{"id":93286,"date":"2026-03-01T09:07:36","date_gmt":"2026-03-01T02:07:36","guid":{"rendered":"https:\/\/katolikindonesia.org\/?p=93286"},"modified":"2026-03-01T09:07:36","modified_gmt":"2026-03-01T02:07:36","slug":"minggu-01-maret-2026-5","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/katolikindonesia.org\/?p=93286","title":{"rendered":"Minggu, 01 Maret 2026"},"content":{"rendered":"<p>Sabda Kehidupan<br \/>\nMinggu 01 Maret 2026<br \/>\nHari Minggu Prapaskah II<br \/>\nMatius 17:5 (Mat 17:1-9)<br \/>\nDan tiba-tiba sedang ia berkata-kata turunlah awan yang terang menaungi mereka dan dari dalam awan itu terdengar suara yang berkata: &#8220;Inilah Anak yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan, dengarkanlah Dia.&#8221;<\/p>\n<p>Anak Terkasih Allah Bapa<\/p>\n<p>Kita hidup dalam situasi di mana dunia cenderung menilai seorang berdasarkan prestasi. Maka orang yang mendapatkan tempat teratas adalah mereka yang hebat, jago, luar biasa, pandai, atau para peraih angka 8-10. Saat semua prestasi ini hilang, orang menjadi seakan tak berarti dan tak berharga. Ia kehilangan harga diri dan merasa tak berguna. Lebih menyedihkan lagi, ia merasa hampa karena tak dicintai.<\/p>\n<p>Yesus mengalami semua pandangan duniawi ini khususnya saat Ia tergantung di atas kayu salib. Dia yang begitu dipuja puji karena hebatNya membuat mujizat, dihina bahkan dibantai dalam jalan salib yang penuh siksa. Pertanyaannya: Mengapa Yesus tetap bertahan?<br \/>\nSemuanya karena Ia punya Allah Bapa yang begitu mencintaiNya. Bapa yang tidak menilai anakNya karena prestasi atau kehebatanmya, tapi karena Yesus adalah AnakNya yang terkasih. Relasi Bapa-Anak itulah segalanya. Oleh karena itu, apapun yang terjadi dan apapun perlakuan orang terhadapNya, dalam hati Yesus suara BapaNya selalu terdengar, \u201cEngkau adalah Anak yang Kukasihi.\u201d<\/p>\n<p>Ada dua kali suara dari langit ini terdengar. Yang pertama yakni ketika Yesus keluar dari air sesudah dibaptis oleh Yohanes Pembaptis (Mrk 1:9-11), dan ke dua ketika Yesus menampakkan kemuliaanNya di atas gunung Tabor. (Mat 17:1-9).<br \/>\nKalau kita simak, sesudah dibaptis di Sungai Yordan, Yesus digoda oleh Iblis di Padang Gurun. Yesus keluar sebagai pemenang. Dia sanggup menghadapi godaan.<br \/>\nSedangkan yang ke dua, yaitu ketika Yesus menampakkan kemuliaanNya di atas gunung Tabor. Sesudah dari gunung Tabor, Yesus harus mendaki gunung Golgota. Ia menghadapi siksa batin karena dihina dan dicaci serta dibunuh dengan keji. Namun Yesus tetap tabah dan bertahan karena suara BapaNya selalu menguatkan Dia, \u201cEngkau adalah Anak yang Kukasihi.\u201d<\/p>\n<p>Dalam Yesus, kitapun telah diangkat menjadi anak Allah. Kasih Allah adalah segalanya bagi kita. Silahkan dunia menilai dan berkata apapun tentang diri kita.<br \/>\nTak usah tersanjung karena dipuji, atau terhina ketika direndahkan. Dengarlah bisikan lembut di hati, dalam keheningan doa, suara Bapa kita di surga berkata, \u201cEngkau adalah anak yang Kukasihi.\u201d<br \/>\nInilah kekuatan kita untuk terus melangkah pasti. Sampaikanlah juga ungkapan kasih ini kepada orang-orang yang kita cintai: Orangtua, anak-anak kita, pasangan, saudara dan sahabat. Mari saling menguatkan sebagai anak-anak kesayangan Allah.<\/p>\n<p>Selamat hari Minggu Prapaskah II. Cinta Allah menguatkan kita&#x2764;&#xfe0f;<br \/>\nPs Revi Tanod Pr<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>  \u210d <\/p>\n<p>Minggu, 1 Maret 2026, Minggu Prapaskah II Tahun A*<br \/>\nBacaan: Kej. 12:1-4a; Mzm. 33:4-5,18-19,20,22; 2Tim. 1:8b-10; Mat. 17:1-9.<\/p>\n<p>\u201dBerdirilah, jangan takut!\u201d (Mat 17: 7)<\/p>\n<p>Sebenarnya, sesudah kalimat terakhir dari bacaan pertama hari ini, masih ditambahkan keterangan yang berbunyi: \u201cAbram berumur tujuh puluh lima tahun, ketika ia berangkat dari Haran,\u201d (Kej 12: 4b).<\/p>\n<p>Wow, dipanggil oleh Allah pada usia 75! Hal ini mungkin terdengar mengejutkan, tetapi sebenarnya tidak. Musa berumur 80 tahun ketika Tuhan memanggilnya dari semak yang terbakar untuk tugas besar membebaskan bangsanya dari perbudakan di Mesir. Santa Teresa dari Avila berusia 50 tahun ketika hidupnya yang dangkal mulai berubah melalui pertobatan mendalam ke hidup rohani yang lebih dalam. St. Yohanes XXIII berusia 77 tahun ketika ia terpilih menjadi paus. Paus Fransiskus juga sudah berusia 76 tahun ketika ia terpilih. Pada awal masa Prapaskah, Gereja mendorong dan mengingatkan kita bahwa tidak pernah ada kata terlambat untuk menerima tugas khusus dari Allah.<\/p>\n<p>Panggilan Allah juga melibatkan penderitaan, Salib. Dan demikianlah Paulus menghibur muridnya, Timotius, yang telah meninggalkan rumahnya, keluarganya, dan mendedikasikan dirinya untuk misi Gereja muda: \u201cIkutlah menderita bagi Injil-Nya oleh kekuatan Allah,\u201d [2 tim 1: 8]<\/p>\n<p>Injil kemudian membawa kita ke gunung Tabor, tempat Yesus berubah rupa. Di sana, Allah menunjukkan kepada para murid yang putus asa, yang telah mengikuti panggilan Yesus dan meninggalkan keamanan rumah dan keluarga mereka, bahwa penderitaan dan kesusahan bukanlah tujuan panggilan mereka. Mereka diajarkan bahwa kemuliaan, sukacita abadi, dan hidup di hadapan Allah akan menjadi milik mereka jika mereka mengikuti Yesus sampai akhir.<\/p>\n<p>Kita dibebani oleh kelemahan dan kegagalan kita, oleh cobaan, ketidakpastian, dan penderitaan, oleh kematian di masa mendatang yang pasti. Kita dibebani dengan kondisi yang sering kali orang bilang \u201ctidak baik-baik saja.\u201d Yang kita jumpai bukan transfigurasi tetapi korupsi yang makin menjadi-jadi! Namun Yesus mendekati kita juga hari ini dan berkata: \u201cBerdirilah, jangan takut! Perintah-Nya kepada Abram juga dikatakan kepada kita: \u201cPergilah dari negerimu\u2026. ke negeri yang akan Kutunjukkan kepadamu!\u201d<\/p>\n<p>Mari di masa Prapaskah ini, kita teguhkan iman kita. Mungkin secara jujur kita mengakui, bahwa iman kita belum kuat, masih lemah, penuh keraguraguan. Namun, kita harus yakin bahwa Allah telah menentukan arah perjalanan hidup kita, yaitu meninggalkan \u201ctanah\u201d kita sendiri menuju Tanah Terjanji. Ia memanggil kita meninggalkan kekekurangan, kelemahan, keterikatan akan kepentingan pribadi kita sendiri, supaya sungguh siap mendengarkan dan melaksanakan sabda Allah. Masa Prapaskah ini menjadi saat yang baik untuk melihat kembali, sejauh mana kita mendengarkan dan melaksanakan Sabda-Nya.<\/p>\n<p>Ya Bapa, Engkau telah memaklumkan kepada kami bahwa Yesus Kristus adalah Putra-Mu terkasih. Ajarilah kami untuk selalu mendengarkan dan melaksanakan Sabda-Nya dan berilah kami pengertian akan misteri sengsara, wafat, dan kebangkitan-Nya demi keselamatan kami. Amin.<\/p>\n<p>Selamat Hari Minggu Prapaskah II. Berdirilah, jangan takut! \u24bf\u24c1\u24ca! &#x2764;&#xfe0f;<br \/>\n&#x2764;\ufe0e.<\/p>\n<blockquote class=\"wp-embedded-content\" data-secret=\"i7RdLwv193\"><p><a href=\"https:\/\/sacerdos2000.com\/dengarkanlah-dia-2\/\">Dengarkanlah Dia!<\/a><\/p><\/blockquote>\n<p><iframe loading=\"lazy\" class=\"wp-embedded-content\" sandbox=\"allow-scripts\" security=\"restricted\" style=\"position: absolute; visibility: hidden;\" title=\"&#8220;Dengarkanlah Dia!&#8221; &#8212; Sacerdos2000\" src=\"https:\/\/sacerdos2000.com\/dengarkanlah-dia-2\/embed\/#?secret=u6R2owRJ2H#?secret=i7RdLwv193\" data-secret=\"i7RdLwv193\" width=\"500\" height=\"282\" frameborder=\"0\" marginwidth=\"0\" marginheight=\"0\" scrolling=\"no\"><\/iframe><\/p>\n<p>RP Joni Astanto MSC<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Sabda Kehidupan Minggu 01 Maret 2026 Hari Minggu Prapaskah II Matius 17:5 (Mat 17:1-9) Dan tiba-tiba sedang ia berkata-kata turunlah awan yang terang menaungi mereka dan dari dalam awan itu terdengar suara yang berkata:&#46;&#46;&#46;<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":90462,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[1,20],"tags":[],"class_list":["post-93286","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-bacaan-harian","category-renungan-text"],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/katolikindonesia.org\/wp-content\/uploads\/2025\/12\/app-2026.png","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/93286","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=93286"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/93286\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":93287,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/93286\/revisions\/93287"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/90462"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=93286"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=93286"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=93286"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}