{"id":87166,"date":"2025-11-01T06:57:48","date_gmt":"2025-10-31T23:57:48","guid":{"rendered":"https:\/\/katolikindonesia.org\/?p=87166"},"modified":"2025-11-01T06:57:48","modified_gmt":"2025-10-31T23:57:48","slug":"sabtu-01-november-2025-5","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/katolikindonesia.org\/?p=87166","title":{"rendered":"Sabtu, 01 November 2025"},"content":{"rendered":"<p>Sabda Kehidupan<br \/>\nSabtu 1 November 2025<br \/>\nHari Raya Semua Orang Kudus<br \/>\nMatius 5:3 (Matius 5:1-12a)<br \/>\n\u201dBerbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga.&#8221;<\/p>\n<p>Menjadi Orang Yang Bahagia<\/p>\n<p>Hari ini gereja merayakan Hari Raya Semua Orang Kudus. Hampir setiap hari dalam setahun Gereja memperingati orang-orang kudus. Tapi apakah hanya ada 365 orang kudus yang kita rayakan pestanya sepanjang tahun?<br \/>\nMaka setiap tanggal 1 November, Gereja merayakan Hari Raya Semua Orang Kudus yang tak terbilang jumlahnya, yang memuji-muji Allah dalam kebahagiaan surgawi.<\/p>\n<p>Perayaan ini juga dimaksudkan untuk mengingatkan kita pada hakekat kekudusan umat pilihan Allah yang adalah persekutuan \u201cPara Kudus\u201d.<br \/>\nOleh Pembaptisan dalam nama Allah Tritunggal Mahakudus, kita telah dikuduskan Allah oleh penebusan Kristus. Kita mati dan bangkit bersama Kristus, kita diangkat menjadi anak-anak Allah dan berhak mewarisi kebahagiaan surgawi sebagai satu keluarga Allah.<\/p>\n<p>Allah menghendaki agar hidup bahagia di surga menjadi cita-cita dan tujuan perjuangan iman kita di dunia, untuk masuk dalam persekutuan para kudus di surga.<br \/>\nSiapakah orang-orang kudus itu?Mereka adalah orang-orang yang miskin di hadapan Allah. Hanya mengandalkan Allah sebagai milik pusakanya.<br \/>\nDengan telanjang dan tangan kosong Allah menghadirkan kita di dunia ini, agar dengan berserah seutuhnya kepadaNya, kepenuhan RohNya memenuhi hidup kita dengan segala kelimpahan rahmatNya.<\/p>\n<p>Kebahagiaan kita bukan ditentukan oleh berapa banyak harta dunia yang kita miliki, namun oleh kesatuan kita dengan Allah Tritunggal Mahakudus yang diam dalam diri kita, dan oleh kesatuan cinta kita dengan orang-orang yang Tuhan hadirkan dalam hidup kita.<br \/>\nKesatuan yang intim ini, membuat kita selalu bersyukur dan bahagia memiliki segalanya yang kita perlukan, karena kita bersatu dengan Pokok Anggur kehidupan, yakni Yesus sendiri. Kita tinggal di dalam Dia, kita hidup olehNya dan menghasilkan buah-buah kasih yang selalu kita bagikan kepada orang lain.<\/p>\n<p>Jangan pernah terpisah dari persekutuan para kudus ini, agar dalam hidup di dunia ini, maupun kelak di surga, kebahagiaan surgawi selalu menyertai kita.<\/p>\n<p>Selamat berbahagia bersama seluruh keluarga Allah, di bumi dan di surga. Aleluia, Amin.\u2764\ufe0f<br \/>\nPs Revi Tanod Pr<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Kalender Liturgi 01 Nov 2025<br \/>\nSabtu Pekan Biasa XXX<br \/>\nWarna Liturgi: Putih<br \/>\nBait Pengantar Injil: Mat 11:28<br \/>\nBacaan Injil: Mat 5:1-12a<br \/>\n************<\/p>\n<p>Bait Pengantar Injil<br \/>\nMat 11:28<br \/>\nMarilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat,<br \/>\nAku akan memberi kelegaan kepadamu.<\/p>\n<p>Bacaan Injil<br \/>\nMat 5:1-12a<br \/>\nBersukacita dan bergembiralah,<br \/>\nkarena besarlah ganjaranmu di surga.<\/p>\n<p>Inilah Injil Suci menurut Matius:<\/p>\n<p>Sekali peristiwa<br \/>\nketika melihat banyak orang yang datang,<br \/>\nYesus mendaki lereng sebuah bukit.<br \/>\nSetelah Ia duduk, datanglah murid-murid-Nya.<br \/>\nLalu Yesus pun mulai berbicara dan mengajar mereka, kata-Nya,<br \/>\n&#8220;Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah,<br \/>\nkarena merekalah yang empunya Kerajaan Surga.<br \/>\nBerbahagialah orang yang berdukacita,<br \/>\nkarena mereka akan dihibur.<br \/>\nBerbahagialah orang yang lemah lembut,<br \/>\nkarena mereka akan memiliki bumi.<br \/>\nBerbahagialah orang yang lapar dan haus akan kebenaran,<br \/>\nkarena mereka akan dipuaskan.<br \/>\nBerbahagialah orang yang murah hati,<br \/>\nkarena mereka akan beroleh kemurahan.<br \/>\nBerbahagialah orang yang suci hatinya,<br \/>\nkarena mereka akan melihat Allah.<br \/>\nBerbahagialah orang yang membawa damai,<br \/>\nkarena mereka akan disebut anak-anak Allah.<br \/>\nBerbahagialah orang yang dianiaya demi kebenaran,<br \/>\nkarena merekalah yang empunya Kerajaan Surga.<br \/>\nBerbahagialah kamu,<br \/>\njika demi Aku kamu dicela dan dianiaya,<br \/>\ndan kepadamu difitnahkan segala yang jahat;<br \/>\nbersukacita dan bergembiralah,<br \/>\nkarena besarlah ganjaranmu di surga.&#8221;<\/p>\n<p>Demikianlah sabda Tuhan.<br \/>\n***\u2020*********<\/p>\n<p>  \u210d<br \/>\nRaya Semua Orang Kudus<\/p>\n<p>\u201cBersukacita dan bergembiralah, karena upahmu besar di sorga.\u201d (Mat 5: 12)<\/p>\n<p>Ketika seseorang dikanonisasi menjadi orang suci, Gereja menyatakan bahwa ia adalah seseorang yang menjadi teladan keutamaan luar biasa atau &#8216;heroik&#8217; dalam hidupnya: punya iman yang luar biasa, harapan yang tak tergoyahkan &#8211; bahkan di tengah cobaan yang luar biasa &#8211; dan amal kasih yang besar. Tentu ia menghidupi semangat seperti yang disebutkan dalam Injil hari ini: menghidupi Sabda Bahagia dengan cara yang radikal. Itulah sebabnya Gereja mengatakan bahwa orang-orang ini layak untuk dihormati dan diteladani. Mereka sama manusiawinya dengan kita semua, namun benar-benar miskin dalam roh, artinya, secara konsisten menaruh kepercayaan kepada Tuhan; mereka dengan yakin mencari kekuatan di dalam Tuhan di tengah semua penderitaan dan mereka benar-benar berdukacita atas dosa-dosa mereka. Mereka tulus dan rendah hati; mereka menginginkan kesucian lebih dari apapun dalam hidup; mereka menunjukkan belas kasihan kepada semua orang, bahkan musuh mereka; mereka bekerja tanpa kenal lelah untuk perdamaian; dan mereka dengan senang hati menderita penganiayaan demi Kristus dan iman mereka. Itu berarti bahwa mereka bukan hanya menjadi orang-orang baik. Mereka jauh dari sekadar menjadi orang baik.<\/p>\n<p>Orang-orang yang sangat suci biasanya terkenal. Tetapi seorang selebriti yang terkenal, belum tentu suci. Selain itu, ada banyak orang yang dalam diam menghidupi kekudusan dan sekarang berada di surga. Mereka itu adalah orang-orang suci yang tidak terkenal, tidak dikanonisasi, tidak dibeatifikasi, anonim, namanya juga tidak ditemukan dalam kalender liturgi Gereja. Orang-orang kudus ini bisa saja kakek, nenek, orang tua, suami dan istri, paman dan bibi, guru dan teman, sahabat, anak, saudara laki-laki dan perempuan, keponakan, sepupu dan sebagainya dan sebagainya, yang sudah meninggal. Mereka tidak melakukan hal yang luar biasa tapi mereka tahu bagaimana mengasihi dengan sungguh-sungguh. Merekalah yang kita rayakan pestanya hari ini.<\/p>\n<p>Selama kita hidup di dunia ini, kita memiliki jalan hidup yang berbeda-beda: ada yang menjadi petani, guru, pegawai pemerintah, pengusaha, dokter, pedagang; sebagian masih muda dan yang lain sudah tua; ada yang berumah tangga dan yang lain tidak menikah, dan sebagainya, namun di atas semua perbedaan itu, sebagai orang Kristiani, sebagai orang Katolik, kita memiliki tujuan yang sama; di manapun kita berada, apapun pekerjaan kita, kita dipanggil untuk menjadi Kudus! Biasanya kita akan mengatakan: &#8220;Mana bisa orang berdosa seperti saya ini menjadi kudus?&#8221; Namun itulah kehendak Tuhan sebagaimana Paulus katakan dalam suratnya kepada umat di Tesalonika bahwa Ia mau supaya kita menjadi kudus (1 Tes 4: 3). Dan Tuhan tidak mungkin meminta dari kita sesuatu yang mustahil!<\/p>\n<p>\u201cTuhan meminta segalanya dari kita, dan sebagai imbalannya dia menawarkan kepada kita kehidupan sejati, kebahagiaan untuk apa kita diciptakan. Dia ingin kita menjadi orang suci dan tidak tinggal dalam keberadaan yang hambar dan biasa-biasa saja,\u201d Gaudete et Exultate, no. 1.<\/p>\n<p>Tuhan, semoga benih-benih kekudusan bertumbuh dalam hati dan perbuatan kami. Amin.<\/p>\n<p>Selamat beraktivitas. Tanpa henti berusaha menjadi kudus! \u24bf\u24c1\u24ca! \u2764\ufe0f<br \/>\n\u2764\ufe0e.<\/p>\n<blockquote class=\"wp-embedded-content\" data-secret=\"3jROEEDzYn\"><p><a href=\"https:\/\/sacerdos2000.com\/dipanggil-menjadi-kudus\/\">Dipanggil Menjadi Kudus<\/a><\/p><\/blockquote>\n<p><iframe loading=\"lazy\" class=\"wp-embedded-content\" sandbox=\"allow-scripts\" security=\"restricted\" style=\"position: absolute; visibility: hidden;\" title=\"&#8220;Dipanggil Menjadi Kudus&#8221; &#8212; Sacerdos2000\" src=\"https:\/\/sacerdos2000.com\/dipanggil-menjadi-kudus\/embed\/#?secret=V8OfmAmfvk#?secret=3jROEEDzYn\" data-secret=\"3jROEEDzYn\" width=\"500\" height=\"282\" frameborder=\"0\" marginwidth=\"0\" marginheight=\"0\" scrolling=\"no\"><\/iframe><\/p>\n<p>RP Joni Astanto MSC<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Sabda Kehidupan Sabtu 1 November 2025 Hari Raya Semua Orang Kudus Matius 5:3 (Matius 5:1-12a) \u201dBerbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga.&#8221; Menjadi Orang Yang Bahagia Hari ini&#46;&#46;&#46;<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[1,20],"tags":[],"class_list":["post-87166","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-bacaan-harian","category-renungan-text"],"jetpack_featured_media_url":"","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/87166","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=87166"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/87166\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":87167,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/87166\/revisions\/87167"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=87166"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=87166"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=87166"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}