{"id":9492,"date":"2016-09-01T17:10:29","date_gmt":"2016-09-01T10:10:29","guid":{"rendered":"http:\/\/katolikindonesia.org\/?p=9492"},"modified":"2016-09-09T09:28:52","modified_gmt":"2016-09-09T02:28:52","slug":"jumat-2-september-2016","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/katolikindonesia.org\/?p=9492","title":{"rendered":"Jumat, 2 September 2016"},"content":{"rendered":"<div class=\"idx_kal_perayaan\">Hari Biasa<\/div>\n<div class=\"idx_kal_perayaan\"><\/div>\n<div class=\"idx_kal_alkitab\">\n<div><a href=\"http:\/\/imankatolik.or.id\/alkitabq.php?q=1Kor4:1-5;\" target=\"_blank\">1Kor. 4:1-5<\/a>; <a href=\"http:\/\/imankatolik.or.id\/alkitabq.php?q=Mzm37:3-4;Mzm37:5-6;Mzm37:27-28;Mzm37:39-40;\" target=\"_blank\">Mzm. 37:3-4,5-6,27-28,39-40<\/a>; <a href=\"http:\/\/imankatolik.or.id\/alkitabq.php?q=Luk5:33-39;\" target=\"_blank\">Luk. 5:33-39<\/a>.<br \/>\nBcO <a href=\"http:\/\/imankatolik.or.id\/alkitabq.php?q=2Tim2:22;\" target=\"_blank\">2Tim. 2:22<\/a> &#8211; <a href=\"http:\/\/imankatolik.or.id\/alkitabq.php?q=2Tim3:17;\" target=\"_blank\">3:17<\/a><\/div>\n<div><\/div>\n<\/div>\n<div class=\"idx_kal_pakaian\">\n<div>warna liturgi Hijau<\/div>\n<\/div>\n<div><iframe loading=\"lazy\" src=\"http:\/\/katolikindonesia.org\/?powerpress_pinw=9492-podcast&amp;powerpress_player=default\" width=\"320\" height=\"50\" frameborder=\"0\" scrolling=\"no\"><\/iframe><\/div>\n<div>\n<p class=\"style141\" align=\"justify\">Martir \u2013 martir dari Paris 1792<\/p>\n<p class=\"style138\" align=\"justify\">Tatkala Revolusi Prancis memuncak, semua rohaniwan dipaksa mengangkat sumpah setia kepada hukum negara yang bertentangan dengan keyakinan agama dan suara hati mereka. Banyak diantara mereka yang tidak mau bersumpah meskipun diancam dengan berbagai macam cara. Lebih dari 200 rohaniwan dan awam di tahan di Paris dan sebagian besar dibunuh pada bulan September 1792 oleh gerombolan penjahat dengan persetujuan pengadilan revolusi. 191 korban pembunuhan massal itu dinyatakan kudus, antara lain Uskup Agung Jean Marie du Lau, dua Uskup bersaudara Francois \u2013 Joseph dan Pierre \u2013 Louis La Rochefoucauld, 129 imam praja, 23 bekas imam Jesuit (diantaranya Joseph Bonnaud), 31 biarawan dan 5 orang awam.<\/p>\n<p class=\"style141\" align=\"justify\">Martir \u2013 martir Korea<\/p>\n<p class=\"style138\" align=\"justify\">Gereja Korea mempunyai sejarah awal yang khas. Agama Katolik masuk ke bumi Korea bukan oleh para misionaris asing, tetapi oleh kaum Korea sendiri. Pada zaman dahulu, para Raja Korea harus membayar upeti ke Peking. Di Peking, para utusan itu berkenalan dengan imam \u2013 imam misionaris, antara lain Mateo Ricci. Bagi mereka, agama yang disebarkan oleh misionaris asing itu tidak jauh berbeda dengan ajaran leluhur mereka. Maka mereka tertarik untuk mempelajari agama itu seterusnya. Mereka membawa beberapa buku pelajaran agama untuk dibaca. Tertarik pada ajaran agama baru itu, mereka mulai menyebarkannya diantara penduduk sekitar. Mulailah tumbuh benih iman Kristiani di tanah Korea.<\/p>\n<p class=\"style138\" align=\"justify\">Benih iman itu terus berkembang hingga menghasilkan suatu jumlah umat yang relatif banyak dalam waktu singkat beserta imam pribuminya sendiri. Semakin jelas bahwa agama baru itu berhasil menarik banyak penduduk Korea. Menyaksikan perkembangan pesat agama baru itu, Raja Korea mulai melancarkan aksi penganiayaan terhadap para penganutnya. Dalam kurun waktu 1839 \u2013 1846, para imam pribumi dan misionaris asing bersama 8000 orang beriman dianiaya dan dibunuh. Tetapi warta injil tetap disebarluaskan ke seluruh negeri itu. Di antara mereka, 78 dinyatakan kudus pada tahun 1925. Mereka itu antara lain, Laurensius Yosef Maria Imbert (1797 \u2013 1839), Peter Maubant, Yakobus Chustan dan imam pribumi Korea yang pertama Andreas Kim Tae Gon bersama dengan puluhan guru agama, pria dan wanita awam serta orang \u2013 orang muda. Penganiayaan itu semakin menjadikan umat bertambah kokoh imannya. Setelah Rusia menduduki Korea Utara (1945), banyak orang beriman, imam pribumi dan misionaris disekap dalam penjara dan dibunuh oleh kaum komunis.<\/p>\n<p class=\"style138\" align=\"justify\">Sumber<br \/>\nhttp:\/\/imankatolik.or.id\/kalender\/2Sep.html<br \/>\nhttp:\/\/dailyfreshjuice.net\/wp-content\/uploads\/2016\/09\/FJ2016-09-02-ANGGUR-BARU-REYNOLD-VINCENT.mp3<\/p>\n<\/div>\n<div class=\"powerpress_player\" id=\"powerpress_player_11\"><audio class=\"wp-audio-shortcode\" id=\"audio-9492-1\" preload=\"none\" style=\"width: 100%;\" controls=\"controls\"><source type=\"audio\/mpeg\" src=\"http:\/\/dailyfreshjuice.net\/wp-content\/uploads\/2016\/09\/FJ2016-09-02-ANGGUR-BARU-REYNOLD-VINCENT.mp3?_=1\" \/><a href=\"http:\/\/dailyfreshjuice.net\/wp-content\/uploads\/2016\/09\/FJ2016-09-02-ANGGUR-BARU-REYNOLD-VINCENT.mp3\">http:\/\/dailyfreshjuice.net\/wp-content\/uploads\/2016\/09\/FJ2016-09-02-ANGGUR-BARU-REYNOLD-VINCENT.mp3<\/a><\/audio><\/div><p class=\"powerpress_links powerpress_links_mp3\" style=\"margin-bottom: 1px !important;\">Podcast: <a href=\"http:\/\/dailyfreshjuice.net\/wp-content\/uploads\/2016\/09\/FJ2016-09-02-ANGGUR-BARU-REYNOLD-VINCENT.mp3\" class=\"powerpress_link_pinw\" target=\"_blank\" title=\"Play in new window\" onclick=\"return powerpress_pinw('https:\/\/katolikindonesia.org\/?powerpress_pinw=9492-podcast');\" rel=\"nofollow\">Play in new window<\/a> | <a href=\"http:\/\/dailyfreshjuice.net\/wp-content\/uploads\/2016\/09\/FJ2016-09-02-ANGGUR-BARU-REYNOLD-VINCENT.mp3\" class=\"powerpress_link_d\" title=\"Download\" rel=\"nofollow\" download=\"FJ2016-09-02-ANGGUR-BARU-REYNOLD-VINCENT.mp3\">Download<\/a><\/p><!--powerpress_player-->","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Hari Biasa 1Kor. 4:1-5; Mzm. 37:3-4,5-6,27-28,39-40; Luk. 5:33-39. BcO 2Tim. 2:22 &#8211; 3:17 warna liturgi Hijau Martir \u2013 martir dari Paris 1792 Tatkala Revolusi Prancis memuncak, semua rohaniwan dipaksa mengangkat sumpah setia kepada hukum&#46;&#46;&#46;<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":7613,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"audio","meta":{"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[],"class_list":["post-9492","post","type-post","status-publish","format-audio","has-post-thumbnail","hentry","category-bacaan-harian","post_format-post-format-audio"],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/katolikindonesia.org\/wp-content\/uploads\/2016\/02\/Kerahiman-Allah.jpg","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/9492","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=9492"}],"version-history":[{"count":3,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/9492\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":9554,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/9492\/revisions\/9554"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/7613"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=9492"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=9492"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=9492"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}