{"id":85550,"date":"2025-09-28T19:06:09","date_gmt":"2025-09-28T12:06:09","guid":{"rendered":"https:\/\/katolikindonesia.org\/?p=85550"},"modified":"2025-09-29T17:47:02","modified_gmt":"2025-09-29T10:47:02","slug":"minggu-28-september-2025-5","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/katolikindonesia.org\/?p=85550","title":{"rendered":"Minggu, 28 September 2025"},"content":{"rendered":"<p>Sabda Kehidupan<br \/>\nMinggu 28 September 2025<br \/>\nHari Minggu Biasa XXVI<br \/>\nLukas 16:19-20 (Luk 16:19-31)<br \/>\n\u201dAda seorang kaya yang selalu berpakaian jubah ungu dan kain halus, dan setiap hari ia bersukaria dalam kemewahan. Dan ada seorang pengemis bernama Lazarus, badannya penuh dengan borok, berbaring dekat pintu rumah orang kaya itu&#8230;\u201d<\/p>\n<p>Menjadi Kaya Dalam Iman-Pengharapan-Kasih<\/p>\n<p>Kisah Yesus mengenai \u201corang kaya dan Lazarus yang miskin\u201d ingin mengingatkan kita kesinambungan antara hidup di dunia ini dan kehidupan abadi sesudah perjalanan hidup kita di dunia selesai.<br \/>\nGanjaran hidup abadi tergantung \u2018bagaimana kita menjalani hidup semasa di dunia ini.\u2019 Apakah kita hanya hidup bagi diri sendiri, atau hidup berbagi dengan sesama.<br \/>\nDalam Injil hari ini, si kaya punya segala-galanya tapi tidak punya belaskasih untuk sesama. Ia tak menyadari bahwa apa yang ia miliki adalah pemberian Tuhan yang tak bisa dibawa mati. Semuanya harus diolah menjadi harta rohani, melalui karya kasih.<\/p>\n<p>Sementara itu Lazarus tidak punya apapun selain iman dan harapannya pada Allah. Nama Lazarus artinya: Allah adalah pertolonganku.<br \/>\nSingkat cerita, keduanya dipanggil Tuhan. Ternyata si kaya sesungguhnya miskin di hadapan Allah dan tak ada tempat baginya di surga. Sedangkan Lazarus mendapatkan apa yang ia imani semasa hidupnya yakni pertolongan Allah. Ia akhirnya sampai ke pangkuan Abraham.<\/p>\n<p>Yesus menyampaikan kisah Injil ini, agar kita jangan membuat kesalahan yang sama seperti si kaya. Merasa diri mampu, hidup hanya untuk diri sendiri dan tidak peduli dengan orang lain. Di pihak lain, Yesus menghendaki agar apapun kesulitan dan derita yang kita hadapi, jangan pernah berhenti beriman dan berharap pada Allah sumber pertolongan kita. Dan yang paling menentukan adalah wujud nyata kasih kita kepada Tuhan dan sesama semasa hidup di dunia ini.<\/p>\n<p>Selamat Hari Minggu. Pertolongan kita pada Allah Bapa kita yang menjadikan langit dan bumi.\u2764\ufe0f<br \/>\nPs Revi Tanod Pr (Fatima)<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Kalender Liturgi 28 Sep 2025<br \/>\nMinggu Pekan Biasa XXVI<br \/>\nWarna Liturgi: Hijau<br \/>\nBait Pengantar Injil: 2Kor 8:9<br \/>\nBacaan Injil: Luk 16:19-31<br \/>\n************<\/p>\n<p>Bait Pengantar Injil<br \/>\n2Kor 8:9<br \/>\nYesus Kristus menjadi miskin, sekali pun Ia kaya,<br \/>\nsupaya oleh karena kemiskinan-Nya kamu menjadi kaya.<\/p>\n<p>Bacaan Injil<br \/>\nLuk 16:19-31<br \/>\nEngkau telah menerima segala yang baik,<br \/>\nsedangkan Lazarus segala yang buruk.<br \/>\nSekarang ia mendapat penghiburan dan engkau sangat menderita.<\/p>\n<p>Inilah Injil Suci menurut Lukas:<\/p>\n<p>Sekali peristiwa<br \/>\nYesus berkata kepada orang-orang Farisi,<br \/>\n&#8220;Ada seorang kaya<br \/>\nyang selalu berpakaian jubah ungu dari kain halus,<br \/>\ndan setiap hari ia bersukaria dalam kemewahan.<br \/>\nDan ada seorang pengemis bernama Lazarus,<br \/>\nbadannya penuh dengan borok.<br \/>\nIa berbaring dekat pintu rumah orang kaya itu,<br \/>\ndan ingin menghilangkan laparnya<br \/>\ndengan apa yang jatuh dari meja orang kaya itu.<br \/>\nMalahan anjing-anjing datang dan menjilati boroknya.<\/p>\n<p>Kemudian matilah orang miskin itu,<br \/>\nlalu dibawa oleh malaikat-malaikat ke pangkuan Abraham.<br \/>\nOrang kaya itu juga mati, lalu dikubur.<br \/>\nSementara menderita sengsara di alam maut,<br \/>\nia memandang ke atas,<br \/>\ndan dari jauh dilihatnya Abraham,<br \/>\ndan Lazarus duduk di pangkuannya.<br \/>\nLalu ia berseru, &#8216;Bapa Abraham, kasihanilah aku.<br \/>\nSuruhlah Lazarus mencelupkan ujung jarinya ke dalam air<br \/>\ndan menyejukkan lidahku,<br \/>\nsebab aku sangat kesakitan dalam nyala api ini.&#8217;<\/p>\n<p>Tetapi Abraham berkata, &#8216;Anakku, ingatlah!<br \/>\nEngkau telah menerima segala yang baik semasa hidupmu,<br \/>\nsedangkan Lazarus segala yang buruk.<br \/>\nSekarang ia mendapat penghiburan dan engkau sangat menderita.<br \/>\nSelain daripada itu,<br \/>\ndi antara kami dan engkau terbentang jurang yang tak terseberangi,<br \/>\nsehingga mereka yang mau pergi dari sini kepadamu<br \/>\nataupun mereka yang mau datang dari situ kepada kami<br \/>\ntidak dapat menyeberang!&#8217;<br \/>\nKata orang itu,<br \/>\n&#8216;Kalau demikian, aku minta kepadamu, Bapa,<br \/>\nsupaya engkau menyuruh dia ke rumah ayahku,<br \/>\nsebab masih ada lima orang saudaraku,<br \/>\nsupaya ia memperingati mereka dengan sungguh-sungguh,<br \/>\nagar mereka kelak jangan masuk ke dalam tempat penderitaan ini.&#8217;<br \/>\nTetapi kata Abraham,<br \/>\n&#8216;Ada pada mereka kesaksian Musa dan para nabi;<br \/>\nbaiklah mereka mendengarkan kesaksian itu!&#8217;<br \/>\nJawab orang itu, &#8216;Tidak, Bapa Abraham!<br \/>\nTetapi jika ada seorang<br \/>\nyang datang dari antara orang mati kepada mereka,<br \/>\nmereka akan bertobat.&#8217;<br \/>\nKata Abraham kepadanya,<br \/>\n&#8216;Jika mereka tidak mendengarkan kesaksian Musa dan para nabi,<br \/>\nmereka tidak juga akan mau diyakinkan,<br \/>\nsekalipun oleh seorang yang bangkit dari antara orang mati&#8217;.&#8221;<\/p>\n<p>Demikianlah sabda Tuhan.<br \/>\n************<\/p>\n<p>  \u210d <\/p>\n<p>\u201dAda seorang kaya yang selalu berpakaian jubah ungu dan kain halus, dan setiap hari ia bersukaria dalam kemewahan. Dan ada seorang pengemis bernama Lazarus, badannya penuh dengan borok, berbaring dekat pintu rumah orang kaya itu, dan ingin menghilangkan laparnya dengan apa yang jatuh dari meja orang kaya itu. Malahan anjing-anjing datang dan menjilat boroknya.\u201d (Luk 16: 19 \u2013 21)<\/p>\n<p>Dalam Injil hari ini, Yesus menceritakan perumpamaan tentang dua orang: satu kaya, satu miskin. Orang kaya itu tidak digambarkan bahwa dia jahat, curang, atau tidak bermoral. Dia hanya disebut \u201corang kaya.\u201d Di gerbang rumahnya terbaring Lazarus, miskin dan sakit, yang menginginkan remah-remah makanan yang jatuh dari meja orang kaya itu. Hanya anjing-anjinglah teman-temannya.<\/p>\n<p>Yesus memberi nama kepada orang miskin itu\u2014Lazarus, yang berarti \u201cAllah adalah pertolonganku.\u201d Namun, orang kaya itu tetap tanpa nama. Tanpa nama berarti tidak ada siapa-siapa, dihapus dari ingatan. Yesus mengajarkan kepada kita bahwa di hadapan Allah, bukan kekayaan atau kekuasaan yang memberi kita martabat. Allah mengenal nama orang miskin, dan melalui mereka Ia menyatakan kehadiran-Nya.<\/p>\n<p>Satu-satunya dosa orang kaya itu adalah ketidakpeduliannya. Ia begitu terobsesi dengan kenyamanan, penampilan, dan pujian orang lain, sehingga ia tidak menyadari penderitaan orang di pintu rumahnya. Bahaya besar kekayaan adalah membutakan kita, memikat kita, membuat kita percaya bahwa kita mandiri, dan menutup mata kita terhadap kebutuhan orang lain.<\/p>\n<p>Bagi banyak orang di dunia saat ini, uang menjadi berhala, dewa palsu, \u201cmammon,\u201d yang menggantikan Allah yang hidup. Kita mulai hidup untuk penampilan ketimbang untuk kebenaran.<\/p>\n<p>Perumpamaan ini berlanjut dengan pembalikan: Lazarus, yang menderita, dibawa ke sisi Abraham, sementara orang kaya itu menemukan dirinya dalam penderitaan. Yesus tidak memberikan gambaran tentang kehidupan setelah kematian, tetapi menggunakan gambaran yang kuat untuk menggoncang kita. Siksaan orang kaya adalah ketika ia akhirnya mengangkat matanya dan melihat orang miskin yang pernah ia abaikan. Ia terlambat menyadari bahwa jurang yang memisahkan mereka adalah sesuatu yang ia ciptakan selama hidupnya, dengan memilih tidak berbagi.<\/p>\n<p>Jurang ini, kesenjangan antara kaya dan miskin, sangat besar dalam masyarakat kita saat ini. Beberapa orang berfoya-foya sementara yang lain kelaparan. Yang lain joget-joget dalam kelimpahan, yang lain, sudah tertindas, mati dilindas. Beberapa orang menghabiskan uang secara berlebihan untuk kemewahan, sementara yang lain tidak memiliki akses ke kebutuhan dasar seperti obat-obatan, air, atau tempat tinggal. Ini bukan rencana Allah.<\/p>\n<p>Lazarus kini berada di pangkuan Abraham, bukan karena ia saleh atau sabar. Injil tidak menceritakan tentang kebaikannya. Lazarus ada di sana hanya karena Allah berada di pihak orang miskin. \u201cTuhan menegakkan keadilan bagi orang miskin\u201d (Mzm 140). Allah mengidentifikasi diri-Nya dengan mereka yang terpinggirkan, dengan mereka yang dilupakan di gerbang kenyamanan kita.<\/p>\n<p>Saudara-saudari, perumpamaan ini bukan tentang kehidupan setelah mati. Ini tentang waktu sekarang. Waktu untuk menyeberangi jurang, untuk menutup jarak antara kaya dan miskin, adalah hari ini. Injil mendesak kita untuk tidak menunda. Jika kita menimbun karunia kita, mereka akan terlepas dari rengkuhan kita; jika kita membagikannya, mereka menjadi cinta, dan cinta abadi selamanya.<\/p>\n<p>Dalam bacaan pertama, Amos mengutuk orang-orang yang hidup mewah tanpa peduli pada orang lain. Sedangkan dalam bacaan kedua, Paulus menasihati Timotius untuk hidup suci dan tak bercela di hadapan Allah. Kesucian itu ada maknanya, jika kita peduli pada sesama. Yesus menceritakan perumpamaan tentang Lazarus dan orang kaya ini, untuk mengingatkan kita bahwa kita memang bertanggung jawab atas sesama kita. We are our brothers and sisters\u2019 keepers.<\/p>\n<p>Pertanyaannya sederhana namun mendesak: siapa yang kita lihat? Apakah kita melihat orang miskin di depan pintu rumah (hati) kita, di kota-kota kita, di dunia kita? Apakah kita melihat para migran, orang-orang tanpa tempat tinggal, orang tua yang hidup sendirian, orang sakit yang tidak mampu membayar pengobatan, anak-anak yang kelaparan?<\/p>\n<p>Tuhan, bukalah mata dan hati kami terhadap sesama. Amin.<\/p>\n<p>Selamat hari Minggu. Buka mata. Buka telinga. Buka hati. \u24bf\u24c1\u24ca! \u2764\ufe0f<br \/>\n\u2764\ufe0e.<\/p>\n<blockquote class=\"wp-embedded-content\" data-secret=\"Zi8vsuV0uy\"><p><a href=\"https:\/\/sacerdos2000.com\/orang-miskin-di-depan-pintu\/\">Orang Miskin di Depan Pintu<\/a><\/p><\/blockquote>\n<p><iframe loading=\"lazy\" class=\"wp-embedded-content\" sandbox=\"allow-scripts\" security=\"restricted\" style=\"position: absolute; visibility: hidden;\" title=\"&#8220;Orang Miskin di Depan Pintu&#8221; &#8212; Sacerdos2000\" src=\"https:\/\/sacerdos2000.com\/orang-miskin-di-depan-pintu\/embed\/#?secret=mcO77hx2oN#?secret=Zi8vsuV0uy\" data-secret=\"Zi8vsuV0uy\" width=\"500\" height=\"282\" frameborder=\"0\" marginwidth=\"0\" marginheight=\"0\" scrolling=\"no\"><\/iframe><\/p>\n<p>RP Joni Astanto MSC<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Sabda Kehidupan Minggu 28 September 2025 Hari Minggu Biasa XXVI Lukas 16:19-20 (Luk 16:19-31) \u201dAda seorang kaya yang selalu berpakaian jubah ungu dan kain halus, dan setiap hari ia bersukaria dalam kemewahan. Dan ada&#46;&#46;&#46;<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":66662,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[20],"tags":[],"class_list":["post-85550","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-renungan-text"],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/katolikindonesia.org\/wp-content\/uploads\/2024\/12\/ardas-2025.png","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/85550","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=85550"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/85550\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":85615,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/85550\/revisions\/85615"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/66662"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=85550"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=85550"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=85550"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}