{"id":94384,"date":"2026-03-27T10:12:21","date_gmt":"2026-03-27T03:12:21","guid":{"rendered":"https:\/\/katolikindonesia.org\/?p=94384"},"modified":"2026-03-27T10:12:21","modified_gmt":"2026-03-27T03:12:21","slug":"jumat-27-maret-2026-5","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/katolikindonesia.org\/?p=94384","title":{"rendered":"Jumat, 27 Maret 2026"},"content":{"rendered":"<p>Sabda Kehidupan<br \/>\nJumat 27 Maret 2026<br \/>\nYohanes 10:31-32 (Yoh 10:31-42)<br \/>\nSekali lagi orang-orang Yahudi mengambil batu untuk melempari Yesus. Kata Yesus kepada mereka: &#8220;Banyak pekerjaan baik yang berasal dari Bapa-Ku yang Kuperlihatkan kepadamu; pekerjaan manakah di antaranya yang menyebabkan kamu mau melempari Aku?&#8221;<\/p>\n<p>Dibenci Karena Berbuat Baik?<\/p>\n<p>Bukannya memberikan apresiasi atas semua mujizat dan karya yang agung yang diperbuat Yesus, orang Yahudi malah ingin membunuhNya dengan cara melemparinya dengan batu.<br \/>\nMereka merasa benci dan dendam karena Yesus telah mengganggu kepentingan mereka, menelanjangi kebusukan hati dan pikiran mereka.<br \/>\nDosa telah sedemikian berat menguasai manusia sehingga mereka menjadi buta terhadap semua kebaikan yang diperbuat Yesus.<\/p>\n<p>Hal yang sama terus terjadi sepanjang sejarah umat manusia. Para pejuang kebenaran, para pelaku kebaikan dan kebajikan, justru dibenci dan dimusuhi.<br \/>\nSedemikian besar kebencian itu sehingga menghendaki kematian orang-orang yang dibenci.<br \/>\nKalau dahulu orang masih menggunakan batu, dan secara manual melontarkan kata-kata kebencian, sekarang bahkan sudah dengan rudal dan ujaran kebencian yang massif dan bombastis menggunakan media sosial.<\/p>\n<p>Derita dan sengsara Yesus yang kita peringati di hari-hari sengsara ini, kiranya mengingatkan kita, betapa dosa telah membutakan mata orang hingga tidak mampu melihat kebaikan dalam diri orang lain.<br \/>\nOrang saling menghakimi bukan karena ingin mencari kebenaran tapi untuk membenarkan diri dan menyalahkan yang lain yang berbeda dengannya, terlepas entah yang dibuat orang itu baik atau buruk.<\/p>\n<p>Marilah kita sujud dan berdoa,<br \/>\n\u201dYa Yesus terangilah hati dan pikiran kami, agar mampu melihat dan mengakui apa yang baik dan benar dalam diri orang lain. Singkirkanlah batu penghalang yang membuat kami tidak dapat melihat hadirMu dalam diri sesama. Anugerahkanlah kami semangat kerendahan hati untuk menerima perbedaan dan tidak saling membenci. Mampukan kami untuk mengampuni sebagaimana Engkau telah mengampuni kami.<br \/>\nHentikanlah permusuhan dan perang antar bangsa. Jadikanlah kami semua pembawa damai bagi dunia ini. Amin.\u201d<\/p>\n<p>Bersama Yesus, mari menjadi pembawa damai dan pengampunan. Jangan pernah lelah berbuat baik.&#x2764;&#xfe0f;<br \/>\nPs Revi Tanod Pr<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Kalender Liturgi 27 Mar 2026<br \/>\nJumat Prapaskah V<br \/>\nWarna Liturgi: Ungu<br \/>\nBait Pengantar Injil: Yoh 6:64b.69b<br \/>\nBacaan Injil: Yoh 10:31-42<br \/>\n***********<\/p>\n<p>Bait Pengantar Injil<br \/>\nYoh 6:64b.69b<br \/>\nSabda-Mu, ya Tuhan, adalah roh dan kehidupan.<br \/>\nEngkau mempunyai sabda kehidupan kekal.<\/p>\n<p>Bacaan Injil<br \/>\nYoh 10:31-42<br \/>\nOrang-orang Yahudi mencoba menangkap Yesus,<br \/>\ntetapi Ia luput dari tangan mereka.<\/p>\n<p>Inilah Injil Suci menurut Yonahes:<\/p>\n<p>Sekali peristiwa<br \/>\norang-orang Yahudi mau melempari Yesus dengan batu.<br \/>\nTetapi kata Yesus kepada mereka,<br \/>\n&#8220;Banyak pekerjaan baik yang berasal dari Bapa-Ku<br \/>\nKuperlihatkan kepadamu;<br \/>\nmanakah di antaranya<br \/>\nyang menyebabkan kamu mau melempari Aku dengan batu?<br \/>\nJawab orang-orang Yahudi itu,<br \/>\n&#8220;Bukan karena suatu pekerjaan baik<br \/>\nmaka kami mau melempari Engkau,<br \/>\nmelainkan karena Engkau menghujat Allah,<br \/>\ndan karena Engkau menyamakan diri-Mu dengan Allah,<br \/>\nmeskipun Engkau hanya seorang manusia.&#8221;<\/p>\n<p>Kata Yesus kepada mereka,<br \/>\n&#8220;Tidakkah ada tertulis dalam kitab Tauratmu<br \/>\n&#8216;Aku telah berfirman: Kamu adalah allah?&#8217;<br \/>\nPadahal Kitab Suci tidak dapat dibatalkan!<br \/>\nMaka, Jikalau mereka, kepada siapa firman itu disampaikan,<br \/>\ndisebut allah,<br \/>\nmasihkah kamu berkata kepada Dia yang dikuduskan oleh Bapa<br \/>\ndan yang telah diutus-Nya ke dalam dunia<br \/>\n&#8216;Engkau menghujat Allah!&#8217;<br \/>\nKarena Aku telah berkata: Aku Anak Allah?<br \/>\nJikalau Aku tidak melakukan pekerjaan-pekerjaan Bapa-Ku,<br \/>\njanganlah kamu percaya kepada-Ku.<br \/>\nTetapi jikalau Aku melakukannya<br \/>\ndan kamu tidak mau percaya kepada-Ku,<br \/>\npercayalah akan pekerjaan-pekerjaan itu,<br \/>\nsupaya kamu boleh mengetahui dan mengerti,<br \/>\nbahwa Bapa ada dalam Aku dan Aku di dalam Bapa.&#8221;<br \/>\nSekali lagi mereka mencoba menangkap Yesus,<br \/>\ntetapi Ia luput dari tangan mereka.<br \/>\nKemudian Yesus pergi lagi ke seberang Yordan,<br \/>\nke tempat Yohanes dulu membaptis orang,<br \/>\nlalu Ia tinggal di situ.<\/p>\n<p>Banyak orang datang kepada-Nya dan berkata,<br \/>\n&#8220;Yohanes memang tidak membuat satu tanda pun,<br \/>\ntetapi semua yang pernah dikatakan Yohanes tentang orang ini adalah benar.&#8221;<br \/>\nDan banyak orang di situ percaya kepada-Nya.<\/p>\n<p>Demikianlah sabda Tuhan.<br \/>\n***********<\/p>\n<p>  \u210d <\/p>\n<p>Sejak minggu keempat masa Prapaskah, teks-teks Injil untuk liturgi harian hampir secara eksklusif diambil dari Injil Yohanes. Hari-hari ini kita mendengarkan penyingkapan misteri Allah Bapa secara bertahap, seperti yang diungkapkan oleh Yesus. Bersamaan dengan itu, kita juga telah menyaksikan penolakan yang semakin meningkat terhadap pesan Yesus oleh orang-orang Yahudi.<\/p>\n<p>Dalam Injil hari ini, Yesus sekali lagi menghadapi permusuhan. Kata-kata-Nya memancing kemarahan sehingga lawan-lawan-Nya mengambil batu, siap untuk membunuh-Nya. Mengapa? Karena Yesus menantang pemahaman mereka tentang Tuhan, mengundang mereka untuk masuk lebih dalam ke dalam misteri siapa Tuhan itu. Alih-alih menerima kebenaran, mereka justru berpegang teguh pada ketakutan mereka dan memilih kekerasan.<\/p>\n<p>Seberapa sering kita melakukan hal yang sama? Siap melempar batu terhadap mereka yang tidak sepaham, berbeda pendapat, yang mengusik kemapanan kita. Batu yang kita lemparkan mungkin bukan batu secara harfiah, tetapi berupa kata-kata, pendapat, dan penilaian kita yang kasar dan dapat melukai. Media sosial telah menjadi wilayah di mana orang dengan bebas melempar batu tanpa mengetahui hati atau pribadi yang mereka lukai. Yesus memanggil kita ke jalan yang berbeda &#8211; jalan yang penuh belas kasih, dialog, dan pengertian.<\/p>\n<p>Dia juga mengingatkan kita bahwa kita dipanggil untuk menjalani kehidupan yang ilahi. Ia mengutip Kitab Suci: \u201cKamu adalah allah,\u201d (Yoh 10: 34), bukan untuk menyangkal keilahian Allah, tetapi untuk mengingatkan kita bahwa kita diciptakan menurut gambar-Nya dan dipanggil untuk mencerminkan kekudusan-Nya. Kita membawa percikan keilahian dalam diri kita. Masa Prapaskah adalah waktu untuk memelihara kehadiran ilahi ini dengan kesaksian kita, meski kita menghadapi tantangan.<\/p>\n<p>Yesus juga menunjukkan karya-Nya sebagai kesaksian tentang siapa Dia. Tindakan-tindakan-Nya mengungkapkan kasih Bapa. Demikian juga, tindakan kita &#8211; bukan hanya kata-kata kita &#8211; harus mengungkapkan siapa kita sebagai murid, sebagai putra dan putri Bapa. Iman bukanlah label yang kita kenakan; iman adalah kehidupan yang kita jalani. Orang lain akan mengetahui bahwa kita adalah milik Kristus dari cara kita bertindak.<\/p>\n<p>Mari tetap tinggal dalam Dia, memberi kesaksian tentang dia, meski menghadapi tanangan dan penolakan.<\/p>\n<p>Tuhan, bantulah kami untuk setia menyatakan kasih, keadilan dan kebenaran-Mu, meski kami menghadapi pertentangan. Semoga tindakan konkrit kami memberikan kesaksian, bahwa kami adalah murid-murid-Mu. Amin.<\/p>\n<p>Selamat hari Jumat penuh berkat. Selamat berpantang dan berpuasa. \u24bf\u24c1\u24ca! &#x2764;&#xfe0f;<br \/>\n&#x2764;\ufe0e.<\/p>\n<blockquote class=\"wp-embedded-content\" data-secret=\"3jlGh1Askr\"><p><a href=\"https:\/\/sacerdos2000.com\/tanda-perbantahan\/\">Tanda Perbantahan<\/a><\/p><\/blockquote>\n<p><iframe loading=\"lazy\" class=\"wp-embedded-content\" sandbox=\"allow-scripts\" security=\"restricted\" style=\"position: absolute; visibility: hidden;\" title=\"&#8220;Tanda Perbantahan&#8221; &#8212; Sacerdos2000\" src=\"https:\/\/sacerdos2000.com\/tanda-perbantahan\/embed\/#?secret=lNhWoY0fzu#?secret=3jlGh1Askr\" data-secret=\"3jlGh1Askr\" width=\"500\" height=\"282\" frameborder=\"0\" marginwidth=\"0\" marginheight=\"0\" scrolling=\"no\"><\/iframe><\/p>\n<p>RP Joni Astanto MSC<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Sabda Kehidupan Jumat 27 Maret 2026 Yohanes 10:31-32 (Yoh 10:31-42) Sekali lagi orang-orang Yahudi mengambil batu untuk melempari Yesus. Kata Yesus kepada mereka: &#8220;Banyak pekerjaan baik yang berasal dari Bapa-Ku yang Kuperlihatkan kepadamu; pekerjaan&#46;&#46;&#46;<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":90462,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[1,20],"tags":[],"class_list":["post-94384","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-bacaan-harian","category-renungan-text"],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/katolikindonesia.org\/wp-content\/uploads\/2025\/12\/app-2026.png","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/94384","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=94384"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/94384\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":94385,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/94384\/revisions\/94385"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/90462"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=94384"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=94384"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=94384"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}