{"id":87118,"date":"2025-10-31T15:20:14","date_gmt":"2025-10-31T08:20:14","guid":{"rendered":"https:\/\/katolikindonesia.org\/?p=87118"},"modified":"2025-10-31T15:20:14","modified_gmt":"2025-10-31T08:20:14","slug":"jumat-31-oktober-2025-5","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/katolikindonesia.org\/?p=87118","title":{"rendered":"Jumat, 31 Oktober 2025"},"content":{"rendered":"<p>Sabda Kehidupan<br \/>\nJumat 31 Oktober 2025<br \/>\nLukas 14:5-6 (Luk 14:1-6)<br \/>\nKemudian Ia berkata kepada mereka: &#8220;Siapakah di antara kamu yang tidak segera menarik ke luar anaknya atau lembunya kalau terperosok ke dalam sebuah sumur, meskipun pada hari Sabat?&#8221; Mereka tidak sanggup membantah-Nya.<\/p>\n<p>Segera Menolong<\/p>\n<p>Bagi Yesus, berbuat baik, menolong orang, apalagi yang mendesak perlu ditolong, tidak mengenal batasan waktu dan tempat. Dorongan cintaNya membuat Yesus segera menolong orang yang sakit busung air yang datang kepadaNya, apapun resikonya. Cinta Kristus inilah yang menjadi pendorong utama murid-murid Kristus untuk bertindak.<br \/>\nTerdorong oleh luapan kasih Kristus, Rasul Paulus berkata, \u201cCaritas Christi urget nos\u201d (cinta Kristus mendesak kami &#8211; 2 Kor 5:14). Kata Latin \u2018urget\u2019 (bahasa Ingris \u2018urge atau urgent\u2019) dibahasakan sebagai \u2018urgensi\/kemendesakkan atau keharusan yang mendesak.<\/p>\n<p>Diceritakan bahwa saat St Vinsensius a Paulo sedang berdoa lalu ada orang yang mengetuk pintu meminta tolong, ia akan menghentikan doanya dan pergi menolong orang itu.<br \/>\nDitanya alasannya apa, St Vinsensius menjawab, \u201cAku meninggalkan Allah untuk Allah.\u201d Maksudnya, ia meninggalkan Allah untuk berjumpa dengan Allah dalam diri sesama.<br \/>\nBukankah Yesus pernah berkata, \u201csegala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku.\u201d (Mat 25:40).<br \/>\nLihatlah Yesus dalam diri sesama, sebagaimana Yesus hadir dalam hati kita dan menggerakkan kita untuk berbelaskasih. Bersegeralah bertindak!<\/p>\n<p>\u201dYa Allah, bersegeralah menolong kami\u201d. Biarlah doa ini menjadi doa kita setiap hari. Selamat menutup bulan Oktober.\u2764\ufe0f<br \/>\nPs Revi Tanod Pr<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Kalender Liturgi 31 Okt 2025<br \/>\nJumat Pekan Biasa XXX<br \/>\nWarna Liturgi: Hijau<br \/>\nBait Pengantar Injil: Yoh 10:27<br \/>\nBacaan Injil: Luk 14:1-6<br \/>\n************<\/p>\n<p>Bait Pengantar Injil<br \/>\nYoh 10:27<br \/>\nDomba-domba-Ku mendengarkan suara-Ku, sabda Tuhan;<br \/>\nAku mengenal mereka, dan mereka mengikuti Aku.<\/p>\n<p>Bacaan Injil<br \/>\nLuk 14:1-6<br \/>\nSiapakah yang anak atau lembunya terperosok ke dalam sumur,<br \/>\ntidak segera menariknya ke luar meski pada hari Sabat?<\/p>\n<p>Inilah Injil Suci menurut Lukas:<\/p>\n<p>Pada suatu hari Sabat<br \/>\nYesus datang ke rumah salah seorang pemimpin orang-orang Farisi<br \/>\nuntuk makan di situ.<br \/>\nSemua orang yang hadir mengamat-amati Dia dengan saksama.<br \/>\nTiba-tiba datanglah seorang yang sakit busung air<br \/>\ndan berdiri di hadapan Yesus.<\/p>\n<p>Lalu Yesus bertanya kepada para ahli Taurat dan orang-orang Farisi,<br \/>\n&#8220;Bolehkah menyembuhkan orang pada hari Sabat atau tidak?&#8221;<br \/>\nTetapi mereka semua diam saja.<br \/>\nLalu Yesus memegang tangan si sakit itu dan menyembuhkannya,<br \/>\nserta menyuruhnya pergi.<\/p>\n<p>Kemudian Ia berkata kepada mereka,<br \/>\n&#8220;Siapakah di antara kalian<br \/>\nyang anak atau lembunya terperosok ke dalam sumur,<br \/>\ntidak segera menarik ke luar,<br \/>\nmeskipun pada hari Sabat?&#8221;<br \/>\nMereka tidak sanggup membantah-Nya.<\/p>\n<p>Demikianlah sabda Tuhan.<br \/>\n***********<\/p>\n<p>  \u210d <\/p>\n<p>\u201cYesus berkata kepada ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi itu, kata-Nya: &#8220;Diperbolehkankah menyembuhkan orang pada hari Sabat atau tidak?&#8221; Mereka itu diam semuanya. Lalu Ia memegang tangan orang sakit itu dan menyembuhkannya dan menyuruhnya pergi.\u201d [Luk 14: 3 \u2013 4]<\/p>\n<p>Injil hari ini mengisahkan Yesus yang menyembuhkan seorang yang menderita busung air pada hari Sabat. Ini bukan kali pertama Yesus menyembuhkan orang sakit pada hari Sabat. Kitab Suci menyebutkan setidaknya tujuh kejadian serupa. Setiap kali Yesus bertindak demikian, tindakan belas kasih-Nya itu justru memicu kemarahan para ahli Taurat dan orang-orang Farisi, bukan sukacita atau rasa syukur. Mereka melihat Yesus sebagai pelanggar hukum dan ancaman bagi sistem agama mereka yang kaku.<\/p>\n<p>Kita hampir dapat membayangkan adegan tersebut. Kesalahan para Farisi adalah bahwa mereka mengajarkan tentang Allah dan agama yang terutama berfokus pada peraturan. Orang yang menderita busung air itu mungkin ditempatkan di sana sebagai jebakan. Namun Yesus, di bawah pandangan mata penuh kebencian, tidak ragu-ragu. Ia menyembuhkannya \u2014 dan kemudian mengungkap kemunafikan mereka. Bagaimana mungkin membantu seorang manusia yang menderita dianggap melanggar hukum?<\/p>\n<p>Perikop Injil hari ini mengajarkan kita tiga pelajaran.<\/p>\n<p>Pertama, meskipun terus-menerus dikritik dan diawasi, Yesus tidak pernah kehilangan ketenangan atau belas kasih-Nya. Betapa sering kita menjadi mudah marah atau defensif saat dihakimi! Namun Yesus menunjukkan kekuatan yang berasal cinta. Ia berpegang pada cinta.<\/p>\n<p>Kedua, Yesus tidak pernah menolak undangan, bahkan dari mereka yang menentang-Nya. Ia tidak pernah menyerah pada peluang dan kesempatan bahwa seseorang mungkin tersentuh atau berubah oleh kehadiran-Nya. Ini adalah tantangan bagi kita: apakah kita hanya berbagi makanan dengan orang-orang yang kita sukai, atau bersediakah kita menjangkau bahkan mereka yang berbeda pandangan atau menentang kita?<\/p>\n<p>Ketiga, para Farisi mengutamakan aturan-aturan kecil sambil mengabaikan kebutuhan yang lebih besar. Betapa seringnya dalam keluarga kita, komunitas kita, dan mungkin paroki kita, hal-hal sepele menyebabkan perpecahan dan penderitaan! Kita berdebat tentang banyak hal sampai sedetil-detilnya dan melupakan apa yang benar-benar penting: belas kasih, kebaikan, dan cinta.<\/p>\n<p>Yesus mengingatkan kita bahwa kasih harus menjadi yang terdahulu. Jika hidup beragama kita tidak membuat kita lebih berbelas kasih, maka kita telah melewatkan inti dari kasih Allah. Pada hari \u201cSabat\u201d \u2014 dan setiap hari \u2014 terdapat panggilan yang sama: untuk mendahulukan manusia di atas aturan, dan belas kasih di atas legalisme.<\/p>\n<p>Tuhan, semoga kami dapat melepaskan diri dari segala kesombongan dan kekuasaan, dan memperlihatkan kepada dunia saat ini wajah Kristus yang rendah hati dan melayani. Amin.<\/p>\n<p>Selamat beraktivitas! \u24bf\u24c1\u24ca! \u2764\ufe0f<br \/>\n\u2764\ufe0e.<\/p>\n<blockquote class=\"wp-embedded-content\" data-secret=\"jnM5nDa2vi\"><p><a href=\"https:\/\/sacerdos2000.com\/menempatkan-kasih-di-atas-aturan\/\">Menempatkan Kasih di atas Aturan<\/a><\/p><\/blockquote>\n<p><iframe loading=\"lazy\" class=\"wp-embedded-content\" sandbox=\"allow-scripts\" security=\"restricted\" style=\"position: absolute; visibility: hidden;\" title=\"&#8220;Menempatkan Kasih di atas Aturan&#8221; &#8212; Sacerdos2000\" src=\"https:\/\/sacerdos2000.com\/menempatkan-kasih-di-atas-aturan\/embed\/#?secret=JByDhAAN9I#?secret=jnM5nDa2vi\" data-secret=\"jnM5nDa2vi\" width=\"500\" height=\"282\" frameborder=\"0\" marginwidth=\"0\" marginheight=\"0\" scrolling=\"no\"><\/iframe><\/p>\n<p>RP Joni Astanto MSC<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Sabda Kehidupan Jumat 31 Oktober 2025 Lukas 14:5-6 (Luk 14:1-6) Kemudian Ia berkata kepada mereka: &#8220;Siapakah di antara kamu yang tidak segera menarik ke luar anaknya atau lembunya kalau terperosok ke dalam sebuah sumur,&#46;&#46;&#46;<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":66662,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[1,20],"tags":[],"class_list":["post-87118","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-bacaan-harian","category-renungan-text"],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/katolikindonesia.org\/wp-content\/uploads\/2024\/12\/ardas-2025.png","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/87118","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=87118"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/87118\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":87119,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/87118\/revisions\/87119"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/66662"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=87118"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=87118"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=87118"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}