{"id":85105,"date":"2025-09-20T18:46:43","date_gmt":"2025-09-20T11:46:43","guid":{"rendered":"https:\/\/katolikindonesia.org\/?p=85105"},"modified":"2025-09-20T18:46:43","modified_gmt":"2025-09-20T11:46:43","slug":"sabtu-20-september-2025-5","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/katolikindonesia.org\/?p=85105","title":{"rendered":"Sabtu, 20 September 2025"},"content":{"rendered":"<p>Sabda Kehidupan<br \/>\nSabtu 20 September 2025<br \/>\nPeringatan St. Andreas Kim Tae Gon, St. Paulus Chong Hasang, dkk Para Martir Korea<\/p>\n<p>Lukas 8:5a, 6a, 7a, 8a (Luk 8:4-15)<br \/>\nBerkatalah Yesus dalam sebuah perumpamaan, \u201cAdalah seorang penabur keluar untuk menaburkan benihnya. Pada waktu ia menabur, sebagian benih itu jatuh di pinggir jalan\u2026Sebagian jatuh di tanah yang berbatu-batu\u2026Sebagian lagi jatuh di tengah semak duri\u2026Dan sebagian jatuh di tanah yang baik\u2026\u201d<\/p>\n<p>Belajar Dari Para Martir Korea<\/p>\n<p>Bila kita menyimak perumpamaan Yesus tentang penabur, pantaslah kita bertanya, mengapa si penabur tidak mempersiapkan terlebih dahulu tanah yang akan ditanami benih agar tanahnya subur sehingga dapat menghasilkan buah yang diharapkan? Mengapa ia menabur sesuka hatinya, terserah benih itu mau jatuh di mana? Lihatlah, ada yang jatuh di pinggir jalan, di antara tanah berbatu, di tengah semak berduri, dan hanya sebagian yang jatuh di tanah yang baik.<br \/>\nOleh karena si penabur adalah Allah sendiri, tentu Yesus menceritakan perumpamaan ini agar kita dapat memahami isi hati Allah yang menaburkan firmanNya kepada semua orang dan tak ada yang dikecualikan.<\/p>\n<p>Rahmat Allah dicurahkan kepada setiap orang, pria dan wanita, tua dan muda, kaya dan miskin, orang suci dan orang berdosa. Betapa Allah Bapa mencintai kita. Kita semua diberkati dengan anugerah yang melimpah.<br \/>\nUntuk dapat tumbuh subur dan berbuah, kita perlu berjuang, terus belajar, serta memanfaatkan semua anugerah yang Tuhan berikan, terutama iman dan akal budi agar tanah hati kita tetap subur. Jangan biarkan kekhawatiran dunia, dosa dan pelanggaran kita, menghimpit dan menghambat kita untuk tumbuh dan menghasilkan buah.<\/p>\n<p>Jangan menyerah dengan keadaan, tetap bersyukur dan selalu mengandalkan Tuhan. Untuk itu kita perlu berjuang bersama, saling mengingatkan, saling peduli dan bergandengan tangan.<br \/>\nDalam hal ini mari kita belajar dari para martir yang berasal dari Korea, Pastor Andreas Kim Tae Gon, Bapak Paulus Chong Hasang, dan kawan-kawan yang dianiaya dan dibunuh oleh penguasa Korea waktu itu sekitar tahun 1784, saat iman Kristiani ditaburkan di Korea.<br \/>\nOleh darah para Martir Korea itu, saat ini Korea Selatan menjadi negara Kristen dengan jumlah misionaris, penginjil, pastor, suster, frater yang banyak.<br \/>\nMari terus mempertahankan memperjuangkan iman kita, sekalipun terhimpit oleh semak duri kepicikan dunia, penolakan dan berbagai kesulitan hidup lainnya.<br \/>\nTeruslah berbuah di mana kita ditanam Tuhan.<\/p>\n<p>Selamat berakhir pekan. Tuhan Yesus menemani kita.\u2764\ufe0f<br \/>\nPs Revi Tanod Pr<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Kalender Liturgi 20 Sep 2025<br \/>\nSabtu Pekan Biasa XXIV<br \/>\nPW S. Andreas Kim Taegon, Imam, dan Paulus Chong Hasang, dkk. Martir Korea<br \/>\nWarna Liturgi: Merah<br \/>\nBait Pengantar Injil: Luk 8:15<br \/>\nBacaan Injil: Luk 8:4-15<br \/>\n***************<\/p>\n<p>Bait Pengantar Injil<br \/>\nLuk 8:15<br \/>\nBerbahagialah orang yang menyimpan sabda Allah<br \/>\ndalam hati yang baik dan tulus ikhlas<br \/>\ndan menghasilkan buah dalam ketekunan.<\/p>\n<p>Bacaan Injil<br \/>\nLuk 8:4-15<br \/>\nYang jatuh di tanah yang baik ialah orang yang mendengarkan sabda itu<br \/>\ndan menyimpannya dalam hati, dan menghasilkan buah dalam ketekunan.<\/p>\n<p>Inilah Injil Suci menurut Lukas:<\/p>\n<p>Banyak orang datang berbondong-bondong dari kota-kota sekitar kepada Yesus.<br \/>\nMaka kata Yesus dalam suatu perumpamaan,<br \/>\n&#8220;Adalah seorang penabur keluar menaburkan benih.<br \/>\nWaktu ia menabur sebagian benih itu jatuh di pinggir jalan,<br \/>\nlalu diinjak-injak orang<br \/>\ndan dimakan burung-burung di udara sampai habis.<br \/>\nSebagian jatuh di tanah yang berbatu-batu,<br \/>\ndan tumbuh sebentar, lalu layu karena tidak mendapat air.<br \/>\nSebagian lagi jatuh di tengah semak duri,<br \/>\nsehingga terhimpit sampai mati<br \/>\noleh semak-semak yang tumbuh bersama-sama.<br \/>\nDan sebagian jatuh di tanah yang baik,<br \/>\nlalu tumbuh dan berbuah seratus kali lipat.&#8221;<\/p>\n<p>Setelah itu Yesus berseru,<br \/>\n&#8220;Barangsiapa mempunyai telinga untuk mendengar,<br \/>\nhendaklah mendengar.&#8221;<\/p>\n<p>Para murid menanyakan kepada Yesus maksud perumpamaan itu.<br \/>\nYesus menjawab,<br \/>\n&#8220;Kalian diberi karunia mengetahui rahasia Kerajaan Allah,<br \/>\ntetapi hal itu diwartakan kepada orang lain dalam perumpamaan,<br \/>\nsupaya sekalipun memandang, mereka tidak melihat,<br \/>\ndan sekalipun mendengar, mereka tidak mengerti.<\/p>\n<p>Inilah arti perumpamaan itu: Benih itu ialah sabda Allah.<br \/>\nYang jatuh di pinggir jalan<br \/>\nialah orang yang telah mendengarnya,<br \/>\nkemudian datanglah Iblis,<br \/>\nlalu mengambil sabda itu dari dalam hati mereka,<br \/>\nsupaya mereka jangan percaya dan diselamatkan.<br \/>\nYang jatuh di tanah yang berbatu-batu,<br \/>\nialah orang yang setelah mendengar sabda itu,<br \/>\nmenerimanya dengan gembira,<br \/>\ntetapi mereka tidak berakar.<br \/>\nMereka hanya percaya sebentar saja<br \/>\ndan dalam masa pencobaan mereka murtad.<br \/>\nYang jatuh dalam semak duri,<br \/>\nialah orang yang mendengar sabda itu,<br \/>\ndan dalam pertumbuhan selanjutnya mereka terhimpit<br \/>\noleh kekuatiran, kekayaan dan kenikmatan hidup,<br \/>\nsehingga tidak menghasilkan buah yang matang.<\/p>\n<p>Yang jatuh di tanah yang baik<br \/>\nialah orang yang mendengar sabda itu<br \/>\ndan menyimpannya dalam hati yang baik,<br \/>\ndan mengeluarkan buah dalam ketekunan.&#8221;<\/p>\n<p>Demikianlah sabda Tuhan.<br \/>\n***************<\/p>\n<p>  \u210d <\/p>\n<p>\u201cBenih itu ialah firman Allah\u2026. Yang jatuh di tanah yang baik itu ialah orang, yang setelah mendengar firman itu, menyimpannya dalam hati yang baik dan mengeluarkan buah dalam ketekunan.\u201d (Luk 8: 11. 15)<\/p>\n<p>Tanah dihargai dari kesuburannya, yakni, seberapa produktif dan bagaimana tanah itu memberikan hasil yang diharapkan. Yesus menunjukkan kepada kita bagaimana agar \u201ctanah\u201d hati kita menghasilkan buah:<br \/>\n1. Mendengarkan Sabda dalam keterbukaan (Luk 8: 15). Untuk mendengarkan Sabda Allah, kita harus menyingkirkan segala kebisingan yang lain. Kita harus membangun roh keterbukaan. Seperti petani membalik-balik dan menggemburkan tanah dengan mencangkul atau membajaknya, kita juga perlu membalik-balik serta menggemburkan tanah hidup kita \u2013 mengusahakan perubahan-perubahan yang perlu \u2013 agar benih Sabda Allah dapat menembus ke lubuk hati dan bertumbuh dengan baik.<br \/>\n2. \u201cMenyimpannya\u201d (Luk 18: 15). Seorang petani \u201cmenyimpan\u201d benin itu dalam tanah, dengan menguburnya dan menutupnya dengan tanah dan pupuk. Atas cara itu, angin tidak dapat menerbangkannya dan burung-burung tidak dapat memakannya. Demikian juga, kita \u201cmenyimpan\u201d Sabda Allah dalam hati kita (Mzm 119: 11) dan tidak membiarkannya mubazir. Kita merenungkannya (Mzm 1: 2) meresapkannya dalam hati dan membuatnya bagian dari hidup kita.<br \/>\n3. Menghasilkan buah melalui ketekunan (Luk 8: 15). Kita sendiri tidak dapat menghasilkan buah; Sabda Allah itu yang menghasilkan buah. Akan tetapi, kita harus bertekun untuk bekerjasama dengan Roh Kudus dengan setia dan bijaksana (Mat 24: 45), mengajarkannya, dan mengatasi kecenderungan kita untuk bermalas-malasan dalam mewartakannya.<\/p>\n<p>Oleh sebab itu, mari bekerja keras mengusahakan tanah yang baik bagi Yesus. \u201cJanganlah kita jemu-jemu berbuat baik, karena apabila sudah datang waktunya, kita akan menuai,\u201d (Gal 6: 9).<\/p>\n<p>Tuhan, jadikanlah kami terbuka terhadap firman-Mu. Bebaskanlah kami dari kemalasan dan kekhawatiran akan keamanan dan kepastian hidup kami. Berikanlah kami wawasan baru akan Sabda-Mu, serta ketekunan untuk menghasilkan buah. Amin.<\/p>\n<p>Selamat Berakhir pekan. Hasilkan buah-buah Sabda Tuhan! \u24bf\u24c1\u24ca! \u2764\ufe0f<br \/>\n\u2764\ufe0e.<\/p>\n<blockquote class=\"wp-embedded-content\" data-secret=\"Iim1QoMfOA\"><p><a href=\"https:\/\/sacerdos2000.com\/menghasilkan-buah-dalam-ketekunan\/\">Menghasilkan Buah dalam Ketekunan<\/a><\/p><\/blockquote>\n<p><iframe loading=\"lazy\" class=\"wp-embedded-content\" sandbox=\"allow-scripts\" security=\"restricted\" style=\"position: absolute; visibility: hidden;\" title=\"&#8220;Menghasilkan Buah dalam Ketekunan&#8221; &#8212; Sacerdos2000\" src=\"https:\/\/sacerdos2000.com\/menghasilkan-buah-dalam-ketekunan\/embed\/#?secret=ut9qZRlQCl#?secret=Iim1QoMfOA\" data-secret=\"Iim1QoMfOA\" width=\"500\" height=\"282\" frameborder=\"0\" marginwidth=\"0\" marginheight=\"0\" scrolling=\"no\"><\/iframe><\/p>\n<p>RP Joni Astanto MSC<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Sabda Kehidupan Sabtu 20 September 2025 Peringatan St. Andreas Kim Tae Gon, St. Paulus Chong Hasang, dkk Para Martir Korea Lukas 8:5a, 6a, 7a, 8a (Luk 8:4-15) Berkatalah Yesus dalam sebuah perumpamaan, \u201cAdalah seorang&#46;&#46;&#46;<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":66662,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[1,20],"tags":[],"class_list":["post-85105","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-bacaan-harian","category-renungan-text"],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/katolikindonesia.org\/wp-content\/uploads\/2024\/12\/ardas-2025.png","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/85105","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=85105"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/85105\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":85106,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/85105\/revisions\/85106"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/66662"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=85105"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=85105"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=85105"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}