{"id":93628,"date":"2026-03-09T17:13:14","date_gmt":"2026-03-09T10:13:14","guid":{"rendered":"https:\/\/katolikindonesia.org\/?p=93628"},"modified":"2026-03-09T17:13:14","modified_gmt":"2026-03-09T10:13:14","slug":"senin-09-maret-2026-5","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/katolikindonesia.org\/?p=93628","title":{"rendered":"Senin, 09 Maret 2026"},"content":{"rendered":"<p>Sabda Kehidupan<br \/>\nSenin 09 Maret 2026<br \/>\nLukas 4:24 (Luk 4:24-30)<br \/>\nDan kata-Nya lagi: &#8220;Aku berkata kepadamu, sesungguhnya tidak ada nabi yang dihargai di tempat asalnya.\u201d<\/p>\n<p>Menghargai Kalangan Sendiri<\/p>\n<p>Betapa sedih hati Yesus, ketika ditolak oleh orang-orang sekampungNya di Nazareth. Mereka lebih melihat latar belakang keluargaNya yang sederhana, daripada melihat semua tanda-tanda heran yang dibuat Yesus sebagai tanda bahwa janji Allah melalui para nabi telah terpenuhi dalam diriNya.<\/p>\n<p>Memang begitu sulit menerima dan menghargai apa yang datang dari kalangan sendiri. Mantan presiden Habibi merasa sedih karena tekadnya menjadikan Indonesia hebat dengan membuat pesawat terbang sendiri, ternyata tidak dihargai di negaranya sendiri. Orang lebih tertarik dengan merk luar negri daripada buatan negri sendiri.<br \/>\nLucunya cepatu Nike dibuat di Tangerang, fashion terkenal Zara diproduksi di Sukoharjo, Hugo Boss, Uniqlo dan H&amp;M dibuat di Bandung.<br \/>\nPara Insinyur pesawat yang mendesain pesawat Boeing ternyata adalah para insinyur Indonesia. Mari bangga dengan \u201cMade in Indonesia\u201d.<\/p>\n<p>Penolakan terhadap Yesus oleh keluarga sekampungNya, sahabat kenalanNya sendiri, mengingatkan kita untuk menerima dan menghargai semua anggota keluarga kita, orang-orang sederhana di sekitar kita, orang-orang sekampung kita.<br \/>\nIngatlah bahwa sekalipun ditolak manusia, Yesus tak pernah menolak kita. Ia mencintai kita apa adanya. Ia ikut menanggung beban derita kita karena Ia mengerti kesulitan kita sebagai manusia biasa.<\/p>\n<p>Biarlah cara merasa, cara pikir, cara memandang, dan cara bertindak Yesus menjadi juga bagian dari karakter kita.<br \/>\nKata rasul Paulus, \u201cHendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus.\u201d (Flp 2:5).<br \/>\nDi balik keterbatasan dan kelemahan Simon, Yesus melihat sosok \u2018batu karang\u2019 dalam dirinya dan menyebutnya Petrus. Demikian juga Yesus melihat seorang yang penuh semangat dan keberanian dalam diri \u2018Saulus\u2019 sang penegak hukum Taurat, dan menjadikannya \u2018Paulus\u2019 sang pewarta ulung.<\/p>\n<p>\u201dYa Yesus, mampukan kami untuk melihat semua kebaikan, potensi dan kapasitas yang ada pada semua orang di sekitar kami dan menghargainya dengan tulus.<br \/>\nMampukan juga kami melihat hal yang sama dalam diri kami, dan terus mengembangkan semua talenta yang Tuhan berikan. Amin.\u201d<\/p>\n<p>Semangat Senin, Semangat saling menghargai. Yesus setia menerima dan menemani kita.&#x2764;&#xfe0f;<br \/>\nPs Revi Tanod Pr<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Kalender Liturgi 09 Mar 2026<br \/>\nSenin Prapaskah III<br \/>\nPF S. Fransiska dari Roma, Biarawati<br \/>\nWarna Liturgi: Ungu<br \/>\nBait Pengantar Injil: Mzm 130:5.7<br \/>\nBacaan Injil: Luk 4:24-30<br \/>\n***********<\/p>\n<p>Bait Pengantar Injil<br \/>\nMzm 130:5.7<br \/>\nAku menanti-nantikan Tuhan,<br \/>\ndan mengharapkan firman-Nya,<br \/>\nsebab pada Tuhan ada kasih setia,<br \/>\ndan Ia banyak kali mengadakan pembebasan.<\/p>\n<p>Bacaan Injil<br \/>\nLuk 4:24-30<br \/>\nYesus seperti Elia dan Elisa,<br \/>\ndiutus bukan kepada orang-orang Yahudi.<\/p>\n<p>Inilah Injil Suci menurut Lukas:<\/p>\n<p>Ketika Yesus datang ke Nazaret,<br \/>\nIa berkata kepada umat di rumah ibadat,<br \/>\n&#8220;Aku berkata kepadamu,<br \/>\nsesungguhnya tidak ada nabi yang dihargai di tempat asalnya.<br \/>\nTetapi Aku berkata kepadamu, dan kata-Ku ini benar:<br \/>\nPada zaman Elia terdapat banyak janda di Israel,<br \/>\nketika langit tertutup selama tiga tahun dan enam bulan,<br \/>\ndan ketika bahaya kelaparan yang hebat menimpa seluruh negeri.<br \/>\nTetapi Elia diutus bukan kepada salah seorang dari mereka,<br \/>\nmelainkan kepada seorang janda di Sarfat, di tanah Sidon.<br \/>\nDan pada zaman nabi Elisa banyak orang kusta di Israel,<br \/>\ntetapi tidak ada seorang pun dari mereka yang ditahirkan,<br \/>\nselain dari pada Naaman, orang Siria itu.&#8221;<br \/>\nMendengar itu,<br \/>\nsangat marahlah semua orang yang di rumah ibadat itu.<br \/>\nMereka bangun, lalu menghalau Yesus ke luar kota<br \/>\ndan membawa Dia ke tebing gunung, tempat kota itu terletak,<br \/>\nuntuk melemparkan Dia dari tebing itu.<br \/>\nTetapi Yesus berjalan lewat dari tengah-tengah mereka, lalu pergi.<\/p>\n<p>Demikianlah Sabda Tuhan.<br \/>\n***********<\/p>\n<p>  \u210d <\/p>\n<p>Ada sebuah ungkapan yang mengatakan, \u201cLebih baik membuat seseorang menangis dengan kebenaran daripada membuat seseorang tertawa dengan kebohongan.\u201d Yesus pulang ke kampung halamannya, Nazareth, seperti dikisahkan dalam Injil hari ini. Ternyata, tidak semua yang Yesus katakan diterima dengan senang hati. Orang-orang dipenuhi dengan kemarahan hingga mengusir-Nya dari kota. Pesan yang disampaikan itu pasti begitu mengganggu sehingga mereka ingin menghilangkan sang pembawa pesan.<\/p>\n<p>Itulah sifat kebenaran. Ketika dinyatakan, ia selalu menyentuh hati dengan empati. Namun, kebenaran bisa mengancam karena ia menuntut tindakan yang sesuai. Kebenaran itu menguatkan namun juga menghakimi. Herodes, misalnya, tertarik pada pesan Yohanes tetapi ia tidak memiliki keberanian untuk memenuhi tuntutan yang sesuai. Apa yang ia lakukan? Ia memenjarakan Yohanes. Orang-orang sekota dengan Yesus itu begitu tersinggung oleh kata-katanya sehingga mereka ingin melemparkan-Nya ke tebing gunung.<\/p>\n<p>Kebenaran Allah datang kepada kita dengan berbagai cara. Melalui orang-orang, situasi, atau pengalaman rohani, kebenaran Allah mencari kita. Namun, seperti orang-orang Nazaret, kita sering kali takut pada tuntutan kebenaran. Kita sering kali menolak pengorbanan diri dan pertobatan yang diharuskannya. Dan begitu kita memenjarakan pesan Allah. Kita menempatkan Allah di sudut. Kita membagi-bagi hidup kita. Kita \u201cmengurung\u201d Allah dan membuat pesan-Nya menjadi tidak relevan dalam kehidupan sehari-hari kita. Kita membiarkan Alkitab berdebu. Kita memperlakukan Misa sebagai hiburan atau selingan sesekali. Ingatlah, Allah adalah Allah yang \u201csopan\u201d. Dia hanya dapat bekerja dalam hidup kita sejauh kita memberi-Nya \u201cizin\u201d untuk melakukannya. Inilah yang kita maksud ketika kita mengatakan bahwa rahmat dibangun di atas kodrat, gratia supponit naturam. Rahmat bekerja jika kita terbuka untuk bekerjasama dengannya.<\/p>\n<p>James Abram Garfield, presiden Amerika Serikat yang ke-20, dikenal dengan kata-katanya: \u201cKebenaran akan membebaskanmu, tetapi pertama-tama ia akan membuatmu menderita.\u201d Betapa benar kata-kata itu. Kebenaran akan mengubah kita, namun sering kali untuk berubah itu kita harus merasa sakit untuk melepaskan kebiasaan-kebiasaan dan kenyamanan lama. Maka, buka hatimu. Jangan takut pada tuntutan kebenaran. Seperti yang Yesus janjikan dalam Injil, \u201cKamu akan mengetahui kebenaran, dan kebenaran itu akan memerdekakan kamu,\u201d (Yoh 8: 32).<\/p>\n<p>Dalam hal apa saja Anda membatasi kuasa pesan Allah?<\/p>\n<p>Tuhan, bukalah hati dan pikiranku untuk kebenaran-Mu. Berilah aku keberanian untuk Kauperbarui, meski dalam prosesnya, aku harus menderita. Amin.<\/p>\n<p>Selamat beraktivitas di pekan yang baru. Hidupi dan perjuangkan kebenaran! \u24bf\u24c1\u24ca! &#x2764;&#xfe0f;<br \/>\n&#x2764;\ufe0e.<\/p>\n<blockquote class=\"wp-embedded-content\" data-secret=\"GJgYyqPe1w\"><p><a href=\"https:\/\/sacerdos2000.com\/menerima-kebenaran\/\">Menerima Kebenaran<\/a><\/p><\/blockquote>\n<p><iframe loading=\"lazy\" class=\"wp-embedded-content\" sandbox=\"allow-scripts\" security=\"restricted\" style=\"position: absolute; visibility: hidden;\" title=\"&#8220;Menerima Kebenaran&#8221; &#8212; Sacerdos2000\" src=\"https:\/\/sacerdos2000.com\/menerima-kebenaran\/embed\/#?secret=yS27YVYXi0#?secret=GJgYyqPe1w\" data-secret=\"GJgYyqPe1w\" width=\"500\" height=\"282\" frameborder=\"0\" marginwidth=\"0\" marginheight=\"0\" scrolling=\"no\"><\/iframe><\/p>\n<p>RP Joni Astanto MSC<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Sabda Kehidupan Senin 09 Maret 2026 Lukas 4:24 (Luk 4:24-30) Dan kata-Nya lagi: &#8220;Aku berkata kepadamu, sesungguhnya tidak ada nabi yang dihargai di tempat asalnya.\u201d Menghargai Kalangan Sendiri Betapa sedih hati Yesus, ketika ditolak&#46;&#46;&#46;<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":90462,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[1,20],"tags":[],"class_list":["post-93628","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-bacaan-harian","category-renungan-text"],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/katolikindonesia.org\/wp-content\/uploads\/2025\/12\/app-2026.png","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/93628","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=93628"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/93628\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":93629,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/93628\/revisions\/93629"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/90462"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=93628"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=93628"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=93628"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}