{"id":86913,"date":"2025-10-26T09:13:13","date_gmt":"2025-10-26T02:13:13","guid":{"rendered":"https:\/\/katolikindonesia.org\/?p=86913"},"modified":"2025-10-26T09:13:13","modified_gmt":"2025-10-26T02:13:13","slug":"minggu-26-oktober-2025-5","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/katolikindonesia.org\/?p=86913","title":{"rendered":"Minggu, 26 Oktober 2025"},"content":{"rendered":"<p>Sabda Kehidupan<br \/>\nMinggu 26 Oktober 2025<br \/>\nMinggu Biasa XXX<br \/>\nLukas 18:13 (Luk 18:9-14)<br \/>\n\u201cTetapi pemungut cukai itu berdiri jauh-jauh, bahkan ia tidak berani menengadah ke langit, melainkan ia memukul diri dan berkata: Ya Allah, kasihanilah aku orang berdosa ini.\u201d<\/p>\n<p>Kyrie Eleison &#8211; Tuhan Kasihanilah Kami<\/p>\n<p>Setiap kali kita mengawali Perayaan Ekaristi dengan mengakui dosa kita dan mengulangi doa singkat \u2018si pemungut cukai\u2019 dalam perumpamaan Yesus ini, \u201cTuhan kasihanilah kami.\u201d<br \/>\nBetapa singkat doa yang diucapkan si pemungut cukai, yang merasa tidak layak berdiri di hadapan Tuhan karena kedosaannya. Yesus mengatakan bahwa justru doa si pemungut cukai ini yang diterima Allah Bapa di surga. Doa yang tulus dan penuh kerendahan hati. Singkat namun menyentuh hati Allah yang mahabaik.<\/p>\n<p>Kesadaran kita akan kerapuhan diri oleh dosa yang kita perbuat menyakiti Allah dan sesama, mendorong kita untuk datang memohon belas kasih Allah.<br \/>\nYesus selalu mengingatkan kita betapa Allah Bapa selalu tergerak hati ketika anakNya yang Ia cintai datang dengan penuh kerendahan hati mengakui dosanya dan memohon belaskasih pengampunanNya.<\/p>\n<p>Kita perlu rahmat Allah untuk keluar dari cengkeraman dosa dan berbalik pada Tuhan. Datanglah dengan penuh kerendahan hati mengakui kesalahan kita. Seperti si pemungut cukai, mari kita tundukkan kepala menepuk dada tanda sesal dan tobat, karena tak layak berdiri di hadapan Allah. Biarlah doa si pemungut cukai menjadi doa kita. \u201cYa Allah, kasihanilah aku orang berdosa ini.\u201d<br \/>\nRasakanlah rangkulan kasih Allah yang penuh pengampunan, memberi kehangatan dan damai di hati, memulihkan hidup kita untuk tegak berdiri sebagai anak-anak Allah.<br \/>\nHal yang sama kita lakukan kepada orang yang telah kita lukai, mengakui kesalahan kita dan berkata dengan penuh kerendahan hati, \u201cksihanilah aku karena telah bersalah padamu.\u201d<br \/>\nDamailah selalu di hati.<\/p>\n<p>Selamat Hari Minggu. Tuhan Yesus baik. Ia mencintai dan mengampuni kita.\u2764\ufe0f<br \/>\nPs Revi Tanod Pr<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Kalender Liturgi 26 Okt 2025<br \/>\nMinggu Pekan Biasa XXX<br \/>\nWarna Liturgi: Hijau<br \/>\nBait Pengantar Injil: 2Kor 5:19<br \/>\nBacaan Injil: Luk 18:9-14<br \/>\n**********<\/p>\n<p>Bait Pengantar Injil<br \/>\n2Kor 5:19<br \/>\nDalam Kristus Allah mendamaikan dunia dengan diri-Nya<br \/>\ndan mempercayakan berita pendamaian itu kepada kami.<\/p>\n<p>Bacaan Injil<br \/>\nLuk 18:9-14<br \/>\nPemungut cukai ini pulang ke rumahnya,<br \/>\nsebagai orang yang didengarkan Allah,<br \/>\nsedang orang Farisi itu tidak.<\/p>\n<p>Inilah Injil Suci menurut Lukas:<\/p>\n<p>Sekali peristiwa<br \/>\nYesus mengatakan perumpamaan ini<br \/>\nkepada beberapa orang yang menganggap dirinya benar<br \/>\ndan memandang rendah semua orang lain,<br \/>\n&#8220;Ada dua orang pergi ke Bait Allah untuk berdoa;<br \/>\nyang satu adalah orang Farisi, dan yang lain pemungut cukai.<br \/>\nOrang Farisi itu berdiri dan berdoa dalam hatinya begini:<br \/>\nYa Allah, aku mengucap syukur kepada-Mu,<br \/>\nkarena aku tidak sama seperti semua orang lain;<br \/>\naku bukan perampok, bukan orang lalim, bukan pezinah,<br \/>\ndan bukan juga seperti pemungut cukai ini!<br \/>\nAku berpuasa dua kali seminggu,<br \/>\naku memberikan sepersepuluh dari segala penghasilanku.<\/p>\n<p>Tetapi pemungut cukai itu berdiri jauh-jauh,<br \/>\nbahkan ia tidak berani menengadah ke langit,<br \/>\nmelainkan ia memukul diri dan berkata:<br \/>\nYa Allah, kasihanilah aku orang berdosa ini.<\/p>\n<p>Aku berkata kepadamu:<br \/>\nOrang ini pulang ke rumahnya<br \/>\nsebagai orang yang dibenarkan Allah,<br \/>\nsedang orang lain itu tidak.<br \/>\nSebab barangsiapa meninggikan diri akan direndahkan,<br \/>\ndan barangsiapa merendahkan diri akan ditinggikan.&#8221;<\/p>\n<p>Demikianlah sabda Tuhan.<br \/>\n************<\/p>\n<p>  \u210d <\/p>\n<p>\u201cYa Allah, kasihanilah aku orang berdosa ini,\u201d (Luk 18: 13)<\/p>\n<p>Kerendahan hati menjadi pesan sabda Tuhan hari ini. Kerendahan hati yang sejati dan pertobatan atas dosa-dosa kita harus menjadi tanda nyata doa-doa kita. Bacaan pertama dari Putra Sirakh, merupakan pasangan yang tepat bagi perumpamaan yang dikisahkan dalam Injil. Dalam gambaran yang sangat menonjol dari Putra Sirakh, dikatakan, \u201cDoa orang miskin menembusi awan.\u201d Doa seperti itu didengarkan karena datang dari hati orang-orang yang tahu bagaimana sungguh-sungguh membutuhkan Allah.<\/p>\n<p>Dalam Injil hari ini, Yesus menceriterakan sebuah perumpamaan tentang seorang Farisi dan seorang pemungut cukai. Yesus mengingatkan bahwa Allah mendengar doa mereka yang mendekatkan diri kepada-Nya dengan rendah hati dan hati penuh penyesalan. Allah tidak membenarkan orang Farisi itu karena ia meninggikan dirinya sendiri. Memang, ia sungguh orang baik dan taat hukum\/agama. Tetapi ia tidak dibenarkan oleh Allah karena ia meninggikan dirinya sendiri. Sebenarnya ia tidak sedang berdoa, sebab semuanya mengarah pada dirinya sendiri. Sedangkan doa pemungut cukai, \u201cYa Allah, kasihanilah aku orang berdosa ini,\u201d dibenarkan karena ia merendahkan dirinya, mengakui keberdosaannya dan memohon belas-kasih Allah.<\/p>\n<p>Sahabat-sahabat, apakah orang Farisi yang dikisahkan oleh Yesus dalam Injil hari ini sungguh-sungguh buruk? Kita masih dapat belajar daripadanya bagaimana menjalankan perintah-perintah Tuhan. Ia bukan perampok, bukan pezinah, bukan orang lalim, rajin berpuasa, dan taat memberikan derma. Dalam hal-hal tersebut layaklah ia diacungi jempol. Tetapi ia pantas dicela karena kesombongannya dan karena merasa diri paling benar.<\/p>\n<p>Di pihak lain, para pemungut cukai pada masa Yesus biasa dicela karena penyelewengan mereka dalam menarik pajak. Mereka tidak jujur dan korup dan dengan demikian tidak menaati perintah Allah. Dalam hal ini pemungut cukai itu tak patut dicontoh. Akan tetapi, kita patut mencontoh pemungut cukai dalam Injil hari ini, dalam kerendahan hatinya. Ia mengakui keberdosaannya, mengakui bahwa ia bukanlah apa-apa di hadapan Allah. Maka layaklah ia dibenarkan oleh Allah.<\/p>\n<p>Dengan demikian, si Farisi tidak sepenuhnya tercela dan si pemungut cukai juga tidak sepenuhnya dapat diteladani.<\/p>\n<p>Tak seorangpun pendosa yang tak layak untuk diampuni. Demikian juga tak seorangpun begitu sempurna. Kita semua perlu mawas diri dan masih perlu didoakan karena kita semua adalah pendosa. Ada kebaikan dalam diri setiap orang, ada dosa pula dalam diri kita masing-masing. Kita hargai kebaikan dalam diri orang lain, dan kita perlu saling koreksi untuk menjadi lebih baik. Kita boleh bersyukur untuk apa yang baik dalam diri kita masing-masing, tetapi perlu juga mawas diri dan dengan jujur serta rendah hati mengakui kekurangan kita. Mari berdoa setiap saat: \u201cYa Allah, kasihanilah aku orang berdosa ini.\u201d<\/p>\n<p>Tuhan, karuniai kami kerendahan hati, mengakui kebaikan sesama, menyadari dosa dalam diri kami masing-masing, dan berani saling koreksi untuk menjadi lebih baik. Amin.<\/p>\n<p>Selamat hari Minggu. Hidup suci dan rendah hati! \u24bf\u24c1\u24ca! \u2764\ufe0f<br \/>\n\u2764\ufe0e.<\/p>\n<blockquote class=\"wp-embedded-content\" data-secret=\"3nHK782rHF\"><p><a href=\"https:\/\/sacerdos2000.com\/kerendahan-hati-di-atas-segalanya\/\">Kerendahan Hati di Atas Segalanya<\/a><\/p><\/blockquote>\n<p><iframe loading=\"lazy\" class=\"wp-embedded-content\" sandbox=\"allow-scripts\" security=\"restricted\" style=\"position: absolute; visibility: hidden;\" title=\"&#8220;Kerendahan Hati di Atas Segalanya&#8221; &#8212; Sacerdos2000\" src=\"https:\/\/sacerdos2000.com\/kerendahan-hati-di-atas-segalanya\/embed\/#?secret=yPFyLHTnAX#?secret=3nHK782rHF\" data-secret=\"3nHK782rHF\" width=\"500\" height=\"282\" frameborder=\"0\" marginwidth=\"0\" marginheight=\"0\" scrolling=\"no\"><\/iframe><\/p>\n<p>RP Joni Astanto MSC<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Sabda Kehidupan Minggu 26 Oktober 2025 Minggu Biasa XXX Lukas 18:13 (Luk 18:9-14) \u201cTetapi pemungut cukai itu berdiri jauh-jauh, bahkan ia tidak berani menengadah ke langit, melainkan ia memukul diri dan berkata: Ya Allah,&#46;&#46;&#46;<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":66662,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[1,20],"tags":[],"class_list":["post-86913","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-bacaan-harian","category-renungan-text"],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/katolikindonesia.org\/wp-content\/uploads\/2024\/12\/ardas-2025.png","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/86913","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=86913"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/86913\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":86914,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/86913\/revisions\/86914"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/66662"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=86913"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=86913"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=86913"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}