{"id":95349,"date":"2026-04-13T10:27:41","date_gmt":"2026-04-13T03:27:41","guid":{"rendered":"https:\/\/katolikindonesia.org\/?p=95349"},"modified":"2026-04-13T10:27:41","modified_gmt":"2026-04-13T03:27:41","slug":"senin-13-april-2026-5","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/katolikindonesia.org\/?p=95349","title":{"rendered":"Senin, 13 April 2026"},"content":{"rendered":"<p>Sabda Kehidupan<br \/>\nSenin 13 April 2026<br \/>\nYohanes 3:3 (Yoh 3:1-8)<br \/>\nYesus menjawab, kata-Nya: &#8220;Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jika seorang tidak dilahirkan kembali, ia tidak dapat melihat Kerajaan Allah.&#8221;<\/p>\n<p>Kelahiran Baru Dalam Roh Kudus<\/p>\n<p>Dalam Injil hari ini, yang diambil dari Yohanes 3:1-8, dikisahkan bahwa suatu malam Nikodemus, seorang Farisi yang terkemuka, datang kepada Yesus untuk berdiskusi denganNya.<br \/>\nYesus lalu menyampaikan kepadanya mengenai \u201ckelahiran baru dalam air dan Roh\u201d (ayat 5) sebagai syarat untuk masuk dalam Kerajaan Allah.<br \/>\nTentu saja bagi Nikodemus hal ini sulit untuk dimengerti karena manusia lahir dari rahim ibu. Bagaimana mungkin dilahirkan lagi ketika sudah besar?<\/p>\n<p>Memang kelahiran baru yang dimaksud Yesus tidak dapat dimengerti di luar terang Paskah. Kelahiran baru berarti \u201cmati dan bangkit\u201d bersama Kristus atau ambil bagian dalam misteri Paskah Kristus. Inilah proses inisiasi atau proses masuknya seorang menjadi anggota keluarga Allah melalui pembaptisan dalam air dan Roh.<\/p>\n<p>Saat dibaptis kita ikut mati bersama Kristus lalu bangkit bersama Kristus atau menerima hidup baru dalam Kristus. Hidup kita bukan lagi berdasarkan prinsip kedagingan melainkan hidup baru dalam Roh Kudus. Itulah hidup yang dituntun oleh Roh Allah sendiri. Dalam hidup baru ini kita menjadi sehati, sepikiran dan seperasaan dengan Kristus. Seperti yang dikatakan Paulus, \u201cbukan aku lagi yang hidup, tapi Kristus yang hidup dalamku.\u201d (Gal 2:20).<br \/>\nHidup dalam Roh atau dalam Kristus bukan lagi dengan mengandalkan mata jasmani melainkan dengan mata iman. Dengan kata lain kita hidup oleh iman dan dituntun oleh Roh Kudus Allah.<br \/>\nSekalipun tak kelihatan oleh mata, seperti halnya angin, namun manifestasinya nyata dalam buah-buah Roh, yaitu \u201ckasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri.\u201d (Gal 5:22).<\/p>\n<p>Mari bersyukur atas hidup baru dalam Roh Kudus yang telah dianugerahkan Kristus bagi kita saat kita dibaptis. Kita meninggalkan manusia lama kita, mengosongkan diri dan hidup kita siap dipenuhi dengan hidup Yesus.<br \/>\nAlami dan rasakanlah kasih Allah di setiap tarikan nafas hidup kita. Tak kelihatan namun nyata, betapa Allah memberi kita selalu hidup baru, hidupNya sendiri dalam Yesus yang telah bangkit dan menemani kita.<br \/>\nHasilkanlah selalu buah-buah kasih dalam hidup beriman kita, tanda bahwa kita kini menjadi saksi Paskah Kristus.<\/p>\n<p>Semangat Senin. Hiduplah secara baru, dalam tuntunan Roh kasih Tuhan.&#x2764;&#xfe0f;<br \/>\nPs Revi Tanod Pr<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Kalender Liturgi 13 Apr 2026<br \/>\nSenin Paskah II<br \/>\nPF S. Martinus I, Paus dan Martir<br \/>\nWarna Liturgi: Putih<br \/>\nBait Pengantar Injil: Kol 3:1<br \/>\nBacaan Injil: Yoh 3:1-8<br \/>\n************<\/p>\n<p>Bait Pengantar Injil<br \/>\nKol 3:1<br \/>\nKalau kamu dibangkitkan bersama dengan Kristus,<br \/>\ncarilah perkara yang di atas,<br \/>\ndi mana Kristus ada, duduk di sebelah kanan Allah.<\/p>\n<p>Bacaan Injil<br \/>\nYoh 3:1-8<br \/>\nJika seorang tidak dilahirkan kembali,<br \/>\nia tidak dapat melihat Kerajaan Allah.<\/p>\n<p>Inilah Injil Suci menurut Yohanes:<\/p>\n<p>Adalah seorang Farisi yang bernama Nikodemus;<br \/>\nia seorang pemimpin agama Yahudi.<br \/>\nIa datang kepada Yesus pada waktu malam dan berkata.<br \/>\n&#8220;Rabi, kami tahu,<br \/>\nbahwa Engkau datang sebagai guru yang diutus Allah;<br \/>\nsebab tidak ada seorang pun<br \/>\nyang dapat mengadakan tanda-tanda yang Engkau adakan itu,<br \/>\njika Allah tidak menyertainya.&#8221;<\/p>\n<p>Yesus menjawab, kata-Nya, &#8220;Aku berkata kepadamu,<br \/>\nsesungguhnya, jika seorang tidak dilahirkan kembali,<br \/>\nia tidak dapat melihat Kerajaan Allah.&#8221;<br \/>\nKata Nikodemus kepada-Nya,<br \/>\n&#8220;Bagaimanakah mungkin seorang dilahirkan kalau ia sudah tua?<br \/>\nDapatkah ia masuk kembali ke dalam rahim ibunya<br \/>\ndan dilahirkan lagi?&#8221;<br \/>\nJawab Yesus, &#8220;Aku berkata kepadamu,<br \/>\nsesungguhnya, jika seorang tidak dilahirkan dari air dan Roh,<br \/>\nia tidak dapat masuk ke dalam Kerajaan Allah.<br \/>\nApa yang dilahirkan dari daging adalah daging,<br \/>\ndan apa yang dilahirkan dari Roh adalah roh.<br \/>\nJanganlah engkau heran<br \/>\nkarena Aku berkata kepadamu: Kamu harus dilahirkan kembali.<br \/>\nAngin bertiup ke mana ia mau;<br \/>\nengkau mendengar bunyinya,<br \/>\ntetapi engkau tidak tahu darimana ia datang atau ke mana ia pergi.<br \/>\nDemikianlah halnya dengan tiap-tiap orang yang lahir dari Roh.&#8221;<\/p>\n<p>Demikianlah sabda Tuhan.<br \/>\n************<\/p>\n<p>  \u210d <\/p>\n<p>Dalam Injil hari ini, kita jumpai Nikodemus, seorang pemimpin agama Yahudi yang datang kepada Yesus dalam gelapnya malam. Menarik untuk diperhatikan bahwa Nikodemus menyapa Yesus dengan menggunakan bentuk jamak: ia berkata, \u201cKami tahu\u201d. Ia bertindak seolah-olah ia adalah juru bicara suatu komunitas atau kelompok Yahudi. Untuk keperluan narasi, nampaknya penginjil Yohanes menggambarkan karakter Nikodemus sebagai perwakilan dari orang-orang Yahudi yang terbuka terhadap keunikan Yesus, tetapi, terkungkung dalam pola pikir Farisi tradisional yang sudah akrab dan nyaman bagi mereka, tidak mampu atau tidak mau beralih kepada iman yang sepenuh hati kepada-Nya.<\/p>\n<p>Nikodemus juga mewakili kita semua yang terkurung dalam rasa aman dan didukung oleh tradisi serta praktik atau kebiasaan yang tak dipertanyakan, dan karenanya kita tidak mampu atau tidak mau menerima keunikan panggilan Yesus untuk dilahirkan sebagai anak-anak Allah dalam persaudaraan semua orang.<\/p>\n<p>Kita mungkin pernah mendengarkan renungan tentang perikope ini yang mengatakan bahwa Nikodemus datang kepada Yesus pada malam hari karena takut diperhatikan oleh sesama orang Yahudi. Bukan tidak mungkin bahwa Yohanes memiliki pesan yang lebih dalam bagi pembacanya daripada yang tertulis dalam teks. Yohanes tidak sekadar menulis kronik kehidupan Yesus, melainkan hendak menyampaikan wawasannya tentang hidup dalam iman.<\/p>\n<p>Nikodemus datang dalam kegelapan malam \u2014 dalam kungkungan kegelapan tradisi dan pola pikirnya. Percakapannya dengan Yesus adalah langkah pertama perjalanannya menuju terang Kristus. Nikodemus adalah perwakilan dari setiap orang Israel yang jujur yang mencari kebenaran. Kegelapan malam menandakan kondisi seseorang yang meraba-raba dalam kegelapan namun berkehendak kuat untuk menemukan terang. Ia adalah pengamat setia Hukum Taurat, namun, seperti pemuda kaya yang mendekati Yesus dalam Injil Matius, ia menyadari bahwa ia kekurangan sesuatu untuk mewarisi hidup kekal. Yesus mengundangnya untuk \u201clahir dari atas\u201d, namun ia salah menafsirkannya.<\/p>\n<p>Dapatkah anda melihat, dalam hal apa saja kita tahu bahwa Tuhan memanggil anda untuk hidup yang baru, namun tradisi dan praktik anda menghalangi untuk melangkah ke sana? Dapatkah anda mengidentifikasi kegelapan malam pola pikir apa saja yang menghambat untuk melangkah menuju kebebasan cahaya Kristus? Kegelapan malam \u2013 kebiasaan, kelekatan, ikatan dosa \u2013 apa saja yang perlu anda tinggalkan untuk menuju terang Kristus? Perjalanan Nikodemus berlanjut hingga kaki Salib. Apakah kita berani melangkah seperti Nikodemus untuk menempuh perjalanan itu?<\/p>\n<p>Tuhan, karuniai kami kehendak yang kuat dan teguh untuk meninggalkan kegelapan malam untuk menggapai terang-Mu. Amin.<\/p>\n<p>Selamat beraktivitas di pekan yang baru. &#x2764;&#xfe0f;<br \/>\n&#x2764;\ufe0e.<\/p>\n<blockquote class=\"wp-embedded-content\" data-secret=\"HLvCg9qIHr\"><p><a href=\"https:\/\/sacerdos2000.com\/berani-meninggalkan-kegelapan-menuju-terang\/\">Berani Meninggalkan Kegelapan Menuju Terang<\/a><\/p><\/blockquote>\n<p><iframe loading=\"lazy\" class=\"wp-embedded-content\" sandbox=\"allow-scripts\" security=\"restricted\" style=\"position: absolute; visibility: hidden;\" title=\"&#8220;Berani Meninggalkan Kegelapan Menuju Terang&#8221; &#8212; Sacerdos2000\" src=\"https:\/\/sacerdos2000.com\/berani-meninggalkan-kegelapan-menuju-terang\/embed\/#?secret=x5ExEJfh2U#?secret=HLvCg9qIHr\" data-secret=\"HLvCg9qIHr\" width=\"500\" height=\"282\" frameborder=\"0\" marginwidth=\"0\" marginheight=\"0\" scrolling=\"no\"><\/iframe><\/p>\n<p>RP Joni Astanto MSC<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Sabda Kehidupan Senin 13 April 2026 Yohanes 3:3 (Yoh 3:1-8) Yesus menjawab, kata-Nya: &#8220;Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jika seorang tidak dilahirkan kembali, ia tidak dapat melihat Kerajaan Allah.&#8221; Kelahiran Baru Dalam Roh Kudus Dalam&#46;&#46;&#46;<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":90462,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[1,20],"tags":[],"class_list":["post-95349","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-bacaan-harian","category-renungan-text"],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/katolikindonesia.org\/wp-content\/uploads\/2025\/12\/app-2026.png","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/95349","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=95349"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/95349\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":95350,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/95349\/revisions\/95350"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/90462"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=95349"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=95349"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=95349"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}