{"id":88265,"date":"2025-11-19T15:12:53","date_gmt":"2025-11-19T08:12:53","guid":{"rendered":"https:\/\/katolikindonesia.org\/?p=88265"},"modified":"2025-11-19T15:12:53","modified_gmt":"2025-11-19T08:12:53","slug":"rabu-19-november-2025-4","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/katolikindonesia.org\/?p=88265","title":{"rendered":"Rabu, 19 November 2025"},"content":{"rendered":"<p>Sabda Kehidupan<br \/>\nRabu 19 November 2025<br \/>\nNovena Kristus Raja hari ke 6<br \/>\nLukas 19:26 (Luk 19:11-28)<br \/>\n\u201dAku berkata kepadamu: Setiap orang yang mempunyai, kepadanya akan diberi, tetapi siapa yang tidak mempunyai, dari padanya akan diambil, juga apa yang ada padanya.\u201d<\/p>\n<p>Nemo Dat Quod Non Habet<\/p>\n<p>Pepatah bahasa Latin ini berarti, \u201cSeseorang tak dapat memberikan apa yang ia tidak punya.\u201d<br \/>\nMemberi mengandaikan bahwa ia punya sesuatu untuk diberi.<br \/>\nSayangnya banyak orang yang sebenarnya punya (banyak) tapi suka berkata \u2018saya tidak punya apa-apa.\u2019 Sama halnya dengan orang orang yang berkata, \u2018saya tidak mampu,\u2019 \u2018saya tidak tahu apa-apa,\u2019 \u2018saya tidak bisa.\u2019<br \/>\nMentalita ini mirip dengan orang yang cenderung menyangkal bahwa ia punya banyak tapi selalu berkata, \u2018yaa cuma ini,\u2019 \u2018cuma satu,\u2019 \u2018cuma sedikit,\u2019 \u2018apalah artinya.\u2019<\/p>\n<p>Yesus menegur orang dengan mentalita \u2018tidak punya\u2019 ini karena cenderung tidak mau berbagi berkat yang ada padanya.<br \/>\nYesus mengajak kita melihat apa yang ada, yang Tuhan beri, dan selalu mensyukurinya. Jangan melihat yang tidak ada, lantas mengeluh. Apalagi membandingkan dengan orang lain yang punya lebih.<br \/>\nKita ingat juga mujizat perbanyakan roti dan ikan. 5 roti dan 2 ikan tak cukup bagi yang melihat kekurangan. Bagi Yesus, apa yang ada inilah awal dari keberlimpahan. Ia menengadah ke langit, mensyukurinya, mohon berkat BapaNya. Ternyata berkelimpahan dan masih ada sisanya.<\/p>\n<p>Ketika Allah menciptakan kita, semua potensi pertumbuhan telah menyertainya, disertai rahmatNya untuk ikut mencipta dan melipatgandakan talenta. Mari kembangkan semua potensi yang Tuhan telah berikan, niscaya pasti melimpah. Jangan berhenti belajar, berusaha, sambil terus percaya dan bersyukur.<br \/>\nYesus telah berjanji, \u201cAku datang, supaya mereka mempunyai hidup, dan mempunyainya dalam segala kelimpahan.\u201d (Yoh 10:10).<br \/>\nDalam Yesus kita sungguh berkelimpahan. Betapa kata kita dalam naungan kasih Tuhan. Sesungguhnya banyak yang bisa kita berikan, jangan hanya simpan untuk diri sendiri. Mari berbagi semangat iman, berbagi senyuman syukur dan sukacita, berbagi inspirasi untuk saling mendukung dan mencerahkan.<br \/>\nJangan lupa berbagi rejeki kehidupan. Dengan memberi kita menerima.<\/p>\n<p>Melimpah berkat Tuhan hari ini, mari bersyukur.\u2764\ufe0f<br \/>\nPs Revi Tanod Pr<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Kalender Liturgi 19 Nov 2025<br \/>\nRabu Pekan Biasa XXXIII<br \/>\nWarna Liturgi: Hijau<br \/>\nBait Pengantar Injil: Yoh 15:16<br \/>\nBacaan Injil: Luk 19:11-28<br \/>\n************<\/p>\n<p>Bait Pengantar Injil<br \/>\nYoh 15:16<br \/>\nAku telah menetapkan kalian supaya kalian pergi<br \/>\ndan menghasilkan buah yang takkan binasa, sabda Tuhan.<\/p>\n<p>Bacaan Injil<br \/>\nLuk 19:11-28<br \/>\nMengapa uangku tidak kau berikan kepada orang yang menjalankan uang?<\/p>\n<p>Inilah Injil Suci menurut Lukas:<\/p>\n<p>Pada waktu Yesus sudah dekat Yerusalem,<br \/>\norang menyangka bahwa Kerajaan Allah akan segera nampak.<br \/>\nMaka Yesus berkata,<br \/>\n&#8220;Ada seorang bangsawan berangkat ke negeri yang jauh<br \/>\nuntuk dinobatkan menjadi raja.<br \/>\nSesudah itu baru ia akan kembali.<br \/>\nMaka ia memanggil sepuluh orang hambanya,<br \/>\ndan memberikan mereka sepuluh mina katanya,<br \/>\n&#8216;Pakailah ini untuk berdagang sampai aku kembali.&#8217;<\/p>\n<p>Akan tetapi orang-orang sebangsanya membenci dia,<br \/>\nlalu mengirimkan utusan menyusul dia untuk mengatakan,<br \/>\n&#8216;Kami tidak mau orang ini menjadi raja atas kami.&#8217;<br \/>\nDan terjadilah, ketika ia kembali, setelah dinobatkan menjadi raja,<br \/>\nia menyuruh memanggil hamba-hambanya,<br \/>\nyang telah diberinya uang itu,<br \/>\nuntuk mengetahui berapa hasil dagang mereka masing-masing.<br \/>\nOrang yang pertama datang dan berkata,<br \/>\n&#8216;Tuan, mina Tuan yang satu itu telah menghasilkan sepuluh mina.&#8217;<br \/>\nKatanya kepada hamba itu,<br \/>\n&#8216;Baik sekali perbuatanmu itu, hai hamba yang baik.<br \/>\nEngkau telah setia dalam perkara kecil,<br \/>\nkarena itu terimalah kekuasaan atas sepuluh kota.&#8217;<br \/>\nDatanglah yang kedua dan berkata,<br \/>\n&#8216;Tuan, mina Tuan telah menghasilkan lima mina.&#8217;<br \/>\nKatanya kepada orang kedua itu,<br \/>\n&#8216;Dan engkau, kuasailah lima kota.&#8217;<br \/>\nDan hamba yang ketiga datang dan berkata,<br \/>\n&#8216;Tuan, inilah mina Tuan,<br \/>\naku telah menyimpannya dalam sapu tangan.<br \/>\nSebab aku takut akan Tuan, karena Tuan adalah manusia yang keras.<br \/>\nTuan mengambil apa yang tidak pernah Tuan taruh,<br \/>\ndan Tuan menuai apa yang tidak Tuan tabur.&#8217;<br \/>\nKata bangsawan itu, &#8216;Hai hamba yang jahat!<br \/>\nAku akan menghakimi engkau menurut perkataanmu sendiri.<br \/>\nEngkau sudah tahu, aku ini orang yang keras.<br \/>\nAku mengambil apa yang tidak pernah kutaruh<br \/>\ndan menuai apa yang tidak kutabur.<br \/>\nJika demikian mengapa uangku tidak kauberikan kepada orang yang menjalankan uang?<br \/>\nMaka sekembaliku aku dapat mengambilnya serta dengan bunganya.&#8217;<br \/>\nLalu katanya kepada orang-orang yang berdiri di situ,<br \/>\n&#8216;Ambillah mina yang satu itu<br \/>\ndan berikanlah kepada orang yang mempunyai sepuluh mina itu.&#8217;<br \/>\nKata mereka kepadanya, &#8216;Tuan, ia sudah mempunyai sepuluh mina.&#8217;<br \/>\nIa menjawab, &#8216;Aku berkata kepadamu,<br \/>\nsetiap orang yang mempunyai, ia akan diberi;<br \/>\ntetapi siapa yang tidak mempunyai, daripadanya akan diambil,<br \/>\njuga apa yang ada padanya.<br \/>\nAkan tetapi semua seteruku ini,<br \/>\nyang tidak suka aku menjadi rajanya,<br \/>\nbawalah mereka ke mari dan bunuhlah mereka di depan mataku&#8217;.&#8221;<\/p>\n<p>Setelah mengatakan semuanya itu<br \/>\nYesus mendahului mereka dan meneruskan perjalanan-Nya ke Yerusalem.<\/p>\n<p>Demikianlah sabda Tuhan.<br \/>\n*************<\/p>\n<p>  \u210d <\/p>\n<p>\u201cBaik sekali perbuatanmu itu, hai hamba yang baik; engkau telah setia dalam perkara kecil, karena itu terimalah kekuasaan atas sepuluh kota.\u201d [Luk 19: 17]<\/p>\n<p>Dalam Injil hari ini, Yesus menceritakan sebuah perumpamaan tentang seorang bangsawan yang mempercayakan sejumlah uang (mina) kepada hamba-hambanya sebelum berangkat untuk dinobatkan sebagai raja. Ketika ia kembali, ia memberi ganjaran kepada mereka yang telah mengelola mina yang dipercayakan kepada mereka dengan baik \u2014 dan menghukum orang yang menyembunyikan mina yang dipercayakan kepadanya karena takut.<\/p>\n<p>Perumpamaan ini mengingatkan kita pada kebenaran yang sederhana namun mendalam: Allah mempercayai kita. Ia mempercayakan karunia, kesempatan, dan orang-orang dalam pemeliharaan kita \u2014 dan kemudian Ia memberi kesempatan kepada kita untuk bertindak dengan bebas. Allah tidak mengendalikan pilihan kita seperti seorang dalang yang memainkan wayang; Ia memberi kita kebebasan karena Ia percaya pada kita. Hal terbaik tentang Allah kita adalah bahwa Ia mempercayai kita.<\/p>\n<p>Setiap dari kita telah menerima sesuatu dari-Nya \u2014 waktu, iman, talenta, belas kasihan, dan mungkin berkat materi. Yang paling penting bukanlah seberapa banyak yang kita miliki, tetapi bagaimana kita menggunakan apa yang kita miliki. Hamba-hamba yang setia dalam Injil dihargai bukan karena kesuksesan duniawi, tetapi karena kesetiaan dan keberanian mereka. Kesetiaan mereka dalam hal-hal kecil membawa mereka pada tanggung jawab yang lebih besar.<\/p>\n<p>Injil juga memperingatkan kita bahwa tidak berbuat apa-apa bukanlah pilihan. Ketakutan dapat melumpuhkan kita \u2014 ketakutan akan kegagalan, kritik, atau mengambil risiko demi Injil. Menyembunyikan karunia kita adalah membuang kepercayaan yang Allah tempatkan pada kita. Seperti yang Yesus ajarkan, \u201cKepada mereka yang mempunyai, lebih banyak lagi akan diberikan.\u201d Pertumbuhan iman hanya terjadi melalui penggunaan \u2014 dengan mencintai, melayani, dan memberikan diri kita.<\/p>\n<p>Tidak ada yang namanya diam di tempat dalam kehidupan Kristen. Kita entah bertumbuh atau meredup dan padam. Mari kita hidup setiap hari sebagai pengurus yang setia atas karunia Allah, menggunakan apa yang telah kita terima untuk membangun Kerajaan-Nya \u2014 dengan sukacita, keberanian, dan hati yang penuh kepercayaan.<\/p>\n<p>Tuhan, mampukan kami menjadi pengurus-pengurus yang baik dan setia atas karunia-karunia yang Engkau percayakan kepada kami. Amin.<\/p>\n<p>Selamat beraktivitas. Jangan sia-siakan kepercayaan yang telah diberikan oleh Tuhan! \u24bf\u24c1\u24ca! \u2764\ufe0f<br \/>\n\u2764\ufe0e.<\/p>\n<blockquote class=\"wp-embedded-content\" data-secret=\"e6RoyDL0WS\"><p><a href=\"https:\/\/sacerdos2000.com\/setia-dalam-perkara-kecil\/\">Setia dalam Perkara Kecil<\/a><\/p><\/blockquote>\n<p><iframe loading=\"lazy\" class=\"wp-embedded-content\" sandbox=\"allow-scripts\" security=\"restricted\" style=\"position: absolute; visibility: hidden;\" title=\"&#8220;Setia dalam Perkara Kecil&#8221; &#8212; Sacerdos2000\" src=\"https:\/\/sacerdos2000.com\/setia-dalam-perkara-kecil\/embed\/#?secret=VZn7L9ZFdD#?secret=e6RoyDL0WS\" data-secret=\"e6RoyDL0WS\" width=\"500\" height=\"282\" frameborder=\"0\" marginwidth=\"0\" marginheight=\"0\" scrolling=\"no\"><\/iframe><\/p>\n<p>RP Joni Astanto MSC<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Sabda Kehidupan Rabu 19 November 2025 Novena Kristus Raja hari ke 6 Lukas 19:26 (Luk 19:11-28) \u201dAku berkata kepadamu: Setiap orang yang mempunyai, kepadanya akan diberi, tetapi siapa yang tidak mempunyai, dari padanya akan&#46;&#46;&#46;<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":66662,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[1,20],"tags":[],"class_list":["post-88265","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-bacaan-harian","category-renungan-text"],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/katolikindonesia.org\/wp-content\/uploads\/2024\/12\/ardas-2025.png","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/88265","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=88265"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/88265\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":88266,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/88265\/revisions\/88266"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/66662"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=88265"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=88265"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=88265"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}