{"id":87395,"date":"2025-11-05T09:11:15","date_gmt":"2025-11-05T02:11:15","guid":{"rendered":"https:\/\/katolikindonesia.org\/?p=87395"},"modified":"2025-11-05T10:07:46","modified_gmt":"2025-11-05T03:07:46","slug":"rabu-05-november-2025-4","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/katolikindonesia.org\/?p=87395","title":{"rendered":"Rabu, 05 November 2025"},"content":{"rendered":"<p>Sabda Kehidupan<br \/>\nRabu 05 November 2025<br \/>\nLukas 14:26 (Luk 14:25-33)<br \/>\n\u201dJikalau seorang datang kepada-Ku dan ia tidak membenci bapanya, ibunya, isterinya, anak-anaknya, saudara-saudaranya laki-laki atau perempuan, bahkan nyawanya sendiri, ia tidak dapat menjadi murid-Ku.\u201d<\/p>\n<p>Yesus Menjadi Alasan Kita Mencintai Orang Lain.<\/p>\n<p>Bukanlah maksud Yesus agar semua anggota keluarga saling membenci karena Dia. Yesus menghendaki agar cinta kita kepadaNya tidak terhalang oleh kepentingan diri sendiri dan keluarga.<br \/>\nKetika kebenaran Allah menuntut kita untuk memilih maka kita harus berani memilih mengikuti kehendak Allah. Oleh karena itu segala sesuatu yang bertentangan dengan kehendak Allah mesti ditolak dan semua ikatan yang membuat kita terpisah dari Allah harus dilepaskan.<\/p>\n<p>Keterikatan kita dengan keluarga, orang atau benda termasuk hobi tertentu, justru dipakai Iblis untuk mengikat kita dan menjauhkan kita dari Tuhan.<br \/>\nSt Hubertus misalnya. Hobinya berburu membuat ia tidak ke gereja pada hari Minggu. Bahkan di saat perayaan Jumat Agung, ia memilih pergi berburu. Syukurlah Yesus mempertobatkannya dan menjadi pencinta Yesus hingga menjadi imam dan uskup.<\/p>\n<p>Seringkali juga orang mengorbankan kepentingan banyak orang karena lebih mementingkan diri sendiri dan keluarga.<br \/>\nDengan memilih Yesus dan meninggalkan segalanya, sesungguhnya kita telah mendapatkan segalanya. Dalam Mat 19:29 Yesus berkata, \u201cSetiap orang yang karena nama-Ku meninggalkan rumahnya, saudaranya laki-laki atau saudaranya perempuan, bapa atau ibunya, anak-anak atau ladangnya, akan menerima kembali seratus kali lipat dan akan memperoleh hidup yang kekal.\u201d<\/p>\n<p>Dengan menjadikan Yesus segalanya bagi kita, maka cinta kita kepada siapapun termasuk orang tua dan keluarga menjadi begitu dalam dan kuat, karena alasan terdalam cinta kita kepada mereka adalah cinta kita kepada Yesus yang telah lebih dahulu mencintai kita.<br \/>\nJadikanlah Yesus sebagai alasan bagi kita untuk mencintai pasangan, orangtua, anak-anak, siapapun juga. Kita akan mencintai mereka sepenuh hati, setulus hati.<br \/>\nDemikian juga ketika Yesus menjadi alasan bagi kita untuk mencintai pekerjaan kita, pelayanan kita, bahkan jabatan kita. Kita pasti akan bekerja dengan sepenuh hati dan rela memberi diri dan semua yang terbaik yang bisa kita lakukan.<\/p>\n<p>Selamat hari baru. Mari melayani dengan tulus hati, terlepas dari ikatan cinta diri.\u2764\ufe0f<br \/>\nPs Revi Tanod Pr<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Kalender Liturgi 05 Nov 2025<br \/>\nRabu Pekan Biasa XXXI<br \/>\nWarna Liturgi: Hijau<br \/>\nBait Pengantar Injil: 1Ptr 4:14<br \/>\nBacaan Injil: Luk 14:25-33<br \/>\n************<\/p>\n<p>Bait Pengantar Injil<br \/>\n1Ptr 4:14<br \/>\nBerbahagialah kalian, jika dinista karena nama Kristus,<br \/>\nsebab Roh Allah ada padamu.<\/p>\n<p>Bacaan Injil<br \/>\nLuk 14:25-33<br \/>\nYang tidak melepaskan diri dari segala miliknya<br \/>\ntidak dapat menjadi murid-Ku.<\/p>\n<p>Inilah Injil Suci menurut Lukas:<\/p>\n<p>Pada suatu ketika<br \/>\norang berduyun-duyun mengikuti Yesus dalam perjalanan-Nya.<br \/>\nSambil berpaling Yesus berkata kepada mereka,<br \/>\n&#8220;Jika seorang datang kepada-Ku<br \/>\ndan ia tidak membenci bapanya, ibunya, isterinya, anak-anaknya,<br \/>\nsaudara-saudarinya, bahkan nyawanya sendiri,<br \/>\nia tidak dapat menjadi murid-Ku.<br \/>\nBarangsiapa tidak memanggul salibnya dan mengikuti Aku,<br \/>\nia tidak dapat menjadi murid-Ku.<\/p>\n<p>Sebab siapakah di antaramu, yang mau membangun sebuah menara,<br \/>\ntidak duduk membuat anggaran belanja dahulu,<br \/>\napakah uangnya cukup untuk menyelesaikan pekerjaan itu?<br \/>\nJangan-jangan sesudah meletakkan dasar<br \/>\nia tidak dapat menyelesaikannya.<br \/>\nLalu semua orang yang melihat itu akan mengejek dengan berkata,<br \/>\n&#8216;Orang itu mulai membangun, tetapi tidak dapat menyelesaikannya.&#8217;<\/p>\n<p>Atau raja manakah yang hendak berperang melawan raja lain,<br \/>\ntidak duduk mempertimbangkan dulu<br \/>\napakah dengan sepuluh ribu orang ia dapat melawan musuh<br \/>\nyang datang menyerang dengan dua puluh ribu orang?<br \/>\nJika tidak dapat, ia akan mengirim utusan selama musuh masih jauh<br \/>\nuntuk menanyakan syarat-syarat perdamaian.<\/p>\n<p>Demikianlah setiap orang di antaramu<br \/>\nyang tidak melepaskan diri dari segala miliknya,<br \/>\ntidak dapat menjadi murid-Ku.&#8221;<\/p>\n<p>Demikianlah sabda Tuhan.<br \/>\n************<\/p>\n<p>\u210d<\/p>\n<p>\u201dJikalau seorang datang kepada-Ku dan ia tidak membenci bapanya, ibunya, isterinya, anak-anaknya, saudara-saudaranya laki-laki atau perempuan, bahkan nyawanya sendiri, ia tidak dapat menjadi murid-Ku. Barangsiapa tidak memikul salibnya dan mengikut Aku, ia tidak dapat menjadi murid-Ku.\u201d (Luk 14: 26 &#8211; 27)<\/p>\n<p>Mendengarkan Injil hari ini mungkin kita akan terkejut: lho koq Yesus mengajarkan kita untuk membenci? Bukankah Dia selalu mengajar kita untuk mengasihi? Bukan hanya saudara-saudari sedarah yang harus kita kasihi. Bahkan Ia mengajarkan untuk mengasihi musuh! Tentu apa yang dikatakan oleh Yesus tidak untuk dimengerti secara harafiah. Dengan cara \u201chiperbola\u201d Yesus berbicara tentang pemuridan. Jika seseorang ingin mengikut Tuhan, hubungan dengan-Nya harus diprioritaskan di atas relasi-relasi yang lain, bahkan hubungan darah! Dan apa pun yang terjadi, seorang murid harus memikul salib Tuhan, melalui saat-saat yang baik dan buruk.<\/p>\n<p>Yesus mengatakan bahwa dalam membangun sebuah menara, perencanaan harus dilakukan. Perhitungan matang harus dilakukan, agar pekerjaan itu dapat diselesaikan dengan baik. Pekerjaan yang setengah-setengah akan menerima kritik, bukan apresiasi.<\/p>\n<p>Peringatan keras dari Yesus dimaksudkan agar kita menganggap serius pemuridan. Sebelum seseorang memutuskan untuk mengikut Yesus, ia harus bersedia untuk menempuh semua jalan. Seperti yang dikatakan Santo Paulus, kita seperti pelari dalam perlombaan dengan mata yang tertuju pada hadiah hidup yang kekal, yaitu Kerajaan Allah. Kita mempersiapkan diri dengan sungguh-sungguh untuk itu. Kita mendisiplinkan diri kita sendiri untuk memenangkannya. Kita tidak berhenti sampai kita menyelesaikan perlombaan dan meraih hadiahnya.<\/p>\n<p>Menjadi murid Kristus itu berlangsung 24 jam sehari 7 hari seminggu, setiap waktu! Kita bukan orang Katolik hanya pada hari Minggu atau saat beribadah di gereja saja. Hidup kita adalah iman kita; iman kita adalah hidup kita. Inilah kehidupan yang Yesus perlihatkan kepada para Rasul. Jadi, jika mereka tidak yakin untuk mengikut Tuhan, mereka akan mengalami banyak kesulitan, seperti yang mereka alami ketika Yesus menderita, wafat dan dimakamkan. Mereka berpikir, bagaimana mungkin mereka mempercayakan hidup mereka sepenuhnya kepada seseorang yang telah mati? Apakah itu sia-sia? Namun, kemudian Yesus menampakkan diri kepada mereka dalam kemuliaan-Nya dan tiba-tiba semua yang Yesus katakan kepada mereka menjadi jelas maknanya, terutama tentang \u201charga\u201d yang harus dibayar untuk menjadi murid Yesus.<\/p>\n<p>Ketika Yesus meminta kita untuk meninggalkan segala sesuatu dan memikul salib-Nya, itu bukan hal yang remeh. Itu adalah untuk mendapatkan \u201chadiah\u201d utama yaitu hidup yang kekal. Itu tidak mudah dan tidak murah. Tetapi dengan Yesus yang telah menang atas penderitaan dan maut, kita diyakinkan. Tantangan mungkin datang, tetapi iman kita selalu lebih kuat.<\/p>\n<p>Tuhan, tolonglah aku untuk menyadari serta menghidupi identitas dan panggilan Kristiani-ku setiap detik, setiap menit setiap hari. Amin.<\/p>\n<p>Selamat pagi. Selamat mengikuti Yesus, sepanjang waktu! \u24bf\u24c1\u24ca! \u2764\ufe0f<br \/>\n\u2764\ufe0e.<\/p>\n<blockquote class=\"wp-embedded-content\" data-secret=\"AzkPKIKh0n\"><p><a href=\"https:\/\/sacerdos2000.com\/murid-murid-kristus-24-7\/\">Murid-Murid Kristus 24\/7<\/a><\/p><\/blockquote>\n<p><iframe loading=\"lazy\" class=\"wp-embedded-content\" sandbox=\"allow-scripts\" security=\"restricted\" style=\"position: absolute; visibility: hidden;\" title=\"&#8220;Murid-Murid Kristus 24\/7&#8221; &#8212; Sacerdos2000\" src=\"https:\/\/sacerdos2000.com\/murid-murid-kristus-24-7\/embed\/#?secret=ctL0NwfJsP#?secret=AzkPKIKh0n\" data-secret=\"AzkPKIKh0n\" width=\"500\" height=\"282\" frameborder=\"0\" marginwidth=\"0\" marginheight=\"0\" scrolling=\"no\"><\/iframe><\/p>\n<p>RP Joni Astanto MSC<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Sabda Kehidupan Rabu 05 November 2025 Lukas 14:26 (Luk 14:25-33) \u201dJikalau seorang datang kepada-Ku dan ia tidak membenci bapanya, ibunya, isterinya, anak-anaknya, saudara-saudaranya laki-laki atau perempuan, bahkan nyawanya sendiri, ia tidak dapat menjadi murid-Ku.\u201d&#46;&#46;&#46;<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":66662,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[1,20],"tags":[],"class_list":["post-87395","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-bacaan-harian","category-renungan-text"],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/katolikindonesia.org\/wp-content\/uploads\/2024\/12\/ardas-2025.png","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/87395","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=87395"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/87395\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":87416,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/87395\/revisions\/87416"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/66662"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=87395"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=87395"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=87395"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}