{"id":84587,"date":"2025-09-10T09:50:40","date_gmt":"2025-09-10T02:50:40","guid":{"rendered":"https:\/\/katolikindonesia.org\/?p=84587"},"modified":"2025-09-10T09:50:40","modified_gmt":"2025-09-10T02:50:40","slug":"rabu-10-september-2025-5","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/katolikindonesia.org\/?p=84587","title":{"rendered":"Rabu, 10 September 2025"},"content":{"rendered":"<p>Sabda Kehidupan<br \/>\nRabu 10 September 2025<br \/>\nLuk 6:20-21 (Luk 6:20-26)<br \/>\n\u201dBerbahagialah, hai kamu yang miskin, karena kamulah yang empunya Kerajaan Allah. Berbahagialah, hai kamu yang sekarang ini lapar, karena kamu akan dipuaskan. Berbahagialah, hai kamu yang sekarang ini menangis, karena kamu akan tertawa.\u201d<\/p>\n<p>Tuhan Sumber Kebahagiaan Kita<\/p>\n<p>Yesus menyebut bahagia orang-orang yang miskin, lapar, yang menangis, yang dibenci dan yang dianiaya, padahal mereka-lah yang oleh dunia masuk dalam kalangan orang-orang yang tidak bahagia.<br \/>\nBagi Yesus, orang-orang yang hidup dalam pengharapan akan janji Allah, yang percaya dan berserah penuh pada Allah, sesungguhnya adalah orang yang paling bahagia. Bukan orang yang merasa puas diri dan tidak memerlukan pertolongan Allah.<\/p>\n<p>Tak ada situasi apapun yang dapat merebut kebahagiaan orang-orang yang bersandar pada kasih sayang Tuhan karena Tuhan sendirilah sumber kebahagiaannya.<br \/>\nSebagai orang-orang yang empunya Kerajaan Allah dan hidup dalam naungan kasih Tuhan menjadi alasan terdalam kita untuk selalu berbahagia. Keyakinan inilah yang perlu terus menerus kita pegang teguh, kita hidupi dan syukuri. Dengan demikian kita akan mampu melihat tangan Tuhan yang selalu memegang kita, dan mengalami hatiNya yang lemah lembut tempat kita bersandar.<\/p>\n<p>Janganlah katakan aku tak punya apa-apa atau siapa-siapa. Yesus yang menyampaikan sabda bahagia ini, Dia-lah segalanya bagi kita, harta kita yang paling utama. Kasih sayangNya adalah pemuas lapar dan dahaga kita. SapaanNya yang lembut penuh pengertian adalah penghapus airmata kita. Yesus-lah sumber sukacita dan alasan kita untuk tak henti berbahagia. Bersama Dia hidup kita selalu melimpah dengan syukur, suatu kekayaan batin yang membuat kita tak pernah merasa kekurangan rahmat Tuhan.<\/p>\n<p>Selamat hari Rabu. Jangan lupa bersyukur dan bahagia.\u2764\ufe0f<br \/>\nPs Revi Tanod Pr<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Kalender Liturgi 10 Sep 2025<br \/>\nRabu Pekan Biasa XXIII<br \/>\nWarna Liturgi: Hijau<br \/>\nBait Pengantar Injil: Luk 6:23ab<br \/>\nBacaan Injil: Luk 6:20-26<br \/>\n************<\/p>\n<p>Bait Pengantar Injil<br \/>\nLuk 6:23ab<br \/>\nBersukacitalah dan bergembiralah,<br \/>\nkarena besarlah upahmu di surga.<\/p>\n<p>Bacaan Injil<br \/>\nLuk 6:20-26<br \/>\nBerbahagialah orang yang miskin,<br \/>\ncelakalah orang yang kaya.<\/p>\n<p>Inilah Injil Suci menurut Lukas:<\/p>\n<p>Pada waktu itu,<br \/>\nYesus memandang murid-murid-Nya, lalu berkata,<br \/>\n&#8220;Berbahagialah, hai kalian yang miskin,<br \/>\nkarena kalianlah yang empunya Kerajaan Allah.<br \/>\nBerbahagialah, hai kalian yang kini kelaparan,<br \/>\nkarena kalian akan dipuaskan.<br \/>\nBerbahagialah, hai kalian yang kini menangis,<br \/>\nkarena kalian akan tertawa.<br \/>\nBerbahagialah, bila demi Anak Manusia kalian dibenci,<br \/>\ndikucilkan, dan dicela serta ditolak.<br \/>\nBersukacitalah dan bergembiralah pada waktu itu<br \/>\nkarena secara itu pula<br \/>\nnenek moyang mereka telah memperlakukan para nabi.<br \/>\nTetapi celakalah kalian, orang kaya,<br \/>\nkarena dalam kekayaanmu kalian telah memperoleh hiburan.<br \/>\nCelakalah kalian, yang kini kenyang,<br \/>\nkarena kalian akan lapar.<br \/>\nCelakalah kalian, yang kini tertawa,<br \/>\nkarena kalian akan berdukacita dan menangis.<br \/>\nCelakalah kalian, jika semua orang memuji kalian;<br \/>\nkarena secara itu pula<br \/>\nnenek moyang mereka telah memperlakukan nabi-nabi palsu.&#8221;<\/p>\n<p>Demikianlah sabda Tuhan.<br \/>\n**************<\/p>\n<p>  \u210d <\/p>\n<p>&#8220;Berbahagialah, hai kamu yang miskin, karena kamulah yang empunya Kerajaan Allah\u2026. Tetapi celakalah kamu, hai kamu yang kaya, karena dalam kekayaanmu kamu telah memperoleh penghiburanmu.\u201d [Luk 6: 20. 24]<\/p>\n<p>Kita baca dan dengarkan hari ini Sabda Bahagia menurut Injil Lukas. Sabda Bahagia bukanlah kata-kata lembut yang dimaksudkan untuk menenangkan; Sabda Bahagia itu seperti kilatan petir, menerobos masuk ke dalam hidup kita dengan kekuatan dan urgensi. Baik dalam Matius maupun Lukas, Yesus memulai khotbah agung-Nya dengan kata-kata yang mengejutkan: \u201cBerbahagialah orang yang miskin\u2026 Celakalah orang kaya&#8230;\u201d Betapa mengejutkan! Betapa terbaliknya ini dibandingkan dengan cara berpikir dunia.<\/p>\n<p>Injil menantang kita dengan pilihan: Apakah kita ingin kebahagiaan menurut dunia, atau menurut Kristus? Dunia berkata, \u201cBerbahagialah orang yang punya kuasa, yang kuat, yang kaya, yang nyaman.\u201d Tetapi Yesus menyatakan, \u201cBerbahagialah kamu yang sekarang ini lapar, yang sekarang ini menangis, yang dianiaya karena Aku.\u201d Ini bukan sekadar puisi \u2014 ini adalah revolusi hati. Ini adalah panggilan untuk hidup secara berbeda.<\/p>\n<p>Yesus jelas: jika kita menghabiskan seluruh energi kita untuk mengejar kekayaan, status, dan kesenangan, kita mungkin berhasil \u2014 tetapi itu saja yang akan kita miliki. \u201cKamu telah memperolehnya,\u201d Ia memperingatkan. Tidak ada yang tersisa untuk kekekalan. Tetapi jika kita menaruh hati kita pada-Nya \u2014 pada kesetiaan, pada belas kasih, pada kebenaran \u2014 kita mungkin menghadapi perjuangan, kita mungkin tidak dimengerti, tetapi kita akan memiliki sukacita yang tidak dapat diambil oleh siapa pun.<\/p>\n<p>Para orang kudus memahami hal ini. Mereka sering hidup miskin di mata dunia, tetapi kaya dalam iman, bebas dalam roh, bersinar dalam sukacita. Seperti yang diingatkan St. Paulus, \u201cSebab penderitaan ringan yang sekarang ini, mengerjakan bagi kami kemuliaan kekal yang melebihi segala-galanya, jauh lebih besar dari pada penderitaan kami,\u201d (2 Kor 4:17).<\/p>\n<p>Injil hari ini bertanya kepada kita: Kebahagiaan mana yang kita cari? Kenyamanan dunia yang sementara \u2014 atau sukacita kekal Kristus? Mengikuti Yesus berarti mengambil risiko kesulitan, tetapi juga menemukan damai sejahtera yang hanya Dia yang dapat berikan. Berbahagialah mereka yang memilih jalan-Nya.<\/p>\n<p>Ya Tuhan bimbing aku di jalan-Mu. Amin.<\/p>\n<p>Selamat beraktivitas. Pilih kebahagiaan a la Yesus! \u24bf\u24c1\u24ca! \u2764\ufe0f<br \/>\n\u2764\ufe0e..<\/p>\n<blockquote class=\"wp-embedded-content\" data-secret=\"iy3MAhYZKX\"><p><a href=\"https:\/\/sacerdos2000.com\/kebahagiaan-a-la-yesus-bukan-cara-dunia\/\">Kebahagiaan a la Yesus, Bukan Cara Dunia<\/a><\/p><\/blockquote>\n<p><iframe loading=\"lazy\" class=\"wp-embedded-content\" sandbox=\"allow-scripts\" security=\"restricted\" style=\"position: absolute; visibility: hidden;\" title=\"&#8220;Kebahagiaan a la Yesus, Bukan Cara Dunia&#8221; &#8212; Sacerdos2000\" src=\"https:\/\/sacerdos2000.com\/kebahagiaan-a-la-yesus-bukan-cara-dunia\/embed\/#?secret=RtTBbdxJUf#?secret=iy3MAhYZKX\" data-secret=\"iy3MAhYZKX\" width=\"500\" height=\"282\" frameborder=\"0\" marginwidth=\"0\" marginheight=\"0\" scrolling=\"no\"><\/iframe><\/p>\n<p>RP Joni Astanto MSC<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Sabda Kehidupan Rabu 10 September 2025 Luk 6:20-21 (Luk 6:20-26) \u201dBerbahagialah, hai kamu yang miskin, karena kamulah yang empunya Kerajaan Allah. Berbahagialah, hai kamu yang sekarang ini lapar, karena kamu akan dipuaskan. Berbahagialah, hai&#46;&#46;&#46;<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":66662,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[1,20],"tags":[],"class_list":["post-84587","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-bacaan-harian","category-renungan-text"],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/katolikindonesia.org\/wp-content\/uploads\/2024\/12\/ardas-2025.png","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/84587","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=84587"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/84587\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":84588,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/84587\/revisions\/84588"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/66662"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=84587"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=84587"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=84587"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}