{"id":94702,"date":"2026-04-01T09:36:10","date_gmt":"2026-04-01T02:36:10","guid":{"rendered":"https:\/\/katolikindonesia.org\/?p=94702"},"modified":"2026-04-01T09:36:10","modified_gmt":"2026-04-01T02:36:10","slug":"rabu-01-april-2026-5","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/katolikindonesia.org\/?p=94702","title":{"rendered":"Rabu, 01 April 2026"},"content":{"rendered":"<p>Sabda Kehidupan<br \/>\nRabu 01 April 2026<br \/>\nHari Rabu Dalam Pekan Suci<br \/>\nMatius 26:14-15 (Mat 26:14-25)<br \/>\nKemudian pergilah seorang dari kedua belas murid itu, yang bernama Yudas Iskariot, kepada imam-imam kepala. Ia berkata: &#8220;Apa yang hendak kamu berikan kepadaku, supaya aku menyerahkan Dia kepada kamu?&#8221; Mereka membayar tiga puluh uang perak kepadanya.<\/p>\n<p>Figur Yudas Akan Selalu Ada. Janganlah Menjadi Seperti Dia<\/p>\n<p>Kita tentu tak habis pikir, bagaimana mungkin sebagai seorang sahabat Yesus yang telah hidup bersama sekian tahun dan telah mengalami kebaikan serta kasih Yesus, diberi kepercayaan memegang kas, Yudas Iskariot begitu tega menjual Yesus seharga 30 keping perak.<br \/>\nDalam Kitab Keluaran 21:32, 30 syikal perak adalah harga seorang budak. Jadi oleh Yudas, Yesus disamakan dengan seorang budak belian. Betapa tak bernilainya Yesus di mata Yudas! Uang telah membutakan matanya hingga tega menjual sahabat sendiri.<br \/>\nBenarlah kata Paulus dalam 1 Tim 6:10, \u201cKarena akar segala kejahatan ialah cinta uang. Sebab oleh memburu uanglah beberapa orang telah menyimpang dari iman dan menyiksa dirinya dengan berbagai-bagai duka.\u201d<\/p>\n<p>Yudas menjadi simbol ketamakan serta ketidakpuasan seseorang karena harapannya tak terpenuhi. Ia adalah seorang yang memperalat orang lain untuk mengejar ambisinya sendiri. Orang yang hanya mengejar kepentingannya sendiri, tak peduli temannya mati oleh pengkhianatannya.<br \/>\nFigur Yudas akan ada sepanjang zaman. Karena itu ia menjadi pengingat bagi kita untuk tidak menjadi orang seperti Yudas. Ia adalah figur sahabat yang semu dan penuh kepalsuan.<br \/>\nYesus tidak menghukum Yudas, tapi ia sendiri memasukkan dirinya dalam hukuman abadi dengan membunuh dirinya sendiri.<\/p>\n<p>Mari terus memperdalam cinta kita akan Yesus di pekan sengsara ini. Jadilah sahabat Yesus yang setia, sebagaimana Ia selalu setia mencintai kita.<br \/>\nWolter Robert Mongisidi, pahlawan nasional asal Malalayang Bantik &#8211; Manado, saat akan dieksekusi mati oleh Belanda tahun 1949, menulis di secarik kertas yang disisipkannya di Alkitab, \u201dSetia sampai akhir dalam keyakinan.\u201d Tetaplah setia, sebagai pengikut Yesus.<br \/>\nYesus adalah Tuhan sekaligus juga Sahabat kita yang paling setia.<\/p>\n<p>Selamat mengalami kasih setia Tuhan di hari-hari suci ini, di hari pertama bulan April. Syalom !&#x1f64f;&#x2764;&#xfe0f;&#x1f607;<br \/>\nPs Revi Tanod Pr<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Kalender Liturgi 01 Apr 2026<br \/>\nRabu Pekan Suci<br \/>\nWarna Liturgi: Ungu<br \/>\nBacaan Injil: Mat 26:14-25<br \/>\n************<\/p>\n<p>Bacaan Injil<br \/>\nMat 26:14-25<br \/>\nAnak Manusia memang akan pergi<br \/>\nsesuai dengan apa yang tertulis tentang Dia,<br \/>\ntetapi celakalah orang yang olehnya Anak Manusia itu diserahkan!<\/p>\n<p>Inilah Injil Suci menurut Matius:<\/p>\n<p>Sekali peristiwa<br \/>\npergilah seorang dari kedua belas murid itu,<br \/>\nyang bernama Yudas Iskariot,<br \/>\nkepada imam-imam kepala.<br \/>\nIa berkata, &#8220;Apa yang hendak kamu berikan kepadaku,<br \/>\nsupaya aku menyerahkan Dia kepada kamu?&#8221;<br \/>\nMereka membayar tiga puluh uang perak kepadanya.<br \/>\nDan mulai saat itu Yudas mencari kesempatan yang baik<br \/>\nuntuk menyerahkan Yesus.<\/p>\n<p>Pada hari pertama dari hari raya Roti Tidak Beragi<br \/>\ndatanglah murid-murid Yesus kepada-Nya dan berkata,<br \/>\n&#8220;Di mana Engkau kehendaki<br \/>\nkami mempersiapkan perjamuan Paskah bagi-Mu?&#8221;<br \/>\nJawab Yesus, &#8220;Pergilah ke kota, kepada si Anu,<br \/>\ndan katakan kepadanya: Beginilah pesan Guru:<br \/>\nWaktu-Ku hampir tiba;<br \/>\ndi dalam rumahmulah Aku mau merayakan Paskah<br \/>\nbersama-sama dengan murid-murid-Ku.&#8221;<br \/>\nLalu murid-murid melakukan<br \/>\nseperti yang ditugaskan Yesus kepada mereka,<br \/>\ndan mempersiapkan Paskah.<\/p>\n<p>Setelah hari malam,<br \/>\nYesus duduk makan bersama-sama dengan kedua belas murid itu.<br \/>\nDan ketika mereka sedang makan, Ia berkata,<br \/>\n&#8220;Aku berkata kepadamu, sesungguhnya seorang di antara kamu akan menyerahkan Aku.&#8221;<br \/>\nDan dengan hati yang sangat sedih<br \/>\nberkatalah mereka seorang demi seorang kepada-Nya,<br \/>\n&#8220;Bukan aku, ya Tuhan?&#8221;<br \/>\nYesus menjawab,<br \/>\n&#8220;Dia yang bersama-sama dengan Aku mencelupkan tangannya ke dalam pinggan ini,<br \/>\ndialah yang akan menyerahkan Aku.<br \/>\nAnak Manusia memang akan pergi<br \/>\nsesuai dengan yang ada tertulis tentang Dia,<br \/>\ntetapi celakalah orang<br \/>\nyang olehnya Anak Manusia itu diserahkan!<br \/>\nAdalah lebih baik bagi orang itu<br \/>\nsekiranya ia tidak dilahirkan.&#8221;<br \/>\nYudas, yang hendak menyerahkan Yesus itu menyahut,<br \/>\n&#8220;Bukan aku, ya Rabi?&#8221;<br \/>\nKata Yesus kepadanya, &#8220;Engkau telah mengatakannya.&#8221;<\/p>\n<p>Demikianlah sabda Tuhan.<br \/>\n*************<\/p>\n<p>Dalam Injil hari ini tentang salah satu momen paling memilukan dalam kisah Yesus adalah pengkhianatan oleh salah satu murid-Nya sendiri. Yudas Iskariot, seorang murid yang berjalan bersama Yesus, yang mendengarkan ajaran-Nya, yg melihat mukjizat-Nya, dan yg makan bersama-Nya, memilih untuk mengkhianati-Nya demi tiga puluh keping perak. Bagaimana mungkin seseorang yang begitu dekat dengan Yesus berpaling dari-Nya?<br \/>\nNamun di tengah gelapnya peristiwa ini, kita menemukan pesan yang lebih dalam yaitu tentang tujuan, cinta, dan penebusan.<\/p>\n<p>Pada Perjamuan Terakhir, Yesus secara terbuka berkata, \u201cSesungguhnya Aku berkata kepadamu, salah seorang di antara kamu akan mengkhianati Aku.\u201d Para murid terkejut dan berkata \u201cTentu bukan aku, Tuhan?\u201d Tetapi Yesus tidak terkejut dan Dia tahu apa yang telah dilakukan Yudas. Dia tahu apa yang akan terjadi. Namun demikian, Dia masih duduk bersama Yudas. Dia makan bersamanya. Dia masih berbicara kepadanya dengan lembut. Yesus tidak marah atau menolaknya. Dia membiarkan momen itu terjadi karena Dia tahu bahwa Rencana Allah sdg berjalan.<\/p>\n<p>Momen ini menunjukkan sebuah kebenaran mendasar bahwa tujuan Tuhan tidak pernah digagalkan oleh kegagalan manusia. Pengkhianatan Yudas tidak merusak rencana Tuhan; bahkan, itu adalah bagian dari rencana-Nya. Meskipun Yudas bertindak karena keserakahan dan niat yang salah arah namun Tuhan tetap memegang kendali. Salib akan datang dan tidak akan terhentikan. Inilah yg akan Tuhan gunakan untuk kebaikan terbesar yang pernah dikenal dunia yaitu keselamatan kita manusia.<\/p>\n<p>Jadi, Injil hari ini mengingatkan kita akan tiga hal:<br \/>\n1. Rencana Allah tidak dapat dihentikan, bahkan oleh pengkhianatan.<br \/>\n2. Yesus memahami rasa sakit karena disakiti oleh orang terdekat.<br \/>\n3. Selalu ada jalan kembali kepada Yesus bagi mereka yang bertobat.<\/p>\n<p>Kita mungkin sedang melewati masa-masa penuh kesedihan atau penyesalan. Kita mungkin merasa telah mengecewakan Yesus. Tetapi sebenarnya Dia masih mengundang kita ke meja perjamuan. Dia masih menawarkan kasih-Nya.<br \/>\nPada akhirnya, kisah Yudas tidak menghentikan kisah Tuhan. Begitu jg kisah kita masing\u00b2 tdk menghentikan kasihNya kpd kita.<\/p>\n<p>RP. PAUL KERANS, SVD<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Sabda Kehidupan Rabu 01 April 2026 Hari Rabu Dalam Pekan Suci Matius 26:14-15 (Mat 26:14-25) Kemudian pergilah seorang dari kedua belas murid itu, yang bernama Yudas Iskariot, kepada imam-imam kepala. Ia berkata: &#8220;Apa yang&#46;&#46;&#46;<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":90462,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[1,20],"tags":[],"class_list":["post-94702","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-bacaan-harian","category-renungan-text"],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/katolikindonesia.org\/wp-content\/uploads\/2025\/12\/app-2026.png","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/94702","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=94702"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/94702\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":94703,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/94702\/revisions\/94703"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/90462"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=94702"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=94702"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=94702"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}