{"id":92463,"date":"2026-02-08T14:43:55","date_gmt":"2026-02-08T07:43:55","guid":{"rendered":"https:\/\/katolikindonesia.org\/?p=92463"},"modified":"2026-02-08T14:43:55","modified_gmt":"2026-02-08T07:43:55","slug":"minggu-08-februari-2026-5","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/katolikindonesia.org\/?p=92463","title":{"rendered":"Minggu, 08 Februari 2026"},"content":{"rendered":"<p>Sabda Kehidupan<br \/>\nMinggu 08 Februari 2026<br \/>\nHari Minggu Biasa V<br \/>\nMatius 5:13-14 (Mat 5:13-16)<br \/>\n&#8220;Kamu adalah garam dunia. Jika garam itu menjadi tawar, dengan apakah ia diasinkan? Tidak ada lagi gunanya selain dibuang dan diinjak orang. Kamu adalah terang dunia. Kota yang terletak di atas gunung tidak mungkin tersembunyi.\u201d<\/p>\n<p>Menjadi Garam Dan Terang Dunia<\/p>\n<p>Atas cara yang sederhana namun jelas, Yesus memberi gambaran hidup kristiani yang penuh arti. Di satu pihak Yesus mengajak kita menjadi seperti garam yang sekalipun tak kelihatan namun telah memberikan cita rasa, membangkitkan selera dan gairah serta semangat hidup.<br \/>\nDi pihak lain Yesus menghendaki kita menjadi seperti cahaya yang kelihatan, untuk menerangi dan menuntun, mencerahkan dan memberi harapan.<br \/>\nKedua wujud ini kiranya menjadi nyata lewat perbuatan baik. Antara lain melalui kehadiran, sikap dan tutur kata, serta aksi nyata menebar kebaikan di sekitar kita, agar kehadiran kita senantiasa membawa arti bagi orang lain.<\/p>\n<p>Sebuah senyuman kecil dan tulus akan membuat orang lain ikut tersenyum dan merasa diterima. Sikap peduli kita bagi orang yang berbeban dan butuh pertolongan akan memberikan semangat hidup bagi mereka.<br \/>\nAda kesusahan dan duka, ada bencana dan banjir, namun tetap ada relawan, tangan terulur dan hati yang peduli serta penuh cinta. Demikianlah kita menjadi saksi kebaikan Tuhan dan orang dapat melihat bahwa Allah hidup dan bekerja melalui putra putri Allah yang berbelas kasih.<br \/>\nBetapa bahagianya kita ketika Allah dimuliakan melalui hidup dan karya kita, di manapun kita berada, ke manapun kita diutus.<\/p>\n<p>\u201dYa Yesus, utuslah Roh KudusMu menyalakan api cintaMu dalam diri kami, memberi kami gairah dan semangat untuk mampu dan setia menggarami lingkungan sekitar dengan teladan kebaikan, rajin dan terlibat aktif.<br \/>\nGerakkan tangan kami agar terulur membantu, dan ringankan kaki kami agar maju melangkah menjumpai sesama.<br \/>\nJadikanlah kami pembawa damai dan sukacita, pengampunan dan belaskasih. Jadikanlah kami cahayaMu, memberi terang dan harapan baru, optimisme serta jalan keluar atas berbagai persoalan hidup ini. Amin.\u201d<\/p>\n<p>Selamat hari Minggu. Teruslah menggarami, tetaplah bersinar bersama Yesus.&#x2764;&#xfe0f;<br \/>\nPs Revi Tanod Pr<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>  \u210d<br \/>\nMinggu, 8 Februari 2026, Minggu Biasa V Tahun A<br \/>\nBacaan: Yes. 58:7-10; Mzm. 112:4-5,6-7,8a,9; 1Kor. 2:1-5; Mat. 5:13-16.<\/p>\n<p>\u201cKamu adalah garam dunia. Jika garam itu menjadi tawar, dengan apakah ia diasinkan? Tidak ada lagi gunanya selain dibuang dan diinjak orang. Kamu adalah terang dunia. Kota yang terletak di atas gunung tidak mungkin tersembunyi\u2026.. Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga.\u201d (Mat 5: 13, 14, 16)<\/p>\n<p>Kita, orang-orang Kristiani, hidup sebagai minoritas. Artinya, jumlah kita amat kecil dibandingkan dengan penganut agama mayoritas. Tidak jarang, posisi kita sebagai minoritas memberi kemungkinan yang lebih besar untuk mengalami sikap-sikap dan tindakan intoleran dari kelompok yang lain. Akan tetapi Sabda Tuhan hari ini mengajak kita merenungkan dari sudut pandang yang lain.<\/p>\n<p>Yesus menyebut kita garam dan terang dunia. Ia memanggil kita dan menantang kita menjadi garam dan terang dunia. Dengan contoh dari kehidupan sehari-hari Ia ingin meyakinkan para murid-Nya peran dari dua hal tersebut dalam hidup bersama. Tanpa garam dan terang, akan seperti apa kehidupan kita? Betapa pentingnya kedua hal tersebut walau sering terabaikan kehadirannya karena orang hanya memperhatikan efek yang dihasilkan.<\/p>\n<p>Kini, dihubungkan dengan \u201cstatus\u201d kita sebagai minoritas, kita diingatkan akan peran dan tanggungjawab kita sebagai orang-orang Kristiani. Tak seorangpun menaruh satu piring garam pada satu piring makanan. Satu piring makanan hanya membutuhkan sejumput kecil garam agar menjadi lehih sedap. Jika kita makan sepiring nasi goreng dengan garam satu piring juga, entah seperti apa rasanya. Saat kita memasak, kita hanya menambahkan garam dengan volume yang cocok.<\/p>\n<p>Demikian juga dengan terang. Kita memasang lampu hanya sesuai dengan luasnya ruangan yang perlu diterangi. Terang punya potensi untuk mencapai sudut-sudut ruangan untuk menghalau kegelapan. Dengan terang pula segala macam aktivitas dalam hidup dapat berjalan dengan baik. Dipanggil oleh Yesus untuk menjadi terang berarti kita dipanggil untuk menghalau pelbagai macam \u201ckegelapan\u201d dalam dunia. Dan jangan lupa, dengan menjadi terang dunia, kita menghadirkan Kristus Sang Terang sejati.<\/p>\n<p>Dengan demikian bukan jumlah yang diperhitungkan, tetapi kinerja, efek dan dampak kita sebagai orang-orang Kristiani yang sejati yang diukur. Minoritas? Jangan berkecil hati. Hendaklah kita menjadi mayoritas dalam efek dan dampak yang kita hasilkan sebagai pengikut-pengikut Kristus yang sejati!<\/p>\n<p>Tuhan Yesus, Engkau membimbing kami dengan terang kebenaran-Mu yang menyelamatkan. Penuhi hati dan pikiran kami dengan terang dan kebenaran-Mu dan bebaskan kami dari kebutaan dosa dan timu muslihat si jahat, agar kami dapat melihat jalan-Mu dengan jelas dan memahami kehendak-Mu untuk hidup kami. Semoga kami memancarkan terang dan kebenaran-Mu kepada orang lain dalam perkataan dan perbuatan.<\/p>\n<p>Selamat hari Minggu. Selamat menjadi garam dan terang. \u24bf\u24c1\u24ca! &#x2764;<br \/>\n&#x2764;\ufe0e.<\/p>\n<blockquote class=\"wp-embedded-content\" data-secret=\"hLAxv5GcSO\"><p><a href=\"https:\/\/sacerdos2000.com\/kamu-adalah-garam-dan-terang-dunia\/\">Kamu adalah Garam dan Terang Dunia<\/a><\/p><\/blockquote>\n<p><iframe loading=\"lazy\" class=\"wp-embedded-content\" sandbox=\"allow-scripts\" security=\"restricted\" style=\"position: absolute; visibility: hidden;\" title=\"&#8220;Kamu adalah Garam dan Terang Dunia&#8221; &#8212; Sacerdos2000\" src=\"https:\/\/sacerdos2000.com\/kamu-adalah-garam-dan-terang-dunia\/embed\/#?secret=2JyK2QJrHc#?secret=hLAxv5GcSO\" data-secret=\"hLAxv5GcSO\" width=\"500\" height=\"282\" frameborder=\"0\" marginwidth=\"0\" marginheight=\"0\" scrolling=\"no\"><\/iframe><\/p>\n<p>RP Joni Astanto MSC<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Sabda Kehidupan Minggu 08 Februari 2026 Hari Minggu Biasa V Matius 5:13-14 (Mat 5:13-16) &#8220;Kamu adalah garam dunia. Jika garam itu menjadi tawar, dengan apakah ia diasinkan? Tidak ada lagi gunanya selain dibuang dan&#46;&#46;&#46;<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":90462,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[1,20],"tags":[],"class_list":["post-92463","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-bacaan-harian","category-renungan-text"],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/katolikindonesia.org\/wp-content\/uploads\/2025\/12\/app-2026.png","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/92463","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=92463"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/92463\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":92464,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/92463\/revisions\/92464"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/90462"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=92463"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=92463"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=92463"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}