{"id":93594,"date":"2026-03-08T10:49:30","date_gmt":"2026-03-08T03:49:30","guid":{"rendered":"https:\/\/katolikindonesia.org\/?p=93594"},"modified":"2026-03-08T10:49:30","modified_gmt":"2026-03-08T03:49:30","slug":"minggu-08-maret-2026-5","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/katolikindonesia.org\/?p=93594","title":{"rendered":"Minggu, 08 Maret 2026"},"content":{"rendered":"<p>Sabda Kehidupan<br \/>\nMinggu 08 Maret 2026<br \/>\nHari Minggu Prapaskah III<br \/>\nYohanes 4:15-18 (Yoh 4:5-42)<br \/>\nKata perempuan Samaria itu kepada-Nya: &#8220;Tuhan, berikanlah aku air itu, supaya aku tidak haus dan tidak usah datang lagi ke sini untuk menimba air.&#8221; Kata Yesus kepadanya: &#8220;Pergilah, panggillah suamimu dan datang ke sini.&#8221; Kata perempuan itu: &#8220;Aku tidak mempunyai suami.&#8221; Kata Yesus kepadanya: &#8220;Tepat katamu, bahwa engkau tidak mempunyai suami, sebab engkau sudah mempunyai lima suami dan yang ada sekarang padamu, bukanlah suamimu&#8230;&#8221;<\/p>\n<p>Yesus Pemuas Dahaga Kita Akan Kasih Sayang Sejati<\/p>\n<p>Kutipan Injil di atas diambil dari kisah percakapan Yesus dengan seorang perempuan Samaria di sumur Yakub.<br \/>\nPerempuan ini pergi menimba air di sumur jam 12 siang. Ini bukan jam untuk menimba air, karena biasanya pagi-pagi. Itu berarti ia ingin menghindar bertemu dengan orang lain di sumur itu, karena tabiatnya yang tidak baik. Ia berpindah dari satu pria ke pria yang lain, tapi tak menemukan apa yang sesungguhnya dicarinya.<br \/>\nYesus, yang adalah Tuhan, sekalipun baru pertama kali berjumpa dengan perempuan itu, Ia tahu siapa perempuan itu sebenarnya. Yesus tahu apa yang menjadi kehausannya, kerinduan hatinya yang paling dalam.<br \/>\nSaat dia berjumpa dengan Yesus, sadarlah ia, bahwa Yesus sungguh mengenal dan memahami siapa dirinya. Ia haus akan kaih sayang, pengampunan dan belaskasih Tuhan.<\/p>\n<p>Yesus dengan penuh kasih menawarkan diriNya sebagai pemuas dahaga bagi siapa saja yang ingin memperoleh hidup yang kekal. Yesus adalah air hidup, pemuas dahaga jiwa kita. Dia-lah sumber hidup kita, Sang Pokok Anggur dan kita adalah rantingNya. Yesus yang paling tahu apa yang sesungguhnya kita butuhkan, karena Ia sangat mengenal kita, dan telah lebih dahulu mencintai kita.<br \/>\nKata St Agustinus, &#8220;Tuhan lebih tahu mengenai diri kita, lebih dari pengenalan diri kita terhadap diri sendiri.&#8221;<br \/>\nYesus mengenal kita secara pribadi. Ia yang paling mengerti kita, kerinduan hati kita untuk mengalami kasih setia Tuhan. Dia-lah air hidup yang menyegarkan jiwa kita, pemuas dahaga kita akan kasih sayang Tuhan yang tak berkesudahan. Jangan pernah terpisah dariNya.<\/p>\n<p>Selamat Hari Minggu Prapaskah ke III. Mari menimba air hidup dalam ibadah syukur kita hari ini.&#x2764;&#xfe0f;<br \/>\nPs Revi Tanod Pr<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>  \u210d <\/p>\n<p>Minggu, 8 Maret 2026, Minggu Prapaskah III Tahun A<br \/>\nBacaan: Kel. 17:3-7; Mzm. 95:1-2,6-7,8-9; Rm. 5:1-2,5-8; Yoh. 4:5-42 (panjang) Yoh. 4:5-15,19b-26,39a,40-42 (singkat).<\/p>\n<p>\u201cBarangsiapa minum air yang akan Kuberikan kepadanya, ia tidak akan haus untuk selama-lamanya. Sebaliknya air yang akan Kuberikan kepadanya, akan menjadi mata air di dalam dirinya, yang terus-menerus memancar sampai kepada hidup yang kekal,\u201d (Yoh 4: 14)<\/p>\n<p>Manusia pada kodratnya merasa haus dan lapar. Tetapi dalam rasa haus atau laparnya itu, manusia seringkali hanya melihat hal-hal material untuk memuaskan rasa haus dan laparnya. Pencariannya hanya berakhir hingga ia menemukan Allah yang dapat sungguh-sungguh memuaskan rasa haus dan laparnya.<\/p>\n<p>Bacaan pertama mengisahkan saat-saat bangsa Israel bersungut-sungut meminta air dalam perjalanan mereka keluar dari Mesir. Mereka mengeluh kepada Musa: &#8220;Mengapa pula engkau memimpin kami keluar dari Mesir, untuk membunuh kami, anak-anak kami dan ternak kami dengan kehausan?&#8221; (Kel 17: 3). Musa berada dalam dilema, tetapi atas perintah Allah, ia memukul gunung batu di Horeb dengan tongkatnya, dan bangsa Israel dapat minum dari air itu.<\/p>\n<p>Dalam Injil, kita mendengar kisah perjumpaan dan pembicaraan Yesus dengan seorang wanita Samaria. Yesus tentu lelah dan haus setelah perjalanan panjang di bawah terik matahari. Maka ia minta air kepada seorang perempuan Samaria. Dialog antara Yesus dengan perempuan Samaria ini menarik untuk disimak.<\/p>\n<p>Pertama, Yesus berkata kepada perempuan itu, \u201cBarangsiapa minum air ini, ia akan haus lagi, (Yoh 4: 13). Perempuan itu berbicara tentang air dari sumur, sedangkan Yesus berbicara tentang air hidup. Sungguh, kita selalu berpikir tentang hal-hal material saja untuk memuaskan kehausan kita. Rasa puas yang diberikan hanyalah sementara, kita akan haus lagi. Jika kita hanya menggantungkan diri pada hal-hal material, hal duniawi, kita tidak akan pernah terpuaskan!<\/p>\n<p>Kedua, Yesus bersabda: \u201cBarangsiapa minum air yang akan Kuberikan kepadanya, ia tidak akan haus untuk selama-lamanya. Sebaliknya air yang akan Kuberikan kepadanya, akan menjadi mata air di dalam dirinya, yang terus-menerus memancar sampai kepada hidup yang kekal,\u201d (Yoh 4: 14). Yang diberikan oleh Yesus adalah Kasih Allah yang menyelamatkan, air hidup yang dicurahkan ke dalam hati kita yang memberikan kita hidup dan damai. Ia memberikan air hidup dan keselamatan. Inilah yang memuaskan rasa haus kita. Air hidup itu tidak lain adalah Yesus sendiri.<\/p>\n<p>Ketiga, di bagian akhir bacaan Injil kita dikatakan bahwa para murid mencari makanan. Ketika mereka kembali, mereka menawarkan makanan kepada Yesus tetapi Yesus berkata: \u201cPadaKu ada makanan yang tidak kamu kenal.\u201d (Yoh 4: 32). Maka para murid berpikir bahwa ada orang yang sudah memberi Yesus makanan. Tetapi Ia berkata: \u201cMakanan-Ku ialah melakukan kehendak Dia yang mengutus Aku dan menyelesaikan pekerjaan-Nya,\u201d (Yoh 4: 34).<\/p>\n<p>Makanan, seperti air, merupakan kebutuhan dasar kita. Tanpa makanan, kita mati. Tetapi ketika Yesus berkata bahwa makanan-Nya adalah melaksanakan kehendak Bapa, ia maksudkan bahwa Ia tidak dapat hidup tanpa ketaatan kepada kehendak Bapa. Sama seperti Yesus, ketaatan dan melaksanakan kehendak Allah haruslah menjadi makanan kita juga.<\/p>\n<p>Semoga perjumpaan kita dengan Yesus, menghantar kita pada pengenalan yang sejati akan Dia, Sang Air Hidup, sumber keselamatan kita. Kita yang telah berjumpa dengan Dia, pada gilirannya diutus untuk membawa semakin banyak orang kepada Dia. Membawa sebanyak mungkin orang pada Air dan Roti Hidup, yang memuaskan lapar dan dahaga kita.<\/p>\n<p>Tuhan, berikan aku air hidup, agar aku tidak haus lagi. Dan semoga kami sebagai komunitas Gereja yang sejati, dapat menjadi sumber air hidup yang segar bagi semua yang haus. Amin.<\/p>\n<p>Selamat Hari Minggu. \u24bf\u24c1\u24ca! &#x2764;&#xfe0f;<br \/>\n&#x2764;\ufe0e.<\/p>\n<blockquote class=\"wp-embedded-content\" data-secret=\"XdU1pOKl7H\"><p><a href=\"https:\/\/sacerdos2000.com\/air-hidup\/\">Air Hidup<\/a><\/p><\/blockquote>\n<p><iframe loading=\"lazy\" class=\"wp-embedded-content\" sandbox=\"allow-scripts\" security=\"restricted\" style=\"position: absolute; visibility: hidden;\" title=\"&#8220;Air Hidup&#8221; &#8212; Sacerdos2000\" src=\"https:\/\/sacerdos2000.com\/air-hidup\/embed\/#?secret=9UzyGmSSMK#?secret=XdU1pOKl7H\" data-secret=\"XdU1pOKl7H\" width=\"500\" height=\"282\" frameborder=\"0\" marginwidth=\"0\" marginheight=\"0\" scrolling=\"no\"><\/iframe><\/p>\n<p>RP Joni Astanto MSC<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Sabda Kehidupan Minggu 08 Maret 2026 Hari Minggu Prapaskah III Yohanes 4:15-18 (Yoh 4:5-42) Kata perempuan Samaria itu kepada-Nya: &#8220;Tuhan, berikanlah aku air itu, supaya aku tidak haus dan tidak usah datang lagi ke&#46;&#46;&#46;<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":90462,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[1,20],"tags":[],"class_list":["post-93594","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-bacaan-harian","category-renungan-text"],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/katolikindonesia.org\/wp-content\/uploads\/2025\/12\/app-2026.png","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/93594","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=93594"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/93594\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":93595,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/93594\/revisions\/93595"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/90462"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=93594"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=93594"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=93594"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}