{"id":90288,"date":"2025-12-26T22:17:48","date_gmt":"2025-12-26T15:17:48","guid":{"rendered":"https:\/\/katolikindonesia.org\/?p=90288"},"modified":"2025-12-26T22:17:50","modified_gmt":"2025-12-26T15:17:50","slug":"sabtu-27-desember-2025-2","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/katolikindonesia.org\/?p=90288","title":{"rendered":"Sabtu, 27 Desember 2025"},"content":{"rendered":"\n<h2 class=\"wp-block-heading\"><strong>ANTIFON PEMBUKA:&nbsp;<\/strong><\/h2>\n\n\n\n<h4 class=\"wp-block-heading\">Yohanes inilah yang duduk di sisi Yesus waktu pertemuan.&nbsp;Bahagialah rasul ini, sebab rahasia surgawi diwartakannya ke seluruh dunia.<\/h4>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\"><strong>PENGANTAR:&nbsp;<\/strong><\/h2>\n\n\n\n<h4 class=\"wp-block-heading\">Tiada orang yang sanggup mengatakan cinta kasih Yeseus kepada kita dengan kata-kata yang indah dan mesra seperti Yohanes, yang menghayati benar kata-kata itu. Cinta kasihnya sendiri menyebabkan dia mendapat tempat khusus di antara teman-teman rasul. Injil dan surat-suratnya merupakan suatu renungan kembali tentang peristiwa-peristiwa terpenting di dalam sejarah umat manusia, sehingga harapan kita akan hidup kekal beralasan.<\/h4>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\"><strong>KEMULIAAN<\/strong><\/h2>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\"><strong>DOA KOLEKTA:&nbsp;<\/strong><\/h2>\n\n\n\n<h4 class=\"wp-block-heading\">Marilah berdoa :&nbsp;Allah Bapa yang mahaluhur,&nbsp;Engkau mewahyuhkan rahasia agung Sabda-Mu dengan perantara rasul-Mu Santo Yohanes.&nbsp;Terangilah kiranya budi kami, agar sanggup memahami ajaran luhur yang diwariskan kepada kami.&nbsp;Demi Yesus Kristus,..<\/h4>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\"><strong>BACAAN PERTAMA: Bacaan dari Surat Pertama Rasul Yohanes 1:1-4<\/strong><\/h2>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\"><em><strong>\u201cApa yang telah kami lihat dan kami dengar, itulah yang kami tuliskan kepada kamu.\u201d<\/strong><\/em><\/h3>\n\n\n\n<h4 class=\"wp-block-heading\">Saudara-saudara terkasih, apa yang telah ada sejak semula, yang telah kami dengar dan kami lihat dengan mata kami, yang telah kami saksikan, dan kami raba dengan tangan kami; yakni firman hidup, itulah yang kami tuliskan kepada kamu. Hidup telah dinyatakan, dan kami telah melihatnya! Dan sekarang kami bersaksi serta memberitakan kepada kamu tentang hidup kekal, yang ada bersama-sama dengan Bapa, dan yang telah dinyatakan kepada kami. Apa yang telah kami lihat dan kami dengar itu, kami beritakan kepada kamu juga, supaya kamu pun beroleh persekutuan dengan kami. Dan persekutuan kami adalah persekutuan dengan Bapa dan dengan Anak-Nya, yakni Yesus Kristus. Semuanya ini kami tuliskan kepada kamu, supaya sukacita kami menjadi sempurna.<br>Demikianlah sabda Tuhan.<br>U. Syukur kepada Allah.<\/h4>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\"><strong>MAZMUR TANGGAPAN: Mazmur 97:1-2.5-6.11-12<\/strong><\/h2>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\"><em><strong>Ref. Segala bangsa bertepuk tanganlah berpekiklah untuk Allah raja semesta.<\/strong><\/em><\/h3>\n\n\n\n<ol class=\"wp-block-list\">\n<li>Tuhan adalah Raja, biarlah bumi bersorak-sorai, biarlah banyak pulau bersukacita. Awan dan kekelaman ada di sekeliling-Nya, keadilan dan hukum adalah tumpuan takhta-Nya.<\/li>\n\n\n\n<li>Gunung-gunung luluh laksana lilin di hadapan Tuhan, di hadapan Tuhan semesta alam. Langit memberitakan keadilan-Nya dan segala bangsa melihat kemuliaan-Nya.<\/li>\n\n\n\n<li>Terang sudah terbit bagi orang benar, dan sukacita bagi orang-orang yang tulus hati. Bersukacitalah karena Tuhan, hai orang-orang benar, dan nyanyikanlah syukur bagi nama-Nya yang kudus.<\/li>\n<\/ol>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\"><strong>BAIT PENGANTAR INJIL:<\/strong><\/h2>\n\n\n\n<h4 class=\"wp-block-heading\">U :&nbsp;<em>Alleluya, alleluya, alleluya.&nbsp;<\/em><br>S :&nbsp;<em>Allah, Tuhan kami, Engkau kami puji dan kami muliakan, kepada-Mu paduan para rasul bersyukur.<\/em><\/h4>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\"><strong>BACAAN INJIL: Inilah Injil Yesus Kristus menurut Yohanes 20:2-8<\/strong><\/h2>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\"><em><strong>\u201cMurid yang lain itu berlari lebih cepat daripada Petrus sehingga lebih dahulu sampai di kubur.\u201d<\/strong><\/em><\/h3>\n\n\n\n<h4 class=\"wp-block-heading\">Pada hari Minggu Paskah, setelah mendapati makam Yesus kosong, Maria Magdalena berlari-lari mendapatkan Simon Petrus dan murid yang lain yang dikasihi Yesus. Ia berkata kepada mereka, \u201cTuhan telah diambil orang dari kuburnya, dan kami tidak tahu di mana Ia diletakkan.\u201d Maka berangkatlah Petrus dan murid yang lain itu ke kubur. Keduanya berlari bersama-sama, tetapi murid yang lain itu berlari lebih cepat daripada Petrus, sehingga ia lebih dahulu sampai di kubur. Ia menjenguk ke dalam, dan melihat kain kapan terletak di tanah; tetapi ia tidak masuk ke dalam. Maka tibalah Simon menyusul dia, dan masuk ke dalam kubur itu. Ia melihat kain kapan terletak di tanah, sedang kain peluh yang tadinya ada di kepala Yesus tidak terletak dekat kain kapan itu, tetapi agak di samping di tempat yang lain, dan sudah tergulung. Maka masuklah juga murid yang lain, yang lebih dahulu sampai di kubur itu; ia melihatnya dan percaya.<br>Demikianlah Sabda Tuhan<br>U. Terpujilah Kristus.<\/h4>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\"><strong>RESI DIBAWAKAN OLEH Rm Albertus Suryadi SCJ<\/strong><\/h2>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\"><em><strong>Vivat Cor Iesu per Cor Mariae. Hiduplah Hati Yesus melalui Hati Maria.<\/strong><\/em><\/h3>\n\n\n\n<h4 class=\"wp-block-heading\">Para pendengar RESI yang terkasih, Jumpa kembali bersama saya, Romo Albertus SuryadiSCJ, Misionaris SCJ di Hongkong, dalam ReSi, edisi Sabtu, 27 Desember 2025. Semoga anda semua dalam keadaan sehat dan berbahagia. Tema renungan kita hari ini, adalah: \u201c meneladan kesetiaan Iman Santo Yohanes.\u201d Mari kita bersama mendengarkan bacaan Injil hari ini, menurut Santo Yohanes 20:2-8.&nbsp;<\/h4>\n\n\n\n<h4 class=\"wp-block-heading\">Para pendengar RESI yang terkasih, hari ini kita merayakan pesta Santo Yohanes, Rasul dan penulis Injil. Bacaan Injil hari ini berkisah tentang Maria Magdalena melaporkan makam Yesus yang telah kosong. Petrus dan \u201cmurid yang dikasihi Yesus\u201d (atau yang lebih dikenal dengan Yohanes) berlari ke makam; Yohanes tiba lebih dulu, melihat kain kapan terlipat. Petrus yang datang kemudian masuk dan melihatnya. Yohanes kemudian masuk, melihat, dan \u201cpercaya\u201d bahwa Yesus telah bangkit. Yohanes yang berlari terlebih dahulu menuju ke makam, memberikan gambaran kepada kita&nbsp; tentang pengalaman imannya akan Yesus, betapa hatinya merindukan Yesus, dan ingin selalu bersama dengan Yesus, meskipun ia sendiri belum sepenuhnya mengerti.<\/h4>\n\n\n\n<h4 class=\"wp-block-heading\">Para pendengar ReSi yang terkasih, marilah kita meneladan sikap iman Santo Yohanes, terus berjuang dan setia mengikuti Yesus, membangun relasi yang dekat dan mendalam dengan Yesus, meski sering kali kita mengalami tantangan dan kesulitan dalam hidup dan iman kita. Kita dipanggil untuk menjadi saksi kebangkitan Yesus, melihat, mengalami, dan memberitakan sukacita Kristus, kepada semakin banyak orang yang kita jumpai, melalui perjuangan dan pengalaman hidup kita sehari hari. &nbsp;<\/h4>\n\n\n\n<h4 class=\"wp-block-heading\">Biarlah cinta Hati Kudus Yesus selalu meraja dan menguatkan hidup kita. Memampukan kita untuk terus berjuang menghayati dan mewujudkan iman kita, seperti Santo Yohanes yang setia. Biarlah hidup kita boleh menjadi berkat bagi semakin banyak orang, hari ini dan seterusnya. Selamat berkarya untuk hari ini, Tuhan Yesus memberkati kita semua. &nbsp;Amin.&nbsp;<\/h4>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\"><strong>DOA PERSIAPAN PERSEMBAHAN:<\/strong><\/h2>\n\n\n\n<h4 class=\"wp-block-heading\">Allah Bapa yang mahamulia,&nbsp;sucikanlah kiranya persembahan kami ini. Dalam perjamuan cinta kasih Putera-Mu.&nbsp;Engkau mewahyukan rahasia agung Sabda kekal kepada rasul-Mu Santo Yohanes. Semoga kami pun menimba rahasia itu dari perjamuan yang kami rayakan ini.&nbsp;Demi Kristus,\u2026<\/h4>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\"><strong>PREFASI NATAL:<\/strong><\/h2>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\"><strong>ANTIFON KOMUNI \u2013 Yoh 1:14.16<\/strong><\/h2>\n\n\n\n<h4 class=\"wp-block-heading\">Sabda menjadi manusia lemah dan tinggal di antara kita. Dari kelimpahan-Nya semua telah menerima.<\/h4>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\"><strong>DOA SESUDAH KOMUNI:&nbsp;<\/strong><\/h2>\n\n\n\n<h4 class=\"wp-block-heading\">Marilah berdoa&nbsp;Allah Bapa yang mahakuasa dan kekal,&nbsp;menurut ungkapan Rasul Santo Yohanes Sabada menjadi manusia lemah, Maka kami mohon kepada-Mu,&nbsp;semoga itu tinggal di antara kami berkat ekaristi yang kami rayakan ini.&nbsp;Demi Kristus,\u2026<\/h4>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><a href=\"https:\/\/resi.dehonian.or.id\/wp-content\/uploads\/2025\/12\/Resi-Sabtu-27-Desember-2025-oleh-Rm-Albertus-Suryadi-SCJ-dari-Komunitas-SCJ-Hongkong.mp3\">Resi-Sabtu 27 Desember 2025 oleh Rm Albertus Suryadi SCJ dari Komunitas SCJ Hongkong<\/a><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Sumber <a href=\"https:\/\/resi.dehonian.or.id\/2025\/12\/24\/sabtu-27-desember-2025-pesta-st-yohanes-rasul-penginjil-hari-sabtu-dalam-oktaf-natal\/\">https:\/\/resi.dehonian.or.id\/2025\/12\/24\/sabtu-27-desember-2025-pesta-st-yohanes-rasul-penginjil-hari-sabtu-dalam-oktaf-natal\/<\/a><\/p>\n\n\n\n<figure><iframe loading=\"lazy\" src=\"https:\/\/katolikindonesia.org\/?powerpress_pinw=90288-podcast&amp;powerpress_player=default\" width=\"320\" height=\"50\"><\/iframe><\/figure>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\">Santo&nbsp;Yohanes Rasul<\/h2>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\">Apostle of Charity, Beloved Apostle, Beloved Disciple, Giovanni Evangelista, John the Divine, John the Evangelist, John the Theologian<\/h3>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Para rasul melihat Yesus secara jasmani, dari muka ke muka; mereka mendengarkan perkataan yang Ia ucapkan, dan setelah tiba saatnya mereka mewartakaan sabda-Nya itu kepada kita. Jadi, kita juga telah mendengarkan, meskipun kita tidak melihat; kita bersekutu dengan mereka, karena kita dan mereka memiliki iman yang sama.<strong>\u00a0\u2014<em>St. Agustinus<\/em><\/strong><\/p>\n\n\n\n<h4 class=\"wp-block-heading\">St. Yohanes adalah seorang nelayan di Galilea. Ia, bersama dengan St. Yakobus saudaranya, dipanggil untuk menjadi rasul Kristus. Yesus memberi julukan \u201canak-anak guruh\u201d kepada kedua putera Zebedeus ini.<\/h4>\n\n\n\n<h4 class=\"wp-block-heading\">St. Yohanes adalah rasul yang termuda. Ia amat dikasihi oleh Yesus, dan iapun amat mengenali Yesus Sang Guru. Pada perjamuan malam terakhir, Yohanes diperbolehkan menyandarkan kepalanya didada Yesus. Yohanes juga satu-satunya rasul yang berdiri di kaki salib sementara yang lain melarikan diri. Yesus yang sedang menghadapi ajal menyerahkan pemeliharaan Bunda-Nya kepada murid yang dikasihi-Nya ini. Sambil memandang Bunda Maria, Ia berkata, \u201cInilah ibumu.\u201d (Yoh 19:26-27). Jadi, hingga akhir hidupnya di dunia, Bunda Maria tinggal bersama St.Yohanes. Hanya Yohanes seorang yang memperoleh hak istimewa untuk menghormati serta melayani Bunda Allah yang tanpa noda.<\/h4>\n\n\n\n<h4 class=\"wp-block-heading\">Setelah penyaliban Yesus dan hari paskah berlalu, pagi-pagi sekali Maria Magdalena dan beberapa wanita membawa rempah-rempah ke makam Yesus untuk meminyaki Tubuh-Nya sesuai kebiasaan orang Yahudi. Mereka kembali dengan berlari-lari kepada para rasul untuk menyampaikan suatu berita yang mengejutkan. Tubuh Yesus telah hilang dari makam. Petrus dan Yohanes pergi untuk menyelidiki hal itu. Hati Yohanes yang bergetar hebat membuat ia berlari dengan sangat cepat dan tiba terlebih dahulu, tetapi karena ia menghormati Petrus; ia tidak mau mendahului Petrus untuk masuk kedalam kubur.&nbsp; Walau ia merupakan murid yang paling dikasihi Yesus; tapi Yohanes adalah orang yang sangat rendah hati.&nbsp; Ia masih menunggu sampai Petrus datang dan masuk ke dalam makam terlebih dahulu. Baru sesudahnya, ia masuk dan melihat kain kafan yang telah tergulung rapi.<\/h4>\n\n\n\n<h4 class=\"wp-block-heading\">Kemudian, dalam minggu itu juga, para murid sedang memancing di Danau Tiberias tanpa hasil. Seseorang yang berdiri di pantai mengatakan kepada mereka untuk menebarkan jala ke sisi lain perahu. Ketika mereka menarik kembali, jala tersebut penuh dengan ikan-ikan besar. Yohanes adalah orang pertama yang mengenali siapa Orang itu. Tapi dengan kerendahan hati yang luar biasa ia terlebih dahulu mendekati Petrus dan berkata, \u201cItu Tuhan!\u201d.&nbsp; Petrus si Batu Karang segera saja terjun ke Danau dan berenang ke Pantai menuju Tuhan; sedangkan Yohanes dan para Rasul yang lain tetap datang dengan perahu. (Yoh 21:1-14)<\/h4>\n\n\n\n<h4 class=\"wp-block-heading\">Kedekatan St.Yohanes dengan Yesus tercermin dalam pertanyaan Petrus ini :<\/h4>\n\n\n\n<blockquote class=\"wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow\">\n<h4 class=\"wp-block-heading\">\u201cTuhan, apakah yang akan terjadi dengan dia ini..?\u201d&nbsp; (yoh 21:21).<\/h4>\n<\/blockquote>\n\n\n\n<h4 class=\"wp-block-heading\">Saat itu Yesus menjawab :<\/h4>\n\n\n\n<blockquote class=\"wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow\">\n<h4 class=\"wp-block-heading\">\u201cJikalau Aku menghendaki supaya ia tinggal hidup sampai Aku datang, itu bukan urusanmu. Tetapi engkau : ikutilah Aku\u201d.&nbsp;<\/h4>\n<\/blockquote>\n\n\n\n<h4 class=\"wp-block-heading\">Pernyataan Yesus ini membuat para rasul yang lain sempat berpikir kalau Yohanes tidak akan mati.&nbsp;<\/h4>\n\n\n\n<blockquote class=\"wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow\">\n<h4 class=\"wp-block-heading\">Dengan turunnya Roh Kudus pada hari Pentakosta, para rasul menjadi penuh dengan Kuasa dan keberanian mewartakan Injil.&nbsp; Mereka mulai menyebarkan kabar gembira dan mengadakan banyak mijizat dalam nama Yesus. Dalam kitab Kisah Para Rasul, Santo Lukas mencatat bagaimana Petrus dan Yohanes menyembuhkan seorang pengemis lumpuh di Gerbang Indah Bait Allah dengan berkata : \u201c.. Demi nama Yesus Kristus, orang Nazaret itu, berjalanlah!\u201d (kis 3:6).<\/h4>\n<\/blockquote>\n\n\n\n<h4 class=\"wp-block-heading\">Setelah jemaat perdana di Yerusalem terbentuk, para Rasul terus mewartakan injil kesegala penjuru dunia. Yohanes berkarya dari Yerusalem sampai ke kota Efesus (sekarang :&nbsp;<strong>Sel\u00e7uk<\/strong>, Provinsi \u0130zmir, Turki). Ia tinggal di kota ini dan menjadi memimpin umat beriman (Uskup) sampai akhir hidupnya. Di kota ini pula Yohanes diyakini menulis Injil keempat, tiga buah surat Gembala, dan Kitab terakhir dari Perjanjian Baru : kitab Wahyu.<\/h4>\n\n\n\n<h4 class=\"wp-block-heading\">Yohanes hidup hampir seabad lamanya. Walau Ia tidak wafat sebagai seorang&nbsp;martir,&nbsp; tetapi sungguh ia menjalani hidup yang penuh penderitaan. (Tradisi lain menyatakan bahwa Rasul Yohanes mati sebagai&nbsp;martir; tapi tradisi ini kurang diterima karena tidak mampu menyebutkan dimana tempat kemartiran Rasul Yohanes). Di tahun-tahun terakhir hidupnya, ketika ia tidak lagi dapat berkhotbah, para muridnya tetap dengan setia membawanya ketengah jemaat. Pesannya yang terakhir sangat sederhana;&nbsp;&nbsp;<strong>\u201cAnak-anakku, kasihilah seorang akan yang lain.\u201d&nbsp;<\/strong>&nbsp;Ia wafat di Efesus sekitar tahun 101 M.<\/h4>\n\n\n\n<h4 class=\"wp-block-heading\">Banyak kisah-kisah mujizat yang menurut tradisi diadakan oleh Rasul Yohanes. Sebagian mungkin hanyalah&nbsp;<strong>\u201cmitos\u201d<\/strong>.&nbsp; Beberapa diantaranya :&nbsp;<\/h4>\n\n\n\n<ol class=\"wp-block-list\">\n<li>Ketika\u00a0Yohanes\u00a0sedang dalam perjalanan\u00a0untuk berkhotbah\u00a0di Asia,\u00a0kapalnya rusak\u00a0dalam badai,\u00a0semua orang berhasil menyelamatkan diri ke pantai, kecuali\u00a0Yohanes. Yohanes kemudian dinyatakan meninggal.\u00a0Tapi\u00a0dua minggu kemudian\u00a0gelombang\u00a0laut melemparkan Yohanes\u00a0ke pantai dan jatuh didekat\u00a0kaki\u00a0Prochoros\u00a0salah seorang\u00a0muridnya;\u00a0dalam keadaan\u00a0hidup.<\/li>\n\n\n\n<li>Ketika\u00a0Yohanes mengatakan\u00a0penyembahan berhala\u00a0adalah pekerjaan\u00a0iblis, para pemuja dewi Artemis\u00a0melemparinya dengan batu.\u00a0 Batu-batu\u00a0yang dilemparkan mental dan\u00a0mengenai\u00a0para pelempar.<\/li>\n\n\n\n<li>Yohanes berdoa\u00a0di sebuah kuil\u00a0Artemis,\u00a0lalu turunlah api dari langit\u00a0yang membakar\u00a0200\u00a0orang\u00a0yang sedang menyembah\u00a0berhala\u00a0itu.\u00a0Ketika\u00a0sebagian\u00a0 orang\u00a0yang tersisa\u00a0memohon\u00a0belas kasihan,\u00a0ia membangkitkan kembali\u00a0200\u00a0orang yang sudah mati. Mereka semua\u00a0kemudian bertobat dan\u00a0dibaptis.<\/li>\n\n\n\n<li>Mengusir\u00a0setan\u00a0yang sudah berdiam\u00a0dalam\u00a0 sebuah kuil\u00a0pagan\u00a0selama\u00a0249\u00a0tahun.<\/li>\n\n\n\n<li>Dalam sebuah pelayaran, persediaan air diatas kapal\u00a0habis. Yohanes kemudian mengubah air laut menjadi air tawar\u00a0untuk diminum.<\/li>\n\n\n\n<li>Seorang\u00a0pesulap\u00a0bernama\u00a0Ceonops,\u00a0berpura-pura\u00a0dapat menghidupkan kembali\u00a0tiga orang\u00a0yang sudah meninggal.\u00a0 Tiga\u00a0\u201cOrang\u201d\u00a0 mati tersebut\u00a0sebenarnya adalah\u00a0iblis yang bersekutu dengan pesulap tersebut.\u00a0\u00a0Melalui doa, Santo Yohanes mengagalkan tipu muslihat penyihir itu\u00a0dan\u00a0setan\u2013setan sekutunya lari menghilang.<\/li>\n\n\n\n<li>Sekali setahun\u00a0makamnya\u00a0menyebarkan\u00a0 aroma\u00a0harum\u00a0yang\u00a0dapat menyembuhkan\u00a0orang sakit.<\/li>\n<\/ol>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\"><strong>Arti Nama<\/strong><\/h2>\n\n\n\n<h4 class=\"wp-block-heading\">Berasal dari nama&nbsp;Yunani<strong>\u0399\u03c9\u03b1\u03bd\u03bd\u03b7\u03c2&nbsp;(Ioannes)<\/strong>,&nbsp;yang aslinya&nbsp;berasal dari&nbsp;nama Ibrani<strong>\u05d9\u05d5\u05b9\u05d7\u05b8\u05e0\u05b8\u05df&nbsp;(Yochanan)<\/strong>&nbsp;yang berarti&nbsp;<strong>\u201cYAHWEH Maha&nbsp;pengasih\u201c<\/strong>,&nbsp;<strong>\u201cAllah Maha Baik\u201d<\/strong><\/h4>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\">Variasi Nama<\/h2>\n\n\n\n<h4 class=\"wp-block-heading\">John, Jon&nbsp;<strong>(English),&nbsp;<\/strong>Deshaun, Deshawn, Keshaun, Keshawn, Rashaun, Rashawn&nbsp;<strong>(African American)<\/strong>, Gjon&nbsp;<strong>(Albanian)<\/strong>, Yahya&nbsp;<strong>(Arabic)<\/strong>, Hovhannes, Ohannes&nbsp;<strong>(Armenian)<\/strong>, Ganix, Ion, Jon&nbsp;<strong>(Basque)<\/strong>, Ioannes&nbsp;<strong>(Biblical Greek)<\/strong>, Yehochanan, Yochanan&nbsp;<strong>(Biblical Hebrew)<\/strong>, Iohannes&nbsp;<strong>(Biblical Latin)<\/strong>, Yann, Yanick, Yannic, Yannick&nbsp;<strong>(Breton)<\/strong>, Ioan, Ivan, Yan, Yoan, Ivo, Yanko&nbsp;<strong>(Bulgarian)<\/strong>, Joan, Jan&nbsp;<strong>(Catalan)<\/strong>, Jowan&nbsp;<strong>(Cornish)<\/strong>, Ghjuvan&nbsp;<strong>(Corsican)<\/strong>, Ivan, Ivica, Ivo, Janko, Vanja&nbsp;<strong>(Croatian)<\/strong>, Ivan, Jan, Johan, Honza, Janek&nbsp;<strong>(Czech)<\/strong>, Jan, Jens, Johan, Johannes, Jon, Hans, Jannick, Jannik&nbsp;<strong>(Danish)<\/strong>, Jan, Johan, Johannes, Hanne, Hannes, Hans, Jo, Joop&nbsp;<strong>(Dutch)<\/strong>, Johano, Jo\u0109jo&nbsp;<strong>(Esperanto)<\/strong>, Jaan, Johannes, Juhan&nbsp;<strong>(Estonian)<\/strong>, Jani, Janne, Johannes, Joni, Jouni, Juhana, Juhani, Hannes, Hannu, Juha, Juho, Jukka, Jussi&nbsp;<strong>(Finnish)<\/strong>, Jean, Yann, Jeannot, Yanick, Yannic, Yannick&nbsp;<strong>(French)<\/strong>, Xo\u00e1n&nbsp;<strong>(Galician)<\/strong>, Jan, Johann, Johannes, Hannes, Hans, Jo&nbsp;<strong>(German)<\/strong>, Ioannes, Ioannis, Yanni, Yannis, Yianni, Yiannis&nbsp;<strong>(Greek)<\/strong>, Keoni&nbsp;<strong>(Hawaiian)<\/strong>, Yochanan&nbsp;<strong>(Hebrew)<\/strong>, J\u00e1nos, Jancsi, Jani, Janika&nbsp;<strong>(Hungarian)<\/strong>, J\u00f3hann, J\u00f3hannes, J\u00f3n&nbsp;<strong>(Icelandic)<\/strong>, Eoin, Sean, Se\u00e1n, Shane&nbsp;<strong>(Irish)<\/strong>, Giovanni, Gian, Gianni, Giannino, Nino, Vanni&nbsp;<strong>(Italian)<\/strong>, Johannes, Joannes&nbsp;<strong>(Late Roman)<\/strong>, J\u0101nis&nbsp;<strong>(Latvian)<\/strong>, Sjang, Sjeng&nbsp;<strong>(Limburgish)<\/strong>, Jonas&nbsp;<strong>(Lithuanian)<\/strong>, Johan, Hanke&nbsp;<strong>(Low German)<\/strong>, Ivan, Jovan, Ivo&nbsp;<strong>(Macedonian)<\/strong>, Ean, Juan&nbsp;<strong>(Manx)<\/strong>, Hann, Jan, Jon, Hankin, Jackin, Jankin&nbsp;<strong>(Medieval English)<\/strong>, Jehan&nbsp;<strong>(Medieval French)<\/strong>, Zuan&nbsp;<strong>(Medieval Italian)<\/strong>, Jan, Jens, Johan, Johannes, Jon, Hans&nbsp;<strong>(Norwegian)<\/strong>, Joan&nbsp;<strong>(Occitan)<\/strong>, Iwan, Jan, Janusz, Janek&nbsp;<strong>(Polish)<\/strong>, Jo\u00e3o, Jo\u00e3ozinho&nbsp;<strong>(Portuguese)<\/strong>, Ioan, Ion, Iancu, Ionel, Ionu\u021b, Nelu&nbsp;<strong>(Romanian)<\/strong>, Ioann, Ivan, Vanya&nbsp;<strong>(Russian)<\/strong>, Eoin, Iain, Ian&nbsp;<strong>(Scottish)<\/strong>, Ivan, Jovan, Ivo, Janko, Vanja&nbsp;<strong>(Serbian)<\/strong>, J\u00e1n, Janko&nbsp;<strong>(Slovak)<\/strong>, Ivan, Jan, Janez, \u017dan, An\u017ee, Janko&nbsp;<strong>(Slovene)<\/strong>, Iv\u00e1n, Juan, Xuan, Juanito&nbsp;<strong>(Spanish)<\/strong>, Jan, Jens, Johan, Johannes, Jon, Hampus, Hans, Hasse, Janne&nbsp;<strong>(Swedish)<\/strong>, Yahya&nbsp;<strong>(Turkish)<\/strong>, Ivan&nbsp;<strong>(Ukrainian)<\/strong>, Evan, Iefan, Ieuan, Ifan, Ioan, Iwan, Si\u00f4n, Ianto&nbsp;<strong>(Welsh)<\/strong><\/h4>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\"><strong>Bentuk Feminim<\/strong>&nbsp;:<\/h2>\n\n\n\n<h4 class=\"wp-block-heading\">Jone&nbsp;<strong>(Basque)<\/strong>, Joanna&nbsp;<strong>(Biblical)<\/strong>, Ioanna&nbsp;<strong>(Biblical Greek)<\/strong>, Iohanna&nbsp;<strong>(Biblical Latin)<\/strong>, Ioana, Ivana, Yana, Yoana&nbsp;<strong>(Bulgarian)<\/strong>, Joana, Jana&nbsp;<strong>(Catalan)<\/strong>, Ivana&nbsp;<strong>(Croatian)<\/strong>, Ivana, Jana, Johana, Jani\u010dka&nbsp;<strong>(Czech)<\/strong>, Johanna, Johanne&nbsp;<strong>(Danish)<\/strong>, Jana, Janna, Johanna, Janneke, Jantine, Jantje&nbsp;<strong>(Dutch)<\/strong>, Johanna&nbsp;<strong>(Estonian)<\/strong>, Janina, Johanna&nbsp;<strong>(Finnish)<\/strong>, Jeanne, Jeannette, Jeannine&nbsp;<strong>(French)<\/strong>, Xoana&nbsp;<strong>(Galician)<\/strong>, Jana, Janina, Johanna&nbsp;<strong>(German)<\/strong>, Ioanna, Nana&nbsp;<strong>(Greek)<\/strong>, Johanna&nbsp;<strong>(Hungarian)<\/strong>, J\u00f3hanna, J\u00f3na&nbsp;<strong>(Icelandic)<\/strong>, Chevonne, Shavonne, Shevaun, Shevon, S\u00edne, Siobhan&nbsp;<strong>(Irish)<\/strong>, Giovanna&nbsp;<strong>(Italian)<\/strong>, Johanna&nbsp;<strong>(Late Roman)<\/strong>, Janina&nbsp;<strong>(Lithuanian)<\/strong>, Ivana, Jovana&nbsp;<strong>(Macedonian)<\/strong>, Jehanne, Johanne&nbsp;<strong>(Medieval French)<\/strong>, Johanna, Johanne&nbsp;<strong>(Norwegian)<\/strong>, Janina, Joanna&nbsp;<strong>(Polish)<\/strong>, Joana&nbsp;<strong>(Portuguese)<\/strong>, Ioana&nbsp;<strong>(Romanian)<\/strong>, Zhanna, Ivanna&nbsp;<strong>(Russian)<\/strong>, Jean, S\u00ecne, Jessie, Teasag&nbsp;<strong>(Scottish)<\/strong>, Ivana, Jovana&nbsp;<strong>(Serbian)<\/strong>, Jana&nbsp;<strong>(Slovak)<\/strong>, Ivana, Jana&nbsp;<strong>(Slovene)<\/strong>, Juana&nbsp;<strong>(Spanish)<\/strong>, Janina, Janna, Johanna, Jannicke, Jannike&nbsp;<strong>(Swedish)<\/strong>, Si\u00e2n&nbsp;<strong>(Welsh)<\/strong><\/h4>\n\n\n\n<h4 class=\"wp-block-heading\">Sumber:&nbsp;<a href=\"https:\/\/katakombe.org\/para-kudus\/desember\/yohanes-rasul.html\">https:\/\/katakombe.org\/para-kudus\/desember\/yohanes-rasul.html<\/a><\/h4>\n<div class=\"powerpress_player\" id=\"powerpress_player_6229\"><audio class=\"wp-audio-shortcode\" id=\"audio-90288-1\" preload=\"none\" style=\"width: 100%;\" controls=\"controls\"><source type=\"audio\/mpeg\" src=\"https:\/\/resi.dehonian.or.id\/wp-content\/uploads\/2025\/12\/Resi-Sabtu-27-Desember-2025-oleh-Rm-Albertus-Suryadi-SCJ-dari-Komunitas-SCJ-Hongkong.mp3?_=1\" \/><a href=\"https:\/\/resi.dehonian.or.id\/wp-content\/uploads\/2025\/12\/Resi-Sabtu-27-Desember-2025-oleh-Rm-Albertus-Suryadi-SCJ-dari-Komunitas-SCJ-Hongkong.mp3\">https:\/\/resi.dehonian.or.id\/wp-content\/uploads\/2025\/12\/Resi-Sabtu-27-Desember-2025-oleh-Rm-Albertus-Suryadi-SCJ-dari-Komunitas-SCJ-Hongkong.mp3<\/a><\/audio><\/div><p class=\"powerpress_links powerpress_links_mp3\" style=\"margin-bottom: 1px !important;\">Podcast: <a href=\"https:\/\/resi.dehonian.or.id\/wp-content\/uploads\/2025\/12\/Resi-Sabtu-27-Desember-2025-oleh-Rm-Albertus-Suryadi-SCJ-dari-Komunitas-SCJ-Hongkong.mp3\" class=\"powerpress_link_pinw\" target=\"_blank\" title=\"Play in new window\" onclick=\"return powerpress_pinw('https:\/\/katolikindonesia.org\/?powerpress_pinw=90288-podcast');\" rel=\"nofollow\">Play in new window<\/a> | <a href=\"https:\/\/resi.dehonian.or.id\/wp-content\/uploads\/2025\/12\/Resi-Sabtu-27-Desember-2025-oleh-Rm-Albertus-Suryadi-SCJ-dari-Komunitas-SCJ-Hongkong.mp3\" class=\"powerpress_link_d\" title=\"Download\" rel=\"nofollow\" download=\"Resi-Sabtu-27-Desember-2025-oleh-Rm-Albertus-Suryadi-SCJ-dari-Komunitas-SCJ-Hongkong.mp3\">Download<\/a><\/p><!--powerpress_player-->","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>ANTIFON PEMBUKA:&nbsp; Yohanes inilah yang duduk di sisi Yesus waktu pertemuan.&nbsp;Bahagialah rasul ini, sebab rahasia surgawi diwartakannya ke seluruh dunia. PENGANTAR:&nbsp; Tiada orang yang sanggup mengatakan cinta kasih Yeseus kepada kita dengan kata-kata yang&#46;&#46;&#46;<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":66662,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"audio","meta":{"footnotes":""},"categories":[18,1,20],"tags":[],"class_list":["post-90288","post","type-post","status-publish","format-audio","has-post-thumbnail","hentry","category-renungan-audio","category-bacaan-harian","category-renungan-text","post_format-post-format-audio"],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/katolikindonesia.org\/wp-content\/uploads\/2024\/12\/ardas-2025.png","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/90288","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=90288"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/90288\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":90290,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/90288\/revisions\/90290"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/66662"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=90288"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=90288"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=90288"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}