{"id":93444,"date":"2026-03-05T18:23:27","date_gmt":"2026-03-05T11:23:27","guid":{"rendered":"https:\/\/katolikindonesia.org\/?p=93444"},"modified":"2026-03-05T18:23:27","modified_gmt":"2026-03-05T11:23:27","slug":"kamis-05-maret-2026-5","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/katolikindonesia.org\/?p=93444","title":{"rendered":"Kamis, 05 Maret 2026"},"content":{"rendered":"<p>Sabda Kehidupan<br \/>\nKamis 05 Maret 2026<br \/>\nLukas 16:19-20 (Luk 16:19-31)<br \/>\n\u201dAda seorang kaya yang selalu berpakaian jubah ungu dan kain halus, dan setiap hari ia bersukaria dalam kemewahan. Dan ada seorang pengemis bernama Lazarus, badannya penuh dengan borok, berbaring dekat pintu rumah orang kaya itu&#8230;\u201d<\/p>\n<p>Hidup Dan Berkarya Untuk Cita-cita Surgawi<\/p>\n<p>Si kaya dalam kisah Injil ini punya segala-galanya tapi tidak punya belaskasih untuk sesama. Ia tak menyadari bahwa apa yang ia miliki adalah pemberian Tuhan yang tak bisa dibawa mati. Semua harta dunia haruslah diolah menjadi harta rohani, melalui karya kasih.<br \/>\nSementara itu Lazarus tidak punya apapun selain iman dan harapannya pada Allah. Nama Lazarus artinya: Allah adalah pertolonganku.<\/p>\n<p>Singkat cerita, keduanya meninggal dunia. Ternyata si kaya masuk neraka karena sesungguhnya ia miskin di hadapan Allah dan tak ada tempat baginya di surga.<br \/>\nSedangkan Lazarus mendapatkan apa yang ia imani semasa hidupnya yakni pertolongan Allah. Ia akhirnya sampai ke pangkuan Abraham di surga.<\/p>\n<p>Yesus menyampaikan kisah Injil ini, agar kita tahu bahwa surga dan neraka itu ada. Ingatlah bahwa ada kesinambungan antara hidup di dunia dan di surga.<br \/>\nYesus menghendaki supaya kita dapat bersamaNya di surga. Oleh karena itu, jangan sampai kita membuat kesalahan yang sama seperti si kaya.<\/p>\n<p>_Tidak dikatakan bahwa si kaya melakukan kejahatan ketika dia hidup di dunia. Hanya saja dia tidak hidup sesuai tujuan Tuhan. Ia sombong dan merasa diri mampu. Ia sangat egois dan hidup hanya untuk diri sendiri. Kesalahannya yang paling utama adalah kelalaiannya untuk peduli dengan orang lain.<\/p>\n<p>Yesus dalam kisah ini berpesan agar apapun kesulitan dan derita yang kita hadapi di dunia ini, jangan pernah berhenti beriman dan berharap pada Allah sumber pertolongan kita. Iman-pengharapan-kasih, inilah kekayaan utama kita.<br \/>\nJadikanlah cita-cita hidup surgawi menjadi cita-cita kita. Maka teguhlah dalam iman akan Kristus, berharaplah selalu pada pertolongan Tuhan, jangan merasa diri mampu dan sombong tak perlu Tuhan. Teruslah mengasihi dengan tak henti berbagi kasih bagi banyak \u201cLazarus\u201d yang ada di sekitar kita.<br \/>\nMari bersandar pada janji-janji Tuhan.<\/p>\n<p>Selamat hari baru. Teruslah berkarya untuk cita-cita surgawi.&#x1f64f;&#x2764;&#xfe0f;&#x1f607;<br \/>\nPs Revi Tanod Pr<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Kalender Liturgi 05 Mar 2026<br \/>\nKamis Prapaskah II<br \/>\nWarna Liturgi: Ungu<br \/>\nBait Pengantar Injil: Luk 8:15<br \/>\nBacaan Injil: Luk 16:19-31<br \/>\n***********<\/p>\n<p>Bait Pengantar Injil<br \/>\nLuk 8:15<br \/>\nBerbahagialah orang,<br \/>\nyang setelah mendengar firman Tuhan,<br \/>\nmenyimpannya dalam hati yang baik<br \/>\ndan menghasilkan buah dalam ketekunan.<\/p>\n<p>Bacaan Injil<br \/>\nLuk 16:19-31<br \/>\nEngkau telah menerima segala yang baik,<br \/>\nsedangkan Lazarus segala yang buruk.<br \/>\nSekarang ia mendapat hiburan dan engkau sangat menderita.<\/p>\n<p>Inilah Injil Suci menurut Lukas:<\/p>\n<p>Sekali peristiwa Yesus berkata kepada murid-murid-Nya,<br \/>\n&#8220;Ada seorang kaya<br \/>\nyang selalu berpakaian jubah ungu dan kain halus,<br \/>\ndan setiap hari ia bersukaria dalam kemewahan.<br \/>\nDan ada seorang pengemis bernama Lazarus,<br \/>\nbadannya penuh dengan borok.<br \/>\nIa berbaring dekat pintu rumah orang kaya itu,<br \/>\ndan ingin menghilangkan laparnya<br \/>\ndengan apa yang jatuh dari meja orang kaya itu.<br \/>\nMalahan anjing-anjing datang dan menjilat boroknya.<\/p>\n<p>Kemudian matilah orang miskin itu,<br \/>\nlalu dibawa oleh malaikat-malaikat ke pangkuan Abraham.<br \/>\nOrang kaya itu juga mati, lalu dikubur.<br \/>\nSementara menderita sengsara di alam maut,<br \/>\nia memandang ke atas,<br \/>\ndan dari jauh dilihatnya Abraham,<br \/>\ndengan Lazarus duduk di pangkuannya.<br \/>\nLalu ia berseru, &#8220;Bapa Abraham, kasihanilah aku.<br \/>\nSuruhlah Lazarus mencelupkan ujung jarinya ke dalam air<br \/>\ndan menyejukkan lidahku,<br \/>\nsebab aku sangat kesakitan dalam nyala api ini!&#8221;<br \/>\nTetapi Abraham berkata, &#8220;Anakku, ingatlah!<br \/>\nEngkau telah menerima segala yang baik semasa hidupmu,<br \/>\nsedangkan Lazarus segala yang buruk.<br \/>\nSekarang ia mendapat hiburan dan engkau sangat menderita.<br \/>\nSelain dari pada itu di antara kami dan engkau<br \/>\nterbentang jurang yang tak terseberangi,<br \/>\nsehingga mereka yang mau pergi dari sini kepadamu<br \/>\nataupun mereka yang mau datang dari situ kepada kami<br \/>\ntidak dapat menyeberang!&#8221;<br \/>\nKata orang itu, &#8216;Kalau demikian, aku minta kepadamu Bapa,<br \/>\nsupaya engkau menyuruh dia ke rumah ayahku,<br \/>\nsebab masih ada lima orang saudaraku,<br \/>\nsupaya ia memperingatkan mereka dengan sungguh-sungguh,<br \/>\nagar mereka kelak jangan masuk ke dalam tempat penderitaan itu.&#8217;<br \/>\nTetapi kata Abraham,<br \/>\n&#8216;Ada pada mereka kesaksian Musa dan para nabi;<br \/>\nbaiklah mereka mendengarkan kesaksian itu.&#8217;<br \/>\nJawab orang itu, &#8216;Tidak, Bapa Abraham!<br \/>\nTetapi jika ada seorang<br \/>\nyang datang dari antara orang mati kepada mereka,<br \/>\nmereka akan bertobat.&#8217;<br \/>\nKata Abraham kepadanya,<br \/>\n&#8216;Jika mereka tidak mendengarkan kesaksian Musa dan para nabi,<br \/>\nmereka tidak juga akan mau diyakinkan,<br \/>\nsekalipun oleh seorang yang bangkit dari antara orang mati.&#8221;<\/p>\n<p>Demikianlah sabda Tuhan.<br \/>\n***********<\/p>\n<p>Dalam Injil hari ini, Yesus menceritakan perumpamaan tentang orang kaya dan Lazarus, mengajarkan pelajaran mendalam tentang belas kasihan, kerendahan hati, dan makna kekal dari setiap tindakan kita. Orang kaya yang terbuai oleh kekayaan dan kemewahan duniawi, mengabaikan Lazarus di sampingnya yang menderita. Akibatnya, nasib mereka berbeda di akhirat.<\/p>\n<p>1. Perumpamaan ini mengingatkan kita bahwa ketika kt mengejar hal\u00b2 duniawi seharusnya tidak membutakan kita terhadap kebutuhan orang-orang di sekitar kita. Perumpamaan ini jg mendorong kita untuk menumbuhkan hati yang penuh kasih sayang dan kemurahan hati, serta mengakui martabat yang melekat pada setiap kita.<br \/>\n2. Di dunia yang serba cepat ini, mudah sekali untuk terlalu fokus pada kesuksesan pribadi dan keuntungan materi. Namun, perumpamaan ini menggarisbawahi nilai abadi dari perbuatan baik dan amal yg kita buat.<br \/>\n3. Perumpamaan ini mendorong kita untuk mempertimbangkan konsekuensi kekal dari pilihan kita dan memotivasi kita untuk memprioritaskan kesejahteraan orang lain daripada daya tarik sementara kekayaan duniawi. Biarlah perumpamaan ini menginspirasi kita untuk menjalani hidup yang ditandai dengan kemurahan hati, belas kasihan, dan kepedulian yang tulus terhadap sesama manusia.<\/p>\n<p>Semoga perumpamaan ini menggerakkan kita untuk mengubah keserakahan menjadi kemurahan hati, kekejaman menjadi belas kasihan, dan kebrutalan menjadi kebaikan.<\/p>\n<p>RP. PAUL KERANS, SVD<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Sabda Kehidupan Kamis 05 Maret 2026 Lukas 16:19-20 (Luk 16:19-31) \u201dAda seorang kaya yang selalu berpakaian jubah ungu dan kain halus, dan setiap hari ia bersukaria dalam kemewahan. Dan ada seorang pengemis bernama Lazarus,&#46;&#46;&#46;<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":90462,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[1,20],"tags":[],"class_list":["post-93444","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-bacaan-harian","category-renungan-text"],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/katolikindonesia.org\/wp-content\/uploads\/2025\/12\/app-2026.png","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/93444","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=93444"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/93444\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":93445,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/93444\/revisions\/93445"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/90462"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=93444"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=93444"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=93444"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}