{"id":82889,"date":"2025-08-15T13:11:59","date_gmt":"2025-08-15T06:11:59","guid":{"rendered":"https:\/\/katolikindonesia.org\/?p=82889"},"modified":"2025-08-15T13:11:59","modified_gmt":"2025-08-15T06:11:59","slug":"jumat-15-agustus-2025-4","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/katolikindonesia.org\/?p=82889","title":{"rendered":"Jumat, 15 Agustus 2025"},"content":{"rendered":"<p>Sabda Kehidupan<br \/>\nJumat 15 Agustus 2025<br \/>\nMatius 19:5-6 (Mat 19:3-12)<br \/>\n\u201dDan firman-Nya: Sebab itu laki-laki akan meninggalkan ayah dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya itu menjadi satu daging. Demikianlah mereka bukan lagi dua, melainkan satu. Karena itu, apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia.&#8221;<\/p>\n<p>Teruslah Bersatu Dan Bahagia<\/p>\n<p>Atas pertanyaan orang-orang Farisi mengenai perceraian, Yesus mengajak mereka untuk kembali pada hakekat perkawinan yakni kesatuan cinta suami istri sebagai anugerah Allah untuk membahagiakan mereka selamanya.<br \/>\nJanganlah melihat keputusan untuk menikah hanya sebagai pilihan pribadi belaka, atau panggilan kodrati semata. Perkawinan adalah panggilan Allah untuk suami istri agar mengalami kesatuan kasih yang berasal dari Allah Bapa.<br \/>\nPerkawinan bukan hanya bersifat kodrati karena keinginan daging, tapi lebih dalam lagi untuk mengalami kasih Allah dalam relasi yang saling menyempurnakan antara suami istri. Yakni memberi diri satu sama lain.<br \/>\nTeruslah bersatu, saling setia dalam suka dan duka, dalam keadaan sehat maupun sakit, saling mengampuni dan saling mencintai sekalipun terluka.<\/p>\n<p>Ketika Allah menganugerahkan anak-anak sebagai buah kasih suami istri, kasih Allah berlanjut dan kini dialami oleh putra-putri mereka. Demikianlah kasih sayang Allah kepada umatNya menjadi nyata dalam kasih sayang orangtua bagi anak-anaknya.<br \/>\nPanggilan dan perutusan ini sungguh luhur dan mulia karena itu layak diperjuangkan dan dipertahankan sampai mati.<br \/>\nDoa kami untuk semua suami istri, untuk orangtua dan anak-anak yang sedang bergumul mempertahankan keutuhan rumahtangganya. Jangan menyerah! Bila Yesus ada dalam bahtera rumahtangga kita, Ia pasti menolong. Yesus menjadi pemersatu dan teman yang setia. Bila pasangan hidup sudah dipanggil Tuhan, tetaplah berdoa baginya sebagai tanda cinta yang abadi.<br \/>\nDoakan kami juga yang memilih hidup selibat, tidak menikah demi Kerajaan Allah, agar kami tetap setia memberi diri seutuhnya. Persatuan kita dengan Allah Tritunggal Mahakudus dan orang-orang yang Tuhan hadirkan dalam perjalanan hidup kita di dunia ini itulah arti sesungguhnya dari keselamatan. Dan serentak persekutuan ini adalah inti kebahagiaan kita.<\/p>\n<p>Selamat Hari Jumat! Teruslah bersatu dan bahagia. Tuhan Yesus memberkati.\u2764\ufe0f<br \/>\nPs Revi Tanod Pr<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Kalender Liturgi 15 Agt 2025<br \/>\nJumat Pekan Biasa XIX<br \/>\nPF S. Tarsisius, Martir Ekaristi. Pelindung putra-putri altar dan penerima komuni pertama.<br \/>\nWarna Liturgi: Hijau<br \/>\nBait Pengantar Injil: 1Tes 2:13<br \/>\nBacaan Injil: Mat 19:3-12<br \/>\n*************<\/p>\n<p>Bait Pengantar Injil<br \/>\n1Tes 2:13<br \/>\nSambutlah pewartaan ini sebagai sabda Allah,<br \/>\nbukan sebagai perkataan manusia.<\/p>\n<p>Bacaan Injil<br \/>\nMat 19:3-12<br \/>\nKarena ketegaran hatimu Musa mengizinkan kalian menceraikan isterimu,<br \/>\ntetapi semula tidaklah demikian.<\/p>\n<p>Inilah Injil Suci menurut Matius:<\/p>\n<p>Pada suatu hari<br \/>\ndatanglah orang-orang Farisi kepada Yesus, untuk mencobai Dia.<br \/>\nMereka bertanya,<br \/>\n&#8220;Apakah diperbolehkan orang menceraikan isterinya<br \/>\ndengan alasan apa saja?&#8221;<br \/>\nYesus menjawab, &#8220;Tidakkah kalian baca,<br \/>\nbahwa Ia yang menciptakan manusia,<br \/>\nsejak semula menjadikan mereka pria dan wanita?<br \/>\nDan Ia bersabda,<br \/>\n&#8216;Sebab itu pria akan meninggalkan ayah dan ibunya,<br \/>\ndan bersatu dengan isterinya,<br \/>\nsehingga keduanya itu menjadi satu daging.&#8217;<br \/>\nDemikianlah mereka itu bukan lagi dua, melainkan satu.<br \/>\nKarena itu apa yang telah dipersatukan Allah,<br \/>\ntidak boleh diceraikan manusia.&#8221;<\/p>\n<p>Kata mereka kepada Yesus,<br \/>\n&#8220;Jika demikian,<br \/>\nmengapa Musa memerintahkan untuk memberi surat cerai<br \/>\njika orang menceraikan isterinya?&#8221;<br \/>\nKata Yesus kepada mereka,<br \/>\n&#8220;Karena ketegaran hatimu<br \/>\nMusa mengizinkan kalian menceraikan isterimu,<br \/>\ntetapi sejak semula tidaklah demikian.<br \/>\nTetapi Aku berkata kepadamu,<br \/>\n&#8216;Barangsiapa menceraikan isterinya, kecuali karena zinah,<br \/>\nlalu kawin dengan wanita lain, ia berbuat zinah.&#8217;<\/p>\n<p>Maka murid-murid berkata kepada Yesus,<br \/>\n&#8220;Jika demikian halnya hubungan antara suami dan isteri,<br \/>\nlebih baik jangan kawin.&#8221;<br \/>\nAkan tetapi Yesus berkata kepada mereka,<br \/>\n&#8220;Tidak semua orang dapat mengerti perkataan itu,<br \/>\nhanya mereka yang dikaruniai saja.<br \/>\nAda orang yang tidak dapat kawin<br \/>\nkarena ia memang lahir demikian dari rahim ibunya;<br \/>\ndan ada orang yang dijadikan demikian oleh orang lain;<br \/>\ndan ada orang yang membuat dirinya demikian<br \/>\nkarena kemauannya sendiri, demi Kerajaan Surga.<br \/>\nSiapa yang dapat mengerti, hendaklah ia mengerti.&#8221;<\/p>\n<p>Demikianlah sabda Tuhan.<br \/>\n**************<\/p>\n<p>  \u210d <\/p>\n<p>\u201cApa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia.\u201d (Mat 19: 6)<\/p>\n<p>Di masa kini sering muncul pertanyaan, dapatkah dua orang benar-benar hidup bersama satu sama lain sebagai suami dan istri sampai mati? Melihat banyaknya perpisahan dan pernikahan yang gagal, generasi masa kini banyak yang mengatakan bahwa hal itu tidak mungkin. Karena itu, banyak negara yang melegalkan perceraian. Permintaannya terlalu banyak. Tapi apakah ini sekadar masalah angka? Bagaimana dengan mereka yang tetap bersama dan dapat dikatakan \u201cberhasil\u201d dalam pernikahan mereka? Pada kenyataannya, jumlah mereka jauh lebih banyak daripada yang telah berpisah.<\/p>\n<p>Sebagai seorang imam selama dua puluh lima tahun, memang tidak banyak pasangan yang saya berkati pernikahannya. Mungkin karena saya tidak berkarya di paroki. Dari semua yang saya berkati tak ada yang memberi kabar bahwa mereka sudah berpisah. Ada beberapa pasangan yang datang mengeluh tentang hidup perkawinan mereka, sejauh ini belum ada juga yang datang kembali dan mengatakan sudah berpisah.<\/p>\n<p>Apa yang bisa kita katakan tentang mereka yang telah menikah selama dua puluh lima, tiga puluh, empat puluh, dan lima puluh tahun atau bahkan lebih? Mereka adalah orang-orang biasa yang saling mengasihi dan menempatkan Tuhan sebagai pusat kehidupan pernikahan mereka. Sayangnya, saat ini, pernikahan yang baik dianggap sebagai pengecualian. Kenyataannya, masih banyak orang yang tetap menikah. Hanya sedikit yang bercerai atau berpisah, hanya mereka lebih berisik dan lebih heboh saja. Pernikahan, seperti yang diajarkan oleh Kitab Kejadian dan Injil, adalah hal yang suci dan tidak dapat dibubarkan dengan cara hukum atau cara manusiawi apa pun.<\/p>\n<p>Pasangan dapat menjalani pernikahan mereka \u2013 bukan tanpa banyak kesulitan tetapi dengan banyak bantuan dari Tuhan. Mungkin ada pasangan yang pada dasarnya tidak dapat didamaikan. Tetapi itu sangat jarang dan seharusnya menjadi pengecualian. Menyetujui perceraian sebagai jalan keluar nampaknya jadi jalan pintas. Walau demikian, kita berempati juga kepada mereka yang telah berpisah atau bercerai. Nasihat apostolik mendiang Paus Fransiskus tentang cinta dalam keluarga, Amoris Laetitia, membantu kita untuk memahami tantangan yang dihadapi pasangan yang sudah menikah dan bagaimana pernikahan mereka dapat hancur karena berbagai alasan.<\/p>\n<p>Pernikahan bukan hanya sebuah persatuan sekuler yang menghiasi keluarga dengan anak-anak, tetapi juga sebuah persatuan rohani yang memperkaya Gereja dengan para anggotanya. Ini adalah sebuah panggilan untuk melayani umat manusia melalui keluarga. Ini adalah sebuah tindakan penyelamatan yang dihasilkan dari ketaatan pada perintah-perintah Allah.<\/p>\n<p>Apa peran Tuhan dalam pernikahan dan kehidupan keluarga Anda? Apakah Tuhan menjadi pusat hidup keluarga anda?<\/p>\n<p>Tuhan, lindungilah pernikahan dan keluarga-keluarga kami dari segala serangan jahat. Amin.<\/p>\n<p>Selamat hari Jumat penuh berkat. \u24bf\u24c1\u24ca! \u2764\ufe0f<br \/>\n[\u2661.]<\/p>\n<blockquote class=\"wp-embedded-content\" data-secret=\"FXc3leTQxh\"><p><a href=\"https:\/\/sacerdos2000.com\/tuhan-dalam-keluarga\/\">Tuhan dalam Keluarga<\/a><\/p><\/blockquote>\n<p><iframe loading=\"lazy\" class=\"wp-embedded-content\" sandbox=\"allow-scripts\" security=\"restricted\" style=\"position: absolute; visibility: hidden;\" title=\"&#8220;Tuhan dalam Keluarga&#8221; &#8212; Sacerdos2000\" src=\"https:\/\/sacerdos2000.com\/tuhan-dalam-keluarga\/embed\/#?secret=c8J71XRpwT#?secret=FXc3leTQxh\" data-secret=\"FXc3leTQxh\" width=\"500\" height=\"282\" frameborder=\"0\" marginwidth=\"0\" marginheight=\"0\" scrolling=\"no\"><\/iframe><\/p>\n<p>RP Joni Astanto MSC<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Sabda Kehidupan Jumat 15 Agustus 2025 Matius 19:5-6 (Mat 19:3-12) \u201dDan firman-Nya: Sebab itu laki-laki akan meninggalkan ayah dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya itu menjadi satu daging. Demikianlah mereka bukan lagi&#46;&#46;&#46;<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":66662,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[1,20],"tags":[],"class_list":["post-82889","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-bacaan-harian","category-renungan-text"],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/katolikindonesia.org\/wp-content\/uploads\/2024\/12\/ardas-2025.png","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/82889","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=82889"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/82889\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":82890,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/82889\/revisions\/82890"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/66662"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=82889"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=82889"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=82889"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}