{"id":86545,"date":"2025-10-19T07:57:02","date_gmt":"2025-10-19T00:57:02","guid":{"rendered":"https:\/\/katolikindonesia.org\/?p=86545"},"modified":"2025-10-19T07:57:02","modified_gmt":"2025-10-19T00:57:02","slug":"minggu-19-oktober-2025-5","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/katolikindonesia.org\/?p=86545","title":{"rendered":"Minggu, 19 Oktober 2025"},"content":{"rendered":"<p>Sabda Kehidupan<br \/>\nMinggu 19 Oktober 2025<br \/>\nHari Minggu Misi<br \/>\nLukas 18:1,7 (Luk 18:1-8)<br \/>\nKata Tuhan, \u201cTidakkah Allah akan membenarkan orang-orang pilihan-Nya yang siang malam berseru kepada-Nya? Dan adakah Ia mengulur-ulur waktu sebelum menolong mereka?\u201dAku berkata kepadamu: Ia akan segera membenarkan mereka. Akan tetapi, jika Anak Manusia itu datang, adakah Ia mendapati iman di bumi?&#8221;<\/p>\n<p>Menjadi Misionaris Pembawa Pengharapan<\/p>\n<p>Hari ini Gereja merayakan Hari Minggu Misi. Paus Leo XIV dalam pesannya untuk Hari Minggu Misi ini, mengingatkan semua pengikut Kristus bahwa, \u201cAllah tidak meninggalkan kita dan memanggil kita untuk sebuah \u201cmisi khusus\u201d: \u201cuntuk membiarkan diri dibimbing oleh Roh Allah, dan dibakar dengan semangat kudus untuk masa baru evangelisasi Gereja, yang diutus untuk menghidupkan kembali pengharapan dalam dunia yang dinaungi oleh bayang-bayang kegelapan\u201d<\/p>\n<p>Untuk menjalankan misi khusus evangelisasi di zaman modern ini, Sri Paus menekankan pentingnya doa sebagai giat misioner pertama dan pada saat bersamaan merupakan \u201ckekuatan pertama pengharapan\u201d (Pesan Bapa Suci untuk Hari Minggu Misi Sedunia 2025).<\/p>\n<p>Yesus dalam Injil hari ini, mengingatkan kita betapa kuat kuasa kekuatan doa yang tanpa jemu-jemu kita panjatkan kepada Bapa di surga. Doa adalah kekuatan karya misi, agar kita terus menghidupkan pengharapan anak-anak Allah akan pertolongan Allah yang tak pernah membiarkan kita berjuang sendirian.<br \/>\nDoa selalu mendekatkan kita dengan Allah agar kita selalu bersandar padaNya, dan agar seluruh dunia tahu \u201cbetapa besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.\u201d (Yoh 3:16).<\/p>\n<p>Dalam semangat misioner yang baru untuk mewartakan Injil, semoga kita dikuatkan oleh seruan Paulus ini, \u201cbersukacitalah dalam pengharapan, sabarlah dalam kesesakan, dan bertekunlah dalam doa\u201d (Rm 12:12).<\/p>\n<p>Selamat Hari Minggu Misi. Mari menjadi misionaris pembawa pengharapan.\u2764\ufe0f<br \/>\nPs Revi Tanod Pr<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Kalender Liturgi 19 Okt 2025<br \/>\nMinggu Pekan Biasa XXIX<br \/>\nWarna Liturgi: Hijau<br \/>\nBait Pengantar Injil: Ibr 4:12<br \/>\nBacaan Injil: Luk 18:1-8<br \/>\n***********<\/p>\n<p>Bait Pengantar Injil<br \/>\nIbr 4:12<br \/>\nSabda Allah itu hidup, kuat dan tajam.<br \/>\nIa sanggup membedakan pertimbangan dan pikiran hati kita.<\/p>\n<p>Bacaan Injil<br \/>\nLuk 18:1-8<br \/>\nAllah akan membenarkan orang-orang pilihan-Nya<br \/>\nyang berseru kepada-Nya.<\/p>\n<p>Inilah Injil Suci menurut Lukas:<\/p>\n<p>Sekali peristiwa<br \/>\nYesus menyampaikan suatu perumpamaan kepada murid-murid-Nya,<br \/>\nuntuk menegaskan bahwa mereka harus selalu berdoa<br \/>\ndengan tidak jemu-jemu.<br \/>\nIa berkata,<br \/>\n&#8220;Di sebuah kota ada seorang hakim<br \/>\nyang tidak takut akan Allah dan tidak menghormati siapa pun.<br \/>\nDan di kota itu ada pula seorang janda<br \/>\nyang selalu datang kepada hakim itu dan berkata,<br \/>\n&#8216;Belalah hakku terhadap lawanku!&#8217;<br \/>\nBeberapa waktu lamanya hakim itu menolak.<br \/>\nTetapi kemudian ia berkata dalam hatinya,<br \/>\n&#8216;Walaupun aku tidak takut akan Allah<br \/>\ndan tidak menghormati siapa pun,<br \/>\nnamun karena janda ini menyusahkan aku,<br \/>\nbaiklah aku membenarkan dia,<br \/>\nsupaya ia jangan terus menerus datang dan akhirnya menyerang aku&#8217;.&#8221;<\/p>\n<p>Lalu Tuhan berkata,<br \/>\n&#8220;Camkanlah perkataan hakim yang lalim itu!<br \/>\nTidakkah Allah akan membenarkan orang-orang pilihan-Nya<br \/>\nyang siang malam berseru kepada-Nya?<br \/>\nDan adakah Ia mengulur-ulur waktu sebelum menolong mereka?<br \/>\nAku berkata kepadamu:<br \/>\nIa akan segera membenarkan mereka!<br \/>\nAkan tetapi, jika Anak Manusia itu datang,<br \/>\nadakah Ia menemukan iman di bumi?&#8221;<\/p>\n<p>Demikianlah sabda Tuhan.<br \/>\n**********<\/p>\n<p>  \u210d <\/p>\n<p>\u201cTidakkah Allah akan membenarkan orang-orang pilihan-Nya yang siang malam berseru kepada-Nya? Dan adakah Ia mengulur-ulur waktu sebelum menolong mereka?\u201d (Luk 18: 7).<\/p>\n<p>Hari ini, saat Gereja di seluruh dunia merayakan Hari Minggu Misi Sedunia, Injil menyajikan kepada kita perumpamaan tentang janda yang gigih dan hakim \u201cyang tidak takut akan Allah dan tidak menghormati seorangpun.\u201d Yesus menceritakan kisah ini untuk mengajarkan satu pelajaran penting: kita harus selalu berdoa dan jangan pernah putus asa.<\/p>\n<p>Janda dalam perumpamaan ini tidak memiliki harta, pengaruh, atau kekuatan manusia. Dia mewakili orang miskin, yang terlupakan, dan yang tidak terdengar suaranya. Hakim itu, di sisi lain, korup, tidak peduli pada Tuhan maupun manusia. Menurut standar manusia, janda itu tidak memiliki kesempatan untuk mendapatkan keadilan. Namun, dia tidak menyerah. Senjatanya satu-satunya adalah ketekunan. Dia kembali lagi dan lagi, hingga akhirnya hakim itu luluh.<\/p>\n<p>Jika ketekunan seperti itu dapat mempengaruhi bahkan seorang hakim yang lalim dan korup, betapa lebih lagi Bapa yang penuh kasih akan mendengarkan tangisan anak-anak-Nya? Allah kita adalah Allah yang adil; Ia tidak pernah bosan dengan kita. Ia mendengarkan doa-doa kita, meskipun jawabannya mungkin datang dengan cara yang tidak kita duga, atau pada waktu yang melampaui pemahaman kita. Dia tahu apa yang harus diberikan, kapan harus memberi dan bagaimana memberikannya. Hanya Tuhan yang melihat waktu secara keseluruhan, dan karena itu, hanya Tuhan yang tahu apa yang baik untuk kita dalam jangka panjang. Oleh sebab itu diperlukan ketekunan. Yesus mengakhiri dengan pertanyaan yang mendalam: \u201cJika Anak Manusia itu datang, adakah Ia mendapati iman di bumi?&#8221; Itulah tantangan bagi kita \u2014 untuk terus berdoa, terus percaya, terus bersaksi, meskipun hasilnya tidak segera terlihat.<\/p>\n<p>Pada Hari Minggu Misi Sedunia ini, saat kita merayakan Tahun Yubileum 2025, adalah waktu bagi kita untuk berjalan bersama sebagai Para Peziarah Harapan. Misi bukanlah hal yang eksklusif bagi imam, biarawan, atau mereka yang pergi ke tempat-tempat jauh; itu adalah panggilan universal bagi semua yang dibaptis. Masing-masing dari kita diutus, dan masing-masing dari kita dipanggil untuk membagikan cahaya Kristus kepada dunia.<\/p>\n<p>Bagaimana kita hidup dalam misi ini? Seperti janda itu, kita mungkin merasa lemah di hadapan begitu banyak tantangan\u2014penganiayaan karena iman, kemiskinan, kekerasan, dan perpecahan. Namun, ketekunan dalam iman, harapan, dan kasih mengubah hati. Tindakan kecil kesaksian\u2014sepatah kata jujur di tempat kerja, kebaikan kepada tetangga, doa untuk seseorang yang membutuhkan, pengampunan dalam keluarga\u2014ini adalah tindakan \u201cmisi\u201d. Allah memperhatikan benih-benih kecil kita dan membuatnya bertumbuh.<\/p>\n<p>Menjadi peziarah harapan berarti hidup sederhana, mengurangi keinginan yang tidak perlu, membangun jembatan, dan berjalan bersama orang lain. Misi bukanlah tentang melakukan hal-hal luar biasa, tetapi tentang setia dalam kehidupan sehari-hari.<\/p>\n<p>Sahabat-sahabat, mari kita jangan menjadi lelah. Mari kita tetap berdoa dengan tekun, seperti janda itu. Mari kita terus menjalani misi, sebagai peziarah harapan. Dan semoga hidup kita, yang dijalani dengan iman dan kasih, menjadi warta Injil kepada seluruh ciptaan hingga ujung bumi.<\/p>\n<p>Allah yang hidup dan mahakuasa, bantulah kiranya kami untuk senantiasa menyesuaikan kehendak kami dengan kehendak-Mu dan melayani kemuliaan-Mu dengan ketulusan hati. Amin.<\/p>\n<p>Selamat Hari Minggu. \u24bf\u24c1\u24ca! \u2764\ufe0f<br \/>\n\u2764\ufe0e.<\/p>\n<blockquote class=\"wp-embedded-content\" data-secret=\"76W5JNzqja\"><p><a href=\"https:\/\/sacerdos2000.com\/peziarah-pengharapan-dalam-doa-dan-misi\/\">Peziarah Pengharapan dalam Doa dan Misi<\/a><\/p><\/blockquote>\n<p><iframe loading=\"lazy\" class=\"wp-embedded-content\" sandbox=\"allow-scripts\" security=\"restricted\" style=\"position: absolute; visibility: hidden;\" title=\"&#8220;Peziarah Pengharapan dalam Doa dan Misi&#8221; &#8212; Sacerdos2000\" src=\"https:\/\/sacerdos2000.com\/peziarah-pengharapan-dalam-doa-dan-misi\/embed\/#?secret=kCJyM13Qgl#?secret=76W5JNzqja\" data-secret=\"76W5JNzqja\" width=\"500\" height=\"282\" frameborder=\"0\" marginwidth=\"0\" marginheight=\"0\" scrolling=\"no\"><\/iframe><\/p>\n<p>RP Joni Astanto MSC<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Sabda Kehidupan Minggu 19 Oktober 2025 Hari Minggu Misi Lukas 18:1,7 (Luk 18:1-8) Kata Tuhan, \u201cTidakkah Allah akan membenarkan orang-orang pilihan-Nya yang siang malam berseru kepada-Nya? Dan adakah Ia mengulur-ulur waktu sebelum menolong mereka?\u201dAku&#46;&#46;&#46;<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":66662,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[1,20],"tags":[],"class_list":["post-86545","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-bacaan-harian","category-renungan-text"],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/katolikindonesia.org\/wp-content\/uploads\/2024\/12\/ardas-2025.png","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/86545","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=86545"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/86545\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":86546,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/86545\/revisions\/86546"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/66662"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=86545"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=86545"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=86545"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}