{"id":90844,"date":"2026-01-07T09:14:00","date_gmt":"2026-01-07T02:14:00","guid":{"rendered":"https:\/\/katolikindonesia.org\/?p=90844"},"modified":"2026-01-07T09:14:00","modified_gmt":"2026-01-07T02:14:00","slug":"rabu-07-januari-2026-5","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/katolikindonesia.org\/?p=90844","title":{"rendered":"Rabu, 07 Januari 2026"},"content":{"rendered":"<p>Sabda Kehidupan<br \/>\nRabu 07 Januari 2026<br \/>\nMarkus 6:48, 50b (Mrk 6:45-52)<br \/>\nKetika Ia melihat betapa payahnya mereka mendayung karena angin sakal, maka kira-kira jam tiga malam Ia datang kepada mereka berjalan di atas air dan Ia hendak melewati mereka. Ia berkata kepada mereka, \u201cTenanglah! Aku ini, jangan takut!&#8221;<\/p>\n<p>Tenanglah! Jangan Takut!<\/p>\n<p>Perahu para murid diterjang angin sakal membuat mereka begitu berat mendayung. Sekalipun mereka adalah nelayan yang ahli, mereka tak mampu menghadapi badai yang begitu besar dan kuat.<br \/>\nPeduli dengan situasi yang dihadapi murid-muridNya, Yesus datang mendekati mereka dengan berjalan di atas air lalu menenangkan hati mereka: \u201cTenanglah, Aku ini, jangan takut!\u201d<\/p>\n<p>Injil hari ini mengingatkan kita bahwa Yesus selalu hadir di setiap pergumulan hidup kita. Ia tak akan membiarkan kita berjuang sendiri mengatasi gelombang kehidupan yang begitu berat.<br \/>\nKita semua berada dalam perahu kehidupan mengarungi lautan yang tak pernah lepas dari terpaan badai.<br \/>\nSabda Yesus, \u2018tenanglah, Aku ini, jangan takut,\u2019 kiranya memberi kita kekuatan dan pengharapan teguh untuk terus mendayung bahtera kehidupan kita dengan Yesus beserta kita.<\/p>\n<p>Undanglah Yesus selalu dalam perahu hidup kita. Dia-lah pengharapan kita, dalam Dia hati kita tenang, karena Ia hadir menemani kita. Dalam Yesus kita percaya badai pasti berlalu. Ia memberi kita kekuatan ilahi untuk dapat bertahan dan bersandar penuh pada kasih setiaNya.<\/p>\n<p>\u201dYa Yesus, ulurkanlah tanganMu, peganglah tangan kami agar tidak tenggelam dalam ketakutan dan kecemasan yang melanda hidup kami oleh pelbagai macam persoalan hidup berumahtangga, masalah relasi dan pekerjaan, studi dan masalah finansial, serta pelbagai sakit penyakit yang menggelisahkan kami. BersamaMu hati kami tenang, jiwa kami tenteram. Tuntunlah kami selalu di jalanMu. Engkau yang hidup dan berkuasa selamanya. Amin.\u201d<\/p>\n<p>Mari terus melanjutkan perjalanan hidup kita, berlayar bersama Yesus.&#x2764;&#xfe0f;<br \/>\nPs Revi Tanod Pr<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>  \u210d <\/p>\n<p>Rabu, 7 Januari 2026, Rabu sesudah Penampakan Tuhan<br \/>\nBacaan: 1Yoh 4:11-18; Mzm 72:2.10-11.12-13; Mrk 6:45-52.<\/p>\n<p>\u201cSesudah itu Yesus segera memerintahkan murid-murid-Nya naik ke perahu dan berangkat lebih dulu ke seberang, ke Betsaida, sementara itu Ia menyuruh orang banyak pulang. Setelah Ia berpisah dari mereka, Ia pergi ke bukit untuk berdoa. Ketika hari sudah malam perahu itu sudah di tengah danau, sedang Yesus tinggal sendirian di darat. Ketika Ia melihat betapa payahnya mereka mendayung karena angin sakal, maka kira-kira jam tiga malam Ia datang kepada mereka berjalan di atas air dan Ia hendak melewati mereka. Ketika mereka melihat Dia berjalan di atas air, mereka mengira bahwa Ia adalah hantu, lalu mereka berteriak-teriak, sebab mereka semua melihat Dia dan merekapun sangat terkejut. Tetapi segera Ia berkata kepada mereka: &#8220;Tenanglah! Aku ini, jangan takut!\u201d (Mrk 6: 45 \u2013 50)<\/p>\n<p>Dalam Injil hari ini, Yesus berjalan di atas air mendekati para murid-Nya yang sedang berjuang melawan angin dan gelombang di dalam perahu. Kisah ini mengajak kita untuk merenungkan cobaan-cobaan yang dihadapi Gereja dan kehidupan pribadi kita, di mana kita sering merasa terombang-ambing oleh gejolak dan ketakutan.<\/p>\n<p>Perahu sering kali dipakai untuk melambangkan Gereja yang mengarungi lautan dunia yang seringkali penuh gejolak yang menghantamnya. Dari skandal dan penganiayaan hingga kebencian dan perpecahan dialami. Gereja tidak kebal terhadap badai. Namun, Injil mengingatkan kita bahwa perahu Gereja tidak akan tenggelam karena Yesus selalu hadir, meskipun tidak terlihat. Sabda-Nya, \u201cIni Aku, jangan takut,\u201d bergema di setiap zaman, membawa harapan bagi orang-orang beriman yang menghadapi kegelapan dan keputusasaan.<\/p>\n<p>Cerita Markus mengandung simbolisme yang kaya. Ditulis untuk umat Kristen awal yang mengalami penganiayaan di Roma, gambaran Yesus berjalan di atas air \u2014 menguasai laut, tempat tinggal kejahatan \u2014 menyatakan kemenangan Kristus atas semua kekuatan kegelapan. Laut, bagi orang Yahudi adalah kekuatan yang menakutkan. Ada keyakinan bahwa di kedalaman, terdapat Leviathan, penyebab bencana dan kekacauan yang melambangkan kekuasaan si jahat. Dengan berjalan di atas air (laut), Yesus berkuasa mengalahkan kejahatan. Markus hendak menyatakan bahwa badai mungkin berkecamuk, tetapi Gereja tetap aman di bawah perlindungan-Nya.<\/p>\n<p>Urutan peristiwa dalam kisah itu memberikan makna yang lebih dalam. Setelah memberi makan orang banyak, Yesus mengundurkan diri ke gunung sementara para murid diperintahkan ke laut tanpa-Nya. Ini mencerminkan misi Gereja setelah wafat, kebangkitan, dan kenaikan Yesus. Meskipun tidak lagi hadir secara fisik, Yesus membekali para murid-Nya dengan Ekaristi dan tetap bersama mereka secara rohani, bahkan dalam badai kehidupan yang paling dahsyat sekalipun.<\/p>\n<p>Ketika kesulitan, perjuangan sehari-hari, atau kegagalan pribadi mengancam untuk menenggelamkan kita, kita pun harus mencari Kristus yang berjalan menuju kita, mengucapkan kata-kata damai dan keberanian. Kehadirannya meyakinkan kita bahwa tidak ada badai, gelombang, atau kegelapan yang dapat memisahkan kita dari kasih-Nya. Marilah kita percaya bahwa perahu iman kita, meskipun retak, tidak akan pernah tenggelam, karena Kristus selalu bersama kita. \u201cTenanglah! Aku ini! Jangan takut.\u201d<\/p>\n<p>Tuhan, di awal tahun ini, teguhkanlah kepercayaan kami, bahwa seganas apapun lautan kehidupan yang harus kami arungi, Engkau selalu ada dalam bahtera hidup kami. Amin.<\/p>\n<p>Selamat berlayar mengarungi lautan kehidupan. ! &#x2764;<br \/>\n&#x2764;\ufe0e.<\/p>\n<blockquote class=\"wp-embedded-content\" data-secret=\"D4Wj5PrLvt\"><p><a href=\"https:\/\/sacerdos2000.com\/bahtera-gereja-di-tengah-badai\/\">Bahtera Gereja di tengah Badai<\/a><\/p><\/blockquote>\n<p><iframe loading=\"lazy\" class=\"wp-embedded-content\" sandbox=\"allow-scripts\" security=\"restricted\" style=\"position: absolute; visibility: hidden;\" title=\"&#8220;Bahtera Gereja di tengah Badai&#8221; &#8212; Sacerdos2000\" src=\"https:\/\/sacerdos2000.com\/bahtera-gereja-di-tengah-badai\/embed\/#?secret=Sej0OaApSs#?secret=D4Wj5PrLvt\" data-secret=\"D4Wj5PrLvt\" width=\"500\" height=\"282\" frameborder=\"0\" marginwidth=\"0\" marginheight=\"0\" scrolling=\"no\"><\/iframe><\/p>\n<p>RP Joni Astanto MSC<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Sabda Kehidupan Rabu 07 Januari 2026 Markus 6:48, 50b (Mrk 6:45-52) Ketika Ia melihat betapa payahnya mereka mendayung karena angin sakal, maka kira-kira jam tiga malam Ia datang kepada mereka berjalan di atas air&#46;&#46;&#46;<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":90462,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[1,20],"tags":[],"class_list":["post-90844","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-bacaan-harian","category-renungan-text"],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/katolikindonesia.org\/wp-content\/uploads\/2025\/12\/app-2026.png","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/90844","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=90844"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/90844\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":90845,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/90844\/revisions\/90845"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/90462"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=90844"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=90844"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=90844"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}