{"id":94347,"date":"2026-03-26T21:39:02","date_gmt":"2026-03-26T14:39:02","guid":{"rendered":"https:\/\/katolikindonesia.org\/?p=94347"},"modified":"2026-03-26T21:39:02","modified_gmt":"2026-03-26T14:39:02","slug":"kamis-26-maret-2026","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/katolikindonesia.org\/?p=94347","title":{"rendered":"Kamis, 26 Maret 2026"},"content":{"rendered":"<p>Sabda Kehidupan<br \/>\nKamis 26 Maret 2026<br \/>\nYohanes 8:58-59 (Yoh 8:51-59)<br \/>\nKata Yesus kepada mereka: &#8220;Aku berkata kepadamu, sesungguhnya sebelum Abraham jadi, Aku telah ada.&#8221; Lalu mereka mengambil batu untuk melempari Dia; tetapi Yesus menghilang dan meninggalkan Bait Allah.<\/p>\n<p>Yesus Allah Yang Kekal<\/p>\n<p>Kita yang hidup dalam dunia yang ditentukan oleh dimensi ruang dan waktu tentu saja sulit mengerti bahasa Tuhan yang melampaui ruang dan waktu.<br \/>\nAbraham telah hidup ribuan tahun sebelumnya, dan sudah mati serta tidak ada lagi di dunia ini.<br \/>\nBagaimana mungkin Yesus yang usianya 30-33 tahun sudah ada sebelum Abraham ada? Bukankah tidak masuk akal?<br \/>\nJangan heran bahwa orang-orang Yahudi menganggap Yesus kerasukan setan. Kata mereka kepada Yesus, \u201cSekarang kami tahu, bahwa Engkau kerasukan setan. Sebab Abraham telah mati dan demikian juga nabi-nabi, namun Engkau berkata: Barangsiapa menuruti firman-Ku, ia tidak akan mengalami maut sampai selama-lamanya.\u201d<\/p>\n<p>Sabda Yesus hanya bisa kita pahami dengan iman, yang dianugerahkan Allah bagi kita. Kehidupan kekal adalah kehidupan Allah yang menciptakan langit dan bumi hanya dengan bersabda.<br \/>\nOleh kasih karunia Allah, Sang Sabda Kekal telah menjelma menjadi manusia dan tinggal di antara kita.<br \/>\nBerbahagialah kita yang percaya kepada Kristus, Anak Allah yang datang ke dunia untuk mewahyukan hidup abadi bagi orang yang percaya kepadaNya.<\/p>\n<p>Di minggu-minggu sengsara ini, kita bersyukur karena Yesus telah membuka misteri hidup kekal lewat sengsara, wafat dan kebangkitanNya.<br \/>\nMelalui jalan salibNya, Yesus menuntun kita pada jalan yang harus kita tempuh untuk ambil bagian dalam kehidupan abadi bersama Bapa di surga dan semua yang dipilih Allah ambil bagian di dalamnya.<br \/>\nMari kita jalani jalan salib kehidupan kita bersama Yesus, tetap taat dan setia, percaya dan berserah. Dia-lah Allah yang kekal yang menuntun kita untuk hidup bersamaNya selamanya.<\/p>\n<p>Selamat menikmati cahaya hidup ilahi di hari yang baru ini. Tuhan Yesus menyinari hati kita.&#x2764;&#xfe0f;<br \/>\nPs Revi Tanod Pr<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Kalender Liturgi 26 Mar 2026<br \/>\nKamis Prapaskah V<br \/>\nWarna Liturgi: Ungu<br \/>\nBait Pengantar Injil: Mzm 95:8ab<br \/>\nBacaan Injil: Yoh 8:51-59<br \/>\n***********<\/p>\n<p>Bait Pengantar Injil<br \/>\nMzm 95:8ab<br \/>\nJanganlah keraskan hatimu, tetapi dengarkan suara Tuhan.<\/p>\n<p>Bacaan Injil<br \/>\nYoh 8:51-59<br \/>\nAbraham bapamu bersukacita, bahwa ia akan melihat hari-Ku.<\/p>\n<p>Inilah Injil Suci menurut Yohanes:<\/p>\n<p>Sekali peristiwa Yesus berkata kepada orang-orang Yahudi,<br \/>\n&#8220;Aku Berkata kepadamu:<br \/>\nSungguh, barangsiapa menuruti firman-Ku,<br \/>\nia tidak akan mengalami maut sampai selama-lamanya.&#8221;<\/p>\n<p>Kata orang-orang Yahudi kepada Yesus,<br \/>\n&#8220;Sekarang kami tahu, bahwa Engkau kerasukan setan.<br \/>\nSebab Abraham telah mati dan demikian juga nabi-nabi,<br \/>\nnamun Engkau berkata:<br \/>\nBarangsiapa menuruti firman-Ku,<br \/>\nia tidak akan mengalami maut sampai selama-lamanya.<br \/>\nAdakah Engkau lebih besar daripada bapa kita Abraham,<br \/>\nyang telah mati!<br \/>\nNabi-nabi pun telah mati!<br \/>\nDengan siapakah Engkau samakan diri-Mu?&#8221;<\/p>\n<p>Jawab Yesus, &#8220;Jikalau Aku memuliakan diri-Ku sendiri,<br \/>\nmaka kemuliaan-Ku itu sedikit pun tidak ada artinya.<br \/>\nBapa-Kulah yang memuliakan Aku.<br \/>\nTentang Dia kamu berkata: Dia adalah Allah kami,<br \/>\npadahal kamu tidak mengenal Dia.<br \/>\nSebaliknya, Aku mengenal Dia,<br \/>\ndan jika Aku berkata: Aku tidak mengenal Dia,<br \/>\nmaka Aku adalah pendosa, sama seperti kamu.<br \/>\nTetapi Aku mengenal Dia, dan Aku menuruti firman-Nya.<br \/>\nAbraham bapamu bersukacita bahwa ia akan melihat hari-Ku;<br \/>\nia telah melihatnya dan ia bersukacita.&#8221;<\/p>\n<p>Maka kata orang-orang Yahudi itu kepada Yesus,<br \/>\n&#8220;Umur-Mu belum sampai lima puluh tahun<br \/>\ndan Engkau telah melihat Abraham?&#8221;<br \/>\nKata Yesus kepada mereka,<br \/>\n&#8220;Aku berkata kepadamu,<br \/>\nsesungguhnya sebelum Abraham jadi, Aku telah ada.&#8221;<br \/>\nLalu mereka mengambil batu untuk melempari Dia;<br \/>\ntetapi Yesus menghilang dan meninggalkan Bait Allah.<\/p>\n<p>Demikianlah sabda Tuhan.<br \/>\n***********<\/p>\n<p>  \u210d <\/p>\n<p>Demikianlah janji Yesus yang sangat menghibur. Perkataan-Nya itu memancing kemarahan di antara para pendengar-Nya, yang mempertanyakan kuasa-Nya. Namun, Yesus sedang mengungkapkan inti dari perjanjian Allah yang kekal \u2013 janji akan kehidupan.<\/p>\n<p>Mazmur hari ini pun mengingatkan: \u201cSelama-lamanya Tuhan ingat akan perjanjian-Nya.\u201d Kesetiaan Allah itu teguh. Dia memilih Abraham, memberikan janji bahwa ia akan menjadi bapa sejumlah besar bangsa, dan meneguhkan perjanjian yang akan berlangsung sepanjang masa. Abraham percaya, bahkan ketika penggenapannya tampak mustahil.<\/p>\n<p>Kehidupan Kristiani mengikuti pola yang sama. Kita telah dipilih oleh Allah, bukan karena perbuatan dan jasa kita. Baptisan kita lebih dari sekadar surat baptis! Baptisan kita adalah sebuah panggilan. Panggilan untuk hidup dalam perjanjian dengan Tuhan, untuk mengatakan \u201cya\u201d setiap hari kepada janji-Nya, dan untuk tetap setia melalui cobaan hidup. Kesetiaan inilah jalan menuju kebebasan dan sukacita sejati.<\/p>\n<p>Yesus meyakinkan kita bahwa mereka yang menaati firman-Nya tidak akan pernah mengalami maut. Tentu ini tidak berarti bahwa kita tidak akan menderita atau menghadapi kesulitan. Iman tidak menghindarkan kita dari penderitaan; iman mengubah cara kita memandang dan menghadapinya. Apa yang tadinya tampak sebagai sebuah akhir atau kehilangan dapat menjadi sebuah kesempatan untuk bertumbuh dan kepercayaan yang lebih dalam pada rencana Allah. Melalui iman, penderitaan kita menjadi batu loncatan menuju sukacita.<\/p>\n<p>\u201cAbraham bersukacita bahwa ia akan melihat hari-Ku dan ia telah melihatnya dan ia bersukacita.\u201d Ia bersukacita karena penggenapan janji Allah \u2013 keselamatan \u2013 dalam Kristus. Sukacita sejati timbul dari kesetiaan memegang janji-janji Allah, percaya pada kesetiaan-Nya, dan berjalan di jalan kasih, bahkan ketika itu sulit.<\/p>\n<p>Tuhan, berilah kami kasih karunia untuk percaya kepada firman-Mu dan juga menaatinya dalam kehidupan kami sehari-hari. Amin.<\/p>\n<p>Selamat beraktivitas. Selamanya Tuhan ingat akan perjanjian-Nya. \u24bf\u24c1\u24ca! &#x2764;&#xfe0f;<br \/>\n&#x2764;\ufe0e.<\/p>\n<blockquote class=\"wp-embedded-content\" data-secret=\"Fqi5ILffWG\"><p><a href=\"https:\/\/sacerdos2000.com\/tuhan-setia-pada-janji-nya\/\">Tuhan Setia pada Janji-Nya<\/a><\/p><\/blockquote>\n<p><iframe loading=\"lazy\" class=\"wp-embedded-content\" sandbox=\"allow-scripts\" security=\"restricted\" style=\"position: absolute; visibility: hidden;\" title=\"&#8220;Tuhan Setia pada Janji-Nya&#8221; &#8212; Sacerdos2000\" src=\"https:\/\/sacerdos2000.com\/tuhan-setia-pada-janji-nya\/embed\/#?secret=bKjKhz5IBT#?secret=Fqi5ILffWG\" data-secret=\"Fqi5ILffWG\" width=\"500\" height=\"282\" frameborder=\"0\" marginwidth=\"0\" marginheight=\"0\" scrolling=\"no\"><\/iframe><\/p>\n<p>RP Joni Astanto MSC<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Sabda Kehidupan Kamis 26 Maret 2026 Yohanes 8:58-59 (Yoh 8:51-59) Kata Yesus kepada mereka: &#8220;Aku berkata kepadamu, sesungguhnya sebelum Abraham jadi, Aku telah ada.&#8221; Lalu mereka mengambil batu untuk melempari Dia; tetapi Yesus menghilang&#46;&#46;&#46;<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":90462,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[20],"tags":[],"class_list":["post-94347","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-renungan-text"],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/katolikindonesia.org\/wp-content\/uploads\/2025\/12\/app-2026.png","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/94347","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=94347"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/94347\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":94348,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/94347\/revisions\/94348"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/90462"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=94347"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=94347"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=94347"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}