{"id":8625,"date":"2016-05-08T20:16:59","date_gmt":"2016-05-08T13:16:59","guid":{"rendered":"http:\/\/katolikindonesia.org\/?p=8625"},"modified":"2016-05-08T20:16:59","modified_gmt":"2016-05-08T13:16:59","slug":"pesan-paus-fransiskus-untuk-hari-komunikasi-sosial-sedunia-ke-50","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/katolikindonesia.org\/?p=8625","title":{"rendered":"Pesan Paus Fransiskus Untuk Hari Komunikasi Sosial Sedunia ke-50"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: center;\">Pesan Paus Fransiskus<\/p>\n<p style=\"text-align: center;\">Untuk Hari Komunikasi Sosial Sedunia ke-50<\/p>\n<p style=\"text-align: center;\">Minggu Paskah VII, 8 Mei 2016<\/p>\n<p style=\"text-align: center;\">Komunikasi dan Kerahiman: Suatu Perjumpaan yang Berbuah<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">TAHUN SUCI Kerahiman mengajak\u00a0 kita untuk merefleksikan hubungan antara komunikasi dan kerahiman. Sesungguhnya Gereja, dalam kesatuan dengan Kristus sebagai penjelmaan yang hidup dari Bapa Yang Maha Rahim, dipanggil untuk mewujudkan kerahiman sebagai ciri khas dari seluruh keberadaan dan\u00a0 perbuatannya. Apa yang kita katakan dan bagaimana kita mengatakannya,\u00a0 setiap kata dan sikap, seharusnya mampu mengungkapkan kemurahan, kelembutan dan pengampunan Allah bagi semua orang. Kasih, pada hakikatnya, adalah komunikasi; kasih mengarah kepada keterbukaan dan kesediaan untuk berbagi. Jika hati dan tindakan kita diilhami oleh kasih, oleh kasih ilahi, maka komunikasi kita akan tersentuh oleh kuasa Allah sendiri.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Sebagai putra dan putri Allah kita semua dipanggil untuk berkomunikasi dengan semua orang, tanpa kecuali. Dengan cara yang khas, kata-kata dan tindakan Gereja dimaksudkan untuk menyampaikan kerahiman, menyentuh hati orang-orang dan\u00a0 mendukung mereka dalam perjalanan menuju kepenuhan hidup sebagaimana Yesus Kristus , diutus Bapa, telah datang\u00a0 untuk membawa kepada semua.\u00a0 Ini berarti bahwa kita sendiri haruslah bersedia menerima kehangatan Bunda Gereja dan berbagi kehangatan itu dengan orang lain, sehingga Yesus semakin dikenal dan dikasihi; kehangatan itulah yang memberi hakikat kepada sabda iman dan yang menyalakan dalam pewartaan dan kesaksian kita \u201cpercikan\u201d yang memberi hidup.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Komunikasi memiliki kekuatan untuk menciptakan penghubung, memampukan untuk perjumpaan dan penyertaan, dan dengan demikian memperkaya masyarakat. Betapa indahnya ketika orang-orang dengan hati-hati memilih kata-kata dan tindakan-tindakan, dalam upaya menghindari \u00a0kesalahpahaman, menyembuhkan kenangan-kenangan yang terluka dan membangun\u00a0 perdamaian dan keharmonisan. Kata-kata dapat membangun hubungan antar pribadi-pribadi dan antar anggota keluarga, kelompok-kelompok sosial dan bangsa-bangsa. Hal ini bisa terjadi di\u00a0 dunia nyata\u00a0 maupun dunia digital. Kata-kata dan tindakan-tindakan kita harus tampak untuk membantu kita semua untuk keluar dari lingkaran setan yang selalu menyalahkan dan membalas dendam, \u00a0yang terus menerus menghantui manusia baik secara pribadi maupun dalam komunitasnya, yang memicu ungkapan-ungkapan\u00a0 kebencian. Perkataan orang-orang Kristen haruslah terus-menerus mendukung bagi persekutuan dan, bahkan dalam hal di mana mereka harus mengutuk secara tegas kejahatan, \u00a0mereka seharusnya tidak sampai\u00a0 memutus relasi dan komunikasi.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Untuk alasan ini, saya ingin mengajak semua orang yang berkehendak baik menemukan kembali daya kerahiman untuk menyembuhkan relasi yang terluka dan memulihkan perdamaian dan kerukunan dalam keluarga-keluarga dan komunitas-komunitas. Kita semua mengetahui bagaimana luka-luka lama dan dendam kesumat dapat menjerat manusia dan menghalangi untuk komunikasi dan rekonsiliasi. Hal yang sama terjadi juga dalam relasi antar bangsa-bangsa. Dalam setiap kasus, kerahiman selalu mampu menciptakan cara baru untuk berbicara dan berdialog. Shakespeare merumuskannya dengan elok ketika ia berujar: \u201cKualitas kerahiman tak terkekang. Ia turun dari surga bagaikan hujan yang menyejukkan di atas bumi. Kerahiman membawa berkat ganda: ia memberkati dia yang memberi dan dia yang menerima\u201d (Saudagar Venisia, Lakon IV, Adegan I).<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Bahasa politik dan diplomatik kita akan berhasil dengan baik jika terinspirasi oleh kerahiman, yang tidak pernah kehilangan harapan. Saya meminta mereka yang mengemban tanggung jawab institusional dan politik, dan mereka yang diberi amanat membentuk opini publik, untuk tetap memperhatikan secara khusus cara\u00a0 berbicara kepada orang-orang yang berpikir atau bertindak secara berbeda, atau orang-orang yang mungkin telah bersalah. Sangatlah mudah menyerah pada godaan untuk mengeksploitasi situasi-situasi seperti itu yang dapat\u00a0 menyulut api kecurigaan, ketakutan dan kebencian. Sebaliknya keberanian dibutuhkan untuk membimbing orang-orang menuju proses rekonsiliasi. Keberanian positif dan kreatif seperti itulah yang sebenarnya menawarkan solusi nyata untuk berbagai perseteruan yang mengesumat dan membuka peluang untuk membangun perdamaian abadi. \u201cBerbahagialah orang yang murah hatinya, karena mereka akan beroleh kemurahan [\u2026] Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah\u201d (Mat 5:7-9).<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Betapa saya sangat berharap agar cara kita berkomunikasi, seperti juga pelayanan kita sebagai\u00a0 gembala Gereja, jangan sampai memberi kesan superioritas yang angkuh dan sombong atas\u00a0 musuh, atau merendahkan orang-orang yang dianggap dunia sebagai yang tidak berguna dan dengan mudah dicampakkan. Kerahiman dapat membantu meringankan berbagai kesulitan hidup dan memberi kehangatan kepada mereka yang hanya mengenal dinginnya penghakiman. Semoga cara kita berkomunikasi membantu mengatasi pola pikir yang secara tegas memisahkan para pendosa dari orang-orang benar. Kita bisa dan kita harus\u00a0 menilai aneka situasi dosa \u2013 seperti kekerasan, korupsi dan eksploitasi \u2013 akan tetapi kita tidak boleh menghakimi pribadi-pribadi, karena hanya Allahlah\u00a0 yang mampu melihat ke kedalaman hati manusia. Menjadi tugas kita untuk memperingatkan dan menegur mereka yang berbuat salah serta mengecam kejahatan dan ketidakadilan melalui cara-cara dan tindakan-tindakan tertentu, untuk membebaskan para korban dan membangkitkan mereka yang telah jatuh. Injil Yohanes mengatakan kepada kita bahwa \u201ckebenaran itu akan memerdekakan kamu\u201d (Yoh 8:32). Kebenaran itu pada akhirnya ialah Kristus sendiri, kerahiman-Nya yang lembut menjadi tolok ukur untuk menakar cara kita menyatakan kebenaran dan mencela ketidakadilan. Tugas utama kita adalah menegakkan kebenaran dengan kasih (bdk. Ef 4:15). Hanya perkataan yang diucapkan dengan kasih dan disertai dengan kelembutan dan kerahiman mampu menjamah hati kita yang sarat dosa. Kata-kata dan tindakan-tindakan yang keras dan moralistik beresiko mengasingkan orang-orang yang kita harapkan kepada pertobatan dan kebebasan, memperkuat rasa penolakan dan sikap defensif.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Sebagian orang merasa bahwa visi tentang sebuah masyarakat yang berakar\u00a0 pada kerahiman adalah idealisme tanpa harapan atau berlebihan. Tetapi marilah kita mencoba dan mengingat kembali pengalaman pertama kita tentang relasi di dalam keluarga kita.\u00a0 Orangtua kita telah mengasihi dan menghargai kita lebih karena siapa kita dan bukan semata-mata karena kemampuan dan kesuksesan kita. Para orangtua secara alamiah menginginkan yang terbaik bagi anak-anak mereka, namun kasih itu tidak pernah bergantung pada pemenuhan atas syarat-syarat tertentu. Rumah keluarga adalah salah satu tempat di mana anda selalu diterima (bdk. Luk 15:11-32). Saya ingin mendukung setiap\u00a0 orang untuk memikirkan suatu masyarakat manusia bukan sebagai sebuah tempat di mana orang-orang yang tidak saling mengenal bersaing dan berupaya tampil di puncak, tetapi terlebih sebagai sebuah rumah atau sebuah keluarga yang pintunya pintu selalu terbuka dan setiap orang merasa diterima.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Untuk mewujudkan hal ini, maka pertama-tama kita harus mendengarkan. Berkomunikasi berarti berbagi, dan berbagi menuntut sikap mendengarkan dan penerimaan. Mendengarkan lebih bermakna dari mendengar. Mendengar adalah tentang menerima informasi, sedangkan mendengarkan adalah tentang komunikasi yang mensyaratkan kedekatan dan keakraban. Mendengarkan memungkinkan kita melakukan hal-hal yang benar, dan tidak sekadar menjadi\u00a0 penonton, pengguna atau pemakai yang pasif. Mendengarkan juga berarti mampu berbagi aneka persoalan dan keraguan, berjalan beriringan, membuang semua klaim akan kekuasaan mutlak dan menempatkan kemampuan-kemampuan dan karunia yang kita miliki untuk melayani kesejahteraan umum.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Mendengarkan tidaklah pernah mudah. Terkadang lebih mudah untuk berpura-pura tuli. Mendengarkan berarti mengindahkan, kerelaan untuk memahami, menghargai, menghormati dan merenungkan apa yang orang lain katakan. Mendengarkan melibatkan semacam kemartiran, pengorbanan diri, seperti kita berusaha untuk meneladan Musa di hadapan semak bernyala: kita harus menanggalkan kasut ketika berdiri di \u201ctanah yang kudus\u201d dari perjumpaan kita dengan orang yang berbicara kepadaku (bdk. Kel 3:5). Memahami bagaimana untuk mendengarkan adalah sebuah karunia yang besar, maka karunia itulah yang perlu kita mohonkan untuk kemudian melatih diri dan melaksanakannya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Juga surat elektronik (e-mail), sms, jejaring sosial dan chat dapat menjadi bentuk-bentuk komunikasi yang seutuhnya manusiawi. Bukanlah teknologi yang menentukan apakah komunikasi itu asli\u00a0 atau tidak, melainkan hati dan kemampuan manusia untuk secara bijak memanfaatkan sarana-sarana yang dimiliki. Pelbagai jejaring sosial dapat menguatkan relasi dan memajukan kesejahteraan masyarakat, namun dapat juga menyebabkan pertentangan dan perpecahan yang lebih antar pribadi-pribadi dan kelompok-kelompok. Dunia digital adalah ruang umum terbuka, sebuah tempat pertemuan di mana kita bisa saling mendukung atau menjatuhkan, terlibat dalam diskusi sarat makna atau melakukan serangan yang tidak jujur. Saya berdoa agar\u00a0 Tahun Yubileum ini, yang dihayati dalam kerahiman, \u201cdapat membuka diri kita kepada dialog yang lebih bersungguh-sungguh sehingga kita bisa mengenal dan memahami satu sama lain dengan lebih baik: dan ini bisa melenyapkan berbagai bentuk kepicikan dan sikap kurang hormat, dan menghilangkan setiap bentuk kekerasan dan diskriminasi\u201d (Misericordiae Vultus, 23). Internet dapat membantu kita untuk menjadi warga negara yang lebih baik. Akses ke jaringan digital membawa sebuah tanggung jawab atas sesama kita yang tidak kita lihat namun benar-benar nyata, dan yang memiliki martabat yang mesti dihormati. Internet dapat digunakan secara bijak untuk membangun sebuah masyarakat yang sehat dan terbuka untuk berbagi.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Komunikasi, tempat dan bentuknya telah membuka aneka cakrawala yang lebih luas bagi banyak orang. Ini adalah sebuah karunia Allah yang menuntut sebuah tanggung jawab besar. Saya ingin merujuk pada kekuatan komunikasi ini sebagai \u201ckedekatan\u201d. Perjumpaan antara komunikasi dan kerahiman adalah bermanfaat sejauh menghasilkan tahap di mana perjumpaan itu menghasilkan sebuah kedekatan yang peduli, memberi rasa nyaman, menyembuhkan, menyertai dan merayakan. Dalam sebuah dunia yang hancur, terbelah, dan bertentangan, berkomunikasi dengan kerahiman berarti membantu menciptakan sebuah kedekatan yang sehat, bebas dan bersaudara di antara anak-anak Allah dengan segenap saudara dan saudari kita dalam satu keluarga umat manusia.<\/p>\n<p>Diberikan di Vatikan, 24 Januari 2016<\/p>\n<p>Paus Fransiskus<\/p>\n<p>Sumber\u00a0http:\/\/keuskupanpadang.org\/pesan-paus-fransiskus-untuk-hari-komunikasi-sosial-sedunia-ke-50\/<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Pesan Paus Fransiskus Untuk Hari Komunikasi Sosial Sedunia ke-50 Minggu Paskah VII, 8 Mei 2016 Komunikasi dan Kerahiman: Suatu Perjumpaan yang Berbuah TAHUN SUCI Kerahiman mengajak\u00a0 kita untuk merefleksikan hubungan antara komunikasi dan kerahiman.&#46;&#46;&#46;<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":8626,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[6],"tags":[],"class_list":["post-8625","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-berita-sekitar"],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/katolikindonesia.org\/wp-content\/uploads\/2016\/05\/Pesan-Paus-Hari-Komsos-2016-660x330.jpg","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/8625","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=8625"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/8625\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":8627,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/8625\/revisions\/8627"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/8626"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=8625"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=8625"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=8625"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}