{"id":84835,"date":"2025-09-15T09:52:31","date_gmt":"2025-09-15T02:52:31","guid":{"rendered":"https:\/\/katolikindonesia.org\/?p=84835"},"modified":"2025-09-15T09:52:31","modified_gmt":"2025-09-15T02:52:31","slug":"senin-15-september-2025-5","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/katolikindonesia.org\/?p=84835","title":{"rendered":"Senin, 15 September 2025"},"content":{"rendered":"<p>Sabda Kehidupan<br \/>\nSenin 15 September 2025<br \/>\nPeringatan Santa Maria Berdukacita<br \/>\nYohanes 19:25-27<br \/>\nDekat salib Yesus berdiri ibu-Nya dan saudara ibu-Nya, Maria, isteri Klopas dan Maria Magdalena. Ketika Yesus melihat ibu-Nya dan murid yang dikasihi-Nya di sampingnya, berkatalah Ia kepada ibu-Nya: &#8220;Ibu, inilah, anakmu!&#8221; Kemudian kata-Nya kepada murid-murid-Nya: &#8220;Inilah ibumu!&#8221; Dan sejak saat itu murid itu menerima dia di dalam rumahnya.<\/p>\n<p>Derita Yesus Adalah Derita IbuNya<\/p>\n<p>Meskipun dipilih dan diangkat sebagai Ibu Yesus, Putra Allah Mahatinggi, Penebus umat manusia, Raja segala raja, Bunda Maria tak luput dari dukacita. Ia ikut menanggung semua derita yang ditanggung Yesus Puteranya.<br \/>\nKisah yang begitu agung dan menggembirakan tentang pemberitaan kelahiran Yesus oleh malaikat Gabriel kepada Maria, tak luput dari kisah derita yang harus ditanggung Maria sebagai tanda cinta dan konsekwensi pilihannya, melahirkan dan membesarkan Yesus.<\/p>\n<p>Tercatat dalam Injil 7 dukacita Maria ini: 1) Ia melahirkan Yesus di kandang hina Betlehem; 2) Bersama Yesus dan Yosep mereka mengungsi ke Mesir; 3) Dengan susah payah bersama Yosep ia mencari Yesus yang hilang di Yerusalem tiga hari lamanya; 4) Maria ikut menemani Yesus di jalan salib yang menyakitkan; 5) Dengan penuh duka ia harus memandang Yesus puteranya wafat di salib; 6) Lalu membaringkanNya dalam pangkuannya saat Yesus telah terbujur kaku, dan 7) akhirnya ia harus memakamkan Yesus dengan hati pilu dan sedih. Sungguh Maria telah menjadi Ibu yang penuh kasih setia bagi Yesus.<\/p>\n<p>Betapa bahagianya kita ketika di atas kayu salib, Yesus menganugerahkan BundaNya Maria menjadi Bunda kita juga. Kepada kita Yesus berkata, \u201cInilah ibumu!\u201d Bunda Yesus yang penuh kasih setia, yang rela menderita dan menanggung duka Anaknya kini menjadi Bunda kita.<br \/>\nKasih Yesus dan kesetiaan Maria BundaNya telah dimahkotai Bapa Surgawi dengan sukacita Paskah. Derita dan duka diganti sukacita surgawi karena Yesus telah bangkit dan menjadi Pemenang jaya. Yesus-pun memahkotai Maria ibuNya menjadi Ratu Surgawi.<\/p>\n<p>\u201dBunda Maria doakan kami selalu agar kami setia mengikuti Yesus baik dalam suka terlebih di tengah duka dan derita. Biarlah kami ikut menikmati janji Kristus berbahagia bersamaNya di surga.\u201d<\/p>\n<p>Di balik duka selalu ada suka. Mari terus berjalan dalam sukacita iman bersama Bunda Maria.\u2764\ufe0f<br \/>\nPs Revi Tanod Pr<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Kalender Liturgi 15 Sep 2025<br \/>\nSenin Pekan Biasa XXIV<br \/>\nPW S.P. Maria Berdukacita<br \/>\nWarna Liturgi: Putih<br \/>\nBait Pengantar Injil: Yoh 3:16<br \/>\nBacaan Injil: Yoh 19:25-27<br \/>\n**************<\/p>\n<p>Bait Pengantar Injil<br \/>\nYoh 3:16<br \/>\nBegitu besar kasih Allah kepada dunia,<br \/>\nsehingga Ia mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal.<br \/>\nSetiap orang yang percaya akan Dia, memiliki hidup abadi.<\/p>\n<p>Bacaan Injil<br \/>\nYoh 19:25-27<br \/>\nInilah anakmu! &#8211; Inilah ibumu!<\/p>\n<p>Inilah Injil Suci menurut Yohanes:<\/p>\n<p>Waktu Yesus bergantung di salib,<br \/>\ndidekat salib itu berdirilah ibu Yesus<br \/>\ndan saudara ibu Yesus,<br \/>\nMaria, isteri Klopas dan Maria Magdalena.<br \/>\nKetika Yesus melihat ibu-Nya<br \/>\ndan murid yang dikasihi-Nya di sampingnya,<br \/>\nberkatalah Ia kepada ibu-Nya,<br \/>\n&#8220;Ibu, inilah, anakmu!&#8221;<br \/>\nKemudian kata-Nya kepada murid-Nya,<br \/>\n&#8220;Inilah ibumu!&#8221;<br \/>\nDan sejak saat itu murid itu menerima ibu Yesus di dalam rumahnya.<\/p>\n<p>Demikianlah sabda Tuhan.<br \/>\n**************<\/p>\n<p>  \u210d <\/p>\n<p>\u201cDan dekat salib Yesus berdiri ibu-Nya dan saudara ibu-Nya, Maria, isteri Klopas dan Maria Magdalena.\u201d (Yoh 19: 25)<\/p>\n<p>Hari ini, kita memperingati Santa Perawan Maria Berdukacita, Bunda yang setia berdiri di kaki Salib. Pada tahun 1233, tujuh orang saleh di Florence masing-masing menerima penglihatan dari Santa Perawan Maria, yang menginspirasi mereka untuk membentuk komunitas religius yang kemudian dikenal sebagai Ordo Servites (Ordo Servorum Beatae Mariae Virginis; disingkat OSM). Devosi ini bermula berabad-abad yang lalu, dan melalui Ordo Hamba-Hamba Maria dan doa-doa Gereja, devosi ini berkembang menjadi perayaan yang dirayakan oleh seluruh umat beriman. Namun, lebih dari sekadar sejarah, hari ini adalah undangan untuk melihat ke dalam hati Maria, hati yang menderita bersama Putranya namun tidak pernah kehilangan harapan.<\/p>\n<p>Sejak awal, Maria tahu bahwa hidupnya bersama Yesus tidak akan mudah. Ketika ia mempersembahkan-Nya di Bait Suci, Simeon mengumumkan bahwa pedang akan menembus hatinya. Nubuat itu terpenuhi saat ia menjalani peristiwa-peristiwa dalam hidupnya\u2014dalam pelarian ke Mesir, dalam kehilangan Anak Yesus selama tiga hari, dalam perjumpaan dengan Puteranya di jalan menuju Kalvari, dan terutama saat berdiri di bawah Salib ketia Ia menyerahkan hidup-Nya untuk kita.<\/p>\n<p>Saat ia menjalani kesedihan-kesedihan ini dengan cinta seorang ibu, kita menyadari bahwa ia tidak lari, tidak protes dengan marah, dan tidak tenggelam dalam keputusasaan. Sebaliknya, ia tetap tinggal, tetap dekat dengan Putranya dengan kekuatan, kelembutan, dan belas kasihan. Itulah mengapa Gereja memberikan dia kepada kita sebagai Bunda Maria dari Kesedihan\u2014karena ia mengajarkan kita bagaimana menghadapi penderitaan tanpa hancur olehnya.<\/p>\n<p>Kadang-kadang kita berpikir dukacita berarti kekalahan. Tetapi Injil mengajarkan kita sesuatu yang berbeda. Yesus berkata, \u201cBerbahagialah mereka yang berdukacita, sebab mereka akan dihibur.\u201d Dukacita yang sejati lahir dari cinta. Dukacita Maria bukanlah kesedihan yang mengasihani diri sendiri.<\/p>\n<p>Kita pun membawa dukacita. Kita tahu rasa sakit karena kehilangan, beban ketidakadilan, karena hubungan yang hancur. Maria mengajak kita untuk tidak menyangkal dukacita itu, juga tidak membiarkannya berubah menjadi kepahitan, tetapi untuk hidup dengannya dengan iman. Dia menunjukkan kepada kita bahwa dukacita, ketika dijalani dengan cinta, dapat menjadi jalan menuju belas kasihan yang lebih dalam, cara untuk tetap dekat dengan Yesus, dan bahkan sumber kehidupan baru.<\/p>\n<p>Maria terus menemani kita dalam dukacita kita sendiri, berbisikkan harapan, selalu menunjuk kepada Putranya yang mengubah kematian menjadi kehidupan. Mari kita serahkan hati kita kepada-Nya hari ini, memohon agar Dia mengajarkan kita cara mencintai bahkan dalam penderitaan, sehingga kesedihan kita dapat menjadi benih kebangkitan.<\/p>\n<p>Saat kita memperingati dukacita Maria, mari kita berdoa bagi mereka yang terus menerus menanggung penderitaan, agar mereka menerima kekuatan yang sungguh mereka butuhkan dari Tuhan, untuk memikul salib mereka. Mari kita berusaha masuk dalam hati yang menderita dari para ibu di Gaza, Libanon, Ukraina, Rusia, Sudan, Papua, Jakarta, mereka yang masih setia \u201ckamisan\u201d, dan segala penjuru dunia yang sungguh-sungguh berduka bagi anak-anak mereka.<\/p>\n<p>Mari kita juga dengan hati penuh penyesalan kita ingat bahwa dosa-dosa kita telah menyebabkan Yesus dan Maria menderita.<\/p>\n<p>Bunda Maria, ajar kami menanggung dukacita dengan cinta. Amin.<\/p>\n<p>Selamat beraktivitas di pekan yang baru. Tetap teguh dalam iman! \u24bf\u24c1\u24ca! \u2764\ufe0f<br \/>\n\u2764\ufe0e.<\/p>\n<blockquote class=\"wp-embedded-content\" data-secret=\"9FX5bmxpee\"><p><a href=\"https:\/\/sacerdos2000.com\/maria-berdukacita\/\">Maria Berdukacita<\/a><\/p><\/blockquote>\n<p><iframe loading=\"lazy\" class=\"wp-embedded-content\" sandbox=\"allow-scripts\" security=\"restricted\" style=\"position: absolute; visibility: hidden;\" title=\"&#8220;Maria Berdukacita&#8221; &#8212; Sacerdos2000\" src=\"https:\/\/sacerdos2000.com\/maria-berdukacita\/embed\/#?secret=qPAZS3pDdJ#?secret=9FX5bmxpee\" data-secret=\"9FX5bmxpee\" width=\"500\" height=\"282\" frameborder=\"0\" marginwidth=\"0\" marginheight=\"0\" scrolling=\"no\"><\/iframe><\/p>\n<p>RP Joni Astanto MSC<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Sabda Kehidupan Senin 15 September 2025 Peringatan Santa Maria Berdukacita Yohanes 19:25-27 Dekat salib Yesus berdiri ibu-Nya dan saudara ibu-Nya, Maria, isteri Klopas dan Maria Magdalena. Ketika Yesus melihat ibu-Nya dan murid yang dikasihi-Nya&#46;&#46;&#46;<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":66662,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[1,20],"tags":[],"class_list":["post-84835","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-bacaan-harian","category-renungan-text"],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/katolikindonesia.org\/wp-content\/uploads\/2024\/12\/ardas-2025.png","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/84835","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=84835"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/84835\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":84836,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/84835\/revisions\/84836"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/66662"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=84835"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=84835"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=84835"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}