{"id":89809,"date":"2025-12-16T15:20:38","date_gmt":"2025-12-16T08:20:38","guid":{"rendered":"https:\/\/katolikindonesia.org\/?p=89809"},"modified":"2025-12-16T15:20:38","modified_gmt":"2025-12-16T08:20:38","slug":"selasa-16-desember-2025-3","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/katolikindonesia.org\/?p=89809","title":{"rendered":"Selasa, 16 Desember 2025"},"content":{"rendered":"<p>Sabda Kehidupan<br \/>\nSelasa 16 Desember 2025<br \/>\nMatius 21:28-30 (Mat 21:28-32)<br \/>\n\u201dTetapi apakah pendapatmu tentang ini: Seorang mempunyai dua anak laki-laki. Ia pergi kepada anak yang sulung dan berkata: Anakku, pergi dan bekerjalah hari ini dalam kebun anggur. Jawab anak itu: Baik, bapa. Tetapi ia tidak pergi. Lalu orang itu pergi kepada anak yang kedua dan berkata demikian juga. Dan anak itu menjawab: Aku tidak mau. Tetapi kemudian ia menyesal lalu pergi juga.\u201d<\/p>\n<p>Selaras Antara Kata Dan Perbuatan<\/p>\n<p>Yesus suka mengambil contoh perumpamaan dari relasi keluarga, dalam hal ini orangtua dan anak-anak.<br \/>\nBisa dibayangkan bila ada anak kita yang ketika disuruh bekerja dengan begitu manis mengatakan ya, tapi ternyata tidak pergi. Betapa sakit hati orangtua didustai seperti itu.<br \/>\nSama juga halnya dengan yang ke dua. Disuruh bekerja lalu berkata tidak mau. Hal ini tentu memancing emosi orangtua yang kecewa karena anaknya keras kepala dan suka membantah.<br \/>\nAkan tetapi karena akhirnya dia menyesali penolakannya dan pergi bekerja juga, terhiburlah hati orangtuanya.<\/p>\n<p>Melalui kisah ini, Yesus mengingatkan kita, pentingnya rekonsiliasi dalam relasi kita dengan Allah Bapa di surga. Bukankah Yesus cukup nakal juga waktu kecil karena mengecewakan Papa dan Mama-Nya, Yosep dan Maria, waktu Ia keasyikan tinggal di Bait Allah.<br \/>\nTentu Yesus meminta maaf karena telah memgecewakan mereka. Berdamai kembali itulah intinya. Allah Bapa setiap saat menanti kita untuk berbalik padaNya. Yesus diutusNya untuk mengajak kita pulang, jangan terlalu jauh tersesat. Ada kasih dan pengampunan dari Bapa, namun tentu harus ada sesal dan tobat dari pihak kita.<\/p>\n<p>Mari bersikap jujur. Katakan ya dan amin pada kehendak Allah, dan melakukan apa yang kita aminkan. Selaras antara kata dan perbuatan serta setia pada komitmen kita untuk menjadi anak Allah yang taat dan patuh. Bila jatuh, selalu ada kesempatan untuk bangkit dan mulai baru lagi. Bertobat dan membaharui diri lagi.<\/p>\n<p>Selamat hari baru. Semakin selaras antara kata dan perbuatan.&#x2764;&#xfe0f;<br \/>\nPs Revi Tanod Pr (Kupang NTT)<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Kalender Liturgi 16 Des 2025<br \/>\nSelasa Masa Adven III<br \/>\nWarna Liturgi: Ungu<br \/>\nBacaan Injil: Mat 21:28-32<br \/>\n***********<\/p>\n<p>Bacaan Injil<br \/>\nMat 21:28-32<br \/>\nYohanes Pembaptis datang dan orang-orang berdosa percaya kepadanya.<\/p>\n<p>Inilah Injil Suci menurut Matius:<\/p>\n<p>Yesus berkata,<br \/>\nkepada imam-imam kepala dan pemuka-pemuka bangsa Yahudi,<br \/>\n&#8220;Bagaimana pendapatmu?<br \/>\nAda orang mempunyai dua anak laki-laki.<br \/>\nIa pergi kepada yang sulung dan berkata,<br \/>\n&#8216;Anakku, pergilah bekerja di kebun anggur hari ini.&#8217;<br \/>\nJawab anak itu, &#8216;Baik, Bapa.&#8217;<br \/>\nTetapi ia tidak pergi.<br \/>\nLalu orang itu pergi kepada anak yang kedua<br \/>\ndan berkata demikian juga.<br \/>\nDan anak itu menjawab, &#8216;Tidak mau.&#8217;<br \/>\nTetapi kemudian ia menyesal lalu pergi juga.<br \/>\nSiapakah di antara kedua orang anak itu<br \/>\nyang melakukan kehendak ayahnya?&#8221;<br \/>\nJawab mereka, &#8220;Yang kedua.&#8221;<\/p>\n<p>Maka berkatalah Yesus kepada mereka,<br \/>\n&#8220;Aku berkata kepadamu,<br \/>\nsesungguhnya pemungut-pemungut cukai dan pelacur-pelacur<br \/>\nakan mendahului kalian masuk ke dalam Kerajaan Allah.<br \/>\nSebab Yohanes Pembaptis datang menunjukkan jalan kebenaran<br \/>\nkepada kalian, dan kalian tidak percaya kepadanya.<br \/>\nDan meskipun kalian melihatnya,<br \/>\nnamun kemudian kalian tidak menyesal,<br \/>\ndan kalian tidak juga percaya kepadanya.&#8221;<\/p>\n<p>Demikianlah sabda Tuhan.<br \/>\n***********<\/p>\n<p>  \u210d <\/p>\n<p>\u201cSeorang mempunyai dua anak laki-laki. Ia pergi kepada anak yang sulung dan berkata: Anakku, pergi dan bekerjalah hari ini dalam kebun anggur. Jawab anak itu: Baik, bapa. Tetapi ia tidak pergi. Lalu orang itu pergi kepada anak yang kedua dan berkata demikian juga. Dan anak itu menjawab: Aku tidak mau. Tetapi kemudian ia menyesal lalu pergi juga. Siapakah di antara kedua orang itu yang melakukan kehendak ayahnya?\u201d (Mat 21: 28 \u2013 31a)<\/p>\n<p>Melanjutkan konfrontasi dengan para pemimpin agama dalam Bacaan Injil kemarin, Yesus menceriterakan perumpamaan tentang dua anak laki-laki yang diminta oleh ayah mereka untuk pergi dan bekerja di kebun anggurnya. Yang seorang menolak untuk pergi, tetapi kemudian bertobat dan pergi. Yang lainnya mengatakan \u201cya\u201d tetapi tidak pergi. Pertanyaan-Nya kemudian: &#8220;Siapakah di antara keduanya yang melakukan kehendak ayahnya?&#8221;<\/p>\n<p>Perumpamaan itu dapat dimaknai dalam dua level. Yang pertama adalah tema umum perikope Injil ini, bahwa melakukan lebih penting daripada sekadar mengucapkan kata-kata. \u201cBukan mereka yang berseru, &#8216;Tuhan, Tuhan&#8217; yang akan masuk Kerajaan Surga.\u201d<\/p>\n<p>Yang kedua, secara lebih khusus perumpamaan itu menunjuk pada situasi yang sedang dihadapi Yesus saat itu. Para pemimpin agama dan banyak orang yang tampaknya saleh dan merasa diri bahwa mereka mengikuti jalan Tuhan, menolak untuk percaya kepada Yohanes Pembaptis dan kepada Yesus sendiri. Di pihak lain, orang-orang yang dinilai sangat berdosa dan melanggar Hukum \u2013 para pemungut cukai dan para pelacur \u2013 justru menanggapi panggilan Yohanes untuk bertobat. Mereka sangat tersentuh oleh khotbah Yohanes, mengubah cara hidup mereka, dan dibaptis olehnya di sungai Yordan. Bagaimanakah dengan para pemuka agama Yahudi? Mereka tetap \u201ckepala batu\u201d, tidak bergeming. Ketika Yesus datang, mereka juga menolak untuk melihat karya Allah dalam semua yang dilakukan oleh Yesus, sementara banyak orang berkumpul di sekeliling-Nya.<\/p>\n<p>Para pemuka agama itu seperti anak laki-laki yang berkata &#8216;Ya&#8217; pada perintah ayahnya, tetapi tidak melaksanakannya dalam hidupnya. Mereka ahli dalam menyusun kata-kata dan menafsirkan Hukum. Sedangkan para pendosa, pemungut cukai dan pelacur, yang dianggap tidak tahu Hukum Allah, bertobat dan mengubah jalan hidup mereka. Jelas kelompok mana yang menemukan jalan ke Kerajaan-Nya.<\/p>\n<p>Tentu saja, kita merenungkan bacaan ini bukan hanya untuk mengetahui betapa bangga dan sombongnya para imam kepala dan tua-tua itu. Mereka menjadi cermin bagi kita untuk merenungkan hidup kita sendiri. Apakah kita berpikir bahwa karena kita adalah orang Kristiani yang taat, kita berada dalam posisi istimewa? Apakah kita menghabiskan banyak waktu untuk berdoa tetapi tidak berbuat kasih terhadap sesama? Apakah kita mudah menkritik atau merendahkan orang lain? Kita telah mengatakan Ya kepada Bapa, Allah kita, melalui pembaptisan, tetapi dapatkah kita katakan bahwa kita selalu melaksanakan apa yang Ia perintahkan? Mungkin, setelah refleksi yang jujur, kita harus mengakui bahwa kita tidak benar-benar dalam posisi yang layak untuk menghakimi orang lain.<\/p>\n<p>Menjelang Natal ini, marilah kita berusaha menjadi pengikut Tuhan yang sejati, baik dalam perkataan maupun perbuatan. Dalam perumpamaan itu ada dua anak, yang satu mengatakan \u201cYa\u201d tetapi tidak melaksanakan, yang satunya lagi mengatakan \u201ctidak\u201d tetapi melaksanakan. Tentu lebih baik lagi jika kita menjadi anak-anak Bapa yang mengatakan \u201cya\u201d dan juga melaksanakan!<\/p>\n<p>Ya Tuhan Yesus, berikanlah aku hati yang setia dan siap untuk melakukan kehendak-Mu.<\/p>\n<p>Selamat beraktivitas. Mari laksanakan Sabda-Nya! \u24bf\u24c1\u24ca! &#x2764;&#xfe0f;<br \/>\n&#x2764;\ufe0e.<\/p>\n<blockquote class=\"wp-embedded-content\" data-secret=\"q1aLzhn4Ef\"><p><a href=\"https:\/\/sacerdos2000.com\/anak-yang-manakah-anda\/\">Anak Yang Manakah Anda?<\/a><\/p><\/blockquote>\n<p><iframe loading=\"lazy\" class=\"wp-embedded-content\" sandbox=\"allow-scripts\" security=\"restricted\" style=\"position: absolute; visibility: hidden;\" title=\"&#8220;Anak Yang Manakah Anda?&#8221; &#8212; Sacerdos2000\" src=\"https:\/\/sacerdos2000.com\/anak-yang-manakah-anda\/embed\/#?secret=JFIe1LUB0g#?secret=q1aLzhn4Ef\" data-secret=\"q1aLzhn4Ef\" width=\"500\" height=\"282\" frameborder=\"0\" marginwidth=\"0\" marginheight=\"0\" scrolling=\"no\"><\/iframe><\/p>\n<p>RP Joni Astanto MSC<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Sabda Kehidupan Selasa 16 Desember 2025 Matius 21:28-30 (Mat 21:28-32) \u201dTetapi apakah pendapatmu tentang ini: Seorang mempunyai dua anak laki-laki. Ia pergi kepada anak yang sulung dan berkata: Anakku, pergi dan bekerjalah hari ini&#46;&#46;&#46;<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":66662,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[1,20],"tags":[],"class_list":["post-89809","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-bacaan-harian","category-renungan-text"],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/katolikindonesia.org\/wp-content\/uploads\/2024\/12\/ardas-2025.png","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/89809","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=89809"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/89809\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":89810,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/89809\/revisions\/89810"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/66662"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=89809"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=89809"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=89809"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}