{"id":8587,"date":"2016-05-03T16:10:47","date_gmt":"2016-05-03T09:10:47","guid":{"rendered":"http:\/\/katolikindonesia.org\/?p=8587"},"modified":"2016-05-03T16:10:47","modified_gmt":"2016-05-03T09:10:47","slug":"perbuatan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/katolikindonesia.org\/?p=8587","title":{"rendered":"PERBUATAN"},"content":{"rendered":"<p>PERBUATAN<\/p>\n<p>(Kontemplasi Peradaban)<\/p>\n<p>&#8220;setiap orang tergoda untuk mengubah orang lain tanpa mengubah diri sendiri terlebih dahulu (Tolstoy).<\/p>\n<p>Waktu mencicipi snack tradisional di Pasar Terapung Kuin \u2013 Banjarmasin (Medio April 2016), saya sempat terharu dengan seorang pengemis yang tidak memiliki kaki yang nglendhot di tepian sungai. Orang-orang lalu-lalang dan anehnya tidak satupun orang menghiraukan keberadaannya.<\/p>\n<p>Tidak tega melihatnya, saya dekati dia dan saya ajak makan \u201cikan saluwang\u201d di tengah keramaian Pasar Terapung tersebut. Sambil \u201csarapan pagi\u201d, seolah-olah di seberang sungai terdengar suara orang yang bersenandung, \u201cWhatever you did not do for one of the least of these, you did not do for me\u201d \u2013 Sesungguhnya segala yang tidak kamu lakukan untuk salah seorang dari yang paling hina ini kamu tidak melakukannya juga untuk Aku\u201d (Mat 25: 45). Pengemis itu memang tidak berbicara (voiceless), namun sebenarnya di balik itu, ia sangat membutuhkan bantuan.<\/p>\n<p>Peribahasa Jawa menulis, \u201cLir cintaka minta warih\u201d \u2013 seperti burung meminta air yang bermakna: Seseorang yang sangat membutuhkan sesuatu hal atau seseorang yang meminta dengan sungguh-sungguh. Gambaran ini memberikan pengertian bahwa janganlah menolak atau menghardik orang yang benar-benar membutuhkan tetapi tolonglah dia dan berilah dia sesuatu yang bermanfaat. Cicero (106 \u2013 43 seb. M) berkata, \u201cAnimus hominis semper appetite agere aliquid\u201d \u2013 Jiwa manusia selalu ingin melakukan sesuatu. Dan sudah menjadi kodratnya bahwa setiap pribadi ingin mengaktualisasikan dirinya (self actualization). Dan dalam berelasi, seseorang tidak ingin dianggap enteng oleh orang lain. Dari situ pula muncullah kata-kata yang dicetuskan oleh Lampiridius, \u201cQuod tibi fieri non vis, alteri ne faceris\u201d \u2013 Apa yang tidak kau inginkan terjadi padamu, janganlah kau lakukan kepada orang lain. Inilah yang disebut oleh Sidharta Budda Gautama (563 \u2013 483 seb.M) sebagai golden rule atau kaidah emas. \u201cYen emoh dijiwit ya aja njiwit\u201d \u2013 Jikalau tidak mau dicubit ya jangan mencubit. Setiap orang ingin dihargai lewat perbuatan-perbuatan sesamanya. Seperti hukum alam, orang yang kita hargai akan menghargai kita. Marilah kita baca yang ditulis oleh Ralph Waldo Emerson (1803 \u2013 1882), \u201cPercayalah kepada orang lain dan mereka akan tulus kepadamu. Perlakukanlah mereka seperti orang besar dan mereka akan memperlihatkan dirinya sebagai orang besar\u201d Penghargaan yang tulus itu muncul dalam kata-kata bahasa Jawa, \u201cAja sira deksura, ngaku luwih pinter ketimbang sejene\u201d \u2013 janganlah congkak, merasa lebih pandai dari yang lain. Sebab di atas langit masih ada langit. Selasa, 3 Mei 2016 Markus Marlon<\/p>\n<p>Sumber KatolikIndonesia@yahoogroups.com penulis Markus Marlon &lt;markus_marlon@yahoo.com&gt;<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>PERBUATAN (Kontemplasi Peradaban) &#8220;setiap orang tergoda untuk mengubah orang lain tanpa mengubah diri sendiri terlebih dahulu (Tolstoy). Waktu mencicipi snack tradisional di Pasar Terapung Kuin \u2013 Banjarmasin (Medio April 2016), saya sempat terharu dengan&#46;&#46;&#46;<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":7605,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[4],"tags":[],"class_list":["post-8587","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-referensi"],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/katolikindonesia.org\/wp-content\/uploads\/2016\/01\/Aksos-3-Jan-2016.jpg","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/8587","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=8587"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/8587\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":8588,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/8587\/revisions\/8588"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/7605"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=8587"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=8587"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=8587"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}