{"id":86771,"date":"2025-10-23T09:58:39","date_gmt":"2025-10-23T02:58:39","guid":{"rendered":"https:\/\/katolikindonesia.org\/?p=86771"},"modified":"2025-10-23T09:58:39","modified_gmt":"2025-10-23T02:58:39","slug":"kamis-23-oktober-2025-5","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/katolikindonesia.org\/?p=86771","title":{"rendered":"Kamis, 23 Oktober 2025"},"content":{"rendered":"<p>Sabda Kehidupan<br \/>\nKamis 23 Oktober 2025<br \/>\nLukas 12:49-51 (Luk 12:49-53)<br \/>\n\u201dAku datang untuk melemparkan api ke bumi dan betapakah Aku harapkan, api itu telah menyala! Aku harus menerima baptisan, dan betapakah susahnya hati-Ku, sebelum hal itu berlangsung! Kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk membawa damai di atas bumi? Bukan, kata-Ku kepadamu, bukan damai, melainkan pertentangan.\u201d<\/p>\n<p>Api Roh Kudus Yang Memurnikan<\/p>\n<p>Sepintas Sabda Tuhan ini kedengarannya kontroversial dengan gelar Yesus sebagai Raja Damai. Mengapa Yesus berkata bahwa Ia datang bukan untuk membawa damai melainkan pertentangan?<br \/>\nBila dipahami dengan benar, betapa indah dan mulia maksud Yesus ini.<\/p>\n<p>Yesus datang untuk melemparkan api ke bumi, itulah Api Roh Kudus. Bukan untuk menghanguskan bumi melainkan untuk membakar hati kita.<br \/>\nSifat api adalah membakar untuk memanaskan dan menghangatkan. Api adalah lambang semangat yang berkobar, membara dan penuh gairah. Api Roh Kudus mencairkan hati yang beku dan menggantinya dengan kehangatan kasih.<\/p>\n<p>Sifat api yang lain adalah menghancurkan dan memusnahkan serta memisahkan dalam arti memurnikan. Sama halnya dengan emas yang harus dimurnikan dalam api. Apa yang bukan emas dikeluarkan, dimusnahkan, dibersihkan dan dimurnikan. Proses ini menyakitkan dan membawa pertentangan.<br \/>\nAkan ada perang dan pertempuran terus menerus dalam hati, antara menentang kejahatan dan dosa, membela kebenaran dan keadilan atau menyerah dan mengikuti hawa nafsu untuk mencari aman dan menyenangkan diri sendiri.<\/p>\n<p>Demikianlah Roh Kudus memurnikan nurani kita dari kejahatan dan dosa yang harus dibakar, dihancurkan, dimusnahkan.<br \/>\nKehadiran Roh Allah akan selalu membawa pertentangan dalam batin antara mengikuti kehendak hati untuk cinta diri atau mengikuti suara Tuhan untuk rendah hati, mengalah, mengampuni, berkorban diri, melawan arus dan siap menjadi tidak populer, tidak disukai, bahkan dimusuhi.<br \/>\nMau ikut ajakan teman atau keluarga untuk korupsi, bermain curang, mencari kepentingan diri atau tetap jujur dan setia dalam jalan kebenaran? Mau pilih yang mana? Pilihan inilah yang akan selalu membawa pertentangan. Yang satu menyenangkan dan yang lain menyakitkan!<\/p>\n<p>Tetaplah memilih Yesus apapun resikonya. Jangan padamkan Api Roh Kudus dalam hati. Jadikan Ia prinsip nurani untuk setia mengikuti Yesus dan berani berperang melawan kejahatan dan tipu daya iblis.<br \/>\nDalam Yesus kita akan menang dan meraih kedamaian. Pertentangan batin, kerisauan pikiran dan hati pasti terjadi namun akhirnya yang setia bertahan dalam kebenaran dan kekudusan, hatinya damai dan penuh sukacita.<\/p>\n<p>Selamat hari Kamis. Tetaplah bertahan dalam prinsip nurani, damai selalu di hati\u2764\ufe0f<br \/>\nPs Revi Tanod Pr<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Kalender Liturgi 23 Okt 2025<br \/>\nKamis Pekan Biasa XXIX<br \/>\nPF S. Yohanes dari Capestrano, Imam<br \/>\nWarna Liturgi: Hijau<br \/>\nBait Pengantar Injil: Flp 3:8-9<br \/>\nBacaan Injil: Luk 12:49-53<br \/>\n************<\/p>\n<p>Bait Pengantar Injil<br \/>\nFlp 3:8-9<br \/>\nSegala sesuatu kuanggap sebagai sampah,<br \/>\nsupaya aku memperoleh Kristus dan berada dalam Dia.<\/p>\n<p>Bacaan Injil<br \/>\nLuk 12:49-53<br \/>\nAku datang bukannya membawa damai, melainkan pertentangan.<\/p>\n<p>Inilah Injil Suci menurut Lukas:<\/p>\n<p>Pada suatu ketika<br \/>\nYesus bersabda kepada murid-murid-Nya,<br \/>\n&#8220;Aku datang melemparkan api ke bumi,<br \/>\ndan betapa Kudambakan agar api itu selalu menyala!<br \/>\nAku harus menerima baptisan<br \/>\ndan betapa susah hati-Ku sebelum hal itu berlangsung!<\/p>\n<p>Kalian sangka Aku datang membawa damai ke bumi?<br \/>\nBukan! Bukan damai, melainkan pertentangan!<br \/>\nKarena mulai sekarang<br \/>\nakan ada pertentangan antara lima orang dalam satu rumah,<br \/>\ntiga melawan dua dan dua melawan tiga.<br \/>\nMereka akan saling bertentangan,<br \/>\nbapa melawan puteranya, dan putera melawan bapanya,<br \/>\nibu melawan puterinya, dan puteri melawan ibunya,<br \/>\nibu mertua melawan menantu,<br \/>\ndan menantu melawan ibu mertuanya.&#8221;<\/p>\n<p>Demikianlah sabda Tuhan.<br \/>\n***********<\/p>\n<p>  \u210d <\/p>\n<p>\u201dAku datang untuk melemparkan api ke bumi dan betapakah Aku harapkan, api itu telah menyala!\u201d (Luk 12: 49)<\/p>\n<p>Para murid Yesus menantikan seorang Mesias yang akan menjadi penakluk yang mulia, seorang raja yang akan membawa damai dan kemakmuran. Namun, Yesus berbicara tentang penghakiman, penderitaan, dan perpecahan. Semua itu bukanlah zaman keemasan yang mereka harapkan.<\/p>\n<p>Api, dalam bahasa Kitab Suci, adalah simbol penghakiman. Yesus mengingatkan kita bahwa kedatangan-Nya menuntut pilihan, dan Sabda-Nya membakar habis ilusi dan keamanan palsu. Seperti api, Ia membersihkan dan mengungkapkan apa yang benar. Kita mungkin ingin melunakkan ketajaman kata-kata Yesus, tetapi kata-kata-Nya selalu membawa kita pada satu titik di mana kita harus membuat keputusan.<\/p>\n<p>Yesus berbicara tentang &#8220;baptisan&#8221;-Nya. Ia tidak berbicara tentang air di mana ia dibenamkan atau dibaptis, tetapi tentang penderitaan di mana Ia akan bembenamkan diri \u2014 baptisan Salib. Ia sepenuhnya menyadari apa yang akan datang, namun Ia berjalan menuju sengsara itu dengan sukarela, karena cinta. Inilah paradoks iman Kristen: Sang Raja menang dengan mengorbankan hidup-Nya.<\/p>\n<p>Akhirnya, Yesus menjelaskan bahwa kedatangan-Nya akan menimbulkan perpecahan. Kita memahami betapa hal ini sungguh benar, karena keluarga, teman, dan bangsa dapat terpecah karena pilihan untuk mengikuti atau menolak Kristus. Kesetiaan kepada-Nya harus didahulukan di atas semua hubungan lainnya.<\/p>\n<p>Pertanyaan bagi kita hari ini sederhana namun menantang: Apakah aku membiarkan api Kristus membersihkan hatiku? Apakah aku menerima salib-Nya sebagai jalan menuju kehidupan? Apakah aku bersedia memilih Kristus, bahkan ketika itu berarti aku harus mengorbankan diriku?<\/p>\n<p>Yesus bukanlah Sang Pemenang yang jauh. Dia adalah Raja, yang mahkota-Nya adalah anyaman duri dan tahta-Nya adalah salib. Dia mengundang kita untuk berbagi kemenangan-Nya \u2014 bukan dengan menghindari api yang dinyalakan-Nya, tetapi dengan melaluinya bersama-Nya.<\/p>\n<p>Tuhan, berilah aku anugerah untuk tetap mengarahkan diri kepada-Mu dan kehendak-Mu serta memilih Engkau di atas segala sesuatu dalam hidup ini. Ketika imanku ditantang, beri aku keberanian dan kekuatan untuk tetap teguh dalam kasih-Mu. Amin.<\/p>\n<p>Selamat beraktivitas. Nyalakan api cinta-Nya! \u24bf\u24c1\u24ca! \u2764\ufe0f<br \/>\n\u2764\ufe0e.<\/p>\n<blockquote class=\"wp-embedded-content\" data-secret=\"d7Fu5BZjUB\"><p><a href=\"https:\/\/sacerdos2000.com\/aku-datang-untuk-melemparkan-api\/\">Aku Datang untuk Melemparkan Api<\/a><\/p><\/blockquote>\n<p><iframe loading=\"lazy\" class=\"wp-embedded-content\" sandbox=\"allow-scripts\" security=\"restricted\" style=\"position: absolute; visibility: hidden;\" title=\"&#8220;Aku Datang untuk Melemparkan Api&#8221; &#8212; Sacerdos2000\" src=\"https:\/\/sacerdos2000.com\/aku-datang-untuk-melemparkan-api\/embed\/#?secret=MGULXwOTSM#?secret=d7Fu5BZjUB\" data-secret=\"d7Fu5BZjUB\" width=\"500\" height=\"282\" frameborder=\"0\" marginwidth=\"0\" marginheight=\"0\" scrolling=\"no\"><\/iframe><\/p>\n<p>RP Joni Astanto MSC<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Sabda Kehidupan Kamis 23 Oktober 2025 Lukas 12:49-51 (Luk 12:49-53) \u201dAku datang untuk melemparkan api ke bumi dan betapakah Aku harapkan, api itu telah menyala! Aku harus menerima baptisan, dan betapakah susahnya hati-Ku, sebelum&#46;&#46;&#46;<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":66662,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[1,20],"tags":[],"class_list":["post-86771","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-bacaan-harian","category-renungan-text"],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/katolikindonesia.org\/wp-content\/uploads\/2024\/12\/ardas-2025.png","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/86771","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=86771"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/86771\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":86772,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/86771\/revisions\/86772"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/66662"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=86771"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=86771"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=86771"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}