{"id":85643,"date":"2025-09-30T14:48:11","date_gmt":"2025-09-30T07:48:11","guid":{"rendered":"https:\/\/katolikindonesia.org\/?p=85643"},"modified":"2025-09-30T14:48:11","modified_gmt":"2025-09-30T07:48:11","slug":"selasa-30-september-2025-5","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/katolikindonesia.org\/?p=85643","title":{"rendered":"Selasa, 30 September 2025"},"content":{"rendered":"<p>Sabda Kehidupan<br \/>\nSelasa 30 September 2025<br \/>\nPeringatan St Hieronimus<br \/>\nLukas 9:53-55 (Luk 9:51-56)<br \/>\nTetapi orang-orang Samaria itu tidak mau menerima Dia, karena perjalanan-Nya menuju Yerusalem. Ketika dua murid-Nya, yaitu Yakobus dan Yohanes, melihat hal itu, mereka berkata: &#8220;Tuhan, apakah Engkau mau, supaya kami menyuruh api turun dari langit untuk membinasakan mereka?&#8221; Akan tetapi Ia berpaling dan menegor mereka.<\/p>\n<p>Usahakanlah Perdamaian, Bukan Permusuhan. Pengampunan Bukan Balas Dendam<\/p>\n<p>Orang Samaria dan Orang Yahudi sebenarnya adalah kakak beradik. Sesudah Salomo anak Daud meninggal, Kerajaan Israel terpecah menjadi 2 yakni Kerajaan Utara dengan ibu kota Samaria dan Kerajaan Selatan dengan ibu kota Yerusalem.<br \/>\nKerajaan Utara kemudian dikuasai bangsa Asyur dan Kerajaan Selatan dikuasai bangsa Babilonia.<br \/>\nSesudah pembuangan ke Babel orang Israel kembali ke Yerusalem dan membangun kembali kota itu. Mereka kemudian disebut orang Yahudi karena sebagian besar berasal dari keturunan Yehuda.<\/p>\n<p>Sementara itu, orang Israel dari Kerajaan Utara yang dijajah bangsa Asyur telah bercampur baur dengan penjajahnya dan menyembah dewa-dewa para penjajah, bukan lagi menyembah Allah. Merekalah orang Samaria. Karena mereka telah murtad, itulah sebabnya orang Samaria sangat dibenci orang Yahudi.<\/p>\n<p>Begitulah yang terjadi bila dua kakak beradik bermusuhan. Sungguh sulit dipersatukan. Mereka saling membenci satu sama lain. Rasul Yohanes dan Yakobus dalam Injil hari ini mewakili orang Yahudi yang sangat membenci orang Samaria. Apalagi ketika orang Samaria menolak Yesus masuk ke kotanya.<br \/>\nNamun Yesus tidak mengijinkan mereka membalas dendam. Ia datang bukan untuk menghakimi dunia melainkan untuk mencari dan menyelamatkan yang hilang (Yoh 3:17). Jalan pengampunan dan belaskasih adalah jalan yang ditunjuk Yesus.<\/p>\n<p>Mari menjadi pembawa damai. Biarlah doa St Fransiskus Asisi menjadi nyata dalam hidup kita:<br \/>\nBila terjadi kebencian, jadilah pembawa cinta kasih. Bila terjadi penghinaan, jadilah pembawa pengampunan. Bila terjadi perselisihan, jadilah pembawa kerukunan. Bila terjadi keputusasaan, jdilah pembawa harapan. Bila terjadi kegelapan, jadilah pembawa terang. Bila terjadi kesedihan, jadilah pembawa sukacita.<\/p>\n<p>Syalom, damai selalu di hati.\u2764\ufe0f<br \/>\nPs Revi Tanod Pr (Santiago de Compostela &#8211; Spanyol)<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Kalender Liturgi 30 Sep 2025<br \/>\nSelasa Pekan Biasa XXVI<br \/>\nPW S. Hieronimus, Imam dan Pujangga Gereja<br \/>\nWarna Liturgi: Putih<br \/>\nBait Pengantar Injil: Mrk 10:45<br \/>\nBacaan Injil: Luk 9:51-56<br \/>\n************<\/p>\n<p>Bait Pengantar Injil<br \/>\nMrk 10:45<br \/>\nAnak Manusia datang untuk melayani<br \/>\ndan menyerahkan nyawa-Nya sebagai tebusan bagi semua orang.<\/p>\n<p>Bacaan Injil<br \/>\nLuk 9:51-56<br \/>\nYesus mengarahkan pandangan-Nya untuk pergi ke Yerusalem.<\/p>\n<p>Inilah Injil Suci menurut Lukas:<\/p>\n<p>Ketika hampir genap waktunya diangkat ke surga,<br \/>\nYesus mengarahkan pandangan-Nya untuk pergi ke Yerusalem.<br \/>\nDiutusnya beberapa utusan mendahului Dia.<br \/>\nMereka itu pergi, lalu masuk ke sebuah desa orang Samaria<br \/>\nuntuk mempersiapkan segala sesuatu bagi-Nya.<br \/>\nTetapi orang-orang Samaria di situ tidak mau menerima Dia,<br \/>\nkarena perjalanan-Nya menuju Yerusalem.<\/p>\n<p>Ketika dua murid-Nya, yaitu Yakobus dan Yohanes, melihat hal itu, mereka berkata,<br \/>\n&#8220;Tuhan, bolehkah kami menurunkan api dari langit<br \/>\nuntuk membinasakan mereka?&#8221;<\/p>\n<p>Tetapi Yesus berpaling dan menegur mereka,<br \/>\n&#8220;Kalian tidak tahu apa yang kalian inginkan.<br \/>\nAnak Manusia datang bukan untuk membinasakan orang,<br \/>\nmelainkan untuk menyelamatkannya.&#8221;<br \/>\nLalu mereka pergi ke desa lain.<\/p>\n<p>Demikianlah sabda Tuhan.<br \/>\n***********<\/p>\n<p>  \u210d <\/p>\n<p>\u201cOrang-orang Samaria itu tidak mau menerima Dia, karena perjalanan-Nya menuju Yerusalem. Ketika dua murid-Nya, yaitu Yakobus dan Yohanes, melihat hal itu, mereka berkata: &#8220;Tuhan, apakah Engkau mau, supaya kami menyuruh api turun dari langit untuk membinasakan mereka?&#8221; Akan tetapi Ia berpaling dan menegor mereka.\u201d (Luk 9: 53 \u2013 55).<\/p>\n<p>Injil hari ini memberikan kita dua pelajaran penting tentang toleransi. Pertama, para murid ingin menghentikan seseorang yang mengusir setan atas nama Yesus karena dia \u201cbukan salah satu dari mereka.\u201d Namun, Yesus tidak mengizinkannya. Pekerjaan Allah tidak terbatas pada satu lingkaran, satu kelompok, atau satu metode. Di mana pun kebaikan dilakukan atas nama-Nya, Roh-Nya bekerja di sana.<\/p>\n<p>Kedua, ketika sebuah desa Samaria menolak untuk menerima mereka, Yakobus dan Yohanes ingin memanggil api dari surga. Sekali lagi, Yesus menegur mereka. Ia tidak mengizinkan semangat untuk misi-Nya berubah menjadi kekerasan terhadap orang lain. Sebaliknya, Ia memilih jalan yang lebih sulit: kesabaran, penghargaan, dan kasih, bahkan dalam penolakan.<\/p>\n<p>Toleransi sejati bukanlah ketidakpedulian, melainkan kasih. Itu berarti melihat orang lain\u2014bahkan mereka yang tidak setuju dengan kita\u2014bukan sebagai musuh yang harus dihancurkan, melainkan sebagai saudara dan saudari yang harus dimenangkan dengan kesabaran dan kebaikan. Inilah jalan Kristus.<\/p>\n<p>Pada peringatan Santo Hieronimus ini, kita melihat bagaimana Injil ini berbicara kepada kita. Hieronimus memiliki temperamen yang panas, sering tajam dalam debat, dan kadang-kadang intoleran dalam kata-kata. Namun, ia menghabiskan hidupnya dalam pelayanan tanpa lelah terhadap Firman Allah, menerjemahkan Kitab Suci ke dalam bahasa Latin agar generasi-generasi tak terhitung dapat mendekati Kristus.<\/p>\n<p>Ketajamannya pada akhirnya berakar pada cinta akan kebenaran dan semangat untuk jiwa-jiwa. Ia mengajarkan kepada kita bahwa toleransi sejati bukanlah ketidakpedulian, melainkan cinta \u2014 cinta yang mencari kebenaran, cinta yang memperbaiki kesalahan dengan kasih, dan cinta yang menyambut setiap usaha tulus untuk melayani Allah.<\/p>\n<p>Seperti Hieronimus, kita dipanggil untuk bersemangat bagi Injil, tetapi selalu dengan hati Kristus: teguh dalam kebenaran, namun sabar dan penuh belas kasih terhadap orang lain.<\/p>\n<p>Tuhan, bantulah kami tetap bersemangat mewartakan Injil bagi semua. Amin.<\/p>\n<p>Selamat beraktivitas. \u24bf\u24c1\u24ca! \u2764\ufe0f<br \/>\n\u2764\ufe0e.<\/p>\n<p>RP Joni Astanto MSC<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Sabda Kehidupan Selasa 30 September 2025 Peringatan St Hieronimus Lukas 9:53-55 (Luk 9:51-56) Tetapi orang-orang Samaria itu tidak mau menerima Dia, karena perjalanan-Nya menuju Yerusalem. Ketika dua murid-Nya, yaitu Yakobus dan Yohanes, melihat hal&#46;&#46;&#46;<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":66662,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[1,20],"tags":[],"class_list":["post-85643","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-bacaan-harian","category-renungan-text"],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/katolikindonesia.org\/wp-content\/uploads\/2024\/12\/ardas-2025.png","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/85643","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=85643"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/85643\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":85644,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/85643\/revisions\/85644"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/66662"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=85643"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=85643"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=85643"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}