{"id":84337,"date":"2025-09-06T10:00:27","date_gmt":"2025-09-06T03:00:27","guid":{"rendered":"https:\/\/katolikindonesia.org\/?p=84337"},"modified":"2025-09-06T10:00:27","modified_gmt":"2025-09-06T03:00:27","slug":"sabtu-06-september-2025-5","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/katolikindonesia.org\/?p=84337","title":{"rendered":"Sabtu, 06 September 2025"},"content":{"rendered":"<p>Sabda Kehidupan<br \/>\nSabtu 06 September 2025<br \/>\nLukas 6:5 (Luk 6:1-5)<br \/>\nTetapi beberapa orang Farisi berkata: &#8220;Mengapa kamu berbuat sesuatu yang tidak diperbolehkan pada hari Sabat?&#8221;<\/p>\n<p>Cinta Harus Menjiwai Pelaksanaan Hukum<\/p>\n<p>Orang-orang Farisi yang sangat kaku dalam menerapkan aturan Sabat tentu tidak setuju bahwa Yesus hanya membiarkan murid-muridNya memetik gandum pada hari itu. Suatu hal yang dilarang pada hari Sabat.<br \/>\nBukannya Yesus tidak mematuhi aturan, tapi Ia mengingatkan mereka agar lebih mengutamakan cintakasih daripada sekedar mengikuti formalitas suatu aturan tanpa ada semangat kasih di balik aturan itu.<\/p>\n<p>Perut yang lapar perlu diisi agar tidak sakit dan kekurangan energi. Seorang ibu miskin yang mencuri roti karena kasihan pada anaknya yang menangis kelaparan, tentu berbeda niatnya dengan orang yang sengaja mencuri uang atau korupsi karena nafsu serakahnya.<br \/>\nTapi yang terjadi, koruptor dibiarkan bebas sementara ibu malang itu dihukum.<\/p>\n<p>Karena itu Yesus mengingatkan orang Farisi kejadian di masa lalu, ketika Daud sedang melarikan diri dari kejaran Raja Saul dan bersembunyi di kemah tempat tabut perjanjian di mana ada roti sajian yang hanya bisa dimakan oleh para imam. Tapi demi bertahan hidup dan selamat, Daud dan pengikutnya diperbolehkan memamakan roti sajian itu. (Lihat 1 Sam 21:1-6).<br \/>\nYesus-pun berbuat demikian karena cintaNya kepada murid-muridNya yang lagi lapar. Toh mereka hanya sekedar mengisi perut.<\/p>\n<p>Kiranya pesan Yesus hari ini memberi kita hikmat kebijaksanaan untuk selalu mempunyai motif cintakasih dalam mengambil keputusan dan bertindak. Semoga Sabda Allah menjadi hati nurani kita, agar semakin menyerupai Yesus dalam bertindak: selalu terdorang oleh belaskasih.<br \/>\nAturan tetap harus ditegakkan namun cintakasih haruslah menjiwai semua pelaksanaan aturan itu.<\/p>\n<p>Selamat hari Sabat, Tuhan Yesus memberkati kita .\u2764\ufe0f<br \/>\nPs Revi Tanod Pr<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Kalender Liturgi 06 Sep 2025<br \/>\nSabtu Pekan Biasa XXII<br \/>\nWarna Liturgi: Hijau<br \/>\nBait Pengantar Injil: Yoh 14:6<br \/>\nBacaan Injil: Luk 6:1-5<br \/>\n*************<\/p>\n<p>Bait Pengantar Injil<br \/>\nYoh 14:6<br \/>\nAkulah jalan, kebenaran dan sumber kehidupan, sabda Tuhan.<br \/>\nhanya melalui Aku orang sampai kepada Bapa.<\/p>\n<p>Bacaan Injil<br \/>\nLuk 6:1-5<br \/>\nMengapa kalian melakukan sesuatu<br \/>\nyang tidak diperbolehkan pada hari Sabat?<\/p>\n<p>Inilah Injil Suci menurut Lukas:<\/p>\n<p>Pada suatu hari Sabat,<br \/>\nYesus dan murid-murid-Nya berjalan di ladang gandum.<br \/>\nPara murid memetik bulir-bulir gandum,<br \/>\nmenggisarnya dengan tangan, lalu memakannya.<br \/>\nTetapi beberapa orang Farisi berkata,<br \/>\n&#8220;Mengapa kalian melakukan sesuatu<br \/>\nyang tidak diperbolehkan pada hari Sabat?&#8221;<br \/>\nMaka Yesus menjawab, &#8220;Tidakkah kalian baca<br \/>\napa yang dilakukan Daud, ketika ia dan para pengikutnya lapar?<br \/>\nIa masuk ke dalam rumah Allah dan mengambil roti sajian.<br \/>\nRoti itu dimakannya dan diberikannya kepada para pengikut-Nya.<br \/>\nPadahal roti itu tidak boleh dimakan, kecuali oleh para imam.&#8221;<\/p>\n<p>Dan Yesus berkata lagi,<br \/>\n&#8220;Anak Manusia adalah Tuhan atas hari Sabat.&#8221;<\/p>\n<p>Demikianlah sabda Tuhan.<br \/>\n*************<\/p>\n<p>  \u210d <\/p>\n<p>Pada suatu hari Sabat, ketika Yesus berjalan di ladang gandum, murid-murid-Nya memetik bulir gandum dan memakannya, sementara mereka menggisarnya dengan tangannya. Tetapi beberapa orang Farisi berkata: &#8220;Mengapa kamu berbuat sesuatu yang tidak diperbolehkan pada hari Sabat?&#8221;&#8230;.. Kata Yesus lagi kepada mereka: &#8220;Anak Manusia adalah Tuhan atas hari Sabat.\u201d (Luk 6: 1 \u2013 2, 5).<\/p>\n<p>Pertentangan antara Yesus dan musuh-musuhnya terus berlanjut. Para Farisi mengikuti Yesus seperti bayang-bayang. Mereka mengikuti-Nya bukan untuk mendengarkan dan belajar dari ajarannya, tetapi untuk untuk mencari-cari kesalahan dalam segala tindakan-Nya, sehingga mendapatkan bukti agar dapat mengambil tindakan hukum terhadapnya. Di sini mereka mendapat kesempatan yang baik.<\/p>\n<p>Para murid lapar dan lelah. Saat berjalan, mereka memetik bulir-bulir gandum, menggisarnya dengan tangan dan memakannya. Namun hari itu adalah hari Sabat. Para murid melanggar hukum Sabat! Apa yang mereka lakukan, sama dengan memanen, merontokkan, menampi, dan menyiapkan makanan! Ditambah lagi Yesus, tidak menegur mereka. Tentu saja, para Farisi yang legalistik menjadi marah.<\/p>\n<p>Para Farisi itu bertanya: \u201cMengapa kamu berbuat sesuatu yang tidak diperbolehkan pada hari Sabat?\u201d Dan tepat terhadap pertanyaan ini Yesus memberikan jawabannya. Ia menjelaskan apa yang \u201cdiperbolehkan\u201d dan apa yang \u201ctidak diperbolehkan\u201d pada hari Sabat. Di situlah letak perbedaan antara Yesus dan orang Farisi. Bagi orang Farisi, hukum tertulis dan tradisi lisan sama-sama sah. Hukum harus dipatuhi secara harfiah. Bagi Yesus, hukum hanya memiliki makna sejauh ia menjaga martabat manusia. Itulah tujuan hukum.<\/p>\n<p>Dalam konteks ini, Yesus sepenuhnya memahami apa yang dilakukan oleh murid-murid-Nya. Mereka makan butir-butir gandum karena mereka lapar. Kebutuhan manusia menduduki tempat pertama dalam \u201chukum Yesus\u201d. Kebutuhan dasar manusia memiliki prioritas lebih tinggi daripada ibadah kepada Allah dan pengamalan hari Sabat. Kehidupan manusia mendahului adat istiadat ritual dalam ajaran Yesus.<\/p>\n<p>Yesus tidak menyangkal atau menghilangkan hukum Sabat, melainkan menafsirkannya untuk kebaikan manusia. Ia memperluasnya agar dapat bermanfaat bagi orang biasa. Setiap \u201cisme\u201d dan ideologi yang merendahkan martabat manusia tidak dapat diterima oleh Yesus. Ia menyingkirkan hukum Sabat sebagaimana Daud menyingkirkan hukum roti suci, dan keduanya untuk tujuan yang sama: \u201ckebutuhan dasar manusia.\u201d Hukum-hukum ilahi dan penafsirannya seharusnya menjadi berkat bagi manusia. Mereka tidak boleh menjadi beban bagi orang kebanyakan yang sudah terbebani. Yesus, Tuhan atas hari Sabat, mengingatkan kita bahwa kasih Allah lebih besar daripada aturan apa pun, dan belas kasih-Nya selalu lebih besar daripada legalisme yang kaku. Ia menghendaki belas kasih dan bukan persembahan.<\/p>\n<p>Tuhan, semoga kehidupan beragama kami tidak kehilangan intinya. Amin.<\/p>\n<p>Selamat berakhir pekan. Jadilah wajah belas kasih Allah! \u24bf\u24c1\u24ca! \u2764\ufe0f<br \/>\n\u2764\ufe0e..<\/p>\n<blockquote class=\"wp-embedded-content\" data-secret=\"BmWyEyGEIh\"><p><a href=\"https:\/\/sacerdos2000.com\/belas-kasih-di-atas-hukum\/\">Belas Kasih di atas Hukum<\/a><\/p><\/blockquote>\n<p><iframe loading=\"lazy\" class=\"wp-embedded-content\" sandbox=\"allow-scripts\" security=\"restricted\" style=\"position: absolute; visibility: hidden;\" title=\"&#8220;Belas Kasih di atas Hukum&#8221; &#8212; Sacerdos2000\" src=\"https:\/\/sacerdos2000.com\/belas-kasih-di-atas-hukum\/embed\/#?secret=J6TK9Ls9xN#?secret=BmWyEyGEIh\" data-secret=\"BmWyEyGEIh\" width=\"500\" height=\"282\" frameborder=\"0\" marginwidth=\"0\" marginheight=\"0\" scrolling=\"no\"><\/iframe><\/p>\n<p>RP Joni Astanto MSC<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Sabda Kehidupan Sabtu 06 September 2025 Lukas 6:5 (Luk 6:1-5) Tetapi beberapa orang Farisi berkata: &#8220;Mengapa kamu berbuat sesuatu yang tidak diperbolehkan pada hari Sabat?&#8221; Cinta Harus Menjiwai Pelaksanaan Hukum Orang-orang Farisi yang sangat&#46;&#46;&#46;<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":66662,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[1,20],"tags":[],"class_list":["post-84337","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-bacaan-harian","category-renungan-text"],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/katolikindonesia.org\/wp-content\/uploads\/2024\/12\/ardas-2025.png","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/84337","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=84337"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/84337\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":84338,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/84337\/revisions\/84338"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/66662"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=84337"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=84337"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=84337"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}