{"id":92592,"date":"2026-02-11T18:14:21","date_gmt":"2026-02-11T11:14:21","guid":{"rendered":"https:\/\/katolikindonesia.org\/?p=92592"},"modified":"2026-02-11T18:14:21","modified_gmt":"2026-02-11T11:14:21","slug":"rabu-11-februari-2026-5","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/katolikindonesia.org\/?p=92592","title":{"rendered":"Rabu, 11 Februari 2026"},"content":{"rendered":"<p>Sabda Kehidupan<br \/>\nRabu 11 Februari 2026<br \/>\nHari Orang Sakit Sedunia<br \/>\nMarkus 7:15 (Mtk 7:14-23)<br \/>\n\u201dApapun dari luar, yang masuk ke dalam seseorang, tidak dapat menajiskannya, tetapi apa yang keluar dari seseorang, itulah yang menajiskannya.&#8221;<\/p>\n<p>Hati Yang Menyembuhkan<\/p>\n<p>Inti terdalam diri kita adalah hati. Apa yang datang dari hati itulah yang paling menentukan pikiran, perasaan, perkataan, serta perbuatan kita.<br \/>\nOleh karena itu, pada saat gereja merayakan \u201cHari Orang Sakit Sedunia\u201d (HOS) hari ini, Yesus mengajak kita untuk masuk ke dalam hati untuk melihat, \u2018sejauh mana hati kita selalu tergerak oleh belaskasihan.\u2019 Atau sebaliknya oleh kebencian, prasangka, atau perasaan negatif (ill-feel)?<\/p>\n<p>Hati yang berbelas kasih, hati yang mencintai, sekalipun ia sendiri terluka, adalah hati yang menyembuhkan. Karena itu Paus Leo XIV mengajak kita merenungkan tema, \u201cOrang Samaria yang baik hati\u201d sebagai tema permenungan dan pelayanan kita di hari orang sakit ini.<br \/>\nKita menjadi penyembuh bagi yang sakit oleh empati kita, belarasa kita dalam ikut menanggung penderitaan dan sakit orang lain, menjadikannya penderitaan kita sendiri.<br \/>\nInilah persis yang dibuat Yesus. Ia bisa menyembuhkan luka fisik atau penyakit, tapi Ia sendiri ikut mengalami sakit dan luka oleh cambuk para algojo, pikulan salib yang berat, tapi lebih dari itu Yesus merasakan luka hati &#8211; sakit hati oleh fitnahan, cercaan, makian dan hujatan orang-orang yang pernah Ia bantu, orang-orang yang Ia cintai.<\/p>\n<p>Yesus menjadi penyembuh yang sejati saat Ia ikut mengalami derita, dan karena itu kita yang sakit, ikut merasakan belarasa Tuhan, yang juga mengalami derita yang sama.<br \/>\nPastor Henri Nouwen, menyebut pelayanan dengan empati ini sebagai \u201cthe wounded healer\u201d, penyembuh yang sendiri terluka.<br \/>\nEmpati kita, karena pernah terluka dan sakit hati, menguatkan orang yang terluka. Bahwa mereka tidak sendirian, bahwa mereka dicintai dan diampuni. Maka ketika hati seorang pasien bisa mencintai dan mengampuni, menerima deritanya bukan sebagai hukuman tapi sebagai ambil bagian dalam derita Yesus, ia dikuatkan dan luka hatinya sembuh.<\/p>\n<p>Arti sebenarnya \u201crumah sakit\u201d adalah \u201chospital\u201d dari bahasa Latin \u201chospes\u201d yang berarti \u2018tamu-orang asing\u2019 yang miskin, susah, sakit, yang diterima, dijamu, dirawat di rumah penginapan. Kemudian secara historis menjadi tempat pelayanan medis yang penuh keramah-tamahan (hospitality) atau menjadi \u2018rumah\u2019 di mana orang merasa diterima, dicintai dan dirawat dengan kasih dan empati mendalam.<br \/>\nDi sinilah orang mengalami ajakan Yesus, \u201ctinggallah dalam Aku dan Aku tinggal dalam kamu.\u201d<br \/>\nPerjumpaan dan persahabatan dengan Yesus, mengalami belaskasih dan empatiNya, inilah penyembuhan mendalam, luka hati dan luka fisik kita.<br \/>\nMari menjadi Yesus (orang Samaria) yang tergerak oleh belaskasih agar kita dapat menyembuhkan, luka hati kita sendiri dan sesama yang sakit.<\/p>\n<p>Selamat berbelarasa. Biarlah hati kita menjadi seperti Hati Yesus.&#x1f64f;&#x2764;&#xfe0f;&#x1f607;<br \/>\nPs Revi Tanod Pr<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Sabda Kehidupan Rabu 11 Februari 2026 Hari Orang Sakit Sedunia Markus 7:15 (Mtk 7:14-23) \u201dApapun dari luar, yang masuk ke dalam seseorang, tidak dapat menajiskannya, tetapi apa yang keluar dari seseorang, itulah yang menajiskannya.&#8221;&#46;&#46;&#46;<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":90462,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[1,20],"tags":[],"class_list":["post-92592","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-bacaan-harian","category-renungan-text"],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/katolikindonesia.org\/wp-content\/uploads\/2025\/12\/app-2026.png","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/92592","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=92592"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/92592\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":92593,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/92592\/revisions\/92593"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/90462"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=92592"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=92592"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=92592"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}