{"id":93792,"date":"2026-03-13T07:30:17","date_gmt":"2026-03-13T00:30:17","guid":{"rendered":"https:\/\/katolikindonesia.org\/?p=93792"},"modified":"2026-03-13T07:30:17","modified_gmt":"2026-03-13T00:30:17","slug":"jumat-13-maret-2026-5","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/katolikindonesia.org\/?p=93792","title":{"rendered":"Jumat, 13 Maret 2026"},"content":{"rendered":"<p>Sabda Kehidupan<br \/>\nJumat 13 Maret 2026<br \/>\nMarkus 12:29-31 (Mrk 12:28b-34)<br \/>\nJawab Yesus: &#8220;Hukum yang terutama ialah: Dengarlah, hai orang Israel, Tuhan Allah kita, Tuhan itu esa. Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu dan dengan segenap kekuatanmu. Dan hukum yang kedua ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Tidak ada hukum lain yang lebih utama dari pada kedua hukum ini.&#8221;<\/p>\n<p>Mencintai Seperti Yesus<\/p>\n<p>Sekian lama hukum utama ini tertulis dalam Kitab Taurat (Lihat Ulangan 6:5 dan Imamat 19:18). Namun umat Israel tidak sepenuh hati menjalankannya. Mereka mencintai Allah tapi hanya dengan mulut dan mengabaikan cinta kepada sesama. Karena itu Yohanes berkata, \u201cJikalau seorang berkata: &#8220;Aku mengasihi Allah,&#8221; dan ia membenci saudaranya, maka ia adalah pendusta, karena barangsiapa tidak mengasihi saudaranya yang dilihatnya, tidak mungkin mengasihi Allah, yang tidak dilihatnya.\u201d (1 Yoh 4:20).<\/p>\n<p>Yesus bukan hanya menekankan kembali pentingnya hukum utama ini, tapi Dia-lah wujud nyata hukum cinta kasih seutuhnya kepada Allah dan sesama. Yesus bukan hanya mencintai sampai terluka, melainkan sampai mati di atas kayu salib.<br \/>\nMaka saat kita ragu apakah Tuhan sungguh mencintaiku, pandanglah salib Yesus dan dengan sujud syukur berdoa,<br \/>\n\u201cTerimakasih Yesus Engkau sungguh mencintaiku. Engkau telah menebus aku dari jerat dosa, dan mengangkat aku yang lemah ini. Kuatkan aku untuk mencintaiMu lebih dari segala sesuatu. Kobarkanlah Roh Cinta KasihMu dalam diriku agar aku tak henti mencintai sesamaku, sekalipun ditolak, disakiti bahkan dikhianati. Terimakasih ya Yesus, cintaMu sungguh menguatkan aku untuk mencintai sesamaku seperti Engkau telah mencintaiku.\u201d<\/p>\n<p>Selamat hari baru, kesempatan baru mewujudkan cinta kita kepada Allah dan sesama.&#x2764;&#xfe0f;<br \/>\nPs Revi Tanod Pr<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Kalender Liturgi 13 Mar 2026<br \/>\nJumat Prapaskah III<br \/>\nWarna Liturgi: Ungu<br \/>\nBait Pengantar Injil: Mat 4:17<br \/>\nBacaan Injil: Mrk 12:28b-34<br \/>\n***********<\/p>\n<p>Bait Pengantar Injil<br \/>\nMat 4:17<br \/>\nBertobatlah, sabda Tuhan, sebab Kerajaan Surga sudah dekat.<\/p>\n<p>Bacaan Injil<br \/>\nMrk 12:28b-34<br \/>\nTuhan Allahmu itu Tuhan yang esa,<br \/>\nkasihilah Dia dengan segenap jiwamu.<\/p>\n<p>Inilah Injil Suci menurut Markus:<\/p>\n<p>Sekali peristiwa datanglah seorang ahli Taurat kepada Yesus<br \/>\ndan bertanya kepada-Nya,<br \/>\n&#8220;Perintah manakah yang paling utama?&#8221;<br \/>\nJawab Yesus, &#8220;Perintah yang paling utama ialah:<br \/>\nDengarlah, hai orang Israel,<br \/>\nTuhan Allah kita itu Tuhan yang esa.<br \/>\nKasihilah Tuhan Allahmu dengan segenap hati,<br \/>\ndengan segenap jiwa, dengan segenap akal budi,<br \/>\ndan dengan segenap kekuatanmu.<br \/>\nDan perintah yang kedua ialah:<br \/>\nKasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.<br \/>\nTidak ada perintah lain yang lebih utama<br \/>\ndaripada kedua hukum ini.&#8221;<\/p>\n<p>Berkatalah ahli Taurat itu kepada Yesus,<br \/>\n&#8220;Guru, tepat sekali apa yang Kaukatakan,<br \/>\nbahwa Dia itu esa, dan bahwa tidak ada allah lain kecuali Dia.<br \/>\nMemang mengasihi Dia dengan segenap hati,<br \/>\ndengan segenap pengertian, dan dengan segenap kekuatan,<br \/>\nserta mengasihi sesama manusia seperti diri sendiri<br \/>\njauh lebih utama dari pada semua kurban bakar dan persembahan.&#8221;<\/p>\n<p>Yesus melihat betapa bijaksana jawaban orang itu.<br \/>\nMaka Ia berkata kepadanya,<br \/>\n&#8220;Engkau tidak jauh dari Kerajaan Allah!&#8221;<br \/>\nDan tak seorang pun berani lagi menanyakan sesuatu kepada Yesus.<\/p>\n<p>Demikianlah sabda Tuhan.<br \/>\n***********<\/p>\n<p>  \u210d <\/p>\n<p>&#8220;Hukum manakah yang paling utama?&#8221; tanya seorang Ahli Taurat kepada Yesus. Para ahli Taurat telah mempunyai 613 perintah yang merupakan penjabaran dari Hukum Taurat. Jadi ahli Taurat itu bertanya: Dari 613 perintah ini, manakah yang paling utama?<\/p>\n<p>Yesus mengutip pengakuan iman bangsa Israel, yang terdapat dalam Kitab Ulangan, Bab 6. Kita sudah sangat akrab dengan ayat ini: &#8220;Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu dan dengan segenap kekuatanmu.\u201d Kemudian Ia menambahkan, \u201cKasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.\u201d Perintah untuk mengasihi dianggap sebagai rangkuman dari seluruh etika Kristen, tetapi sering kali diabaikan bagaimana Tuhan menyampaikan perintah ini. Awalan yang digunakan dalam menyampaikan perintah ini juga sangat penting: \u201cDengarlah, hai orang Israel!\u201d<\/p>\n<p>&#8220;Shema Israel!&#8221; atau &#8220;Dengarlah, hai Israel!&#8221; Yesus mengidentifikasikan perintah pertama Tuhan sebagai &#8220;Dengarlah, hai Israel&#8221; &#8211; yaitu, &#8220;Dengarlah, hai umat pilihan Allah&#8221;. Kita adalah umat pilihan Tuhan, dan kita harus mendengarkan Firman Tuhan dan mengizinkan Firman Tuhan mengubah kita. &#8220;Dengarlah, hai Israel, Adonai adalah Allah kita yang esa&#8230; jika kamu mendengarkan Dia, kamu akan berpegang pada Firman-Nya.&#8221;<\/p>\n<p>Kasih kita kepada Tuhan dan kasih kita kepada sesama berasal dari ketaatan kita kepada Firman Tuhan. Kasih kepada Allah tidak mungkin ada tanpa kasih kepada sesama kita. Bagaimana kita dapat hidup sesuai dengan perintah-perintah Yesus? Pertama, dengarkanlah Dia! Untuk mendengarkan suara Tuhan, kita harus memutuskan untuk berjalan bersama-Nya.<\/p>\n<p>Seperti yang ditanyakan oleh Yohanes dalam Suratnya, &#8220;Bagaimana mungkin aku dapat mengatakan, bahwa aku mengasihi Allah yang tidak kulihat dan tidak mengasihi sesamaku manusia yang kulihat?&#8221; (1 Yoh 4: 20). Seorang Kristen adalah orang yang mendengarkan Firman Tuhan dan juga siap sedia untuk mengasihi saudara-saudaranya.<\/p>\n<p>Tuhan, tolonglah aku untuk selalu mendengar perintah kasih-Mu dan menghidupinya dengan segenap kekuatanku, hingga menghasilkan buah-buah yang nyata. Amin.<\/p>\n<p>Selamat beraktivitas. Kasihi Tuhan, kasihi sesama. \u24bf\u24c1\u24ca! &#x2764;&#xfe0f;<\/p>\n<p>https:\/\/sacerdos2000.com\/dengarkan-dan-laksanakan\/<\/p>\n<p>RP Joni Astanto MSC<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Sabda Kehidupan Jumat 13 Maret 2026 Markus 12:29-31 (Mrk 12:28b-34) Jawab Yesus: &#8220;Hukum yang terutama ialah: Dengarlah, hai orang Israel, Tuhan Allah kita, Tuhan itu esa. Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan&#46;&#46;&#46;<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":90462,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[1,20],"tags":[],"class_list":["post-93792","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-bacaan-harian","category-renungan-text"],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/katolikindonesia.org\/wp-content\/uploads\/2025\/12\/app-2026.png","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/93792","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=93792"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/93792\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":93794,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/93792\/revisions\/93794"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/90462"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=93792"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=93792"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=93792"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}