{"id":87514,"date":"2025-11-07T09:00:54","date_gmt":"2025-11-07T02:00:54","guid":{"rendered":"https:\/\/katolikindonesia.org\/?p=87514"},"modified":"2025-11-07T09:00:54","modified_gmt":"2025-11-07T02:00:54","slug":"jumat-07-november-2025-5","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/katolikindonesia.org\/?p=87514","title":{"rendered":"Jumat, 07 November 2025"},"content":{"rendered":"<p>Sabda Kehidupan<br \/>\nJumat 07 November 2025<br \/>\nLukas 16:8 (Luk 16:1-8)<br \/>\n\u201dLalu tuan itu memuji bendahara yang tidak jujur itu, karena ia telah bertindak dengan cerdik. Sebab anak-anak dunia ini lebih cerdik terhadap sesamanya dari pada anak-anak terang.&#8221;<\/p>\n<p>Cerdik Dan Bijaksana<\/p>\n<p>Pesan perumpamaan Yesus tentang bendahara yang tidak jujur ini, bukanlah ketidakjujuran si bendahara, tapi kecerdikannya untuk bisa selamat dan lolos dari permasalahannya.<br \/>\nSeorang bendahara di Israel, pekerjaannya adalah mengelola harta tuannya dengan cara meminjamkannya kepada orang lain dengan memberi bunga pinjaman yang tinggi. Sebagian untuk tuannya, sebagian lagi untuk dirinya sendiri. Misalnya ia memberi bunga pinjaman 10%, 5% untuk tuannya dan 5% lainnya untuk dia sendiri.<br \/>\nKarena ia terancam dipecat, maka demi selamat dari kemiskinan dan tidak melarat sesudah dipecat, si bendahara berbuat baik kepada orang-orang yang berhutang kepada tuannya dengan cara ia rela melepaskan 5% yang menjadi haknya. Maka bunga pinjaman yang harus dikembalikan semula 10%, kini tinggal 5%.<br \/>\nDengan berbuat kebaikan ini, ia berharap bahwa mereka yang dibantunya akan membantunya kelak bila ia dipecat oleh tuannya.<\/p>\n<p>Sebagaimana anak-anak dunia ini menggunakan kecerdikan dan semua kepandaiannya untuk bisa selamat, demikian juga Yesus menghendaki kita memaksimalkan semua potensi dan anugerah yang Tuhan berikan untuk memperoleh keselamatan kekal, dengan banyak membuat kebaikan untuk menolong sesama, rela berkorban serta tulus hati dan giat bekerja, sambil tetap rajin berdoa dan mohon selalu kebijkasanaan ilahi.<br \/>\nBerserah pada Tuhan namun tidak menyerah pada keadaan. Yesus berkata, &#8220;Lihat, Aku mengutus kamu seperti domba ke tengah-tengah serigala, sebab itu hendaklah kamu cerdik seperti ular dan tulus seperti merpati.\u201d (Mat 10:16).<\/p>\n<p>Yesus telah memperlengkapi kita dengan Roh Kudus, KebijaksanaanNya. Mari terus memohon kebijkasanaan ilahi sambil tak berhenti belajar dan mengembangkan diri agar banyak pengetahuan, cerdik dan bijaksana mengerjakan keselamatan kita di dunia ini supaya kelak oleh kemurahan Allah Bapa, kita selamat dan masuk ke dalam surga mulia.<\/p>\n<p>Selamat merayakan hari Jumat pertama dalam bulan November. Ora et labora\u2764\ufe0f<br \/>\nPs Revi Tanod Pr<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Kalender Liturgi 07 Nov 2025<br \/>\nJumat Pekan Biasa XXXI<br \/>\nWarna Liturgi: Hijau<br \/>\nBait Pengantar Injil: 1Yoh 2:5<br \/>\nBacaan Injil: Luk 16:1-8<br \/>\n***********<\/p>\n<p>Bait Pengantar Injil<br \/>\n1Yoh 2:5<br \/>\nSempurnalah kasih Allah<br \/>\ndalam hati orang yang mendengarkan sabda Kristus.<\/p>\n<p>Bacaan Injil<br \/>\nLuk 16:1-8<br \/>\nAnak-anak dunia ini lebih cerdik terhadap sesamanya<br \/>\ndaripada anak-anak terang.<\/p>\n<p>Inilah Injil Suci menurut Lukas:<\/p>\n<p>Pada suatu ketika berkatalah Yesus kepada murid-murid-Nya,<br \/>\n&#8220;Ada seorang kaya yang mempunyai seorang bendahara.<br \/>\nKepadanya disampaikan tuduhan,<br \/>\nbahwa bendahara itu menghamburkan miliknya.<br \/>\nMaka si kaya itu memanggil bendaharanya dan berkata,<br \/>\n&#8216;Apakah yang telah kudengar tentang dirimu?<br \/>\nBerilah pertanggungan-jawaban atas urusanmu,<br \/>\nsebab engkau tidak boleh bekerja sebagai bendahara lagi.&#8217;<br \/>\nBerkatalah bendahara itu dalam hatinya,<br \/>\n&#8216;Apa yang harus kuperbuat?<br \/>\nTuanku memecat aku dari jabatanku.<br \/>\nMencangkul aku tidak dapat, mengemis aku malu.<br \/>\nAku tahu apa yang akan kuperbuat,<br \/>\nsupaya apabila aku dipecat dari jabatanku sebagai bendahara,<br \/>\nada orang yang mau menampung aku di rumah mereka.&#8217;<br \/>\nLalu ia memanggil satu demi satu<br \/>\norang yang berhutang kepada tuannya.<br \/>\nBerkatalah ia kepada yang pertama,<br \/>\n&#8216;Berapa besar utangmu kepada tuanku?&#8217;<br \/>\nJawab orang itu, &#8216;Seratus tempayan minyak.&#8217;<br \/>\nLalu kata bendahara itu, &#8216;Inilah surat hutangmu.<br \/>\nDuduklah dan buatlah surat utang lain sekarang juga:<br \/>\nLima puluh tempayan.&#8217;<br \/>\nKemudian ia berkata kepada yang lain,<br \/>\n&#8216;Dan Saudara, berapa utangmu?&#8217;<br \/>\nJawab orang itu, &#8216;Seratus pikul gandum.&#8217;<br \/>\nKatanya kepada orang itu, &#8216;Inilah surat utangmu.<br \/>\nBuatlah surat utang lain: Delapan puluh pikul.&#8217;<br \/>\nBendahara yang tidak jujur itu dipuji tuannya,<br \/>\nkarena ia telah bertindak dengan cerdik.<br \/>\nSebab anak-anak dunia ini lebih cerdik terhadap sesamanya<br \/>\ndari pada anak-anak terang.&#8221;<\/p>\n<p>Demikianlah sabda Tuhan.<br \/>\n*************<br \/>\n  \u210d <\/p>\n<p>\u201cTuan itu memuji bendahara yang tidak jujur itu, karena ia telah bertindak dengan cerdik. Sebab anak-anak dunia ini lebih cerdik terhadap sesamanya dari pada anak-anak terang,\u201d (Luk 16: 8 )<\/p>\n<p>Hari ini Yesus memberi kita perumpamaan yang membingungkan yakni tentang bendahara yang tidak jujur. Sekilas, sepertinya Tuhan memuji ketidakjujuran. Namun, sebenarnya Ia sedang mengajarkan kita tentang cara hidup yang bijak dan bertanggung jawab, karena hidup kita bukanlah milik kita sendiri. Kita adalah pengurus, pengelola, bukan pemilik hidup kita.<\/p>\n<p>Pertama, Yesus memperingatkan kita tentang pemborosan. Hidup adalah harta paling berharga yang Allah percayakan kepada kita, tetapi kadang-kadang kita menyia-nyiakannya. Kita berpikir kita adalah tuan atas hidup kita, padahal kita hanyalah pengurus. Ketika kita lebih mementingkan pekerjaan daripada keluarga, atau kesenangan daripada tanggung jawab, kita kehilangan keseimbangan. Santo Agustinus mengingatkan kita: \u201cJaga keteraturan, dan keteraturan akan menjaga kamu.\u201d Kita dipanggil untuk hidup dengan keseimbangan, sadar bahwa hidup kita milik Allah.<\/p>\n<p>Kedua, perumpamaan ini mendorong kita untuk bertanya: \u201cApa yang harus aku lakukan?\u201d Bendaharawan itu, yang menghadapi krisis, mencari cara untuk maju. Kita pun harus bertanya pada diri sendiri: Apa jalan hidupku? Apa misiku? Apa talenta yang Allah percayakan kepadaku? Setiap dari kita memiliki karunia, cara unik untuk membawa kehidupan dan kebahagiaan bagi sesama. Ketika kita menemukannya, kita tak lagi mengambang dan mulai hidup dengan tujuan.<\/p>\n<p>Ketiga, Yesus menyoroti kecerdikan sang bendahara tersebut. Ia mempersiapkan masa depannya, meskipun dengan cara yang tidak jujur. Pelajaran bagi kita adalah: jadilah bijak, baik hati, dan perlakukan orang lain dengan baik. Posisi, kekuasaan, dan kekayaan semua akan berlalu. Hidup berputar seperti roda\u2014hari ini kita mungkin di atas, besok di bawah. Itulah sebabnya kita tidak boleh melupakan kerendahan hati dan kebaikan, karena pada akhirnya, yang penting bukanlah status, tetapi cinta.<\/p>\n<p>Dan di sinilah tantangan Injil bagi kita: jika orang-orang dunia begitu berkomitmen untuk memastikan kenyamanan mereka, bukankah kita, anak-anak terang, harus lebih berkomitmen untuk memastikan kehidupan kekal? Yesus mengajak kita untuk menempatkan energi, kreativitas, dan keteguhan yang sama dalam iman kita seperti yang sering kita curahkan dalam pekerjaan atau kesenangan.<\/p>\n<p>Mari kita hidup dengan bijaksana. Mari kita kelola hidup kita bukan untuk keuntungan sementara, tetapi untuk Kerajaan Allah. Maka, pada akhirnya, Kristus akan menyambut kita\u2014bukan sebagai bendahara yang tidak jujur, tetapi sebagai hamba yang setia ,yang hidup dengan cinta.<\/p>\n<p>Tuhan, karuniailah kami kecerdasan Kristiani, suatu kebijaksanaan yang menggabungkan kehati-hatian dengan kemurnian hati, sehingga kami dapat melayani Dikau dan sesama dengan jujur, penuh kasih dan bertanggung-jawab. Amin.<\/p>\n<p>Selamat beraktivitas. Selamat Jumat Pertama! \u24bf\u24c1\u24ca! \u2764\ufe0f<br \/>\n\u2764\ufe0e.<\/p>\n<blockquote class=\"wp-embedded-content\" data-secret=\"JizOf9Vtrg\"><p><a href=\"https:\/\/sacerdos2000.com\/mengelola-hidup\/\">Mengelola Hidup<\/a><\/p><\/blockquote>\n<p><iframe loading=\"lazy\" class=\"wp-embedded-content\" sandbox=\"allow-scripts\" security=\"restricted\" style=\"position: absolute; visibility: hidden;\" title=\"&#8220;Mengelola Hidup&#8221; &#8212; Sacerdos2000\" src=\"https:\/\/sacerdos2000.com\/mengelola-hidup\/embed\/#?secret=j0ptOlUreR#?secret=JizOf9Vtrg\" data-secret=\"JizOf9Vtrg\" width=\"500\" height=\"282\" frameborder=\"0\" marginwidth=\"0\" marginheight=\"0\" scrolling=\"no\"><\/iframe><\/p>\n<p>RP Joni Astanto MSC<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Sabda Kehidupan Jumat 07 November 2025 Lukas 16:8 (Luk 16:1-8) \u201dLalu tuan itu memuji bendahara yang tidak jujur itu, karena ia telah bertindak dengan cerdik. Sebab anak-anak dunia ini lebih cerdik terhadap sesamanya dari&#46;&#46;&#46;<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":66662,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[1,20],"tags":[],"class_list":["post-87514","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-bacaan-harian","category-renungan-text"],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/katolikindonesia.org\/wp-content\/uploads\/2024\/12\/ardas-2025.png","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/87514","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=87514"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/87514\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":87515,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/87514\/revisions\/87515"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/66662"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=87514"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=87514"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=87514"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}