{"id":89654,"date":"2025-12-12T09:58:35","date_gmt":"2025-12-12T02:58:35","guid":{"rendered":"https:\/\/katolikindonesia.org\/?p=89654"},"modified":"2025-12-12T09:58:35","modified_gmt":"2025-12-12T02:58:35","slug":"jumat-12-desember-2025-5","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/katolikindonesia.org\/?p=89654","title":{"rendered":"Jumat, 12 Desember 2025"},"content":{"rendered":"<p>Sabda Kehidupan<br \/>\nJumat 12 Desember 2025<br \/>\nMatius 11:18-19 (Mat 11:16-19)<br \/>\nYohanes datang, ia tidak makan, dan tidak minum, dan mereka berkata: Ia kerasukan setan. Kemudian Anak Manusia datang, Ia makan dan minum, dan mereka berkata: Lihatlah, Ia seorang pelahap dan peminum, sahabat pemungut cukai dan orang berdosa. Tetapi hikmat Allah dibenarkan oleh perbuatannya.&#8221;<\/p>\n<p>Selalu Mencari Hikmat Tuhan<\/p>\n<p>Orang-orang Farisi dan para ahli Taurat selalu merasa benar sendiri dan menolak cara hidup orang lain yang tidak sejalan dengan mereka.<br \/>\nDemikianlah yang mereka lakukan terhadap Yohanes Pembaptis dan Yesus, yang prinsip dan cara hidup mereka berbeda dengan orang Farisi dan ahli Taurat. Keduanya serba salah. Yohanes dituduh kerasukan setan karena ia tidak makan roti dan minum anggur, sementara Yesus mereka tuduh pelahap dan pemabuk, karena Ia makan dan minum bersama para pendosa.<\/p>\n<p>Bila orang sudah berprasangka buruk terhadap seseorang, apapun yang dilakukan orang itu pastilah salah. Begitu juga bila orang merasa diri paling benar, maka tak ada lagi yang benar dalam diri orang lain. Maka yang ia lakukan adalah mencari kesalahan orang lain, agar ia tetap benar.<br \/>\nHikmat dan kebenaran bukanlah soal siapa yang paling benar tapi keterbukaan hati dan budi terhadap semua kebenaran, lepas dari siapa yang menyampaikannya, entah menyenangkan atau tidak.<\/p>\n<p>Orang yang berhikmat adalah orang yang rendah hati dan selalu mencari hikmat Tuhan yakni kebenaran yang berasal dari Allah.<br \/>\nDikatakan dalam Amsal 9:10, \u201cPermulaan hikmat adalah takut akan Tuhan, dan mengenal Yang Mahakudus adalah pengertian.\u201d<br \/>\nYesus menghendaki kita menjadi orang yang berhikmat, pencari kebenaran sejati, orang yang mau menyelami realita dan pribadi orang lebih dalam. Mau memahami dan mengerti kehendak Tuhan di balik segala peristiwa hidup.<\/p>\n<p>Di masa Adven ini, mari kita mohon terang Roh Kudus agar dimampukan melihat kebaikan dalam diri orang lain, dan mengalami kehadiran Tuhan dalam kebersamaan dengan sesama, siapapun dia.<br \/>\nMari merangkul hikmat Tuhan, selalu mengandalkan Tuhan dan mencari kehendakNya, serta \u201chanya bermegah dalam Tuhan.\u201d (1 Kor 1:31).<\/p>\n<p>Selamat hari baru. Hikmat dan kebijkasanaan Tuhan menyertai kita&#x2764;&#xfe0f;<br \/>\nPs Revi Tanod Pr<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Kalender Liturgi 12 Des 2025<br \/>\nJumat Masa Adven II<br \/>\nPF S. Maria Guadalupe<br \/>\nWarna Liturgi: Ungu<br \/>\nBacaan Injil: Mat 11:16-19<br \/>\n***********<\/p>\n<p>Bacaan Injil<br \/>\nMat 11:16-19<br \/>\nMereka tidak mendengarkan Yohanes Pembaptis maupun Anak Manusia.<\/p>\n<p>Inilah Injil Suci menurut Matius:<\/p>\n<p>Yesus berkata kepada orang banyak,<br \/>\n&#8220;Dengan apakah akan Kuumpamakan angkatan ini?<br \/>\nMereka itu seumpama anak-anak yang duduk di pasar<br \/>\ndan berseru kepada teman-temannya,<br \/>\n&#8216;Kami meniup seruling bagimu, tetapi kalian tidak menari.<br \/>\nKami menyanyikan kidung duka, tetapi kalian tidak berkabung.&#8217;<\/p>\n<p>Sebab Yohanes Pembaptis datang, ia tidak makan dan tidak minum,<br \/>\ndan mereka berkata, &#8216;Ia kerasukan setan.&#8217;<br \/>\nKemudian Anak Manusia datang, Ia makan dan minum,<br \/>\ndan mereka berkata,<br \/>\n&#8216;Lihatlah, seorang pelahap dan peminum,<br \/>\nsahabat pemungut cukai dan orang-orang berdosa.&#8217;<br \/>\nTetapi hikmat Allah dibenarkan oleh perbuatannya.&#8221;<\/p>\n<p>Demikianlah sabda Tuhan.<br \/>\n***********<\/p>\n<p>  \u210d <\/p>\n<p>\u201cDengan apakah akan Kuumpamakan angkatan ini? Mereka itu seumpama anak-anak yang duduk di pasar dan berseru kepada teman-temannya: Kami meniup seruling bagimu, tetapi kamu tidak menari, kami menyanyikan kidung duka, tetapi kamu tidak berkabung. Karena Yohanes datang, ia tidak makan, dan tidak minum, dan mereka berkata: Ia kerasukan setan. Kemudian Anak Manusia datang, Ia makan dan minum, dan mereka berkata: Lihatlah, Ia seorang pelahap dan peminum, sahabat pemungut cukai dan orang berdosa. Tetapi hikmat Allah dibenarkan oleh perbuatannya.\u201d (Mat 11: 16 \u2013 19).<\/p>\n<p>Dalam Injil hari ini, Yesus menghadapi penolakan generasi-Nya terhadap pesan Allah. Seperti anak-anak yang keras kepala di pasar, mereka menolak baik Yohanes Pembaptis maupun Yesus, dengan menciptakan alasan-alasan untuk mendiskreditkan mereka. Yohanes, dengan gaya hidupnya yang sederhana, dituduh sebagai orang yang kerasukan. Yesus, yang makan bersama orang berdosa, dianggap sebagai orang yang rakus dan pemabuk. Reaksi mereka mengungkapkan masalah yang lebih dalam: penolakan untuk menerima cara-cara Allah yang mengejutkan.<\/p>\n<p>Penolakan itu masih berlangsung hingga saat ini. Pemimpin dan komunitas, baik di masyarakat maupun di Gereja, seringkali menolak tantangan yang mengusik kenyamanan atau tradisi mereka. Ketika dihadapkan pada suara-suara kenabian atau ekspresi iman yang baru, mereka mencapnya sebagai pemberontak atau bertentangan dengan norma yang telah ditetapkan. Kecenderungan untuk berpegang teguh pada tradisi kecil dan ide-ide kaku menghambat keterbukaan terhadap karya Roh Kudus di zaman kita.<\/p>\n<p>Yesus mengungkap inkonsistensi sikap-sikap ini, membandingkan orang-orang yang mengkritik-Nya dengan anak-anak yang menuntut orang lain menari sesuai irama mereka. Kebijaksanaan sejati, bagaimanapun, tidak memaksakan kehendak sendiri tetapi mencari kehendak Allah dengan kerendahan hati. Kebijaksanaan bukan tentang mengendalikan narasi, tetapi mengenali kehadiran Allah di tempat-tempat dan suara-suara yang tak terduga.<\/p>\n<p>Kita dipanggil untuk memeriksa hati kita sendiri. Apakah kita konsisten dalam hidup beriman, ataukah kita terjebak dalam perangkap prasangka dan resistensi yang sama? Iman membutuhkan hati nurani yang kritis, yang menantang ketidakadilan dan mencari pembaruan yang autentik, baik dalam masyarakat maupun dalam Gereja.<\/p>\n<p>Injil mengingatkan kita bahwa kebijaksanaan ilahi diwahyukan kepada orang-orang yang rendah hati dan terbuka hatinya. Mari kita tinggalkan alasan dan dalih, dan menerima pesan Injil yang tidak nyaman namun memberi kehidupan. Semoga Injil menantang dan mengubah kita setiap hari.<\/p>\n<p>Tuhan, bantulah kami untuk memperhatikan dan menaati warta keselamatan-Mu, agar kami tidak hanya berpegang pada keinginan kami sendiri, melainkan terbuka terhadap tuntunan-Mu dan mengutamakan mencari kehendak-Mu. Amin.<\/p>\n<p>Jika hari ini engkau mendengar suara-Nya, jangan bertegar hati! \u24bf\u24c1\u24ca! &#x2764;&#xfe0f;<br \/>\n&#x2764;\ufe0e.<\/p>\n<blockquote class=\"wp-embedded-content\" data-secret=\"37d3rrpmta\"><p><a href=\"https:\/\/sacerdos2000.com\/jangan-banyak-alasan\/\">Jangan Banyak Alasan<\/a><\/p><\/blockquote>\n<p><iframe loading=\"lazy\" class=\"wp-embedded-content\" sandbox=\"allow-scripts\" security=\"restricted\" style=\"position: absolute; visibility: hidden;\" title=\"&#8220;Jangan Banyak Alasan&#8221; &#8212; Sacerdos2000\" src=\"https:\/\/sacerdos2000.com\/jangan-banyak-alasan\/embed\/#?secret=mCXdhd5yZn#?secret=37d3rrpmta\" data-secret=\"37d3rrpmta\" width=\"500\" height=\"282\" frameborder=\"0\" marginwidth=\"0\" marginheight=\"0\" scrolling=\"no\"><\/iframe><\/p>\n<p>RP Joni Astanto MSC<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Sabda Kehidupan Jumat 12 Desember 2025 Matius 11:18-19 (Mat 11:16-19) Yohanes datang, ia tidak makan, dan tidak minum, dan mereka berkata: Ia kerasukan setan. Kemudian Anak Manusia datang, Ia makan dan minum, dan mereka&#46;&#46;&#46;<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":66662,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[1,20],"tags":[],"class_list":["post-89654","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-bacaan-harian","category-renungan-text"],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/katolikindonesia.org\/wp-content\/uploads\/2024\/12\/ardas-2025.png","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/89654","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=89654"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/89654\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":89655,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/89654\/revisions\/89655"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/66662"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=89654"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=89654"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=89654"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}