{"id":84143,"date":"2025-09-03T09:24:06","date_gmt":"2025-09-03T02:24:06","guid":{"rendered":"https:\/\/katolikindonesia.org\/?p=84143"},"modified":"2025-09-03T09:24:06","modified_gmt":"2025-09-03T02:24:06","slug":"rabu-03-september-2025-5","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/katolikindonesia.org\/?p=84143","title":{"rendered":"Rabu, 03 September 2025"},"content":{"rendered":"<p>Sabda Kehidupan<br \/>\nRabu 03 September 2025<br \/>\nLuk 4:42-43 (Luk 4:38-44)<br \/>\nKetika hari siang, Yesus berangkat dan pergi ke suatu tempat yang sunyi. Tetapi orang banyak mencari Dia, lalu menemukan-Nya dan berusaha menahan Dia supaya jangan meninggalkan mereka. Tetapi Ia berkata kepada mereka: &#8220;Juga di kota-kota lain Aku harus memberitakan Injil Kerajaan Allah sebab untuk itulah Aku diutus.&#8221;<\/p>\n<p>Meninggalkan Zona Nyaman Untuk Memberitakan Injil<\/p>\n<p>Yesus menjadi sangat terkenal di Kapernaum, kampung halaman Petrus. Di sana Ia membuat banyak mujizat, menyembuhkan orang sakit, mengusir setan, juga menangkap ikan dengan begitu mudahnya. Penduduk Kapernaum tentu saja ingin agar Yesus tinggal bersama mereka selamanya. Mereka tak perlu bersusah-susah bila ada kesulitan melanda. Bila sakit bisa langsung sembuh, bahkan untuk kebutuhan makan minum mereka terjamin. Tapi bukan itu maksud utama kehadiran Yesus.<br \/>\nYesus tidak ingin kita tinggal terus dalam zona nyaman. Keselamatan harus diperjuangkan, talenta harus dikembangkan, rahmat Tuhan harus disertai dengan usaha dan kerja keras. Terlebih lagi, Injil Keselamatan harus diwartakan ke seluruh dunia, supaya semua orang diselamatkan.<\/p>\n<p>Godaan terbesar dalam hidup adalah tinggal dalam zona nyaman, menikmati hidup tanpa bersusah payah, yang penting aman dan tanpa masalah.<br \/>\nYesus bukan hanya Juruselamat kita, tapi Ia adalah pelatih kehidupan kita. Yesus mengajak kita untuk berani menghadapi tantangan, keluar dari zona nyaman kamar kita yang kecil untuk ikut bersaksi dan mewartakan Injil sekalipun mesti menghadapi berbagai kesulitan, ditolak dan tidak dihargai, serta merasa berjuang sendiri.<br \/>\nJanganlah hanya mencari selamat sendiri, mari ikut Yesus menebarkan kasih dan mencari jiwa-jiwa yang haus akan Allah, agar semakin banyak orang ikut mengalami pengalaman kasih Allah yang kita alami.<\/p>\n<p>Selamat hari Rabu. Mari melanjutkan perjalanan menjadi saksi Injil. Yesus menyertai kita\u2764\ufe0f<br \/>\nPs Revi Tanod Pr<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Kalender Liturgi 03 Sep 2025<br \/>\nRabu Pekan Biasa XXII<br \/>\nPW S. Gregorius Agung, Paus dan Pujangga Gereja<br \/>\nWarna Liturgi: Putih<br \/>\nBait Pengantar Injil: Luk 4:18-19<br \/>\nBacaan Injil: Luk 4:38-44<br \/>\n************<\/p>\n<p>Bait Pengantar Injil<br \/>\nLuk 4:18-19<br \/>\nTuhan mengutus aku<br \/>\nmemaklumkan Injil kepada orang hina dina<br \/>\ndan mewartakan pembebasan kepada para tawanan.<\/p>\n<p>Bacaan Injil<br \/>\nLuk 4:38-44<br \/>\nJuga di kota-kota lain Aku harus mewartakan Injil,<br \/>\nsebab untuk itulah Aku diutus.<\/p>\n<p>Inilah Injil Suci menurut Lukas:<\/p>\n<p>Setelah meninggalkan rumah ibadat di Kapernaum,<br \/>\nYesus pergi ke rumah Simon.<br \/>\nAdapun ibu mertua Simon sakit deman keras,<br \/>\ndan mereka minta kepada Yesus supaya menolong dia.<br \/>\nMaka Yesus berdiri di sisi wanita itu,<br \/>\nlalu menghardik demamnya.<br \/>\nSegera penyakit itu meninggalkan dia.<br \/>\nWanita itu segera bangun dan melayani mereka.<\/p>\n<p>Ketika matahari terbenam,<br \/>\nsemua orang membawa kerabatnya yang sakit kepada Yesus.<br \/>\nIa meletakkan tangan atas mereka masing-masing<br \/>\ndan menyembuhkan mereka.<br \/>\nDari banyak orang keluar juga setan-setan sambil berteriak,<br \/>\n&#8220;Engkaulah Anak Allah.&#8221;<br \/>\nTetapi dengan keras Yesus melarang mereka berbicara,<br \/>\nkarena mereka tahu bahwa Ia Mesias.<\/p>\n<p>Ketika hari siang Yesus berangkat ke suatu tempat yang sunyi.<br \/>\nTetapi orang banyak mencari Dia.<br \/>\nKetika menemukan-Nya,<br \/>\nmereka berusaha menahan Dia,<br \/>\nsupaya jangan meninggalkan mereka.<br \/>\nTetapi Yesus berkata kepada mereka,<br \/>\n&#8220;Juga di kota-kota lain Aku harus mewartakan Injil Allah<br \/>\nsebab untuk itulah Aku diutus.&#8221;<br \/>\nDan Ia mewartakan Injil dalam rumah-rumah ibadat di Yudea.<\/p>\n<p>Demikianlah sabda Tuhan.<br \/>\n**************<\/p>\n<p>  \u210d <\/p>\n<p>\u201cKemudian Ia meninggalkan rumah ibadat itu dan pergi ke rumah Simon. Adapun ibu mertua Simon demam keras dan mereka meminta kepada Yesus supaya menolong dia. Maka Ia berdiri di sisi perempuan itu, lalu menghardik demam itu, dan penyakit itupun meninggalkan dia. Perempuan itu segera bangun dan melayani mereka.\u201d [Luk 4: 38 \u2013 39]<\/p>\n<p>Dalam Injil hari ini, kita menjumpai Yesus yang meninggalkan sinagoga dan kemudian masuk ke rumah Simon Petrus. Di sana, Ia menemukan ibu mertua Petrus yang sakit demam tinggi. Tanpa ragu, Yesus mendekatinya, memegang tangannya, dan menyembuhkannya. Segera, ia bangkit dan melayani.<\/p>\n<p>Adegan sederhana ini mengungkapkan inti misi Yesus. Ia selalu siap untuk melayani. Bahkan ketika lelah, bahkan setelah mengajar, Ia merespons panggilan kebutuhan manusia. Kasih Yesus tidak berhenti di pintu rumah; Ia masuk ke tempat-tempat paling biasa dalam hidup, ke dapur kita, keluarga kita, perjuangan sehari-hari kita.<\/p>\n<p>Perhatikan juga bagaimana mukjizat terjadi secara pribadi. Tidak ada kerumunan, tidak ada tepuk tangan \u2014 hanya belas kasih Yesus yang tenang. Betapa sering kita bertindak dermawan di depan umum tetapi melupakan kebaikan di rumah! Namun Yesus menunjukkan kepada kita bahwa kasih dimulai dari lingkaran terkecil \u2014 rumah kita, keluarga kita, komunitas kita, hubungan sehari-hari kita.<\/p>\n<p>Dan kemudian, ibu mertua Petrus mengajarkan sesuatu yang penting: setelah disembuhkan, ia segera mulai melayani. Penyembuhannya bukan hanya untuk dirinya sendiri; itu adalah rahmat yang harus dibagikan. Kesehatan, kekuatan, bahkan hidup kita sendiri, bukanlah harta untuk kenyamanan, tetapi hadiah, rahmat, yang harus dibagikan untuk orang lain.<\/p>\n<p>Akhirnya, Yesus menarik diri pada pagi hari untuk berdoa. Kekuatannya untuk melayani berasal dari persatuannya dengan Bapa. Doa bukanlah pelarian dari kebutuhan manusia, tetapi sumber yang memungkinkan kita untuk memenuhinya.<\/p>\n<p>Di sini kita juga mendengar Yesus berbicara untuk pertama kalinya tentang Kerajaan Allah. Kerajaan itu sudah ada di sini dalam penyembuhan-Nya, pengajaran-Nya, dan kasih-Nya. Kerajaan itu ada di antara kita setiap kali kita membiarkan kehendak Allah terlaksana. Dan Kerajaan itu akan mencapai kesempurnaan ketika seluruh ciptaan hidup dalam kasih.<\/p>\n<p>Tuhan, sembuhkanlah kami, sehingga kami pun dapat bangkit dan melayani dalam Kerajaan-Mu. Amin.<\/p>\n<p>Selamat beraktivitas. Mari hadirkan belas kasih Yesus! \u24bf\u24c1\u24ca! \u2764\ufe0f<br \/>\n\u2764\ufe0e..<\/p>\n<blockquote class=\"wp-embedded-content\" data-secret=\"7Gyjvd0ayR\"><p><a href=\"https:\/\/sacerdos2000.com\/sembuhkan-kami-agar-kami-bangkit-dan-melayani\/\">Sembuhkan Kami agar Kami Bangkit dan Melayani<\/a><\/p><\/blockquote>\n<p><iframe loading=\"lazy\" class=\"wp-embedded-content\" sandbox=\"allow-scripts\" security=\"restricted\" style=\"position: absolute; visibility: hidden;\" title=\"&#8220;Sembuhkan Kami agar Kami Bangkit dan Melayani&#8221; &#8212; Sacerdos2000\" src=\"https:\/\/sacerdos2000.com\/sembuhkan-kami-agar-kami-bangkit-dan-melayani\/embed\/#?secret=QKG0GZGsGV#?secret=7Gyjvd0ayR\" data-secret=\"7Gyjvd0ayR\" width=\"500\" height=\"282\" frameborder=\"0\" marginwidth=\"0\" marginheight=\"0\" scrolling=\"no\"><\/iframe><\/p>\n<p>RP Joni Astanto MSC<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Sabda Kehidupan Rabu 03 September 2025 Luk 4:42-43 (Luk 4:38-44) Ketika hari siang, Yesus berangkat dan pergi ke suatu tempat yang sunyi. Tetapi orang banyak mencari Dia, lalu menemukan-Nya dan berusaha menahan Dia supaya&#46;&#46;&#46;<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":66662,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[1,20],"tags":[],"class_list":["post-84143","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-bacaan-harian","category-renungan-text"],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/katolikindonesia.org\/wp-content\/uploads\/2024\/12\/ardas-2025.png","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/84143","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=84143"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/84143\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":84144,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/84143\/revisions\/84144"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/66662"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=84143"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=84143"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=84143"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}