{"id":85206,"date":"2025-09-22T10:43:47","date_gmt":"2025-09-22T03:43:47","guid":{"rendered":"https:\/\/katolikindonesia.org\/?p=85206"},"modified":"2025-09-22T10:43:47","modified_gmt":"2025-09-22T03:43:47","slug":"senin-22-september-2025-5","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/katolikindonesia.org\/?p=85206","title":{"rendered":"Senin, 22 September 2025"},"content":{"rendered":"<p>Sabda Kehidupan<br \/>\nSenin 22 September 2025<br \/>\nLukas 8:16 (Luk 8:16-18)<br \/>\n\u201dTidak ada orang yang menyalakan pelita lalu menutupinya dengan tempayan atau menempatkannya di bawah tempat tidur, tetapi ia menempatkannya di atas kaki dian, supaya semua orang yang masuk ke dalam rumah dapat melihat cahayanya.\u201d<\/p>\n<p>Nyalakan Terus Api Lilin Pengharapan<\/p>\n<p>Dikisahkan bahwa dalam sebuah ruangan ada 4 lilin yang bernyala. Mereka adalah lilin Damai, Iman, Cinta dan Pengharapan.<br \/>\nSeiring berjalannya waktu, tiga lilin pertama mulai redup dan akhirnya padam, karena manusia tidak mampu menjaganya terus bernyala.<br \/>\nLilin damai padam karena manusia lebih suka bertengkar daripada hidup damai. Lilin iman juga ikut padam karena manusia tidak lagi percaya bahwa Tuhan ada dan terus bekerja. Manusia lebih mengandalkan kemampuannya sendiri daripada bersandar pada Tuhan. Akhirnya lilin cinta juga padam karena manusia hidup hanya untuk kepentingan diri sendiri, tidak peduli satu sama lain, bahkan saling membenci.<br \/>\nSeorang anak kecil masuk dalam ruangan itu dan menjadi takut karena ruangan gelap. Tapi masih tertinggal sebuah lilin yang masih menyala kecil. Itulah lilin pengharapan.<br \/>\nKata lilin Pengharapan, \u201cjangan takut, selama aku masih menyala, aku dapat menyalakan kembali lilin damai, iman dan cinta.\u201d<br \/>\nLalu anak itu mengambil lilin pengharapan dan menyalakan lilin-lilin lainnya.<\/p>\n<p>Tahun ini adalah tahun Yubileum, tahun pengharapan. Kita adalah peziarah pengharapan. Jangan putus asa, kobarkan terus api pengharapan dalam diri kita untuk menghidupkan kembali nilai-nilai damai, iman dan cinta yang mulai redup dan padam.<br \/>\nJadilah lilin penghrapan bagi orang di sekitar agar sekalipun di tengah berbagai kesulitan hidup orang tetap optimis memandang ke depan dan terus berjalan dalam cahaya Kristus, sumber pengharapan kita.<\/p>\n<p>\u201dYa Yesus, nyalakan selalu api Roh KudusMu dalam hati kami. Biarlah kami menjadi lilin kecil yang memberi harapan dan rela lebur untuk memberi terang di sekitar kami oleh perbuatan baik yang dapat kami lakukan setiap hari.\u201d<\/p>\n<p>Semangat Senin. Teruslah bersinar memancarkan terang kasih Tuhan.\u2764\ufe0f<br \/>\nPs Revi Tanod Pr<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Kalender Liturgi 22 Sep 2025<br \/>\nSenin Pekan Biasa XXV<br \/>\nWarna Liturgi: Hijau<br \/>\nBait Pengantar Injil: Mat 5:16<br \/>\nBacaan Injil: Luk 8:16-18<br \/>\n***************<\/p>\n<p>Bait Pengantar Injil<br \/>\nMat 5:16<br \/>\nHendaknya cahayamu bersinar di depan orang,<br \/>\nagar mereka melihat perbuatanmu yang baik,<br \/>\ndan memuji Bapamu yang di surga.<\/p>\n<p>Bacaan Injil<br \/>\nLuk 8:16-18<br \/>\nPelita ditempatkan di atas kaki dian,<br \/>\nsupaya semua orang yang masuk dapat melihat cahayanya<\/p>\n<p>Inilah Injil Suci menurut Lukas:<\/p>\n<p>Sekali peristiwa Yesus bersabda kepada murid-murid-Nya,<br \/>\n&#8220;Tidak ada orang yang menyalakan pelita<br \/>\nlalu menutupinya dengan tempayan<br \/>\natau menempatkannya di bawah tempat tidur;<br \/>\ntetapi ia menempatkannya di atas kaki dian,<br \/>\nsupaya semua orang yang masuk ke dalam rumah dapat melihat cahayanya.<br \/>\nSebab tiada sesuatu yang tersembunyi yang tidak akan dinyatakan,<br \/>\ndan tiada suatu rahasia yang tidak akan diketahui dan diumumkan.<\/p>\n<p>Karena itu perhatikanlah cara kalian mendengar.<br \/>\nKarena barangsiapa sudah punya akan diberi,<br \/>\ntetapi barangsiapa tidak punya,<br \/>\napa pun yang dianggap ada padanya akan diambil.&#8221;<\/p>\n<p>Demikianlah sabda Tuhan.<br \/>\n***************<\/p>\n<p>  \u210d <\/p>\n<p>\u201dTidak ada orang yang menyalakan pelita lalu menutupinya dengan tempayan atau menempatkannya di bawah tempat tidur, tetapi ia menempatkannya di atas kaki dian, supaya semua orang yang masuk ke dalam rumah dapat melihat cahayanya.\u201d [Luk 8: 16]<\/p>\n<p>Rumah-rumah Palestina pada zaman Yesus umumnya terbuat dari tanah liat yang dikeraskan, dan memiliki jendela yang cukup untuk membiarkan udara dan cahaya masuk, tetapi untuk mencegah debu gurun dan panas masuk, ukuran jendala tersebut cukup kecil. Pada masa itu, lampu minyak atau pelita yang menyala di dalam rumah sangat berharga. Kenyataan sehari-hari inilah yang menginspirasi Yesus untuk berbicara dengan simbol-simbol seperti yang terdapat dalam Injil hari ini.<\/p>\n<p>\u201cCahaya\u201d atau \u201cterang\u201d biasanya merupakan tanda kehadiran Allah dalam Kitab Suci. Allah lah yang menciptakan cahaya dari kegelapan yang meliputi samudera raya dalam Kitab Kejadian. Penampakan Allah selalu disertai cahaya, seperti kilat dan semak yang terbakar. Nabi Yesaya dalam nubuatnya tentang kedatangan Mesias berkata: \u201cBangsa yang berjalan dalam kegelapan telah melihat cahaya yang besar\u2026\u201d Dalam Perjanjian Baru, Santo Yohanes mengembangkan Injilnya dengan tema-tema tentang cahaya Allah melawan kegelapan. St. Paulus, di sisi lain, menulis bahwa kita harus hidup sebagai anak-anak terang.<\/p>\n<p>Injil kita hari ini kemudian menekankan bahwa sama seperti pelita ditempatkan di atas kaki dian untuk menerangi seluruh rumah, iman kita kepada Allah sebagai terang juga harus membawa kita untuk bersaksi tentang keyakinan kita agar orang lain dapat mendengar, melihat, dan mengalaminya (lih. Yoh 1:1-7).<\/p>\n<p>Dua hal terkait dengan &#8220;membiarkan cahaya kita bersinar&#8221;:<\/p>\n<p>* Sama seperti cahaya harus terus menerus menegaskan dirinya untuk mengalahkan kegelapan, demikian pula hidup kita dalam iman bukanlah tugas yang mudah. Kita harus terus menerus memperkuat komitmen kita di tengah tantangan kegelapan yang datang dari masyarakat, orang lain, sistem, dan diri kita sendiri.<br \/>\n* Semakin api dinyalakan, ia memiliki kecenderungan alami untuk menjadi lebih besar! Demikian pula dengan iman kita. Iman yang dibagikan berulang kali juga menjadi iman yang diperkuat. Hal ini serupa dengan yang diungkapkan dalam pepatah bijak: \u201cLatihan membuat kita sempurna.\u201d<\/p>\n<p>Biarkan iman kita bersinar, hidup secara transparan dalam terang Allah, dan terus bertumbuh setiap hari dalam kepercayaan serta kasih. Pelita iman yang dinyalakan dalam diri kita bukanlah untuk disembunyikan, melainkan untuk menerangi dunia.<\/p>\n<p>Tuhan, semoga cahaya-Mu menembus diriku dan bersinar bagi banyak orang, menuntun mereka kembali kepada-Mu. Amin.<\/p>\n<p>Selamat memasuki pekan yang baru. Biarkan terangmu bercahaya! \u24bf\u24c1\u24ca! \u2764\ufe0f<br \/>\n\u2764\ufe0e.<\/p>\n<blockquote class=\"wp-embedded-content\" data-secret=\"NHKdOjJ0YO\"><p><a href=\"https:\/\/sacerdos2000.com\/biarlah-terangmu-bercahaya\/\">Biarlah Terangmu Bercahaya<\/a><\/p><\/blockquote>\n<p><iframe loading=\"lazy\" class=\"wp-embedded-content\" sandbox=\"allow-scripts\" security=\"restricted\" style=\"position: absolute; visibility: hidden;\" title=\"&#8220;Biarlah Terangmu Bercahaya&#8221; &#8212; Sacerdos2000\" src=\"https:\/\/sacerdos2000.com\/biarlah-terangmu-bercahaya\/embed\/#?secret=5e4Fro5gJM#?secret=NHKdOjJ0YO\" data-secret=\"NHKdOjJ0YO\" width=\"500\" height=\"282\" frameborder=\"0\" marginwidth=\"0\" marginheight=\"0\" scrolling=\"no\"><\/iframe><\/p>\n<p>RP Joni Astanto MSC<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Sabda Kehidupan Senin 22 September 2025 Lukas 8:16 (Luk 8:16-18) \u201dTidak ada orang yang menyalakan pelita lalu menutupinya dengan tempayan atau menempatkannya di bawah tempat tidur, tetapi ia menempatkannya di atas kaki dian, supaya&#46;&#46;&#46;<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":66662,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[1,20],"tags":[],"class_list":["post-85206","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-bacaan-harian","category-renungan-text"],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/katolikindonesia.org\/wp-content\/uploads\/2024\/12\/ardas-2025.png","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/85206","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=85206"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/85206\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":85207,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/85206\/revisions\/85207"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/66662"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=85206"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=85206"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=85206"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}