{"id":9436,"date":"2016-08-23T15:43:08","date_gmt":"2016-08-23T08:43:08","guid":{"rendered":"http:\/\/katolikindonesia.org\/?p=9436"},"modified":"2016-08-23T15:43:08","modified_gmt":"2016-08-23T08:43:08","slug":"rabu-24-agustus-2016","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/katolikindonesia.org\/?p=9436","title":{"rendered":"Rabu, 24 Agustus 2016"},"content":{"rendered":"<div class=\"idx_kal_perayaan\">Pesta<br \/>\nSt. Bartolomeus Rasul<\/div>\n<div class=\"idx_kal_perayaan\"><\/div>\n<div class=\"idx_kal_alkitab\">\n<div><a href=\"http:\/\/imankatolik.or.id\/alkitabq.php?q=Why21:9-14;\" target=\"_blank\">Why. 21:9b-14<\/a>; <a href=\"http:\/\/imankatolik.or.id\/alkitabq.php?q=Mzm145:10-11;Mzm145:12-13;Mzm145:17-18;\" target=\"_blank\">Mzm. 145:10-11,12-13ab,17-18<\/a>; <a href=\"http:\/\/imankatolik.or.id\/alkitabq.php?q=Yoh1:45-51;\" target=\"_blank\">Yoh. 1:45-51<\/a>.<br \/>\nBcO <a href=\"http:\/\/imankatolik.or.id\/alkitabq.php?q=Kis5:12-32;\" target=\"_blank\">Kis. 5:12-32<\/a> atau <a href=\"http:\/\/imankatolik.or.id\/alkitabq.php?q=1Kor1:17-99;1Kor2:1-5;\" target=\"_blank\">1Kor. 1:17-2:5<\/a> atau <a href=\"http:\/\/imankatolik.or.id\/alkitabq.php?q=1Kor4:1-16;\" target=\"_blank\">1Kor. 4:1-16<\/a><\/div>\n<div><\/div>\n<\/div>\n<div class=\"idx_kal_pakaian\">\n<div>warna liturgi Merah<\/div>\n<\/div>\n<div><iframe loading=\"lazy\" src=\"http:\/\/dailyfreshjuice.net\/?powerpress_pinw=6931-podcast&amp;powerpress_player=default\" width=\"320\" height=\"50\" frameborder=\"0\" scrolling=\"no\"><\/iframe><\/div>\n<div>\n<p class=\"style140\" align=\"justify\">Santo Bartolomeus, Rasul<\/p>\n<p class=\"style138\" align=\"justify\">Bartolomeus berarti \u2018Anak Tolmai\u2019. Ada semacam keragu\u2013raguan tentang nama rasul ini; apakah itu nama sesungguhnya dari rasul Bartolomeus, ataukah sekedar dipakai sebagai nama tambahan untuk menunjukkan bahwa dia adalah anak Tolmai. Rasul Yohanes dalam Injilnya tidak mengatakan apa\u2013apa tentang rasul yang disebut Bartolomeus itu. Yohanes hanya menulis tentang seseorang yang dinamakan Natanael, sahabat karib Filipus yang kemudian mengikuti Yesus (Yoh 1: 45\u201351). Atas dasar ini, banyak sejarahwan dan ahli Kitab Suci menyimpulkan bahwa kedua nama itu, Bartolomeus dan Natanael, menunjuk pada orang yang sama. Kemungkinan Bartolomeus pun adalah sahabat karib Yohanes.<\/p>\n<p class=\"style138\" align=\"justify\">Dalam perjanjian baru, nama Bartolomeus ditemukan pada ketiga Injil Sinoptik: Matius 10:3, Markus 3:18 dan Lukas 6:14, dan didalam Kisah Para Rasul 1:13. Ia bukanlah seorang nelayan seperti empat rasul lainnya: Andreas, Yohanes, Simon dan Filipus, yang berasal dari Betsaida dan dikenal sebagai nelayan tasik Genesareth. Ia seorang petani, karena berasal dari Kana, sebuah kampung yang cukup jauh dari tasik Genesareth. Lagipula nama ayahnya \u2018Tolmai\u2019 berarti \u2018petani\u2019. Dua alasan itu diperkuat lagi oleh peristiwa pertemuannya dengan Filipus di kebunnya dibawah pohon ara (Yoh 1:45\u201351).<\/p>\n<p class=\"style138\" align=\"justify\">Yohanes dalam injilnya menggambarkan Bartolomeus sebagai seorang yang jujur dan tulus, bahkan oleh Yesus dia disebut \u2018Orang Israel sejati\u2019, yang kemudian menjadi murid setiawan Yesus. Pada peristiwa penampakan Yesus kepada 7 orang rasulNya di tepi danau Tiberias, Natanael juga hadir menyaksikan peristiwa itu. Pada hari Pentekosta, oleh kekuatan Roh Kudus, Bartolomeus menjadi salah satu pendekar Gereja yang mewartakan Injil ke berbagai tempat.<\/p>\n<p class=\"style138\" align=\"justify\">Eusebius, sejarahwan Gereja dari Kaesarea (260\u2013340), dalam bukunya \u2018Historia Ecclesiastica\u2019, menceritakan bahwa Bartolomeus menjadi pewarta Injil Kristus dibelahan dunia timur. Santo Hieronimus (340\u2013420), pelanjut karya Eusebius, mengisahkan bahwa Pantaenus Aleksandria, ketika mewartakan Injil di India pada awal abad ketiga, menemukan bukti\u2013bukti kuat tentang karya misioner rasul Bartolomeu. Kepada Pantaenus, orang\u2013orang India menunjukkan satu salinan Injil Mateus yang ditulis dalam bahasa Ibrani untuk membuktikan bahwa mereka (orang\u2013orang India) telah diajar oleh Bartolomeus kira\u2013kira satu setengah abad yang lalu. Hieronimus selanjutnya menjelaskan bahwa Pantaenus kemudian membawa salinan Injil Mateus itu ke Aleksandria.<\/p>\n<p class=\"style138\" align=\"justify\">Catatan\u2013catatan Gereja lainnya tentang periode ini berbicara tentang Bartolomeus yang mewartakan Injil di Hierapolis, Asia Kecil. Di sana Bartolomeus berkarya bersama\u2013sama dengan Filipus. Sepeninggal Filipus dan pembebasannya dari penjara, Bartolomeus mewartakan Injil di provinsi Likaonia, Asia Kecil.<\/p>\n<p class=\"style138\" align=\"justify\">Bangsa Armenia pun menyebut Bartolomeus sebagai rasul mereka. Mereka mengatakan bahwa Bartolomeus\u2013lah orang yang pertama yang menobatkan mereka hingga mati sebagai martir Kristus di Albanopolis, tepi Laut Kaspia, pada masa pemerintahan Astyages, Raja Armenia. Selain berkarya diantara orang\u2013orang Armenia, Bartolomeus juga berkarya di Mesopotamia, Mosul (Kurdi, Irak), Babilonia, Kaldea, Arab dan Persia.<\/p>\n<p class=\"style140\" align=\"justify\">Santa Emilia de Vialar, Pengaku Iman<\/p>\n<p class=\"style138\" align=\"justify\">Anna Marguerite Adelaide Emilia de Vialar lahir di Gaillac, Prancis pada tahun 1797. Pada masa mudanya, Emilia belajar di Paris. Setelah menyelesaikan studinya, ia memilih berkarya diantara orang\u2013orang sakit dan miskin. Karyanya ini didukung oleh keuangan dan dorongan moril dari kakeknya Baron de Portal, seorang dokter yang mengabdi Raja Prancis, Louis XVIII dan Charles X. Sebaliknya ia mendapat tantangan yang cukup hebat dari orangtuanya. Ayahnya memaksa dia menikah dengan seorang pemuda pilihan yang disukai keluarganya. Emilia yang memilih hidup tak menikah, menjauhkan diri dari orangtuanya.<\/p>\n<p class=\"style138\" align=\"justify\">Sepeninggal kakeknya Baron de Portal, Emilia membeli sebuah rumah dengan\u00a0 uang warisan yang diterima dari kakeknya. Di rumah itu, ia mulai merintis pendirian Kongregasi Suster\u2013suster Santo Yusuf bersama 10 orang calon. Tarekat religius baru ini mengabdikan diri dibidang pewartaan orang\u2013orang sakit dan pelayanan orang miskin, pendidikan kaum muda dan karya misi. Pendirian Kongregasi ini direstui Tahkta Suci dan disahkan pada tahun 1835. Tarekat ini berkarya di Balkan, Afrika, Timur Dekat, Burma dan Australia. Emilia meninggal dunia pada tanggal 24 Agustus 1856, dan dinyatakan \u2018kudus\u2019 pada tahun 1951.<\/p>\n<p class=\"style138\" align=\"justify\">Sumber<br \/>\nhttp:\/\/imankatolik.or.id\/kalender\/24Agu.html<br \/>\nhttp:\/\/dailyfreshjuice.net\/wp-content\/uploads\/2016\/08\/FJ2016-08-24-MENGENAL-ALLAH-DR-ROBERT-REVERGER.mp3<\/p>\n<\/div>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Pesta St. Bartolomeus Rasul Why. 21:9b-14; Mzm. 145:10-11,12-13ab,17-18; Yoh. 1:45-51. BcO Kis. 5:12-32 atau 1Kor. 1:17-2:5 atau 1Kor. 4:1-16 warna liturgi Merah Santo Bartolomeus, Rasul Bartolomeus berarti \u2018Anak Tolmai\u2019. Ada semacam keragu\u2013raguan tentang nama&#46;&#46;&#46;<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":7613,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[],"class_list":["post-9436","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-bacaan-harian"],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/katolikindonesia.org\/wp-content\/uploads\/2016\/02\/Kerahiman-Allah.jpg","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/9436","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=9436"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/9436\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":9438,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/9436\/revisions\/9438"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/7613"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=9436"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=9436"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=9436"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}