{"id":92558,"date":"2026-02-10T18:34:36","date_gmt":"2026-02-10T11:34:36","guid":{"rendered":"https:\/\/katolikindonesia.org\/?p=92558"},"modified":"2026-02-10T18:34:36","modified_gmt":"2026-02-10T11:34:36","slug":"selasa-10-februari-2026-5","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/katolikindonesia.org\/?p=92558","title":{"rendered":"Selasa, 10 Februari 2026"},"content":{"rendered":"<p>Sabda Kehidupan<br \/>\nSelasa 10 Februari 2026<br \/>\nPeringatan St Skolastika<br \/>\nMarkus 7:6b (Mrk 7:1-13)<br \/>\n\u201dBangsa ini memuliakan Aku dengan bibirnya, padahal hatinya jauh dari pada-Ku.\u201d<\/p>\n<p>Selaras Yang Di Bibir Dan Yang Di Hati<\/p>\n<p>Yesus menegur orang-orang Farisi dan ahli Taurat karena mereka hanya mementingkan hal-hal yang luaran, namun tidak peduli dengan apa yang di dalam. Seperti kata pepatah, lain di bibir lain di hati.<br \/>\nYesus-pun mengingatkan mereka agar jangan melakukan sesuatu dengan motivasi yang dangkal yakni hanya sekedar mengikuti kebiasaan atau hanya sekedar mengikuti perintah dan aturan tanpa mendalaminya.<\/p>\n<p>Apapun yang kita lakukan untuk Tuhan maupun sesama, mari melakukannya dengan setulus hati dan dengan sepenuh hati.<br \/>\nApabila hidup rohani terasa kering dan hampa, mengikuti ibadah atau misa tanpa makna, itulah tandanya kita melakukan rutinitas ibadah hanya sekedar menuruti perintah dan kebiasaan.<br \/>\nOrang bisa saja hadir dan terlibat, tapi hati dan pikirannya tidak tertuju kepada Tuhan. Badannya ada di gereja tapi pikirannya sudah di tempat lain.<br \/>\nOrang kehilangan gairah dan semangat untuk berdoa dan beribadah bila hatinya jauh dari Tuhan. Mari mendorong hati kita untuk melekat di hati Tuhan. Alami dan rasakan kasih setiaNya di setiap tarikan nafas hidup kita. Hanya oleh kasihNya kita masih bisa bernafas dan hidup. Kesadaran ini menumbuhkan rasa syukur selalu dalam hati dan kerinduan untuk berdoa menyampaikan terimakasih.<br \/>\nMari memperdalam motivasi kita dalam melakukan sesuatu, seperti kata Paulus, \u201cApapun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia.\u201d (Kol 3:24)<br \/>\n\u201dSt Skolastika, doakanlah kami.\u201d<\/p>\n<p>Selamat memulai hari baru. Mari selaras antara kata dan perbuatan, berdoa dan bekerja.&#x1f64f;&#x2764;&#xfe0f;&#x1f607;<br \/>\nPs Revi Tanod Pr<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Kalender Liturgi 10 Feb 2026<br \/>\nSelasa Pekan Biasa V<br \/>\nPW S. Skolastika, Perawan<br \/>\nWarna Liturgi: Putih<br \/>\nBait Pengantar Injil: Mzm 119:36a.29b<br \/>\nBacaan Injil: Mrk 7:1-13<br \/>\n**********<\/p>\n<p>Bait Pengantar Injil<br \/>\nMzm 119:36a.29b<br \/>\nCondongkanlah hatiku kepada perintah-Mu, ya Allah,<br \/>\ndan karuniakanlah hukum-Mu kepadaku.<\/p>\n<p>Bacaan Injil<br \/>\nMrk 7:1-13<br \/>\nKamu mengabaikan perintah Allah<br \/>\nuntuk berpegang pada adat istiadat manusia.<\/p>\n<p>Inilah Injil Suci menurut Markus:<\/p>\n<p>Pada suatu hari<br \/>\nserombongan orang Farisi dan beberapa ahli Taurat<br \/>\ndari Yerusalem datang menemui Yesus.<br \/>\nMereka melihat beberapa murid Yesus makan dengan tangan najis,<br \/>\nyaitu dengan tangan yang tidak dibasuh.<br \/>\nSebab orang-orang Farisi<br \/>\n&#8211; seperti orang-orang Yahudi lainnya &#8211;<br \/>\ntidak makan tanpa membasuh tangan lebih dulu,<br \/>\nkarena mereka berpegang pada adat istiadat nenek moyang.<br \/>\nDan kalau pulang dari pasar mereka juga tidak makan<br \/>\nkalau tidak lebih dahulu membersihkan dirinya.<br \/>\nBanyak warisan lain lagi yang mereka pegang,<br \/>\numpamanya hal mencuci cawan, kendi dan perkakas tembaga.<br \/>\nKarena itu orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat itu<br \/>\nbertanya kepada Yesus,<br \/>\n&#8220;Mengapa murid-murid-Mu<br \/>\ntidak mematuhi adat istiadat nenek moyang kita?<br \/>\nMengapa mereka makan dengan tangan najis?&#8221;<br \/>\nJawab Yesus kepada mereka,<br \/>\n&#8220;Benarlah nubuat Yesaya tentang kamu,<br \/>\nhai orang-orang munafik!<br \/>\nSebab ada tertulis:<br \/>\nBangsa ini memuliakan Aku dengan bibirnya,<br \/>\npadahal hatinya jauh dari pada-Ku.<br \/>\nPercuma mereka beribadah kepada-Ku,<br \/>\nsebab ajaran yang mereka ajarkan ialah perintah manusia.<br \/>\nPerintah Allah kamu abaikan<br \/>\nuntuk berpegang pada adat istiadat manusia.&#8221;<br \/>\nYesus berkata kepada mereka,<br \/>\n&#8220;Sungguh pandai kamu mengesampingkan perintah Allah,<br \/>\nsupaya kamu dapat memelihara adat istiadatmu sendiri.<br \/>\nKarena Musa telah berkata: Hormatilah ayahmu dan ibumu!<br \/>\nDan: &#8216;Siapa yang mengutuki ayahnya atau ibunya harus mati.&#8217;<br \/>\nTetapi kamu berkata:<br \/>\nKalau seorang berkata kepada bapa atau ibunya:<br \/>\n&#8216;Apa yang ada padaku,<br \/>\nyang dapat digunakan untuk pemeliharaanmu,<br \/>\nsudah digunakan untuk kurban, yaitu persembahan kepada Allah,&#8217;<br \/>\nmaka kamu membiarkan dia<br \/>\nuntuk tidak lagi berbuat sesuatu pun bagi bapa atau ibunya.<br \/>\nDengan demikian sabda Allah kamu nyatakan tidak berlaku<br \/>\ndemi adat istiadat yang kamu ikuti itu.<br \/>\nDan banyak hal lain seperti itu yang kamu lakukan!&#8221;<\/p>\n<p>Demikianlah sabda Tuhan.<br \/>\n***********<\/p>\n<p>EMBUN ROHANI PAGI DARI KOTA KUPANG<\/p>\n<p>MULIAKAN ALLAH DENGAN HATI YANG MURNI<\/p>\n<p>Kabar Baik dari Tuhan untukmu pagi ini: \u201cTuhan rindu mendengar pujian dan sembah kita yang murni dari hati, bukan sekedar kata-kata manis. Maka murnikanlah hatimu setiap saat ketika mulutmu memuji dan memohon kepada-Nya.\u201d<\/p>\n<p>Dalam injil ini Yesus mengingatkan kita untuk menyelaraskan kemurnian hati dengan kata-kata yang terucap kepada-Nya: \u201cJawab-Nya kepada mereka: &#8220;Benarlah nubuat Yesaya tentang kamu, hai orang-orang munafik! Sebab ada tertulis: Bangsa ini memuliakan Aku dengan bibirnya, padahal hatinya jauh dari pada-Ku.\u201d ( ayat 6 )<\/p>\n<p>Pesan Tuhan bagimu hari ini:<\/p>\n<p>&#8211; Murnikanlah hatimu setiap kali engkau memuji dan menyembah Allah;<\/p>\n<p>&#8211; \u2060Rangkaikanlah kata-kata yang keluar dari hatimu yang tulus dan murni;<\/p>\n<p>&#8211; \u2060Jadilah pelaksana utama dari apa yang engkau katakan.<\/p>\n<p>Akhirnya kemurnian hati memang tidak bisa dilihat dan diukur, tapi kata-kata yang Anda ucapkan mengekspresikan sebagian dari apa yang ada di hatimu. Maka bijaklah berbicara kepada orang lain, karena mereka bisa menilai dirimu dari kata-katamu.<\/p>\n<p>Selamat beraktivitas untuk para sahabat.<\/p>\n<p>Salam, doa dan berkatku ( + ) untuk semua.<br \/>\n( Dari: Mgr. Inno Ngutra : Minnong &#8211; Duc in Altum )<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Sabda Kehidupan Selasa 10 Februari 2026 Peringatan St Skolastika Markus 7:6b (Mrk 7:1-13) \u201dBangsa ini memuliakan Aku dengan bibirnya, padahal hatinya jauh dari pada-Ku.\u201d Selaras Yang Di Bibir Dan Yang Di Hati Yesus menegur&#46;&#46;&#46;<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":90462,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[1,20],"tags":[],"class_list":["post-92558","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-bacaan-harian","category-renungan-text"],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/katolikindonesia.org\/wp-content\/uploads\/2025\/12\/app-2026.png","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/92558","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=92558"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/92558\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":92559,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/92558\/revisions\/92559"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/90462"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=92558"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=92558"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=92558"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}