{"id":90951,"date":"2026-01-09T08:54:09","date_gmt":"2026-01-09T01:54:09","guid":{"rendered":"https:\/\/katolikindonesia.org\/?p=90951"},"modified":"2026-01-09T08:54:09","modified_gmt":"2026-01-09T01:54:09","slug":"jumat-09-januari-2026-5","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/katolikindonesia.org\/?p=90951","title":{"rendered":"Jumat, 09 Januari 2026"},"content":{"rendered":"<p>Sabda Kehidupan<br \/>\nJumat 09 Januari 2026<br \/>\nLukas 5:12-13 (Luk 5:12-16)<br \/>\nKetika ia melihat Yesus, tersungkurlah ia dan memohon: &#8220;Tuan, jika Tuan mau, Tuan dapat mentahirkan aku.&#8221; Lalu Yesus mengulurkan tangan-Nya, menjamah orang itu, dan berkata: &#8220;Aku mau, jadilah engkau tahir.&#8221; Seketika itu juga lenyaplah penyakit kustanya.<\/p>\n<p>Biarlah Kehendak Tuhan Yang Terjadi<\/p>\n<p>Menarik bahwa dalam kisah penyembuhan Yesus bagi si kusta, ia tidak langsung meminta Yesus menyembuhkan dia. Ia datang pada Yesus untuk mengungkapkan imannya akan Yesus. Dalam hal ini bukanlah permintaan si kusta yang menentukan tapi kemauan Yesus untuk menolongnya. Semuanya memungkinkan bila Yesus mau. Semuanya semata karena kemurahan hati Yesus.<br \/>\nUngkapan iman ini, sama persis dengan ungkapan iman Yesus akan penyelenggaraan BapaNya. \u201cBukan kehendakKu melainkan kehendakMu-lah yang terjadi.\u201d Inilah doa yang diajarkan Yesus bagi kita, \u201cjadilah kehendakMu di atas bumi seperti di dalam surga.\u201d<\/p>\n<p>Apapun penyakit kita, apapun permasalahan dan beban hidup kita, mari datang pada Yesus, menaruh segala harapan kita padaNya. Entah sembuh seketika, atau selesai seketika, atau harus menunggu lama hingga doa kita terkabul, atau bahkan tidak terkabul sama sekali, tak membuat kita risau, karena kita telah meletakkannya dalam tangan Tuhan.<br \/>\nBiarlah kita selalu tersungkur depan kaki Yesus, sujud menyembah Dia, membawa semua harapan kita padaNya. Tunjukkan pada Yesus bahwa kita adalah \u2018peziarah pengharapan.\u2019 Kita tetap berharap dan percaya, Tuhan Yesus mendengar semua doa kita, Ia selalu peduli dan segera bertindak. Jangan berhenti berdoa, berharap dan percaya.<\/p>\n<p>Tetap semangat apapun yang kita hadapi, Yesus ada bersama kita&#x2764;&#xfe0f;<br \/>\nPs Revi Tanod Pr<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Kalender Liturgi 09 Jan 2026<br \/>\nJumat Masa Natal<br \/>\nWarna Liturgi: Putih<br \/>\nBait Pengantar Injil: Mat 4:23<br \/>\nBacaan Injil: Luk 5:12-16<br \/>\n***********<\/p>\n<p>Bait Pengantar Injil<br \/>\nMat 4:23<br \/>\nYesus memberitakan Injil Kerajaan Allah<br \/>\nserta melenyapkan segala penyakit dan kelemahan.<\/p>\n<p>Bacaan Injil<br \/>\nLuk 5:12-16<br \/>\nYesus menyembuhkan seorang yang sakit kusta.<\/p>\n<p>Inilah Injil Suci menurut Lukas:<\/p>\n<p>Sekali peristiwa Yesus berada di sebuah kota.<br \/>\nAda di situ seorang yang penuh kusta.<br \/>\nKetika melihat Yesus, tersungkurlah si kusta dan memohon,<br \/>\n&#8220;Tuan, jika Tuan mau, Tuan dapat mentahirkan aku.&#8221;<br \/>\nMaka Yesus mengulurkan tangan-Nya menjamah orang itu,<br \/>\ndan berkata,<br \/>\n&#8220;Aku mau, jadilah engkau tahir!&#8221;<br \/>\nSeketika itu juga lenyaplah penyakit kustanya.<br \/>\nYesus melarang orang itu<br \/>\nmemberitahukannya kepada siapa pun juga,<br \/>\ndan Ia berkata,<br \/>\n&#8220;Pergilah, perlihatkanlah dirimu kepada imam,<br \/>\ndan persembahkanlah untuk pentahiranmu<br \/>\npersembahan seperti yang diperintahkan Musa,<br \/>\nsebagai bukti bagi mereka.&#8221;<br \/>\nTetapi kabar tentang Yesus makin jauh tersiar,<br \/>\ndan datanglah orang banyak berbondong-bondong kepada-Nya<br \/>\nuntuk mendengar Dia<br \/>\ndan untuk disembuhkan dari penyakit mereka.<br \/>\nAkan tetapi Yesus mengundurkan diri<br \/>\nke tempat-tempat yang sunyi dan berdoa.<\/p>\n<p>Demikianlah sabda Tuhan.<br \/>\n************<\/p>\n<p>  \u210d <\/p>\n<p>\u201cLalu Yesus mengulurkan tangan-Nya, menjamah orang itu, dan berkata: &#8220;Aku mau, jadilah engkau tahir.&#8221; Seketika itu juga lenyaplah penyakit kustanya.\u201d (Luk 5: 13)<\/p>\n<p>Seringkali dalam Injil dikisahkan bahwa Yesus menyembuhkan orang melalui kata-kata yang diucapkan. Untuk menyembuhkan penderita kusta dalam Injil hari ini, Yesus tidak hanya berbicara kepadanya, namun juga menjamah dia. Kisah ini dengan tepat menggambarkan misi Yesus untuk menjangkau orang-orang terpinggirkan, memberikan penyembuhan, bela rasa, dan rasa keterikatan. Peristiwa ini terjalin dalam narasi yang lebih luas yang menyoroti kepedulian terhadap orang miskin dan tertindas, menantang norma-norma sosial dan agama yang memicu pengucilan.<\/p>\n<p>Kusta tidak hanya mewakili kondisi fisik; ia melambangkan isolasi sosial yang mendalam. Orang kusta menghadapi pemisahan, dianggap najis, dan diasingkan dari komunitas dan aktivitas ibadah mereka. Ketika orang kusta datang kepada Yesus, ia tidak hanya menginginkan penyembuhan fisik tetapi juga pemulihan martabat dan rasa memiliki dalam masyarakat. Reaksi Yesus sangat revolusioner \u2014 Ia menyentuh prang kusta itu, menyembuhkannya, dan secara simbolis mengintegrasikannya kembali ke dalam komunitas.<\/p>\n<p>Narasi ini mengajak kita untuk merenungkan cara kita berinteraksi dengan mereka yang terpinggirkan di sekitar kita. Hari ini, \u201csi kusta\u201d mungkin tidak menderita penyakit fisik, tetapi menderita kemiskinan, tunawisma, gangguan mental, atau pengucilan sosial. Seperti Yesus, kita ditantang untuk memperluas bela rasa kita, bukan dari jarak aman, tetapi melalui solidaritas aktif dan inklusi.<\/p>\n<p>Lukas mengingatkan kita bahwa penyembuhan bukan hanya soal memenuhi kebutuhan segera, tetapi juga menghadapi akar penyebab penderitaan: ketidakadilan, ketidaksetaraan, dan pengabaian sistemik. Sebagai individu dan komunitas iman, kita diundang untuk mewujudkan Injil dengan membela mereka yang digusur ke pinggiran, menawarkan bukan hanya sedekah tetapi integrasi yang sejati ke dalam kehidupan Gereja dan masyarakat.<\/p>\n<p>Selain itu, Lukas menyoroti kebutuhan Yesus akan doa di tengah pelayanan-Nya. Hal ini mengingatkan kita bahwa tindakan kita harus berakar pada hubungan akrab dengan Allah, mencari bimbingan dan kekuatan-Nya.<\/p>\n<p>Tuhan, semoga komunitas dan pribadi kami masing-masing semakin berbelarasa, merangkul dan menyembuhkan mereka yang sakit, terluka dan terpinggirkan. Amin.<\/p>\n<p>Selamat beraktivitas. Rangkul dan sembuhkan yang terluka dan terpinggirkan!<br \/>\n! &#x2764;<br \/>\n&#x2764;\ufe0e.<\/p>\n<blockquote class=\"wp-embedded-content\" data-secret=\"Tl4NJAAA74\"><p><a href=\"https:\/\/sacerdos2000.com\/dipanggil-untuk-bela-rasa-menyembuhkan-dan-inklusi\/\">Dipanggil untuk Bela Rasa, Menyembuhkan dan Inklusi<\/a><\/p><\/blockquote>\n<p><iframe loading=\"lazy\" class=\"wp-embedded-content\" sandbox=\"allow-scripts\" security=\"restricted\" style=\"position: absolute; visibility: hidden;\" title=\"&#8220;Dipanggil untuk Bela Rasa, Menyembuhkan dan Inklusi&#8221; &#8212; Sacerdos2000\" src=\"https:\/\/sacerdos2000.com\/dipanggil-untuk-bela-rasa-menyembuhkan-dan-inklusi\/embed\/#?secret=oZS0eQzxI5#?secret=Tl4NJAAA74\" data-secret=\"Tl4NJAAA74\" width=\"500\" height=\"282\" frameborder=\"0\" marginwidth=\"0\" marginheight=\"0\" scrolling=\"no\"><\/iframe><\/p>\n<p>RP Joni Astanto MSC<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Sabda Kehidupan Jumat 09 Januari 2026 Lukas 5:12-13 (Luk 5:12-16) Ketika ia melihat Yesus, tersungkurlah ia dan memohon: &#8220;Tuan, jika Tuan mau, Tuan dapat mentahirkan aku.&#8221; Lalu Yesus mengulurkan tangan-Nya, menjamah orang itu, dan&#46;&#46;&#46;<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":90462,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[1,20],"tags":[],"class_list":["post-90951","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-bacaan-harian","category-renungan-text"],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/katolikindonesia.org\/wp-content\/uploads\/2025\/12\/app-2026.png","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/90951","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=90951"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/90951\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":90952,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/90951\/revisions\/90952"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/90462"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=90951"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=90951"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=90951"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}