{"id":95279,"date":"2026-04-11T21:23:25","date_gmt":"2026-04-11T14:23:25","guid":{"rendered":"https:\/\/katolikindonesia.org\/?p=95279"},"modified":"2026-04-11T21:23:25","modified_gmt":"2026-04-11T14:23:25","slug":"mengapa-kursus-persiapan-perkawinan-sangat-penting","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/katolikindonesia.org\/?p=95279","title":{"rendered":"Mengapa Kursus Persiapan Perkawinan Sangat Penting?"},"content":{"rendered":"<p>Mengapa Kursus Persiapan Perkawinan Sangat Penting?<\/p>\n<p>Ada yang bertanya: Romo, mengapa Sakramen Perkawinan dan Sakramen Tahbisan disebut Sakramen pelayanan persekutuan dan perutusan?<\/p>\n<p>Jika kedua sakramen itu disatukan dalam satu kelompok, berarti seharusnya persiapan orang-orang yang memasuki Sakramen ini mesti dilakukan dengan memadai.<\/p>\n<p>Masa persiapan seseorang ditahbiskan menjadi imam cukup panjang. Pendidikan seorang frater minimal 9 tahun baru ditahbiskan menjadi imam. Jika dihitung sejak Seminari Menengah, maka sekitar 12-13 tahun baru ditahbiskan menjadi imam.<\/p>\n<p>Namun, herannya, persiapan calon pasutri memasuki perkawinan sangat singkat; hanya mengikuti KPP yang super singkat. Tidak sampai setahun! Bahkan ada yang hanya dalam hitungan minggu. Apa tanggapan Romo Postinus terkait hal ini?<\/p>\n<p>Simak tanggapan saya dalam video katekese ini. Tonton hingga selesai.<\/p>\n<p>#katekeseimankatolik<br \/>\n#infokatolik<br \/>\n#hukumgerejakatolik<br \/>\n#perkawinankatolik<br \/>\n#hukumperkawinan<\/p>\n<p>Sumber Romo Postinus Gul\u00f6, OSC<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Mengapa Kursus Persiapan Perkawinan Sangat Penting? Ada yang bertanya: Romo, mengapa Sakramen Perkawinan dan Sakramen Tahbisan disebut Sakramen pelayanan persekutuan dan perutusan? Jika kedua sakramen itu disatukan dalam satu kelompok, berarti seharusnya persiapan orang-orang&#46;&#46;&#46;<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":28971,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"video","meta":{"footnotes":""},"categories":[27,5,26,28,2],"tags":[],"class_list":["post-95279","post","type-post","status-publish","format-video","has-post-thumbnail","hentry","category-ekonomi","category-kateketik","category-pengembangan","category-sosial","category-tokoh","post_format-post-format-video"],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/katolikindonesia.org\/wp-content\/uploads\/2023\/02\/ki.jpg","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/95279","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=95279"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/95279\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":95280,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/95279\/revisions\/95280"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/28971"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=95279"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=95279"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=95279"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}