{"id":83861,"date":"2025-08-30T09:25:21","date_gmt":"2025-08-30T02:25:21","guid":{"rendered":"https:\/\/katolikindonesia.org\/?p=83861"},"modified":"2025-08-30T09:25:21","modified_gmt":"2025-08-30T02:25:21","slug":"sabtu-30-agustus-2025-5","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/katolikindonesia.org\/?p=83861","title":{"rendered":"Sabtu, 30 Agustus 2025"},"content":{"rendered":"<p>Sabda Kehidupan<br \/>\nSabtu 30 Agustus 2025<br \/>\nMatius 25:14-15 (Mat 25:14-30)<br \/>\n\u201dHal Kerajaan Sorga sama seperti seorang yang mau bepergian ke luar negeri, yang memanggil hamba-hambanya dan mempercayakan hartanya kepada mereka. Yang seorang diberikannya lima talenta, yang seorang lagi dua dan yang seorang lain lagi satu, masing-masing menurut kesanggupannya, lalu ia berangkat\u2026\u201d<\/p>\n<p>Melimpah Berkat Di Dalam Tuhan<\/p>\n<p>Karena Yesus menyebut angka 5, 2 dan 1, orang berpikir bahwa jumlah itu sedikit. Apalagi bila hanya dapat 1. Padahal 1 talenta itu sama dengan 6000 dinar. Nilai 1 dinar itu adalah upah kerja sehari, berarti 6000 dinar itu adalah upah untuk 6000 hari atau 16 tahun bekerja.<br \/>\nKalau upah sehari Rp 200.000, berarti dia mendapatkan Rp 1.2 M sebagai modal usaha. Bagaimana mungkin oleh si penerima 1 talenta dianggap sedikit?<\/p>\n<p>Begitulah jadinya bila orang membandingkan apa yang diterimanya dengan yang diterima orang lain. Mengapa yang lain dapat 2 dan 5 sedangkan saya hanya 1?<br \/>\nSesungguhnya talenta dan anugerah yang Tuhan berikan pada kita sangatlah melimpah. Bila kita bersyukur maka berkat-berkat Tuhan akan berlipat ganda. Itulah yang terjadi dengan mujizat perbanyakan roti dan ikan.<\/p>\n<p>Perumpamaan Yesus tentang talenta dalam Injil hari ini kiranya menjadi pengingat bagi kita betapa Tuhan telah memberi kita hidup yang melimpah dengan pelbagai talenta. Ingatlah bahwa Yesus telah menjadi miskin supaya kita menjadi kaya karena Ia telah memberikan segalanya, seluruh diriNya bagi kita.<br \/>\nMari mengembangkan semua talenta yang Tuhan beri untuk kemuliaan Tuhan dan keselamatan kita. Jangan lupa untuk berbagi berkat.<\/p>\n<p>Selamat berbahagia di akhir pekan, selalu bersyukur atas semua berkat Tuhan.\u2764\ufe0f<br \/>\nPs Revi Tanod Pr<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Kalender Liturgi 30 Agt 2025<br \/>\nSabtu Pekan Biasa XXI<br \/>\nWarna Liturgi: Hijau<br \/>\nBait Pengantar Injil: Yoh 13:34<br \/>\nBacaan Injil: Mat 25:14-30<br \/>\n*************<\/p>\n<p>Bait Pengantar Injil<br \/>\nYoh 13:34<br \/>\nPerintah baru Kuberikan kepadamu, sabda Tuhan;<br \/>\nyaitu supaya kalian saling menaruh cinta kasih,<br \/>\nsebagaimana Aku telah menaruh cinta kasih kepadamu.<\/p>\n<p>Bacaan Injil<br \/>\nMat 25:14-30<br \/>\nKarena engkau setia memikul tanggung-jawab dalam perkara kecil,<br \/>\nmasuklah ke dalam kebahagiaan tuanmu.<\/p>\n<p>Inilah Injil Suci menurut Matius:<\/p>\n<p>Pada suatu hari<br \/>\nYesus mengemukakan perumpamaan berikut<br \/>\nkepada murid-murid-Nya,<br \/>\n&#8220;Hal Kerajaan Surga itu<br \/>\nseperti seorang yang mau bepergian ke luar negeri,<br \/>\nyang memanggil hamba-hambanya<br \/>\ndan mempercayakan hartanya kepada mereka.<\/p>\n<p>Yang seorang diberikannya lima talenta,<br \/>\nyang seorang lagi dua, dan yang seorang lain lagi satu,<br \/>\nmasing-masing menurut kesanggupannya,<br \/>\nlalu ia berangkat.<\/p>\n<p>Segera pergilah hamba yang menerima lima talenta itu.<br \/>\nIa menjalankan uang itu dan memperoleh laba lima talenta.<br \/>\nHamba yang menerima dua talenta pun berbuat demikian,<br \/>\ndan mendapat laba dua talenta.<br \/>\nTetapi hamba yang menerima satu talenta itu pergi<br \/>\ndan menggali lubang di tanah,<br \/>\nlalu menyembunyikan uang tuannya.<\/p>\n<p>Lama kemudian pulanglah tuan hamba-hamba itu,<br \/>\nlalu mengadakan perhitungan dengan mereka.<br \/>\nHamba yang menerima lima talenta datang<br \/>\ndan membawa laba lima talenta.<br \/>\nIa berkata, &#8216;Tuan, lima talenta Tuan percayakan kepadaku.<br \/>\nLihat, aku telah beroleh laba lima talenta.&#8217;<br \/>\nMaka kata tuannya kepadanya,<br \/>\n&#8216;Baik sekali perbuatanmu itu, hamba yang baik dan setia;<br \/>\nengkau telah setia dalam perkara kecil!<br \/>\nAku akan memberikan kepadamu<br \/>\ntanggung jawab dalam perkara yang besar.<br \/>\nMasuklah dan turutlah dalam kebahagiaan tuanmu.<\/p>\n<p>Lalu datanglah hamba yang menerima dua talenta, katanya,<br \/>\n&#8216;Tuan, dua talenta Tuan percayakan kepadaku.<br \/>\nLihat, aku telah mendapat laba dua talenta.&#8217;<br \/>\nMaka kata tuan itu kepadanya,<br \/>\n&#8216;Baik sekali perbuatanmu hamba yang baik dan setia!<br \/>\nKarena engkau telah setia<br \/>\nmemikul tanggung jawab dalam perkara kecil,<br \/>\nmaka aku akan memberikan kepadamu<br \/>\ntanggung jawab dalam perkara yang besar.<br \/>\nMasuklah dan turutlah dalam kebahagiaan tuanmu.<\/p>\n<p>Kini datang juga hamba yang menerima satu talenta dan berkata,<br \/>\n&#8216;Tuan, aku tahu bahwa Tuan adalah manusia kejam,<br \/>\nyang menuai di tempat Tuan tidak menabur,<br \/>\ndan memungut di tempat Tuan tidak menanam.<br \/>\nKarena itu aku takut<br \/>\ndan pergi menyembunyikan talenta Tuan di dalam tanah.<br \/>\nIni, terimalah milik Tuan!&#8217;<\/p>\n<p>Maka tuannya menjawab,<br \/>\n&#8216;Hai engkau, hamba yang jahat dan malas!<br \/>\nEngkau tahu bahwa aku menuai di tempat aku tidak menabur,<br \/>\ndan memungut di tempat aku tidak menanam.<br \/>\nSeharusnya<br \/>\nuangku itu kauberikan kepada orang yang menjalankan uang,<br \/>\nsupaya sekembaliku aku menerima uang itu serta dengan bunganya.<br \/>\nSebab itu ambillah talenta itu dari padanya,<br \/>\ndan berikanlah kepada orang yang mempunyai sepuluh talenta itu.<br \/>\nKarena setiap orang yang mempunyai,<br \/>\nakan diberi sampai ia berkelimpahan,<br \/>\ntetapi siapa yang tidak punya,<br \/>\napa pun yang ada padanya akan diambil.<br \/>\nDan buanglah hamba yang tidak berguna itu<br \/>\nke dalam kegelapan yang paling gelap.<br \/>\nDi sanalah akan ada ratap dan kertak gigi&#8217;.&#8221;<\/p>\n<p>Demikianlah sabda Tuhan.<br \/>\n*************<\/p>\n<p>  \u210d <\/p>\n<p>\u201cKerajaan Sorga sama seperti seorang yang mau bepergian ke luar negeri, yang memanggil hamba-hambanya dan mempercayakan hartanya kepada mereka\u2026 masing-masing menurut kesanggupannya.\u201d [Mat 25: 14. 15b].<\/p>\n<p>Kita renungkan hari ini Perumpamaan tentang Talenta (Mat 25:14-30), di mana Yesus memberikan tantangan sekaligus peringatan. Fokusnya tertuju pada \u201chamba yang tidak berguna,\u201d yaitu hamba yang mengubur talenta yang diterimanya. Hamba ini mewakili para Ahli Taurat dan Farisi, dengan keinginan mereka yang kaku untuk \u201cmenjaga segala sesuatu tetap sama seperti semula\u201d telah membekukan kebenaran hidup Allah. Pikiran mereka yang tertutup menolak pertumbuhan, perubahan, atau gerakan baru Roh Kudus.<\/p>\n<p>Allah tidak memberikan kita karunia untuk disimpan rapat-rapat. Ia mempercayakan kepada setiap orang talenta \u2014 entah banyak atau sedikit \u2014 dengan harapan kita menggunakannya untuk kemuliaan-Nya. Nilai karunia itu tidak diukur menurut besarnya, tetapi dari kesetiaan kita. Sebuah karunia kecil yang digunakan dengan berani jauh lebih besar nilainya di mata Allah daripada karunia besar yang terbuang karena ketakutan dan kemalasan.<\/p>\n<p>William Barclay, dalam komentarnya terhadap perikope ini, menyoroti tiga kebenaran penting: Pertama, karunia Allah berbeda-beda, tetapi panggilan-Nya sama \u2014 untuk memberikan usaha terbaik kita. Kedua, imbalan atas pekerjaan yang tekun dan setia bukanlah istirahat, tetapi tanggung jawab yang lebih besar dalam pelayanan bagi Allah. Kedua hamba yang \u201cbaik dan setia\u201d diundang untuk bermitra lebih dalam dengan Tuan mereka. Ketiga, kegagalan sejati bukanlah mencoba dan gagal, tetapi menolak untuk mencoba sama sekali. Ketakutan terhadap resiko membuat hamba yang memiliki satu talenta tidak melakukan apa-apa, dan itulah kehancurannya.<\/p>\n<p>Akhirnya, perumpamaan ini memberi kita \u201ccara kerja rohani\u201d: semakin kita menggunakan sebuah karunia, semakin kuat dan berkembanglah karunia itu; jika diabaikan, karunia itu akan memudar. Entah karunia itu berupa doa, kedermawanan, pengajaran, atau pelayanan, satu-satunya cara untuk menjaganya agar tetap hidup adalah dengan membagikannya.<\/p>\n<p>Injil mengundang kita untuk memiliki iman yang berani \u2014 iman yang berani mengambil risiko, berinvestasi, dan \u201cmemperbanyak\u201d apa yang telah dipercayakan Allah kepada kita. Mengubur karunia kita berarti menahan karunia itu dari Kerajaan Allah. Kemuridan yang sejati berarti melangkah dengan percaya, sehingga ketika Tuhan kembali, kita dapat mendengar: \u201cBaik sekali perbuatanmu itu, hai hambaku yang baik dan setia!\u201d<\/p>\n<p>Tuhan, semoga aku dapat melakukan yang terbaik dalam segala sesuatu yang telah Kaupercayakan kepadaku, sehingga orang lain dapat melihat dan memuliakan Nama-Mu. Amin.<\/p>\n<p>Selamat berakhir pekan. Mari investasikan talenta dengan melayani! \u24bf\u24c1\u24ca! \u2764\ufe0f<br \/>\n\u2764\ufe0e .<\/p>\n<blockquote class=\"wp-embedded-content\" data-secret=\"P31UKDNWv0\"><p><a href=\"https:\/\/sacerdos2000.com\/iman-yang-berani-mengambil-risiko\/\">Iman yang Berani Mengambil Risiko<\/a><\/p><\/blockquote>\n<p><iframe loading=\"lazy\" class=\"wp-embedded-content\" sandbox=\"allow-scripts\" security=\"restricted\" style=\"position: absolute; visibility: hidden;\" title=\"&#8220;Iman yang Berani Mengambil Risiko&#8221; &#8212; Sacerdos2000\" src=\"https:\/\/sacerdos2000.com\/iman-yang-berani-mengambil-risiko\/embed\/#?secret=cEveJr7U76#?secret=P31UKDNWv0\" data-secret=\"P31UKDNWv0\" width=\"500\" height=\"282\" frameborder=\"0\" marginwidth=\"0\" marginheight=\"0\" scrolling=\"no\"><\/iframe><\/p>\n<p>RP Joni Astanto MSC<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Sabda Kehidupan Sabtu 30 Agustus 2025 Matius 25:14-15 (Mat 25:14-30) \u201dHal Kerajaan Sorga sama seperti seorang yang mau bepergian ke luar negeri, yang memanggil hamba-hambanya dan mempercayakan hartanya kepada mereka. Yang seorang diberikannya lima&#46;&#46;&#46;<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":66662,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[1,20],"tags":[],"class_list":["post-83861","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-bacaan-harian","category-renungan-text"],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/katolikindonesia.org\/wp-content\/uploads\/2024\/12\/ardas-2025.png","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/83861","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=83861"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/83861\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":83862,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/83861\/revisions\/83862"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/66662"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=83861"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=83861"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=83861"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}