{"id":82698,"date":"2025-08-12T07:19:53","date_gmt":"2025-08-12T00:19:53","guid":{"rendered":"https:\/\/katolikindonesia.org\/?p=82698"},"modified":"2025-08-12T07:19:53","modified_gmt":"2025-08-12T00:19:53","slug":"selasa-12-agustus-2025-5","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/katolikindonesia.org\/?p=82698","title":{"rendered":"Selasa, 12 Agustus 2025"},"content":{"rendered":"<p>Sabda Kehidupan<br \/>\nSelasa 12 Agustus 2025<br \/>\nMatius 18:1-4 (Mat 18:1-5, 10, 12-14)<br \/>\nPada waktu itu datanglah murid-murid itu kepada Yesus dan bertanya: &#8220;Siapakah yang terbesar dalam Kerajaan Sorga?&#8221; Maka Yesus memanggil seorang anak kecil dan menempatkannya di tengah-tengah mereka lalu berkata: &#8220;Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jika kamu tidak bertobat dan menjadi seperti anak kecil ini, kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga.\u201d<\/p>\n<p>Menjadi Anak Kecil Allah<\/p>\n<p>Pertanyaan para rasul \u2018siapakah yang paling besar\u2019 sama dengan pertanyaan siapakah yang paling hebat, siapakah yang paling tinggi, dan seterusnya.<br \/>\nSesungguhnya pertanyaan ini datang dari rasa takut dianggap kecil dan tak berarti. Takut direndahkan dan takut dianggap biasa-biasa saja. Ketakutan ini muncul karena dunia tempat kita hidup lebih mengutamakan yang besar, hebat dan berkuasa.<br \/>\nDi rumah dan di sekolah kita dibanding-bandingkan dengan orang lain yang lebih pintar, lebih berpreatasi, membuat kita berkecil hati. Kita berkecil hati karena yang dipuji adalah mereka yang pintar dan berprestasi. Nilai raport kita seakan mewakili identitas kita, siapakah diri kita yang sebenarnya.<br \/>\nItulah sebabnya orang takut dibilang kecil, payah, tak tahu apa-apa. Hidup dalam situasi penuh tekanan seperti ini membuat seseorang melihat orang lain atau kelompok lain sebagai ancaman, saingan, bahkan musuh yang merongrong kebesarannya, kehebatannya, ketenarannya, bahkan kekuasaannya.<\/p>\n<p>Yesus tidak ingin kita tergoda dengan pertanyaan \u2018siapakah yang terbesar\u2019. Kata Yesus, \u201cbarangsiapa merendahkan diri dan menjadi seperti anak kecil ini, dialah yang terbesar dalam Kerajaan Sorga.\u201d<br \/>\nYesus menghendaki kita menjadi seperti anak kecil di hadapan Bapa di surga. Allah tidak menuntut kita untuk menjadi yang paling besar dan paling hebat karena identitas diri kita sebagai anak Allah itulah jati diri kita yang sebenarnya. Kita bermegah hanya di dalam Allah yang memberi kita kekuatan.<\/p>\n<p>Melalui rasul Paulus, Yesus menyapa kita, \u201cCukuplah kasih karunia-Ku bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna.&#8221; Sebab itu terlebih suka aku bermegah atas kelemahanku, supaya kuasa Kristus turun menaungi aku.\u201d (2 Kor 12:9)<br \/>\nKebesaran kita bukan terletak pada kekuatan dan kemampuan kita dibandingkan dengan yang lain, tapi pada kasih sayang Bapa. Ia tak ingin kita merasa kecil dibanding yang lain lalu lari menyendiri. Bapa tak ingin kita hilang, karena betapa berarti kita di mata Allah. Kita adalah anak kesayanganNya, maka jadilah anak kecil Allah, yang menaruh kepercayaan penuh pada kasih sayang Bapa di surga, bersandar selalu padaNya dan bermegah hanya dalam Dia.<\/p>\n<p>Selamat hari Selasa. Jangan takut dan cemas, Allah Bapa memegang tangan kita.\u2764\ufe0f<br \/>\nPs Revi Tanod Pr<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Kalender Liturgi 12 Agt 2025<br \/>\nSelasa Pekan Biasa XIX<br \/>\nPF S. Yohana Frasiska dari Chantal<br \/>\nWarna Liturgi: Hijau<br \/>\nBait Pengantar Injil: Mat 11:29ab<br \/>\nBacaan Injil: Mat 18:1-5.10.12-14<br \/>\n************<\/p>\n<p>Bait Pengantar Injil<br \/>\nMat 11:29ab<br \/>\nTerimalah beban-Ku dan belajarlah daripada-Ku,<br \/>\nsebab Aku lemah lembut dan rendah hati.<\/p>\n<p>Bacaan Injil<br \/>\nMat 18:1-5.10.12-14<br \/>\nIngatlah, jangan menganggap rendah seorang pun dari anak-anak ini.<\/p>\n<p>Inilah Injil Suci menurut Matius:<\/p>\n<p>Sekali peristiwa<br \/>\ndatanglah murid-murid dan bertanya kepada Yesus,<br \/>\n&#8220;Siapakah yang terbesar dalam Kerajaan Surga?&#8221;<br \/>\nMaka Yesus memanggil seorang anak kecil,<br \/>\ndan menempatkannya di tengah-tengah mereka, lalu berkata,<br \/>\n&#8220;Aku berkata kepadamu:<br \/>\nSungguh,<br \/>\njika kalian tidak bertobat dan menjadi seperti anak kecil ini,<br \/>\nkalian tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Surga.<\/p>\n<p>Sedangkan barangsiapa merendahkan diri<br \/>\ndan menjadi seperti anak kecil ini,<br \/>\ndialah yang terbesar dalam Kerajaan Surga.<br \/>\nDan barangsiapa menyambut seorang anak seperti ini<br \/>\ndalam nama-Ku,<br \/>\nia menyambut Aku.<\/p>\n<p>Ingatlah,<br \/>\njangan menganggap rendah seorang pun dari anak-anak kecil ini.<br \/>\nKarena Aku berkata kepadamu:<br \/>\nMalaikat-malaikat mereka di surga<br \/>\nselalu memandang wajah Bapa-Ku yang di surga.&#8221;<\/p>\n<p>Lalu Yesus bersabda lagi,<br \/>\n&#8220;Bagaimana pendapatmu?<br \/>\nJika seorang mempunyai seratus ekor domba<br \/>\ndan seekor di antaranya sesat,<br \/>\ntidakkah ia akan meninggalkan yang sembilan puluh sembilan ekor di pegunungan<br \/>\nlalu pergi mencari yang sesat itu?<br \/>\nDan Aku berkata kepadamu,<br \/>\nsungguh, jika ia berhasil menemukannya,<br \/>\nlebih besar kegembiraannya atas yang seekor itu<br \/>\ndaripada atas yang kesembilan puluh sembilan ekor yang tidak sesat.<br \/>\nDemikian juga<br \/>\nBapamu yang di surga tidak menghendaki seorang pun dari<br \/>\nanak-anak ini hilang.&#8221;<\/p>\n<p>Demikianlah sabda Tuhan.<br \/>\n*************<\/p>\n<p>  \u210d <\/p>\n<p>\u201cAku berkata kepadamu, sesungguhnya jika kamu tidak bertobat dan menjadi seperti anak kecil ini, kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga. Sedangkan barangsiapa merendahkan diri dan menjadi seperti anak kecil ini, dialah yang terbesar dalam Kerajaan Sorga.\u201d [Mat 18: 3 \u2013 4]<\/p>\n<p>Tuhan berbicara tentang menjadi yang terbesar hari ini. Sebagai guru yang praktis dan bijaksana, Dia menempatkannya seorang anak kecil di tengah-tengah para murid agar semua orang melihatnya, dan menekankan pelajaran sekaligus peringatan: &#8220;Jika kamu tidak bertobat dan menjadi seperti anak kecil&#8230;&#8221;<\/p>\n<p>Jadi, apakah Dia berbicara tentang menjadi besar atau tentang jalan masuk ke dalam Kerajaan Sorga? Di salah satu gerbang kota Yerusalem kuno, terdapat apa yang disebut &#8220;lubang jarum&#8221;, sebuah pintu yang sangat kecil yang hanya memungkinkan satu orang masuk pada satu waktu. Gerbang besar umumnya ditutup pada malam hari, sementara pintu kecil itu dapat dibuka oleh penjaga. Orang yang menunggang kuda tidak dapat masuk. Orang yang membawa terlalu banyak barang, seperti barang bawaan yang menggembung, juga tidak dapat masuk. Seseorang harus melepaskan barang bawaanya, membungkuk, dan menyingkirkan segala macam beban dari tubuhnya sebelum ia dapat masuk. Seseorang harus benar-benar \u201cramping dan langsing\u201d agar dapat masuk. Orang yang sombong dengan membawa begitu banyak barang tidak akan muat.<\/p>\n<p>Ya, Tuhan sedang berbicara tentang dua sifat yang tampaknya kontradiktif yang akan memungkinkan seseorang masuk ke dalam Kerajaan Surga: kerendahan hati, yang Ia kaitkan dengan kebesaran.<\/p>\n<p>Orang dewasa seperti Anda dan saya bisa sangat rumit. Anak-anak tidak rumit. Mereka memiliki selera dan kebutuhan yang sederhana. Ketika seorang anak bahagia, seluruh dirinya bahagia; ketika seorang anak marah, seluruh dirinya juga marah. Tidak ada kepura-puraan, tidak ada yang mengatakan &#8220;ya&#8221; padahal sebenarnya bermaksud &#8220;tidak.&#8221; Apa yang Anda lihat itulah yang sesungguhnya. Apa yang Ia katakan adalah apa yang Ia maksudkan dan apa yang Ia maksudkan adalah apa yang Ia katakan. Seorang anak sederhana dan tidak rumit.<\/p>\n<p>Tetapi di atas segalanya, seorang anak pada umumnya lemah lembut. Kesederhanaannya yang menawanlah yang memungkinkan ia masuk ke dalam hati setiap orang. Ia datang apa adanya, tanpa pedang dan pisau terhunus, dan jelas tanpa agenda tersembunyi. &#8220;Barangsiapa yang menjadi rendah hati seperti anak kecil itu, dialah yang terbesar dalam Kerajaan Surga.&#8221;<\/p>\n<p>Ya Tuhan, bantulah aku untuk kembali memiliki kesederhanaan dan kepolosan seorang anak. Amin.<\/p>\n<p>Selamat beraktivitas. Mari belajar rendah hati. \u24bf\u24c1\u24ca! \u2764\ufe0f<br \/>\n[.]<\/p>\n<blockquote class=\"wp-embedded-content\" data-secret=\"hiNwNfHzWv\"><p><a href=\"https:\/\/sacerdos2000.com\/kebesaran-dan-kerendahan-hati\/\">Kebesaran dan Kerendahan Hati<\/a><\/p><\/blockquote>\n<p><iframe loading=\"lazy\" class=\"wp-embedded-content\" sandbox=\"allow-scripts\" security=\"restricted\" style=\"position: absolute; visibility: hidden;\" title=\"&#8220;Kebesaran dan Kerendahan Hati&#8221; &#8212; Sacerdos2000\" src=\"https:\/\/sacerdos2000.com\/kebesaran-dan-kerendahan-hati\/embed\/#?secret=4GeBFsQQTT#?secret=hiNwNfHzWv\" data-secret=\"hiNwNfHzWv\" width=\"500\" height=\"282\" frameborder=\"0\" marginwidth=\"0\" marginheight=\"0\" scrolling=\"no\"><\/iframe><\/p>\n<p>RP Joni Astanto MSC<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Sabda Kehidupan Selasa 12 Agustus 2025 Matius 18:1-4 (Mat 18:1-5, 10, 12-14) Pada waktu itu datanglah murid-murid itu kepada Yesus dan bertanya: &#8220;Siapakah yang terbesar dalam Kerajaan Sorga?&#8221; Maka Yesus memanggil seorang anak kecil&#46;&#46;&#46;<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":66662,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[1,20],"tags":[],"class_list":["post-82698","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-bacaan-harian","category-renungan-text"],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/katolikindonesia.org\/wp-content\/uploads\/2024\/12\/ardas-2025.png","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/82698","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=82698"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/82698\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":82699,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/82698\/revisions\/82699"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/66662"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=82698"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=82698"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=82698"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}