{"id":84815,"date":"2025-09-14T21:20:32","date_gmt":"2025-09-14T14:20:32","guid":{"rendered":"https:\/\/katolikindonesia.org\/?p=84815"},"modified":"2025-09-14T21:20:36","modified_gmt":"2025-09-14T14:20:36","slug":"senin-15-september-2025-2","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/katolikindonesia.org\/?p=84815","title":{"rendered":"Senin, 15 September 2025"},"content":{"rendered":"\n<h2 class=\"wp-block-heading\"><strong>ANTIFON PEMBUKA \u2013 Bdk. Luk. 2: 34-35<\/strong><\/h2>\n\n\n\n<h4 class=\"wp-block-heading\">Simeon berkata kepada Maria, \u201cAnak ini menentukan jatuh bangkitnya banyak orang di Israel.&nbsp;Ia menjadi tanda yang menimbulkan pertentangan. Dan hatimu sendiri akan ditembus oleh pedang.\u201d<\/h4>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\"><strong>PENGANTAR:<\/strong><\/h2>\n\n\n\n<h4 class=\"wp-block-heading\">Menjadi Bunda Penebus adalah suatu kehormatan, suatu anugerah. Tetapi bagi Bunda Maria bukan tanpa duka cita. Ia sudah mendengar hal itu ketika bertemu dengan Simeon di kenisah. Kemudian ia tahu iri hati dan kebencian kaum Farisi dan ahli kitab terhadap puteranya. Ia mendengar pula berita sewaktu Puteranya ditahan dan sikap orang Yahudi pada hari Jumat Agung. Ia menyaksikan juga perjalan Puteranya ke puncak Kalvari dan penderitaan-Nya di salib. Tak dapat dilukiskan apa yang terjadi di dalam hati seorang ibu dalam suasana demikian. Namun ia tetap pada tugasnya di bawah salib.<\/h4>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\"><strong>DOA KOLEKTAN:<\/strong><\/h2>\n\n\n\n<h4 class=\"wp-block-heading\">Marilah berdoa:&nbsp;Allah Bapa, sumber kekuatan kami, ketika Putera-Mu ditinggikan di salib, Ibunda-Nya berdiri di situ dan ikut menderita. Semoga kami pun ikut serta dalam sengsara yang diderita Kristus demi keselamatan umat manusia, agar kami dapat ikut serta pula dibangkitkan bersama Dia, yang hidup \u2026<\/h4>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\"><strong>BACAAN PERTAMA: Bacaan dari Surat kepada Orang Ibrani 5:7-9<\/strong><\/h2>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\"><strong><em>\u201cYesus pokok keselamatan abadi bagi semua orang yang taat kepada-Nya\u201d&nbsp;<\/em><\/strong><\/h3>\n\n\n\n<h4 class=\"wp-block-heading\">Saudara-saudara, dalam hidup-Nya sebagai manusia, Kristus telah mempersembahkan doa dan permohonan dengan ratap tangis dan keluhan kepada Dia yang sanggup menyelamatkan-Nya dari maut. Dan karena kesalehan-Nya, Ia telah didengarkan. Akan tetapi, sekalipun Anak Allah, Yesus telah belajar menjadi taat; dan ini ternyata dari apa yang telah diderita-Nya. Dan sesudah mencapai kesempurnaan, Ia menjadi pokok keselamatan abadi bagi semua orang yang taat kepada-Nya.<br>Demikianlah sabda Tuhan<br>U. Syukur kepada Allah.<\/h4>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\"><strong>MAZMUR TANGGAPAN: Mazmur 31:2-3a.3bc-4.5-6.15-16.20<\/strong><\/h2>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\"><strong><em>Ref.<\/em><em>&nbsp;Selamatkanlah aku, ya Tuhan, oleh kasih setia-Mu.<\/em><\/strong><\/h3>\n\n\n\n<ol class=\"wp-block-list\">\n<li>Pada-Mu, ya Tuhan, aku berlindung, jangan sekali-kali aku mendapat malu. Luputkanlah aku oleh karena keadilan-Mu, sendengkanlah telinga-Mu kepadaku, bersegeralah melepaskan daku.<\/li>\n\n\n\n<li>Jadilah bagiku gunung batu tempat berlindung, dan kubu pertahanan untuk menyelamatkan daku! Sebab Engkaulah bukit batu dan pertahananku; oleh karena nama-Mu Engkau akan menuntun dan membimbing aku.<\/li>\n\n\n\n<li>Engkau akan mengeluarkan aku dari jaring yang dipasang orang terhadap aku, sebab Engkaulah tempat perlindunganku. Ke dalam tangan-Mu kuserahkan nyawaku; sudilah membebaskan daku, ya Tuhan, Allah yang setia.<\/li>\n\n\n\n<li>Tetapi aku, kepada-Mu, ya Tuhan, aku percaya, aku berkata, \u201cEngkaulah Allahku!\u201d Masa hidupku ada dalam tangan-Mu, lepaskanlah aku dari tangan musuh-musuhku dan bebaskanlah dari orang-orang yang mengejarku.<\/li>\n\n\n\n<li>Alangkah limpahnya kebaikan-Mu yang telah Kausimpan bagi orang yang takwa kepada-Mu, yang telah Kaulakukan di hadapan manusia bagi orang yang berlindung pada-Mu!<\/li>\n<\/ol>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\"><strong>SEKUENSIA (Lihat Bunda Yang Berduka \/ Stabat mater dolorosa), PS 639&nbsp;<\/strong><em>-fakultatif<\/em><\/h2>\n\n\n\n<ol class=\"wp-block-list\">\n<li>Lihat bunda yang berduka \/ di depan salib Sang Putra ; air mata bergenang. \/ O betapa jiwa ibu \/ tersedu menanggung pilu, bagai ditembus pedang.<\/li>\n\n\n\n<li>\u00a0Bunda Putra Tunggal Allah disebut Yang Berbahagia \/ kini sangat bersedih. \/ Hatinya dirundung duka, kar\u2019na putra yang termulia bersengsara di salib.<\/li>\n\n\n\n<li>O siapa tidak pilu menyaksikan bunda Kristus menangisi Putranya? \/ Dan siapa tak tergugah menyelami duka bunda kar\u2019na siksa Anak-Nya.<\/li>\n\n\n\n<li>Dilihatnya Yesus, putra, yang tersiksa dan terluka \/ kar\u2019na dosa umat-Nya \/ dan bergumul sendirian \/ menghadapi kematian \/ menyerahkan nyawa-Nya.<\/li>\n\n\n\n<li>Wahai bunda sumber kasih, \/ biar turut kuhayati dukamu yang mencekam; biar hatiku bernyala \/ mengasihi Putra Allah dan pada-Nya berkenan.<\/li>\n\n\n\n<li>Biarlah sengsara aib \/ dari Dia yang tersalib tersemat di hatiku; biar siksa salib itu \/ yang ditanggung-Nya bagiku kudekap bersamamu.<\/li>\n\n\n\n<li>Biar aku di sampingmu \/ pilu kar\u2019na wafat Kristus di sepanjang hidupku; inilah keinginanku: \/ di dekat salib Putramu besertamu tersedu.<\/li>\n\n\n\n<li>O perawan yang terpilih, \/ perkenankan aku ini ikut dikau bersedih;biar kematian Tuhan \/ dan darah-Nya yang tercurah kukenangkan tak henti.<\/li>\n\n\n\n<li>Biar aku pun terluka \/ menghayati salib Tuhan, digerakkan kasih-Nya. Hatiku engkau kobarkan; \/ biar aku dibebaskan dalam penghakiman-Nya.<\/li>\n\n\n\n<li>Biarlah salib Tuhanku \/ jadi benteng naunganku, dan kurasa rahmat-Nya.Bila nanti aku mati \/ biar aku mewarisi kemuliaan yang kekal.<\/li>\n<\/ol>\n\n\n\n<h4 class=\"wp-block-heading\"><em>Stabat mater dolorosa<br>juxta crucem lacrimosa,<br>dum pendebat filius.<\/em><\/h4>\n\n\n\n<h4 class=\"wp-block-heading\"><em>Cujus animam gementem,<br>contristatam et dolentem<br>per transivit gladius.<\/em><\/h4>\n\n\n\n<h4 class=\"wp-block-heading\"><em>O quam tristis et afflicta<br>fuit illa benedicta<br>Mater Unigeniti!<\/em><\/h4>\n\n\n\n<h4 class=\"wp-block-heading\"><em>Quae moerebat et dolebat,<br>et tremebat cum videbat<br>nati poenas inclyti.<\/em><\/h4>\n\n\n\n<h4 class=\"wp-block-heading\"><em>Quis est homo qui non fleret,<br>Christi materm si videret<br>in tanto supplicio?<\/em><\/h4>\n\n\n\n<h4 class=\"wp-block-heading\"><em>Quis non posset contristari,<br>piam Matrem contemplari<br>dolentem cum Filio?<\/em><\/h4>\n\n\n\n<h4 class=\"wp-block-heading\"><em>Pro peccatis suae gentis,<br>vidit Jesum in tormentis<br>et flagellis subditum.<\/em><\/h4>\n\n\n\n<h4 class=\"wp-block-heading\"><em>Vidit suum dulcem natum,<br>morientem, desolatum,<br>dum emisit spiritum.<\/em><\/h4>\n\n\n\n<h4 class=\"wp-block-heading\"><em>Eja Mater, fons amoris,<br>Me sentire vim doloris<br>Fac, ut tecum lugeam.<\/em><\/h4>\n\n\n\n<h4 class=\"wp-block-heading\"><em>Fac, ut ardeat cor meum<br>In amando Christum Deum,<br>Ut sibi complaceam.<\/em><\/h4>\n\n\n\n<h4 class=\"wp-block-heading\"><em>Sancta Mater, istud agas,<br>Crucifixi fige plagas<br>Cordi meo valide.<\/em><\/h4>\n\n\n\n<h4 class=\"wp-block-heading\"><em>Tui nati vulnerati,<br>Tam dignati pro me pati,<br>Mecum poenas divide.<\/em><\/h4>\n\n\n\n<h4 class=\"wp-block-heading\"><em>Fac me vere tecum flere,<br>Crucifixo condolere,<br>Donec ego vixero.<\/em><\/h4>\n\n\n\n<h4 class=\"wp-block-heading\"><em>Juxta crucem tecum stare,<br>Te libenter sociare<br>In planctu desidero.<\/em><\/h4>\n\n\n\n<h4 class=\"wp-block-heading\"><em>Virgo virginum praeclara,<br>Mihi jam non sis amara,<br>Fac me tecum plangere.<\/em><\/h4>\n\n\n\n<h4 class=\"wp-block-heading\"><em>Fac, ut portem Christi mortem,<br>Passionis eius sortem,<br>Et plagas recolere.<\/em><\/h4>\n\n\n\n<h4 class=\"wp-block-heading\"><em>Fac me plagis vulnerari,<br>Cruce hac inebriari,<br>Ob amorem Filii.<\/em><\/h4>\n\n\n\n<h4 class=\"wp-block-heading\"><em>Inflammatus et accensus<br>Per te, Virgo, sim defensus<br>In die judicii.<\/em><\/h4>\n\n\n\n<h4 class=\"wp-block-heading\"><em>Fac me cruce custodiri,<br>Morte Christi muniri,<br>Confoveri gratia.<\/em><\/h4>\n\n\n\n<h4 class=\"wp-block-heading\"><em>Quando corpus morietur,<br>Fac, ut animae donetur<br>Paradisi gloria.<\/em><\/h4>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\"><strong>BAIT PENGANTAR INJIL:<\/strong><\/h2>\n\n\n\n<h4 class=\"wp-block-heading\">U :<em>&nbsp;Alleluya, alleluya<\/em><br>S :<em>&nbsp;Berbahagialah Engkau, Sang Perawan Maria, sebab di bawah salib Tuhan engkau menjadi martir tanpa menumpahkan darahmu<\/em><\/h4>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\"><strong>BACAAN INJIL: Inilah Injil Yesus Kristus menurut Yohanes 19:25-27<\/strong><\/h2>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\"><strong><em>\u201cInilah anakmu\u2026 Inilah ibumu\u201d<\/em><\/strong><\/h3>\n\n\n\n<h4 class=\"wp-block-heading\">Waktu Yesus bergantung di salib, di dekat salib itu berdirilah ibu Yesus dan saudara ibu Yesus, isteri Kleopas dan Maria Magdalena. Ketika Yesus melihat ibu-Nya dan murid yang dikasihi-Nya di sampingnya, berkatalah Ia kepada ibu-Nya, \u201cIbu, inilah anakmu!\u201d kemudian kata-Nya kepada murid-Nya, \u201cInilah ibumu!\u201d Dan sejak saat itu murid itu menerima ibu Yesus di dalam rumahnya.<br>Demikianlah Injil Tuhan<br>U. Terpujilah Kristus.<\/h4>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\"><strong>ATAU:<\/strong><\/h2>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\"><strong>BACAAN INJIL: Inilah Injil Yesus Kristus menurut Lukas 2:33-35<\/strong><\/h2>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\"><em><strong>\u201cSuatu pedang akan menembus jiwamu sendiri.\u201d<\/strong><\/em><\/h3>\n\n\n\n<h4 class=\"wp-block-heading\">Ketika Maria dan Yusuf mempersembahkan Anak Yesus di Bait Suci, mereka amat heran mendengar pernyataan Simeon tentang Anak Yesus. Lalu Simeon memberkati mereka, dan berkata kepada Maria, ibu Anak itu, \u201cSesungguhnya Anak ini ditentukan untuk menjatuhkan atau membangkitkan banyak orang Israel dan untuk menjadi suatu tanda yang menimbulkan perbantahan \u2013 dan suatu pedang akan menembus jiwamu sendiri \u2013 supaya menjadi nyata pikiran hati banyak orang.\u201d<br>Demikianlah Injil Tuhan<br>U. Terpujilah Kristus.<\/h4>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\"><strong>RESI DIBAWAKAN OLEH Br. Andreas Gatot Yudpanggono SCJ<\/strong><\/h2>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\"><strong><em>Vivat Cor Iesu per Cor Mariae.&nbsp;<\/em>Hiduplah Hati Yesus melalui Hati Maria<\/strong><\/h3>\n\n\n\n<h4 class=\"wp-block-heading\">Para Sahabatku, Saudari-saudara yang dicintai dan mencintai Hati Kudus Yesus.. Salam jumpa bersama Saya, Br. Andreas Gatot Yudoanggono SCJ dari Komunitas SCJ Cipinang-Cempedak Jakarta Indonesia.dalam Resi (Renungan singkat) Edisi Senin, 15 September 2025. Perringatan wajib Santa Perawan Maria Berdukacita. Semoga Belas Kasih dan Kerahiman dari Hati Yesus yang Maha Kudus memberkati anda semua. Amin.&nbsp; Tema Resi kita kali ini adalah:&nbsp;<strong><em>\u201cMeneladan Bunda<\/em><\/strong>&nbsp;<strong><em>Maria, Ibu yang Setia di Kaki Salib\u201d&nbsp;<\/em><\/strong>Namun sebelumnya, mari kita persiapakan hati dan kita awali permenunga kita dengan tanda kemenangan kristus. Dalam nama Bapa dan Putra dan Roh Kudus..<\/h4>\n\n\n\n<h4 class=\"wp-block-heading\">Para sahabatku, Saudari-saudara yang dikasihi dan mengasihi Hati Yesus. Hari ini Gereja merayakan Peringatan Wajib Santa Perawan Maria Berdukacita. Bacaan Injil hari ini mengisahkan tentang Bunda Maria yang berdiri di kaki salib, menyaksikan penderitaan dan wafat Putranya, Tuhan Yesus. Di tengah kepedihan yang begitu mendalam, Bunda Maria tetap berdiri teguh. Dari salib itu, Tuhan Yesus menyerahkan murid yang dikasihi kepada Bunda Maria, dan Bunda Maria kepada murid itu. Sejak saat itu, Bunda Maria bukan hanya ibu Yesus, tetapi juga ibu bagi seluruh Gereja, ibu bagi kita semua yang adalah murid-murid Kristus. Lalu apa yang bisa kita refelsikan? Saya menawarkan 2 hal saja<\/h4>\n\n\n\n<ol class=\"wp-block-list\">\n<li><strong>Belajar dari kesetiaan Bunda Maria di tengah penderitaan<\/strong>: Bunda Maria tidak lari dari kenyataan yang begitu pahit. Ia berani berdiri di kaki salib, meski hatinya remuk redam. Dari Bunda Maria kita belajar bahwa cinta sejati berarti berani setia sampai akhir, meski penuh luka dan air mata. Lalu pertanyaannya adalah, \u201cDalam hidup kita, saat menghadapi salib penderitaan, apakah kita mampu tetap berdiri teguh bersama Kristus?\u201d<\/li>\n\n\n\n<li><strong>Bunda Maria, Ibu bagi kita semua<\/strong>: Ketika Tuhan Yesus menyerahkan Bunda Maria kepada murid yang dikasihi, Ia juga mempercayakan Bunda Maria kepada kita. Artinya, kita selalu punya seorang ibu yang memahami penderitaan, seorang ibu yang mendampingi kita dalam perjalanan iman. Bunda Maria bukan hanya teladan kesetiaan, tetapi juga penghiburan yang nyata. \u201cApakah kita sudah sungguh datang kepada Bunda Maria sebagai seorang anak yang mencari penguatan dari ibunya?\u201d<\/li>\n<\/ol>\n\n\n\n<h4 class=\"wp-block-heading\">Nah para sahabatku, saudari-saudara yang diksihi dan mengasihi Hati Yesus, bunda Maria. Pada Perayaan Santa Perawan Maria Berdukacita kita diingatkan bahwa iman bukan hanya bersinar di saat sukacita, tetapi juga diuji dalam saat duka dan penderitaan. Bersama Bunda Maria, kita diundang untuk tetap setia di bawah kaki salib dan percaya bahwa kasih Allah selalu lebih besar dari segala luka dan penderitaan. Semoga dengan bimbingan Bunda Maria, kita semakin kuat memikul salib kehidupan dan setia mengikuti Kristus sampai akhir. Dan Semoga Hati Kudus Yesus semakin merajai hato kita. Amin. Tuhan memberkati. Berkah Dalem. Dalam nama bapa dan putra dan roh kudus. Amin<\/h4>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\"><strong>DOA PERSIAPAN PERSEMBAHAN:<\/strong><\/h2>\n\n\n\n<h4 class=\"wp-block-heading\">Allah Bapa yang mahamurah, Engkau menghendaki Ibunda Yesus dengan tabah berdiri di kaki salib serta menunjukkan dia sebagai Bunda Kami. Maka terimalah kiranya dengan rela doa dan persembahan yang kami unjukkan ini demi kemuliaan nama-Mu dan untuk menghormati Bunda kami tercinta itu. Demi Kristus, \u2026<\/h4>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\"><strong>ANTIFON KOMUNI \u2013 1 Ptr 4:13&nbsp;<\/strong><\/h2>\n\n\n\n<h4 class=\"wp-block-heading\">Bergembiralah saudara-saudara, bila menderita bersama Kristus, supaya dapat ikut bergembira dan bersuka ria, bila kemuliaan-Nya kelak dinyatakan.<\/h4>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\"><strong>DOA SESUDAH KOMUNI:<\/strong><\/h2>\n\n\n\n<h4 class=\"wp-block-heading\">Marilah berdoa:&nbsp;Allah Bapa, sumber penebusan kami,&nbsp;pada hari ini kami telah menerima kurnia pembawa keselamatan kekal, dalam merenungkan dan menghormati duka cita Santa Perawan Maria, Bunda Kami. Semoga apa yang masih kurang pada penderitaan Kristus dapat dilengkapi pula dalam diri kami guna kepentingan seluruh umat-Mu.&nbsp;Demi Kristus, \u2026<\/h4>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><a href=\"https:\/\/resi.dehonian.or.id\/wp-content\/uploads\/2025\/09\/Resi-Senin-15-September-2025-oleh-Br.-Andreas-Gatot-Yudoanggono-SCJ-dari-Komunitas-SCJ-Cipinang-Cempedak-Jakarta-Indonesia.mp3\">Resi-Senin 15 September 2025 oleh Br. Andreas Gatot Yudoanggono SCJ dari Komunitas SCJ Cipinang-Cempedak Jakarta Indonesia<\/a><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Sumber <a href=\"https:\/\/resi.dehonian.or.id\/2025\/09\/14\/senin-15-september-2025-peringatan-wajib-santa-perawan-maria-berdukacita\/\">https:\/\/resi.dehonian.or.id\/2025\/09\/14\/senin-15-september-2025-peringatan-wajib-santa-perawan-maria-berdukacita\/<\/a><\/p>\n\n\n\n<figure><iframe loading=\"lazy\" src=\"https:\/\/katolikindonesia.org\/?powerpress_pinw=84815-podcast&amp;powerpress_player=default\" width=\"320\" height=\"50\"><\/iframe><\/figure>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>Santa Perawan Maria Berdukacita<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><em><strong>oleh: P. William P. Saunders<\/strong><\/em><\/p>\n\n\n\n<h4 class=\"wp-block-heading\"><em><strong>Pada bulan September kita memperingati Santa Perawan Maria Berdukacita. Dapatkah dijelaskan makna dan asal-mula peringatan ini? (<\/strong><\/em><em><strong>seorang pembaca di Fairfax)<\/strong><\/em><\/h4>\n\n\n\n<h4 class=\"wp-block-heading\"><strong>Gelar \u201cBunda Dukacita\u201d diberikan kepada Bunda Maria dengan menitikberatkan pada sengsara dan dukacitanya yang luar biasa selama sengsara dan wafat Kristus. Menurut tradisi, sengsara Bunda Maria ini tidak terbatas hanya pada peristiwa-peristiwa sengsara dan wafat Kristus; melainkan meliputi \u201ctujuh dukacita\u201d Maria, seperti yang dinubuatkan Nabi Simeon yang memaklumkannya kepada Maria,&nbsp;<\/strong><em><strong>\u201cSesungguhnya Anak ini ditentukan untuk menjatuhkan atau membangkitkan banyak orang di Israel dan untuk menjadi suatu tanda yang menimbulkan perbantahan &nbsp;\u2013 dan suatu pedang akan menembus jiwamu sendiri -, supaya menjadi nyata pikiran hati banyak orang.\u201d (Lukas 2:34-35)<\/strong><\/em><strong>. Tujuh Dukacita Bunda Maria meliputi Nubuat Simeon, Pengungsian Keluarga Kudus ke Mesir; Kanak-kanak Yesus Hilang dan Diketemukan di Bait Allah; Bunda Maria Berjumpa dengan Yesus dalam Perjalanan-Nya ke Kalvari; Bunda Maria berdiri di kaki Salib ketika Yesus Disalibkan; Bunda Maria Memangku Jenasah Yesus setelah Ia Diturunkan dari Salib; dan kemudian Yesus Dimakamkan. Secara keseluruhan, nubuat Simeon bahwa sebilah pedang akan menembus hati Bunda Maria digenapi dalam peristiwa-peristiwa tersebut. Oleh sebab itu, Bunda Maria terkadang dilukiskan dengan hatinya terbuka dengan tujuh pedang menembusinya. Dan yang terpenting ialah bahwa setiap dukacita diterima Bunda Maria dengan gagah berani, dengan penuh kasih, dan dengan penuh kepercayaan, seperti digemakan dalam Fiat-nya, \u201cjadilah padaku menurut perkataan Tuhan,\u201d yang diucapkannya pertama kali dalam peristiwa Kabar Sukacita.<\/strong><\/h4>\n\n\n\n<h4 class=\"wp-block-heading\"><strong>Peringatan Santa Perawan Maria Berdukacita mulai populer pada abad keduabelas, meskipun dalam berbagai gelar yang berbeda. Beberapa tulisan didapati berasal dari abad kesebelas, teristimewa di kalangan para biarawan Benediktin. Pada abad keempatbelas dan kelimabelas, peringatan dan devosi ini telah tersebar luas di kalangan Gereja.<\/strong><\/h4>\n\n\n\n<h4 class=\"wp-block-heading\"><strong>Yang menarik, pada tahun 1482, peringatan ini secara resmi dimasukkan dalam Misale Romawi dengan gelar \u201cSanta Perawan Maria Bunda Berbelas Kasihan,\u201d (Our Lady of Compassion) dengan menekankan besarnya cinta kasih Bunda Maria yang diperlihatkannya dalam sengsara bersama Putranya. Kata `compassion\u2019 berasal dari kata Latin `cum\u2019 dan `patior\u2019 yang artinya \u201cmenderita bersama\u201d. Dukacita Bunda Maria melampaui dukacita siapa pun oleh sebab ia adalah Bunda Yesus, yang bukan hanya Putranya, melainkan juga Tuhan dan Juruselamatnya; Bunda Maria sungguh menderita bersama Putranya. Pada tahun 1727, Paus Benediktus XIII memasukkan Peringatan Santa Perawan Maria Bunda Berbelas Kasihan dalam Penanggalan Romawi, yang jatuh pada hari Jumat sebelum Hari Minggu Palma. Peringatan ini kemudian ditiadakan dengan revisi penanggalan yang diterbitkan dalam Misale Romawi tahun 1969.<\/strong><\/h4>\n\n\n\n<h4 class=\"wp-block-heading\"><strong>Pada tahun 1668, peringatan guna menghormati Tujuh Dukacita Maria ditetapkan pada hari Minggu setelah tanggal 14 September, yaitu Pesta Salib Suci. Peringatan ini kemudian disisipkan dalam penanggalan Romawi pada tahun 1814, dan&nbsp;<\/strong><strong>Paus Pius X<\/strong><strong>&nbsp;menetapkan tanggal yang permanen, yaitu tanggal 15 September sebagai Peringatan Tujuh Duka Santa Perawan Maria (yang sekarang disederhanakan menjadi Peringatan Santa Perawan Maria Berdukacita). Penekanan utamanya di sini adalah Bunda Maria yang berdiri dengan setia di kaki salib di mana Putranya meregang nyawa; seperti dicatat dalam Injil St. Yohanes,&nbsp;<\/strong><em><strong>\u201cKetika Yesus melihat ibu-Nya dan murid yang dikasihi-Nya di sampingnya, berkatalah Ia kepada ibu-Nya: `Ibu, inilah, anakmu!\u2019 Kemudian kata-Nya kepada murid-murid-Nya: `Inilah ibumu!\u2019\u201d (Yohanes 19:26-27)<\/strong><\/em><strong>. Konsili Vatikan Kedua dalam Konstitusi Dogmatis Tentang Gereja menulis, \u201c\u2026ia sesuai dengan rencana Allah berdiri di dekatnya. Di situlah ia menanggung penderitaan yang dahsyat bersama dengan Putranya yang tunggal. Dengan hati keibuannya ia menggabungkan diri dengan korban-Nya, yang penuh kasih menyetujui persembahan korban yang dilahirkannya.\u201d (#58).<\/strong><\/h4>\n\n\n\n<h4 class=\"wp-block-heading\"><strong>St. Bernardus (wafat tahun 1153) menulis, \u201cSungguh, ya Bunda Maria, sebilah pedang telah menembus hatimu\u2026. Ia wafat secara jasmani oleh karena kasih yang jauh lebih besar daripada yang dapat dipahami manusia. Bunda-Nya wafat secara rohani oleh karena kasih seperti yang tak dapat dibandingkan selain dengan kasih-Nya.\u201d (De duodecim praerogatativs BVM).<\/strong><\/h4>\n\n\n\n<h4 class=\"wp-block-heading\"><strong>Dengan menekankan belas kasihan Bunda Maria, Bapa Suci kita, Paus Yohanes Paulus II, mengingatkan umat beriman, \u201cBunda Maria yang Tersuci senantiasa menjadi penghibur yang penuh kasih bagi mereka yang mengalami berbagai penderitaan, baik fisik maupun moral, yang menyengsarakan serta menyiksa umat manusia. Ia memahami segala sengsara dan derita kita, sebab ia sendiri juga menderita, dari Betlehem hingga Kalvari. \u2018Dan jiwa mereka pula akan ditembusi sebilah pedang.\u2019 Bunda Maria adalah Bunda Rohani kita, dan seorang ibunda senantiasa memahami anak-anaknya serta menghibur dalam penderitaan mereka. Dengan demikian, Bunda Maria mengemban suatu misi istimewa untuk mencintai kita, misi yang diterimanya dari Yesus yang tergantung di Salib, untuk mencintai kita selalu dan senantiasa, dan untuk menyelamatkan kita! Lebih dari segalanya, Bunda Maria menghibur kita dengan menunjuk pada Dia Yang Tersalib dan Firdaus!\u201d (1980).<\/strong><\/h4>\n\n\n\n<h4 class=\"wp-block-heading\"><strong>Oleh sebab itu, sementara kita menghormati Bunda Maria, Bunda Dukacita, kita juga menghormatinya sebagai murid yang setia dan teladan kaum beriman. Marilah kita berdoa seperti yang didaraskan dalam doa pembukaan Misa merayakan peringatan ini: \u201cBapa, sementara PutraMu ditinggikan di atas salib, Bunda-Nya Maria berdiri di bawah kaki salib-Nya, menanggung sengsara bersama-Nya. Semoga Gereja-Mu dipersatukan dengan Kristus dalam Sengsara dan Wafat-Nya, sehingga beroleh bagian dalam kebangkitan-Nya menuju hidup baru.\u201d Dengan meneladani Bunda Maria, semoga kita pun dapat mempersatukan segala penderitaan kita dengan sengsara Kristus, serta menghadapinya dengan gagah berani, penuh kasih dan kepercayaan. &nbsp;&nbsp;<\/strong><\/h4>\n\n\n\n<h4 class=\"wp-block-heading\"><em>sumber : \u201cStraight Answers: M<\/em><em>other of Sorrows\u201d by Fr. William P. Saunders; Arlington Catholic Herald, Inc;&nbsp;<\/em><em>Copyright \u00a92003 Arlington Catholic Herald. &nbsp;All rights reserved<\/em><em>; www.catholicherald.com<\/em><\/h4>\n\n\n\n<h4 class=\"wp-block-heading\"><em><strong>\u201cditerjemahkan oleh YESAYA: www.indocell.net\/yesaya atas ijin The Arlington Catholic Herald.\u201d<\/strong><\/em><\/h4>\n\n\n\n<h4 class=\"wp-block-heading\"><a href=\"http:\/\/yesaya.indocell.net\/id616.htm#:~:text=Peringatan%20ini%20kemudian%20disisipkan%20dalam,Peringatan%20Santa%20Perawan%20Maria%20Berdukacita).\">http:\/\/yesaya.indocell.net\/id616.htm#:~:text=Peringatan%20ini%20kemu<\/a><\/h4>\n<div class=\"powerpress_player\" id=\"powerpress_player_6254\"><audio class=\"wp-audio-shortcode\" id=\"audio-84815-1\" preload=\"none\" style=\"width: 100%;\" controls=\"controls\"><source type=\"audio\/mpeg\" src=\"https:\/\/resi.dehonian.or.id\/wp-content\/uploads\/2025\/09\/Resi-Senin-15-September-2025-oleh-Br.-Andreas-Gatot-Yudoanggono-SCJ-dari-Komunitas-SCJ-Cipinang-Cempedak-Jakarta-Indonesia.mp3?_=1\" \/><a href=\"https:\/\/resi.dehonian.or.id\/wp-content\/uploads\/2025\/09\/Resi-Senin-15-September-2025-oleh-Br.-Andreas-Gatot-Yudoanggono-SCJ-dari-Komunitas-SCJ-Cipinang-Cempedak-Jakarta-Indonesia.mp3\">https:\/\/resi.dehonian.or.id\/wp-content\/uploads\/2025\/09\/Resi-Senin-15-September-2025-oleh-Br.-Andreas-Gatot-Yudoanggono-SCJ-dari-Komunitas-SCJ-Cipinang-Cempedak-Jakarta-Indonesia.mp3<\/a><\/audio><\/div><p class=\"powerpress_links powerpress_links_mp3\" style=\"margin-bottom: 1px !important;\">Podcast: <a href=\"https:\/\/resi.dehonian.or.id\/wp-content\/uploads\/2025\/09\/Resi-Senin-15-September-2025-oleh-Br.-Andreas-Gatot-Yudoanggono-SCJ-dari-Komunitas-SCJ-Cipinang-Cempedak-Jakarta-Indonesia.mp3\" class=\"powerpress_link_pinw\" target=\"_blank\" title=\"Play in new window\" onclick=\"return powerpress_pinw('https:\/\/katolikindonesia.org\/?powerpress_pinw=84815-podcast');\" rel=\"nofollow\">Play in new window<\/a> | <a href=\"https:\/\/resi.dehonian.or.id\/wp-content\/uploads\/2025\/09\/Resi-Senin-15-September-2025-oleh-Br.-Andreas-Gatot-Yudoanggono-SCJ-dari-Komunitas-SCJ-Cipinang-Cempedak-Jakarta-Indonesia.mp3\" class=\"powerpress_link_d\" title=\"Download\" rel=\"nofollow\" download=\"Resi-Senin-15-September-2025-oleh-Br.-Andreas-Gatot-Yudoanggono-SCJ-dari-Komunitas-SCJ-Cipinang-Cempedak-Jakarta-Indonesia.mp3\">Download<\/a><\/p><!--powerpress_player-->","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>ANTIFON PEMBUKA \u2013 Bdk. Luk. 2: 34-35 Simeon berkata kepada Maria, \u201cAnak ini menentukan jatuh bangkitnya banyak orang di Israel.&nbsp;Ia menjadi tanda yang menimbulkan pertentangan. Dan hatimu sendiri akan ditembus oleh pedang.\u201d PENGANTAR: Menjadi&#46;&#46;&#46;<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":66662,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"audio","meta":{"footnotes":""},"categories":[18,1,20],"tags":[],"class_list":["post-84815","post","type-post","status-publish","format-audio","has-post-thumbnail","hentry","category-renungan-audio","category-bacaan-harian","category-renungan-text","post_format-post-format-audio"],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/katolikindonesia.org\/wp-content\/uploads\/2024\/12\/ardas-2025.png","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/84815","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=84815"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/84815\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":84817,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/84815\/revisions\/84817"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/66662"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=84815"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=84815"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=84815"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}