{"id":88027,"date":"2025-11-15T10:23:24","date_gmt":"2025-11-15T03:23:24","guid":{"rendered":"https:\/\/katolikindonesia.org\/?p=88027"},"modified":"2025-11-15T10:23:24","modified_gmt":"2025-11-15T03:23:24","slug":"sabtu-15-november-2025-5","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/katolikindonesia.org\/?p=88027","title":{"rendered":"Sabtu, 15 November 2025"},"content":{"rendered":"<p>Sabda Kehidupan<br \/>\nSabtu 15 November 2025<br \/>\nNovena Kristus Raja hari ke 2<br \/>\nLukas 18:1,7 (Luk 18:1-8)<br \/>\nYesus mengatakan suatu perumpamaan kepada mereka untuk menegaskan, bahwa mereka harus selalu berdoa dengan tidak jemu-jemu. \u201cTidakkah Allah akan membenarkan orang-orang pilihan-Nya yang siang malam berseru kepada-Nya? Dan adakah Ia mengulur-ulur waktu sebelum menolong mereka?\u201d<\/p>\n<p>Jangan Pernah Bosan Berdoa<\/p>\n<p>Yesus selalu mengambil sisi yang radikal serta ekstrim untuk meyakinkan kita, betapa hati Allah sungguh terpaut pada kita putra putriNya. Kali ini contoh yang ekstrim mengenai seorang hakim yang lalim, namun toh akhirnya mengabulkan permintaan seorang janda untuk membela perkaranya, karena janda itu tak jemu-jemu menyusahkan hakim itu.<br \/>\nDalam Injil Matius 7:11, Yesus berkata, \u201cJadi jika kamu yang jahat tahu memberi pemberian yang baik kepada anak-anakmu, apalagi Bapamu yang di sorga! Ia akan memberikan yang baik kepada mereka yang meminta kepada-Nya.&#8221;<\/p>\n<p>Janganlah jemu berdoa. Doa adalah nafas hidup kita. Yesus telah mengajarkan kita doa Bapa Kami. Allah adalah Bapa kita dan kita adalah anak Allah. Suatu gambaran relasi yang begitu indah dan mesra yang mengingatkan kita untuk dekat di hati Bapa kita.<br \/>\nWalaupun tanpa kata-kata, Allah Bapa mengerti segala kebutuhan kita, apa yang paling kita perlukan untuk selamat dan bahagia.<br \/>\nBerada di hadirat Allah, itulah kerinduan hati kita yang paling dalam. Pintu hati Allah Bapa kita selalu terbuka untuk menerima kita. Bahkan Ia selalu menanti kita untuk datang dan berbincang-bincang denganNya, memohon belaskasihanNya.<\/p>\n<p>Paus Fransisku berkata, \u201cAllah tidak pernah lelah mengampuni kita. Kita-lah yang lelah mencari belaskasihanNya.<br \/>\nJangan pernah jemu berdoa, jangan pernah lelah memohon belaskasih dan pengampunan Allah karena Allah sendiri yang menghendaki kita selalu ada dalam pelukan kasihNya. Roh Kudus Allah yang menggerakkan kita untuk berdoa dan berseru selalu, \u201cAbba ya Bapa.\u201d<\/p>\n<p>Selamat berakhir pekan. Mari datang ke hadirat Allah, serukanlah namaNya, kita pasti didengarNya.\u2764\ufe0f<br \/>\nPs Revi Tanod Pr<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Kalender Liturgi 15 Nov 2025<br \/>\nSabtu Pekan Biasa XXXII<br \/>\nPF S. Albertus Agung, Uskup dan Pujangga Gereja<br \/>\nWarna Liturgi: Hijau<br \/>\nBait Pengantar Injil: 2Tes 2:14<br \/>\nBacaan Injil: Luk 18:1-8<br \/>\n************<\/p>\n<p>Bait Pengantar Injil<br \/>\n2Tes 2:14<br \/>\nAllah memanggil kita<br \/>\nagar kita memperoleh kemuliaan Tuhan kita Yesus Kristus.<\/p>\n<p>Bacaan Injil<br \/>\nLuk 18:1-8<br \/>\nBukankah Allah akan membenarkan para pilihan-Nya<br \/>\nyang berseru kepada-Nya?<\/p>\n<p>Inilah Injil Suci menurut Lukas:<\/p>\n<p>Pada suatu ketika<br \/>\nYesus menceriterakan suatu perumpamaan kepada murid-murid-Nya<br \/>\nuntuk menegaskan, bahwa mereka harus selalu berdoa<br \/>\ndengan tidak jemu-jemunya.<br \/>\nIa berkata,<br \/>\n&#8220;Di suatu kota ada seorang hakim<br \/>\nyang tidak takut akan Allah dan tidak menghormati siapa pun.<br \/>\nDi kota itu ada pula seorang janda<br \/>\nyang selalu datang kepada hakim itu dan berkata,<br \/>\n&#8216;Belalah hakku terhadap lawanku.&#8217;<\/p>\n<p>Beberapa waktu lamanya hakim itu menolak.<br \/>\nTetapi ia kemudian berkata dalam hatinya,<br \/>\n&#8216;Walaupun aku tidak takut akan Allah<br \/>\ndan tidak menghormati siapa pun,<br \/>\nnamun karena janda ini menyusahkan daku,<br \/>\nbaiklah aku membenarkan dia,<br \/>\nsupaya jangan terus menerus datang dan akhirnya menyerang aku.&#8221;<\/p>\n<p>Lalu Yesus berkata,<br \/>\n&#8220;Camkanlah perkataan hakim yang lalim itu!<br \/>\nBukankah Allah akan membenarkan para pilihan-Nya,<br \/>\nyang siang malam berseru kepada-Nya?<br \/>\nDan adakah Ia mengulur-ulur waktu sebelum menolong mereka?<br \/>\nAku berkata kepadamu, &#8216;Ia akan segera menolong mereka.&#8217;<br \/>\nAkan tetapi jika Anak Manusia datang,<br \/>\nadakah Ia menemukan iman di bumi ini?&#8221;<\/p>\n<p>Demikianlah sabda Tuhan.<br \/>\n************<\/p>\n<p>  \u210d <\/p>\n<p>\u201cTidakkah Allah akan membenarkan orang-orang pilihan-Nya yang siang malam berseru kepada-Nya? Dan adakah Ia mengulur-ulur waktu sebelum menolong mereka?\u201d (Luk 18: 7).<\/p>\n<p>Yesus menceritakan sebuah perumpamaan tentang seorang hakim yang lalim dan seorang janda yang gigih. Pada pandangan pertama, situasi janda itu tampak mengenaskan. Dia tidak punya uang, tidak punya pengaruh, dan tidak punya kekuatan untuk menuntut keadilan. Namun, dia memiliki satu senjata: kegigihan. Setiap hari dia memohon keadilan atas kasusnya hingga bahkan hakim yang lalim dan tidak takut akan Allah itu, yang lelah dengan permohonannya yang terus-menerus, memberikan apa yang dia minta.<\/p>\n<p>Namun Yesus tidak membandingkan Allah dengan hakim ini; justru Ia membedakannya. Jika seorang hakim yang egois dan tidak adil akhirnya menyerah pada ketekunan, betapa lebih lagi Allah, yang adalah Bapa yang penuh kasih, akan mendengarkan tangisan anak-anak-Nya? Doa bukanlah tentang membuat Allah lelah; melainkan tentang bertumbuh dalam kepercayaan dan keyakinan bahwa Ia tahu dan memberikan yang terbaik bagi kita.<\/p>\n<p>Namun, inilah tantangannya: jawaban Allah tidak selalu datang dengan cara atau pada waktu yang kita harapkan. Seperti anak-anak, kita kadang-kadang meminta hal-hal yang akan merugikan kita, meskipun kita tidak menyadarinya. Hanya Allah yang melihat gambaran keseluruhan \u2014 masa lalu, sekarang, dan masa depan \u2014 dan oleh karena itu hanya Dia yang tahu apa yang benar-benar baik bagi kita. Itulah mengapa doa harus selalu diakhiri dengan kata-kata Yesus: \u201cJadilah kehendak-Mu.\u201d<\/p>\n<p>Ketekunan dalam doa bukanlah kekakuan; itu adalah iman. Itu berarti percaya bahwa Allah mendengarkan kita, bahkan dalam keheningan. Itu berarti menolak untuk menyerah, bahkan ketika penundaan tampak tak berujung. Yesus mengakhiri dengan pertanyaan yang menggetarkan: \u201cKetika Anak Manusia datang, apakah Ia akan mendapati iman di bumi?\u201d Tugas kita adalah menjaga lampu iman tetap menyala, berdoa tanpa henti, dan menyerahkan segala sesuatu ke dalam tangan kasih Allah.<\/p>\n<p>Mari kita berdoa dengan ketekunan, tetapi juga dengan kerendahan hati, memohon bukan hanya apa yang kita inginkan, tetapi apa yang Allah tahu kita benar-benar butuhkan. Di sinilah letak inti iman.<\/p>\n<p>Tuhan, jadilah kehendak-Mu.<\/p>\n<p>Selamat pagi. Selamat berakhir-pekan. Selamat bertekun. \u24bf\u24c1\u24ca! \u2764<br \/>\n\u2764\ufe0e.<\/p>\n<blockquote class=\"wp-embedded-content\" data-secret=\"KLliZMhoup\"><p><a href=\"https:\/\/sacerdos2000.com\/jadilah-kehendak-mu\/\">Jadilah Kehendak-Mu<\/a><\/p><\/blockquote>\n<p><iframe loading=\"lazy\" class=\"wp-embedded-content\" sandbox=\"allow-scripts\" security=\"restricted\" style=\"position: absolute; visibility: hidden;\" title=\"&#8220;Jadilah Kehendak-Mu&#8221; &#8212; Sacerdos2000\" src=\"https:\/\/sacerdos2000.com\/jadilah-kehendak-mu\/embed\/#?secret=DGai5GUYNs#?secret=KLliZMhoup\" data-secret=\"KLliZMhoup\" width=\"500\" height=\"282\" frameborder=\"0\" marginwidth=\"0\" marginheight=\"0\" scrolling=\"no\"><\/iframe><\/p>\n<p>RP Joni Astanto MSC<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Sabda Kehidupan Sabtu 15 November 2025 Novena Kristus Raja hari ke 2 Lukas 18:1,7 (Luk 18:1-8) Yesus mengatakan suatu perumpamaan kepada mereka untuk menegaskan, bahwa mereka harus selalu berdoa dengan tidak jemu-jemu. \u201cTidakkah Allah&#46;&#46;&#46;<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":66662,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[1,20],"tags":[],"class_list":["post-88027","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-bacaan-harian","category-renungan-text"],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/katolikindonesia.org\/wp-content\/uploads\/2024\/12\/ardas-2025.png","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/88027","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=88027"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/88027\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":88028,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/88027\/revisions\/88028"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/66662"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=88027"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=88027"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=88027"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}