{"id":91734,"date":"2026-01-24T07:43:17","date_gmt":"2026-01-24T00:43:17","guid":{"rendered":"https:\/\/katolikindonesia.org\/?p=91734"},"modified":"2026-01-24T07:43:17","modified_gmt":"2026-01-24T00:43:17","slug":"sabtu-24-januari-2026-5","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/katolikindonesia.org\/?p=91734","title":{"rendered":"Sabtu, 24 Januari 2026"},"content":{"rendered":"<p>Sabda Kehidupan<br \/>\nSabtu 24 Januari 2026<br \/>\nPeringatan St Fransiskus de Sales<br \/>\nMarkus 3:20-21<br \/>\nYesus masuk ke sebuah rumah. Maka datanglah orang banyak berkerumun pula, sehingga makanpun mereka tidak dapat. Waktu kaum keluarga-Nya mendengar hal itu, mereka datang hendak mengambil Dia, sebab kata mereka Ia tidak waras lagi.<\/p>\n<p>Sampai Tergila-gila<\/p>\n<p>Yesus sampai lupa makan, lupa lelah, lupa istirahat karena tak henti melayani dan membantu orang. Itulah alasan bagi keluarga Yesus untuk mengatakan bahwa Dia tidak waras lagi alias gila.<br \/>\nAkan tetapi tahukah kita ungkapan inilah yang justru menjadi ukuran dan tanda sejauh mana komitmen kita untuk secara total hidup bagi Tuhan dan sesama yakni bila kita menjadi tergila-gila memberi diri.<\/p>\n<p>Jadi apabila kita bekerja hanya pada tahap biasa-biasa saja, rata-rata, atau pas-pasan, itu tandanya tidak ada yang istimewa dari karya kita.<br \/>\nTapi ketika orang mengatakan bahwa kita sudah tidak waras lagi karena tidak mengenal waktu dan tenaga serta tidak ingat diri sendiri, itu berarti kita telah memiliki hati, pikiran, dan perasaan seperti Yesus!<\/p>\n<p>Ingatlah bahwa dalam melakukan perubahan, ada begitu banyak tantangan, resistensi dan penolakan yang akan kita alami. Apalagi kalau ingin memperjuangkan idealisme, memberantas ketidakadilan, menegakkan kebenaran, melawan arus, memulihkan keadaan, melakukan transformasi demi mewujudkan cita-cita.<br \/>\nButuh orang gila, tepatnya orang yang tergila-gila untuk mewujudkannya.<\/p>\n<p>Dalam sejarah, para pembaharu dunia adalah orang yang tidak waras, yang tidak biasa, alias luar biasa.<br \/>\n\u201dKetidakwarasan\u201d Yesus membawaNya sampai di kayu salib. Namun Yesus tampil sebagai pemenang. Ia menjadikan salib sebagai tanda kemenangan bukan lagi tanda penghinaan.<br \/>\nDemikian juga orang yang mau disebut \u2018tidak waras\u2019 karena cinta yang berkobar-kobar. Itulah para pemikul salib, para pencinta Tuhan dan pejuang sejati.<br \/>\nBeranilah menjadi salah satunya.<\/p>\n<p>Selamat berakhir pekan! Kobarkan terus semangat melayani dalam Tuhan&#x1f64f;&#x2764;&#xfe0f;&#x1f607;<br \/>\nPs Revi Tanod Pr<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Kalender Liturgi 24 Jan 2026<br \/>\nSabtu Pekan Biasa II<br \/>\nPW S. Fransiskus dari Sales, Uskup dan Pujangga Gereja<br \/>\nWarna Liturgi : Putih<br \/>\nBait Pengantar Injil: Kis 16:14b<br \/>\nBacaan Injil: Mrk 3:20-21<br \/>\n***********<\/p>\n<p>Bait Pengantar Injil<br \/>\nKis 16:14b<br \/>\nBukalah hati kami, ya Allah,<br \/>\nagar dapat memperhatikan sabda Anak-Mu.<\/p>\n<p>Bacaan Injil<br \/>\nMrk 3:20-21<br \/>\nOrang-orang mengatakan Yesus tidak waras lagi.<\/p>\n<p>Inilah Injil Suci menurut Markus:<\/p>\n<p>Sekali peristiwa Yesus bersama murid-murid-Nya<br \/>\nmasuk ke sebuah rumah.<br \/>\nMaka datanglah orang banyak berkerumun pula,<br \/>\nsehingga makan pun mereka tidak dapat.<br \/>\nWaktu kaum keluarga-Nya mendengar hal itu,<br \/>\nmereka datang hendak mengambil Dia,<br \/>\nsebab kata mereka, &#8220;Ia tidak waras lagi.&#8221;<\/p>\n<p>Demikianlah sabda Tuhan.<br \/>\n***********<\/p>\n<p>TETAP TEKUN DAN TABAH SERTA BERSEMANGAT MELAKUKAN BERBAGAI KEBAIKAN DAN KEBENARAN SERTA PENCERAHAN<br \/>\n(RD.John Tanggul, Paroki Wangkung, Keuskupan Ruteng).<\/p>\n<p>Perbuatan baik, benar dan mulia tdk selamanya menuai pujian dan penerimaan. Malah adakalanya yang terjadi justru sebaliknya. Perbuatan baik menimbulkan perbantahan, kecurigaan, kecemburuan atau kebencian terhadap pelakunya. Ironisnya lagi, pelaku yang memberi respon negatip itu bukan saja datang dari orang luar yang tidak simpatik perilakunya, tetapi justru dari orang2 dalam\/dekatnya.<\/p>\n<p>Hal yang sama terjadi pada diri Yesus. Segala pengajaran dan mukjizat Yesus, segala perbuatan\/karya baik dan benarNya (mewartakan Kabar Baik\/Gembira dan Kerajaan Allah, membawa keselamatan untuk manusia), segala &#8220;pencerahan&#8221; yang disampaikanNya, selain mengundang decak kagum banyak orang, juga malahirkan cibiran bibir dan kecurigaan. Ada yang tidak mau menerimaNya, mengolok2Nya, meremehkan, tidak menghiraukanNya dan TIDAK MAU MEMAHAMINYA, bahkan ada yang menganggapNya tidak waras (Mrk. 3:21), bahkan ahli2 Taurat dari Yerusalempun berkata:&#8221; Ia kerasukan Beelzebul, dan dengan kuasa penghulu setan Ia mengusir setan&#8221; (Mrk.3: 22).<\/p>\n<p>Yesus benar2 pribadi yang memiliki integritas kuat. Ia berbuat baik kp siapapun bukan didorong oleh harapan akan pujian dan sanjungan. Ia tidak haus pujian. Ia hanya melaksanakan titah BapaNya. Karena itu, Ia sungguh2 iklas melakukan kebaikan2. Bahkan ketika dianggap tidak waras, Yesus tidak lekas menyerah. Ia masih giat mewarkakan Kabar Gembira\/Sukacita perhal Kerajaan Surga.<\/p>\n<p>Saya, anda juga pasti mengalami hal yang sama seperti Yesus, ketika saya, anda melakukan kebaikan2 sekalipun. Selalu saja ada orang yang tidak simpatik dan merasa jijik. Putus asa atau menyerahkah saya, anda??? Janganlah!!Saya, anda tetap tekun dan tabah serta bersemangat melakukan berbagai kebaikan dan kebenaran serta &#8220;pencerahan&#8221; demi kemuliaan Tuhan dan keselamatan orang lain, apapun keadaan yang dihadapi meski saya dan anda dicap tidak waras.<\/p>\n<p>Semoga Allah Tritunggal Mahakudus (+) MEMBERKATI saya, anda sekalian yang tetap tekun dan tabah serta bersemangat melakukan berbagai kebaikan dan kebenaran serta pencerahan saat ini di sini. Amin.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Sabda Kehidupan Sabtu 24 Januari 2026 Peringatan St Fransiskus de Sales Markus 3:20-21 Yesus masuk ke sebuah rumah. Maka datanglah orang banyak berkerumun pula, sehingga makanpun mereka tidak dapat. Waktu kaum keluarga-Nya mendengar hal&#46;&#46;&#46;<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":90462,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[1,20],"tags":[],"class_list":["post-91734","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-bacaan-harian","category-renungan-text"],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/katolikindonesia.org\/wp-content\/uploads\/2025\/12\/app-2026.png","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/91734","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=91734"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/91734\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":91735,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/91734\/revisions\/91735"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/90462"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=91734"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=91734"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=91734"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}