{"id":85368,"date":"2025-09-25T09:46:57","date_gmt":"2025-09-25T02:46:57","guid":{"rendered":"https:\/\/katolikindonesia.org\/?p=85368"},"modified":"2025-09-25T09:46:57","modified_gmt":"2025-09-25T02:46:57","slug":"kamis-25-september-2025-5","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/katolikindonesia.org\/?p=85368","title":{"rendered":"Kamis, 25 September 2025"},"content":{"rendered":"<p>Sabda Kehidupan<br \/>\nKamis 25 September 2025<br \/>\nLukas 9:7 (Luk 9:7-9)<br \/>\nHerodes, raja wilayah, mendengar segala yang terjadi itu dan iapun merasa cemas, sebab ada orang yang mengatakan, bahwa Yohanes telah bangkit dari antara orang mati.<\/p>\n<p>Jangan Biarkan Diri Dihantui Rasa Bersalah<\/p>\n<p>Raja Herodes terus dihantui rasa bersalah karena ia telah membunuh Yohanes Pembaptis, hanya karena ego dan gengsinya. Herodes sadar bahwa tak ada alasan baginya untuk membunuh Yohanes karena sekalipun mengeritik sang raja, apa yang dikatakan Yohanes adalah benar. Maka sekalipun Yohanes telah mati, ia seakan hidup terus dalam pikiran Herodes.<br \/>\nJabatan dan kekuasaannya tidak mampu menghilangkan rasa cemas oleh rasa bersalah yang menghantuinya. Hanya pertobatan dan pengampunan yang mampu menghilangkannya. Sayang Herodes yang tinggi hati dan serakah, tak punya kata bertobat dalam kamus hidupnya. Apalah artinya semua kekuasaan dan kejayaan seseorang bila tak ada damai dalam hati.<\/p>\n<p>Sesungguhnya rasa sesal dan tobat adalah anugerah Roh Kudus. Dari dalam hati Roh Allah berbisik dan mendorong kita untuk bertobat dan memohon pengampunan.<br \/>\nBagi kita yang mengenal Yesus, mari datang kepadaNya dengan rasa sesal dan tobat, mengakui dosa dan memohon pengampunan. Pengampunan Yesus sungguh melegakan hati dan membawa damai, teristimewa yang kita terima melalui Sakramen Tobat.<br \/>\nJangan biarkan kesalahan masa lalu terus menghantui kita, dan menahan kita untuk berjalan terus karena kita akan selalu hidup di masa lalu.<\/p>\n<p>Nasehat Paulus ini kiranya berguna, \u201cSedapat-dapatnya, kalau hal itu bergantung padamu, hiduplah dalam perdamaian dengan semua orang!\u201d (Rom 12:18). Beranilah merendahkan diri dan memohon maaf bila telah berbuat salah kepada orang lain.<br \/>\nKiranya \u201cDamai sejahtera Allah, yang melampaui segala akal, akan memelihara hati dan pikiranmu dalam Kristus Yesus.\u201d (Flp 4:7).<\/p>\n<p>Selamat hari Kamis. Syalom, damai selalu di hati.\u2764\ufe0f<br \/>\nPs Revi Tanod Pr<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Kalender Liturgi 25 Sep 2025<br \/>\nKamis Pekan Biasa XXV<br \/>\nWarna Liturgi: Hijau<br \/>\nBait Pengantar Injil: Yoh 14:6<br \/>\nBacaan Injil: Luk 9:7-9<br \/>\n**********<\/p>\n<p>Bait Pengantar Injil<br \/>\nYoh 14:6<br \/>\nAkulah jalan, kebenaran dan hidup;<br \/>\nhanya melalui Aku orang sampai kepada Bapa.<\/p>\n<p>Bacaan Injil<br \/>\nLuk 9:7-9<br \/>\nYohanes kan telah kupenggal kepalanya.<br \/>\nSiapa gerangan Dia ini, yang kabarnya melakukan hal-hal besar itu?<\/p>\n<p>Inilah Injil Suci menurut Lukas:<\/p>\n<p>Ketika Herodes, raja wilayah Galilea, mendengar segala yang terjadi,<br \/>\nia merasa cemas, sebab ada orang yang mengatakan,<br \/>\nbahwa Yohanes telah bangkit dari antara orang mati.<br \/>\nAda lagi yang mengatakan, bahwa Elia telah muncul kembali,<br \/>\ndan ada pula yang mengatakan,<br \/>\nbahwa seorang dari nabi-nabi zaman dahulu telah bangkit.<br \/>\nTetapi Herodes berkata, &#8220;Yohanes kan telah kupenggal kepalanya.<br \/>\nSiapa gerangan Dia ini, yang kabarnya melakukan hal-hal besar itu?&#8221;<br \/>\nLalu ia berusaha supaya dapat bertemu dengan Yesus.<\/p>\n<p>Demikianlah sabda Tuhan.<br \/>\n***********<\/p>\n<p>  \u210d <\/p>\n<p>\u201cHerodes, raja wilayah, mendengar segala yang terjadi itu dan iapun merasa cemas, sebab ada orang yang mengatakan, bahwa Yohanes telah bangkit dari antara orang mati. Ada lagi yang mengatakan, bahwa Elia telah muncul kembali, dan ada pula yang mengatakan, bahwa seorang dari nabi-nabi dahulu telah bangkit. Tetapi Herodes berkata: &#8220;Yohanes telah kupenggal kepalanya. Siapa gerangan Dia ini, yang kabarnya melakukan hal-hal demikian?&#8221; Lalu ia berusaha supaya dapat bertemu dengan Yesus.\u201d (Luk 9: 7 &#8211; 9)<\/p>\n<p>Dalam tiga ayat saja, Lukas berhasil menjembatani celah saat para rasul sedang dalam perjalanan misi mereka, memberitakan Injil dan menyembuhkan orang sakit. Kabar tentang Yesus dan murid-murid-Nya semakin menyebar luas. Herodes Antipas, raja Galilea, mendengar semua yang terjadi dan merasa bingung. Dia belum pernah melihat Yesus, tidak mengenal-Nya, dan hanya mendengar apa yang orang katakan: Yohanes telah bangkit dari mati; Elia telah muncul; salah satu dari nabi-nabi dahulu telah bangkit.<\/p>\n<p>Herodes tidak dapat memahami. Dia yakin akan satu hal \u2014 itu bukan Yohanes, karena dia sendiri yang memerintahkan untuk memenggal kepala Yohanes. Namun, dia penasaran dengan Yesus dan ingin melihat seperti apa Dia. Sepanjang Injil, jelas bahwa Herodes adalah sosok yang dangkal, lemah, dan tidak memiliki tekad. Menurut Lukas, keinginannya untuk melihat Yesus berasal dari rasa penasaran semata. Lukas juga bercerita tentang Zakheus, seorang pemungut cukai yang penasaran ingin tahu lebih banyak tentang Yesus. Namun Zakheus berusaha keras untuk melihat Yesus, yang berujung pada pertobatan dan keselamatan. Sedangkan Herodes tidak memiliki niat yang tulus untuk mengetahui siapa Yesus.<\/p>\n<p>Apa motivasi kita untuk mencari dan mengenal Yesus? Apakah itu sekadar rasa ingin tahu yang dangkal, hanya ingin mengetahui-Nya secara historis? Apakah kita bersemangat untuk memahami-Nya sebagai Juruselamat kita, sebagai Tuhan kita, sebagai Anak Allah? Apakah Yesus kita alami secara nyata dalam Ekaristi, dalam Injil, dalam Gereja, dan dalam sesama yang kita jumpai \u2013 terlebih yang kecil dan menderita? Untuk apa kita mencari Yesus? Siapa Yesus bagi saya?<\/p>\n<p>Yesus, aku ingin memperdalam hubungan pribadi ku dengan-Mu sebagai Tuhan dan Juruselamatku.<\/p>\n<p>Selamat beraktivitas. \u24bf\u24c1\u24ca! \u2764\ufe0f<br \/>\n\u2764\ufe0e.<\/p>\n<blockquote class=\"wp-embedded-content\" data-secret=\"Lm7HiBnw2s\"><p><a href=\"https:\/\/sacerdos2000.com\/untuk-apa-mencari-yesus\/\">Untuk Apa Mencari Yesus?<\/a><\/p><\/blockquote>\n<p><iframe loading=\"lazy\" class=\"wp-embedded-content\" sandbox=\"allow-scripts\" security=\"restricted\" style=\"position: absolute; visibility: hidden;\" title=\"&#8220;Untuk Apa Mencari Yesus?&#8221; &#8212; Sacerdos2000\" src=\"https:\/\/sacerdos2000.com\/untuk-apa-mencari-yesus\/embed\/#?secret=8eQooxV1K6#?secret=Lm7HiBnw2s\" data-secret=\"Lm7HiBnw2s\" width=\"500\" height=\"282\" frameborder=\"0\" marginwidth=\"0\" marginheight=\"0\" scrolling=\"no\"><\/iframe><\/p>\n<p>RP Joni Astanto MSC<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Sabda Kehidupan Kamis 25 September 2025 Lukas 9:7 (Luk 9:7-9) Herodes, raja wilayah, mendengar segala yang terjadi itu dan iapun merasa cemas, sebab ada orang yang mengatakan, bahwa Yohanes telah bangkit dari antara orang&#46;&#46;&#46;<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":66662,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[1,20],"tags":[],"class_list":["post-85368","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-bacaan-harian","category-renungan-text"],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/katolikindonesia.org\/wp-content\/uploads\/2024\/12\/ardas-2025.png","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/85368","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=85368"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/85368\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":85370,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/85368\/revisions\/85370"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/66662"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=85368"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=85368"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=85368"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}