{"id":84926,"date":"2025-09-17T10:00:21","date_gmt":"2025-09-17T03:00:21","guid":{"rendered":"https:\/\/katolikindonesia.org\/?p=84926"},"modified":"2025-09-17T10:00:21","modified_gmt":"2025-09-17T03:00:21","slug":"rabu-17-september-2025-5","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/katolikindonesia.org\/?p=84926","title":{"rendered":"Rabu, 17 September 2025"},"content":{"rendered":"<p>Sabda Kehidupan<br \/>\nRabu 17 September 2025<br \/>\nLuk 7:33-35 (Luk 7:31-35)<br \/>\n\u201dYohanes Pembaptis datang, ia tidak makan roti dan tidak minum anggur, dan kamu berkata: Ia kerasukan setan. Kemudian Anak Manusia datang, Ia makan dan minum, dan kamu berkata: Lihatlah, Ia seorang pelahap dan peminum, sahabat pemungut cukai dan orang berdosa. Tetapi hikmat dibenarkan oleh semua orang yang menerimanya.&#8221;<\/p>\n<p>Hidup Dalam Hikmat Tuhan<\/p>\n<p>Orang-orang Farisi dan para ahli Taurat selalu merasa benar sendiri dan menolak cara hidup orang lain yang tidak sejalan dengan mereka.<br \/>\nDemikianlah yang mereka lakukan terhadap Yohanes Pembaptis maupun terhadap Yesus. Keduanya mereka tolak. Yohanes dituduh kerasukan setan karena ia tidak makan roti dan minum anggur, sementara Yesus mereka tuduh pelahap dan pemabuk, karena Ia makan dan minum bersama para pendosa.<\/p>\n<p>Bila orang sudah berprasangka buruk terhadap seseorang, apapun yang dilakukan orang itu pastilah salah. Begitu juga bila orang merasa diri paling benar, maka tak ada lagi yang benar dari orang lain.<br \/>\nHikmat dan kebenaran bukanlah soal siapa yang paling benar tapi keterbukaan hati dan budi terhadap semua kebenaran, lepas dari siapa yang menyampaikannya, entah menyenangkan atau tidak.<\/p>\n<p>Orang yang berhikmat adalah orang yang rendah hati dan selalu mencari hikmat Tuhan yakni kebenaran yang berasal dari Allah.<br \/>\nDikatakan dalam Amsal 9:10, \u201cPermulaan hikmat adalah takut akan Tuhan, dan mengenal Yang Mahakudus adalah pengertian.\u201d<br \/>\nYesus menghendaki kita menjadi orang yang berhikmat, pencari kebenaran sejati, orang yang mau menyelami realita dan pribadi orang lebih dalam. Mau memahami dan mengerti kehendak Tuhan di balik segala peristiwa hidup.<\/p>\n<p>Dalam terang Roh Kudus mari kita mohon agar dimampukan melihat kebaikan dalam diri orang lain, dan mengalami kehadiran Tuhan dalam kebersamaan dengan sesama, siapapun dia.<br \/>\nMari merangkul hikmat Tuhan, selalu mengandalkan Tuhan dan mencari kehendakNya, serta \u201chanya bermegah dalam Tuhan.\u201d (1 Kor 1:31).<\/p>\n<p>Selamat hari Rabu. Hikmat dan kebijkasanaan Tuhan menyertai kita\u2764\ufe0f<br \/>\nPs Revi Tanod Pr<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Kalender Liturgi 17 Sep 2025<br \/>\nRabu Pekan Biasa XXIV<br \/>\nPF S. Robertus Bellarmino, Uskup dan Pujangga Gereja<br \/>\nWarna Liturgi: Hijau<br \/>\nBait Pengantar Injil: Yoh 6:64b.69b<br \/>\nBacaan Injil: Luk 7:31-35<br \/>\n***************<\/p>\n<p>Bait Pengantar Injil<br \/>\nYoh 6:64b.69b<br \/>\nSabda-Mu, ya Tuhan, adalah roh dan kehidupan.<br \/>\nPada-Mulah sabda kehidupan kekal.<\/p>\n<p>Bacaan Injil<br \/>\nLuk 7:31-35<br \/>\nHikmat Allah dibenarkan oleh orang yang menerimanya.<\/p>\n<p>Inilah Injil Suci menurut Lukas:<\/p>\n<p>Sekali peristiwa berkatalah Yesus kepada orang banyak,<br \/>\n&#8220;Dengan apakah akan Kuumpamakan orang-orang dari angkatan ini?<br \/>\nMereka sama dengan anak-anak yang duduk di pasar dan berseru-seru,<br \/>\n&#8216;Kami meniup seruling bagimu, tetapi kalian tidak menari.<br \/>\nKami menyanyikan kidung duka, tetapi kalian tidak menangis.&#8217;<\/p>\n<p>Sebab ketika Yohanes Pembaptis datang,<br \/>\ndan ia tidak makan roti, dan tidak minum anggur,<br \/>\nkalian berkata, &#8216;Ia kerasukan setan.&#8217;<\/p>\n<p>Kemudian Anak Manusia datang,<br \/>\nIa makan dan minum, dan kalian berkata,<br \/>\n&#8216;Lihatlah, seorang pelahap dan peminum,<br \/>\nsahabat pemungut cukai dan orang berdosa.&#8217;<br \/>\nTetapi hikmat dibenarkan oleh semua orang yang menerimanya.&#8221;<\/p>\n<p>Demikianlah sabda Tuhan.<br \/>\n***************<\/p>\n<p>  \u210ddup \u2618\ufe0f<\/p>\n<p>\u201cKami meniup seruling bagimu, tetapi kamu tidak menari, kami menyanyikan kidung duka, tetapi kamu tidak menangis.\u201d [Luk 7: 32]<\/p>\n<p>Pengalaman sering kali menunjukkan kepada kita bahwa manusia sulit untuk dipuaskan. Perumpamaan Yesus dalam Injil hari ini berkata: \u201cKami meniup seruling bagimu, tetapi kamu tidak menari; kami menyanyikan kidung duka, tetapi kamu tidak menangis.\u201d Tidak ada yang dapat memuaskan kita. Kita selalu mencari sesuatu yang berbeda, sesuatu yang lebih baik, seolah-olah hidup adalah menu di mana kita bisa memesan apa pun yang kita inginkan. Namun kenyataannya, kebahagiaan tidak datang dengan memiliki segalanya, tetapi dengan belajar menghargai apa yang sudah kita miliki. Hari ini, tanyakan pada diri sendiri: apakah aku menghargai orang-orang yang Tuhan tempatkan dalam hidupku, atau apakah aku selalu fokus pada apa yang hilang? Apakah yang aku lihat, gelas setengah penuh atau setengah kosong?<\/p>\n<p>Ada juga godaan untuk mencela segala sesuatu. Beberapa orang mencampuri urusan yang bahkan tidak mereka pahami, menyebarkan negativitas ke mana pun mereka pergi. Namun, celaan yang terus-menerus membuat kita menjadi pahit dan sendirian. Ingatlah, bahkan Yesus pun dicela \u2014 kata-kata-Nya, tindakan-Nya, bahkan keheningan-Nya! Namun, Dia tidak pernah membiarkan semua itu menghentikan-Nya untuk melakukan kehendak Bapa. Jika kita mengikuti-Nya, kita pun harus belajar tidak takut pada celaan, tetapi berjalan maju dengan keberanian.<\/p>\n<p>Jalan ke depan adalah anugerah kebijaksanaan. Kebijaksanaan memungkinkan kita menikmati hidup, merasakan keindahannya dan tantangannya tanpa rasa dendam. Hidup ini singkat; hidup tidak dimaksudkan untuk dihabiskan dalam kepahitan. Setiap hari Allah mengirimkan kepada kita orang-orang dan situasi yang dapat membantu kita bertumbuh, asalkan kita menerimanya dengan kerendahan hati dan rasa syukur.<\/p>\n<p>Mari kita mohon kepada Roh Kudus agar kita dikaruniai kebijaksanaan sehingga dapat mengenali berkat-berkat yang sudah ada, menahan diri dari keinginan untuk mencela, dan hidup dengan hati yang bersyukur. Hanya dengan begitu kita akan menemukan kepenuhan hidup dalam Kritus.<\/p>\n<p>Tuhan, semoga kami dapat mengenali berkat-berkat yang telah kami terima dan hidup dengan hati penuh syukur. Amin.<\/p>\n<p>Selamat beraktivitas hari ini. Selalu bersyukur! \u24bf\u24c1\u24ca! \u2764\ufe0f<br \/>\n\u2764\ufe0e.<\/p>\n<blockquote class=\"wp-embedded-content\" data-secret=\"lclHWKGCtG\"><p><a href=\"https:\/\/sacerdos2000.com\/tak-ada-yang-dapat-memuaskan-kita\/\">Tak Ada Yang Dapat Memuaskan Kita<\/a><\/p><\/blockquote>\n<p><iframe loading=\"lazy\" class=\"wp-embedded-content\" sandbox=\"allow-scripts\" security=\"restricted\" style=\"position: absolute; visibility: hidden;\" title=\"&#8220;Tak Ada Yang Dapat Memuaskan Kita&#8221; &#8212; Sacerdos2000\" src=\"https:\/\/sacerdos2000.com\/tak-ada-yang-dapat-memuaskan-kita\/embed\/#?secret=tVCszZLjHY#?secret=lclHWKGCtG\" data-secret=\"lclHWKGCtG\" width=\"500\" height=\"282\" frameborder=\"0\" marginwidth=\"0\" marginheight=\"0\" scrolling=\"no\"><\/iframe><\/p>\n<p>RP Joni Astanto MSC<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Sabda Kehidupan Rabu 17 September 2025 Luk 7:33-35 (Luk 7:31-35) \u201dYohanes Pembaptis datang, ia tidak makan roti dan tidak minum anggur, dan kamu berkata: Ia kerasukan setan. Kemudian Anak Manusia datang, Ia makan dan&#46;&#46;&#46;<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":66662,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[1,20],"tags":[],"class_list":["post-84926","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-bacaan-harian","category-renungan-text"],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/katolikindonesia.org\/wp-content\/uploads\/2024\/12\/ardas-2025.png","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/84926","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=84926"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/84926\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":84927,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/84926\/revisions\/84927"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/66662"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=84926"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=84926"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=84926"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}