sendiri.<\/p>\n<p>Sebagai makhluk ilahi, makanannya berbeda berbeda dengan makhluk insani. Bukan hanya untuk raga tapi juga untuk jiwa.<br \/>\nYesus berkata bahwa \u201cmanusia hidup bukan hanya dari roti saja tetapi dari dari setiap firman yang keluar dari mulut Allah\u201d (Mat 4:4).<br \/>\nSelain itu Yesus memberikan kepada kita tubuh dan darahNya untuk menjadi santapan bagi hidup yang kekal.<\/p>\n<p>Puji syukur, Allah Bapa kita telah menjadikan kita putra putri kesayangannya dalam Yesus PutraNya, Tuhan kita dan memberi kita santapan ilahi yang sempurna, Firman yang hidup serta Tubuh dan Darah Kristus.<br \/>\nYesus adalah pokok anggur hidup kita, sumber air hidup dan roti kehidupan kita.<br \/>\nMari hidup dari santapan ilahi yang diberikan Yesus, firman dan tubuhNya sendiri. Kita juga perlu mengerjakan pekerjaan-pekerjaan iman untuk menghidupi hidup ilahi yang Tuhan berikan.<br \/>\nMari bekerja untuk mendapatkan makanan yang bertahan sampai hidup kekal.<br \/>\nKata Yesus, \u201ccarilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan padamu.\u201d (Mat 6:33).<br \/>\n_<\/p>\n<p>Selamat berkarya di pekan yang baru, semakin bertumbuh dalam iman harap dan kasih.&#x2764;&#xfe0f;<br \/>\nPs Revi Tanod Pr<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Kalender Liturgi 20 Apr 2026<br \/>\nSenin Paskah III<br \/>\nWarna Liturgi: Putih<br \/>\nBait Pengantar Injil: Mat 4:4ab<br \/>\nBacaan Injil: Yoh 6:22-29<br \/>\n***********<\/p>\n<p>Bait Pengantar Injil<br \/>\nMat 4:4ab<br \/>\nManusia hidup bukan dari roti saja,<br \/>\ntetapi dari setiap firman yang keluar dari mulut Allah.<\/p>\n<p>Bacaan Injil<br \/>\nYoh 6:22-29<br \/>\nBekerjalah, bukan untuk makanan yang akan dapat binasa,<br \/>\nmelainkan untuk makanan yang bertahan sampai kepada hidup yang kekal.<\/p>\n<p>Inilah Injil Suci menurut Yohanes:<\/p>\n<p>Setelah Yesus mempergandakan roti,<br \/>\nkeesokan harinya orang banyak,<br \/>\nyang masih tinggal di seberang danau Tiberias,<br \/>\nmelihat bahwa di situ tidak ada perahu<br \/>\nselain yang dipakai murid-murid Yesus.<br \/>\nMereka melihat juga bahwa Yesus tidak turut naik ke perahu itu<br \/>\nbersama-sama dengan murid-murid-Nya,<br \/>\ndan bahwa murid-murid-Nya saja yang berangkat.<br \/>\nTetapi sementara itu beberapa perahu lain datang dari Tiberias<br \/>\nke dekat tempat mereka makan roti,<br \/>\nsesudah Tuhan mengucapkan syukur atasnya.<\/p>\n<p>Ketika orang banyak melihat<br \/>\nbahwa Yesus tidak ada di situ dan murid-murid-Nya juga tidak,<br \/>\nmereka naik ke perahu-perahu itu lalu berangkat ke Kapernaum<br \/>\nuntuk mencari Yesus.<br \/>\nKetika orang banyak menemukan Yesus di seberang laut itu,<br \/>\nmereka berkata kepada-Nya,<br \/>\n&#8220;Rabi, bilamana Engkau tiba di sini?&#8221;<br \/>\nYesus menjawab, &#8220;Aku berkata kepadamu,<br \/>\nsesungguhnya kamu mencari Aku,<br \/>\nbukan karena kamu telah melihat tanda-tanda,<br \/>\nmelainkan karena kamu telah makan roti itu dan kamu kenyang.<br \/>\nBekerjalah, bukan untuk makanan yang akan dapat binasa,<br \/>\nmelainkan untuk makanan<br \/>\nyang bertahan sampai kepada hidup yang kekal,<br \/>\nyang akan diberikan Anak Manusia kepadamu;<br \/>\nsebab Dialah yang disahkan oleh Bapa, Allah, dengan meterai-Nya.&#8221;<\/p>\n<p>Lalu kata mereka kepada-Nya,<br \/>\n&#8220;Apakah yang harus kami perbuat,<br \/>\nsupaya kami mengerjakan pekerjaan yang dikehendaki Allah?&#8221;<br \/>\nJawab Yesus kepada mereka,<br \/>\n&#8220;Inilah pekerjaan yang dikehendaki Allah,<br \/>\nyaitu hendaklah kamu percaya<br \/>\nkepada Dia yang telah diutus Allah.&#8221;<\/p>\n<p>Demikianlah sabda Tuhan.<br \/>\n***********<\/p>\n<p>  \u210d <\/p>\n<p>Sesudah mukjizat penggandaan roti, orang banyak mencari-cari Yesus. Mereka melihat bahwa Yesus tidak naik perahu bersama murid-murid-Nya, kemudian mereka mencari Dia di tempat Ia membuat mukjizat penggandaan roti, tetapi Ia tidak ada juga di sana. Maka mereka \u201cmengejar\u201d Yesus ke Kapernaum. Ketika mereka menjumpai-Nya di Kapernaum, mereka bertanya: \u201cRabi bilamana Engkau tiba di sini?\u201d<\/p>\n<p>Terhadap pertanyaan itu Yesus menjawab: &#8220;Aku berkata kepadamu, sesungguhnya kamu mencari Aku, bukan karena kamu telah melihat tanda-tanda, melainkan karena kamu telah makan roti itu dan kamu kenyang. Bekerjalah, bukan untuk makanan yang akan dapat binasa, melainkan untuk makanan yang bertahan sampai kepada hidup yang kekal, yang akan diberikan Anak Manusia kepadamu,&#8221; (Yoh 6: 26 \u2013 27)<\/p>\n<p>Apa yang dikatakan oleh Yesus ini menyentuh hati kita, bertanya soal prioritas hidup. Apa yang anda cari? Untuk apa anda bekerja? Apakah anda bekerja keras untuk \u201cmakanan yang dapat binasa\u201d? Apakah anda mencari \u201cmakanan yang bertahan sampai kepada hidup yang kekal? Atau, \u201cYa&#8230; saya juga cari kehidupan yang kekal&#8230;. tapi tipis-tipis saja&#8230;.\u201d<\/p>\n<p>Atas pelbagai alasan, kita dapat saja terobsesi untuk mencari yang sementara saja di dunia ini. Orang banyak itu mencari Yesus karena mereka telah diberi makan sampai kenyang dan mereka sudah lapar lagi. Mereka mencari \u201cmakan\u201d secara harafiah. Yesus menegur mereka, mengarahkan mereka pada alasan yang sesungguhnya untuk mencari Dia. Alasan yang seharusnya ada untuk mencari Dia adalah karena Ia memberi \u201cmakanan yang bertahan sampai hidup yang kekal.\u201d Ia sendirilah yang akan memberikan makanan itu: Roti Hidup, diri-Nya sendiri.<\/p>\n<p>Kita juga perlu bertanya kepada diri kita masing-masing. Apa orientasi hidup saya? Apa yang saya cari? Acap kali kita berorientasi pada pemuasan hasrat, nafsu, kuasa atau harta benda, dan hal-hal fana lainnya. Kita tidak sungguh-sungguh berjuang untuk hidup yang kekal. Atau, kita berjuang untuk hidup yang kekal, tapi \u201ctipis-tipis saja\u201d! Kita menjalani hidup dengan asal-asalan dan sembrono, untuk kenikmatan jasmani saja. Masalah-masalah yang kita hadapi timbul karena kita salah orientasi. Ada banyak contoh yang dapat kita sebutkan, seperti ketidaksetiaan dengan janji pernikahan, penipuan, pertengkaran karena hal-hal yang sebenarnya sepele, penyalahgunaan narkoba, mabuk-mabukan, dll.<\/p>\n<p>Kita semua selalu diundang untuk berorientasi pada \u201cmakanan yang bertahan sampai hidup yang kekal.\u201d Kita diajak untuk memberi kualitas pada hidup kita.<\/p>\n<p>Maka, luangkan waktu untuk menjawab pertanyaan ini: \u201cApa yang saya cari dalam hidup?\u201d Luangkan waktu dan jawablah dengan jujur. Apa yang anda inginkan? Apa yang anda kejar? Apa kerinduan hati anda yang terdalam? Jika anda jujur anda akan menemukan bahwa banyak hal yang anda inginkan sebenarnya tidak diinginkan oleh Yesus untuk anda cari. Kesadaran akan hal ini merupakan langkah yang baik untuk menemukan \u201cmakanan yang sejati\u201d yang ingin Yesus berikan kepada kita. Langkah yang sungguh-sungguh, bukan \u201ctipis-tipis saja\u201d!<\/p>\n<p>Selamat beraktivitas di pekan yang baru. Carilah Yesus. Carilah yang kekal. Yang sungguh-sungguh bermakna bagi hidup anda. Cari dengan sungguh-sungguh, bukan \u201ctipis-tipis saja\u201d! \u24bf\u24c1\u24ca! &#x2764;&#xfe0f;<br \/>\n&#x2764;\ufe0e.<\/p>\n<p>RP Joni Astanto MSC<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Sabda Kehidupan Senin 20 April 2026 Yohanes 6:27 (Yoh 6:22-29) \u201dBekerjalah, bukan untuk makanan yang akan dapat binasa, melainkan untuk makanan yang bertahan sampai kepada hidup yang kekal, yang akan diberikan Anak Manusia kepadamu;&#46;&#46;&#46;<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":90462,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[1,20],"tags":[],"class_list":["post-95648","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-bacaan-harian","category-renungan-text"],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/katolikindonesia.org\/wp-content\/uploads\/2025\/12\/app-2026.png","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/95648","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=95648"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/95648\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":95649,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/95648\/revisions\/95649"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/90462"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=95648"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=95648"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=95648"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}