{"id":82237,"date":"2025-08-05T10:46:47","date_gmt":"2025-08-05T03:46:47","guid":{"rendered":"https:\/\/katolikindonesia.org\/?p=82237"},"modified":"2025-08-05T10:46:47","modified_gmt":"2025-08-05T03:46:47","slug":"selasa-05-agustus-2025-5","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/katolikindonesia.org\/?p=82237","title":{"rendered":"Selasa, 05 Agustus 2025"},"content":{"rendered":"<p>Sabda Kehidupan<br \/>\nSelasa 05 Agustus 2025<br \/>\nMatius 14:28 (Mat 14:22-33)<br \/>\nLalu Petrus berseru dan menjawab Dia: &#8220;Tuhan, apabila Engkau itu, suruhlah aku datang kepada-Mu berjalan di atas air.&#8221;<\/p>\n<p>Berani Mencoba!<\/p>\n<p>Banyak pesan yang bisa kita petik dan renungkan dari kisah Injil hari ini tentang Yesus yang dapat berjalan di atas air. Tapi kali ini mari kita renungkan sejenak satu hal yang menarik dalam pribadi Petrus: berani mencoba!<br \/>\nPetrus penasaran melihat bahwa Yesus bisa berjalan di atas air. Maka ia-pun meminta kepada Yesus agar ia juga dapat melakukannya. Yesus-pun mengiyakannya. Tapi karena fokus pada tiupan angin yang kencang dan bukannya fokus pada Yesus, ia-pun mulai ragu dan cemas lalu mulai tenggelam. Petrus lalu berteriak minta tolong dan Yesus mengulurkan tanganNya menarik Petrus keluar dari air.<\/p>\n<p>Dalam pembelajaran di sekolah, seorang murid yang berani mencoba sesuatu yang baru, pasti akan mendapat pelajaran yang sangat berguna baginya untuk bertumbuh dan berkembang ke arah yang lebih baik. Ia mampu keluar dari zona nyaman dan berani menghadapi perubahan. Ia mampu menantang diri sendiri untuk mencoba hal-hal yang baru di luar kebiasaan.<br \/>\nBanyak orang tidak berani keluar dari zona nyaman, mencoba sesuatu yang baru karena takut gagal atau takut salah. Padahal kalau kita tidak berani mencoba maka kita tidak akan menemukan hal-hal yang baru bahkan tidak pernah belajar.<br \/>\nLebih baik mencoba dan gagal daripada tidak sama sekali. Ingatlah kita punya perisai iman yang memberanikan kita untuk mencoba.<\/p>\n<p>Yakinlah bahwa Yesus ada beserta kita. Ia selalu mengulurkan tangan untuk membantu.<br \/>\nIa selalu bersabda, \u201cTenanglah, Aku ini, jangan takut!\u201d Dengarkanlah suara Yesus di hati untuk menguatkan kita. \u201cAyo kamu bisa!\u201d Jangan dengar teriakan orang di sekitar yang merendahkan, meremehkan atau bahkan melecehkan. Bukan soal berapa kali kita gagal, tapi berapa kali kita mencoba dan bangkit lagi, itulah yang penting. Mari beriman seperti anak kecil yang selalu berani mencoba yang baru.<\/p>\n<p>Selamat mencoba, Yesus siap sedia menolong kita.\u2764\ufe0f<br \/>\nPs Revi Tanod Pr<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Kalender Liturgi 05 Agt 2025<br \/>\nSelasa Pekan Biasa XVIII<br \/>\nPF Pemberkatan Gereja Basilik SP Maria<br \/>\nWarna Liturgi: Hijau<br \/>\nBait Pengantar Injil: Yoh 1:49b<br \/>\nBacaan Injil: Mat 14:22-36<br \/>\n************<\/p>\n<p>Bait Pengantar Injil<br \/>\nYoh 1:49b<br \/>\nRabi, Engkau Anak Allah,<br \/>\nEngkaulah raja israel.<\/p>\n<p>Bacaan Injil<br \/>\nMat 14:22-36<br \/>\nTuhan, suruhlah aku datang kepada-Mu dengan berjalan di atas air.<\/p>\n<p>Inilah Injil Suci menurut Matius:<\/p>\n<p>Sekali peristiwa, setelah mengenyangkan orang banyak dengan roti,<br \/>\nYesus segera menyuruh murid-murid-Nya naik perahu<br \/>\ndan mendahului-Nya ke seberang,<br \/>\nsementara Ia menyuruh orang banyak pulang.<br \/>\nDan setelah orang banyak itu disuruh pergi<br \/>\nYesus mendaki bukit untuk berdoa seorang diri.<br \/>\nKetika hari sudah malam, Ia seorang diri di situ.<br \/>\nPerahu para murid sudah beberapa mil jauhnya dari pantai<br \/>\ndan diombang-ambingkan gelombang, karena angin sakal.<\/p>\n<p>Kira-kira jam tiga malam<br \/>\ndatanglah Yesus kepada mereka berjalan di atas air.<br \/>\nMelihat Dia berjalan di atas air,<br \/>\npara murid terkejut dan berseru, &#8220;Itu hantu!&#8221;<br \/>\nDan mereka berteriak ketakutan.<br \/>\nTetapi Yesus segera menyapa mereka, kata-Nya,<br \/>\n&#8220;Tenanglah! Akulah ini, jangan takut!&#8221;<br \/>\nLalu Petrus berseru,<br \/>\n&#8220;Tuhan, jika benar Tuhan sendiri,<br \/>\nsuruhlah aku datang kepada-Mu dengan berjalan di atas air.&#8221;<br \/>\nKata Yesus, &#8220;Datanglah!&#8221;<\/p>\n<p>Maka Petrus turun dari perahu dan berjalan di atas air<br \/>\nmendapatkan Yesus.<br \/>\nTetapi ketika dirasakannya tiupan angin kencang,<br \/>\nPetrus menjadi takut dan mulai tenggelam lalu berteriak,<br \/>\n&#8220;Tuhan, tolonglah aku!&#8221;<br \/>\nSegera Yesus mengulurkan tangan-Nya, memegang dia dan berkata,<br \/>\n&#8220;Orang kurang percaya! Mengapa engkau bimbang?&#8221;<br \/>\nKeduanya lalu naik ke perahu dan redalah angin.<br \/>\nDan mereka yang ada di perahu menyembah Dia, katanya,<br \/>\n&#8220;Sungguh, Engkau Anak Allah.&#8221;<\/p>\n<p>Setibanya di seberang mereka mendarat di Genesaret.<br \/>\nBegitu Yesus dikenal oleh orang-orang setempat,<br \/>\nmereka memberitahukannya ke seluruh daerah.<br \/>\nMaka semua orang sakit dibawa kepada-Nya.<br \/>\nMereka memohon,<br \/>\nsupaya diperkenankan menjamah jumbai jubah-Nya.<br \/>\nDan semua orang yang menjamah Dia menjadi sembuh.<\/p>\n<p>Demikianlah sabda Tuhan.<br \/>\n*************<\/p>\n<p>  \u210d <\/p>\n<p>Perahu murid-murid-Nya sudah beberapa mil jauhnya dari pantai dan diombang-ambingkan gelombang, karena angin sakal. Kira-kira jam tiga malam datanglah Yesus kepada mereka berjalan di atas air. Ketika murid-murid-Nya melihat Dia berjalan di atas air, mereka terkejut dan berseru: &#8220;Itu hantu!&#8221;, lalu berteriak-teriak karena takut. Tetapi segera Yesus berkata kepada mereka: &#8220;Tenanglah! Aku ini, jangan takut!&#8221; [Mat 14: 24 \u2013 27]<\/p>\n<p>Dalam Injil hari ini, Matius memberi kita gambaran Gereja \u2014 sebuah perahu yang terombang-ambing dalam kegelapan, berjuang melawan ombak yang kuat. Ini bukan sekadar kisah tentang peristiwa masa lalu; ini adalah katekese simbolis, yang berbicara langsung kepada kita hari ini.<\/p>\n<p>Komunitas Kristen purba Matius, seperti komunitas kita, mengalami ketegangan seperti kita, sedang mengalami ketegangan internal, ketakutan, dan kebingungan. Para murid di perahu mewakili Gereja. Mereka merasa tidak pasti, sedang berjuang, dan merasa sendirian. Yesus tidak lagi terlihat bersama mereka \u2014 Dia telah \u201cnaik ke gunung\u201d untuk bersama Bapa, simbol wafat dan kemuliaan-Nya. Malam telah tiba. Cahaya seolah-olah telah hilang.<\/p>\n<p>Betapa familiar rasanya hal ini. Kita pun berlayar melalui badai \u2014 konflik di paroki kita, iman yang menurun, perpecahan, skandal, keraguan. Terkadang, kita merasa bingung dan ditinggalkan. Namun, sama seperti Yesus mendekati para murid dengan berjalan di atas laut, Dia mendekati kita di tengah kekacauan dan kegalauan. Dia tidak pernah absen. Dia adalah Tuhan atas gelombang. Seperti yang dikatakan dalam Ayub 9:8, \u201cHanya Allah yang berjalan di atas laut.\u201d Yesus, yang telah bangkit, dengan tenang melangkah di atas ketakutan kita dan berkata, \u201cTenanglah! Aku ini. Jangan takut!\u201d<\/p>\n<p>Tetapi apakah kita mengenali-Nya? Seperti para murid, kita mungkin salah mengira kehadiran-Nya sebagai \u201chantu\u201d \u2013 kehadiran-Nya kita rasakan seperti sebuah gagasan yang samar, bukan kenyataan yang nyata. Ketika kita gagal melihat-Nya melalui mata iman, kita panik dan tenggelam.<\/p>\n<p>Injil ini menantang kita untuk memperdalam iman kita akan kehadiran Kristus yang nyata, meskipun tak terlihat, di tengah-tengah kita \u2014 dalam doa, dalam Ekaristi, dan dalam diri satu sama lain. Dia tidak meninggalkan kita. Janji-Nya kekal: &#8220;Aku menyertai kamu senantiasa.&#8221;<\/p>\n<p>Dalam kegelapan Gereja kita dan pergumulan pribadi, marilah kita berpegang teguh pada seruan-Nya. \u201cTenanglah! Aku ini. Jangan takut!\u201d Dia ada di sini. Kita tidak pernah sendirian.<\/p>\n<p>Ya Tuhan, ketika imanku melemah, selamatkanlah aku. Tambahkan imanku. Amin.<\/p>\n<p>Selamat beraktivitas. Jangan takut! JLU!<br \/>\n[\u2661.] \u2764\ufe0f<\/p>\n<blockquote class=\"wp-embedded-content\" data-secret=\"G1uE3HVOp5\"><p><a href=\"https:\/\/sacerdos2000.com\/aku-ini-jangan-takut\/\">Aku Ini, Jangan Takut!<\/a><\/p><\/blockquote>\n<p><iframe loading=\"lazy\" class=\"wp-embedded-content\" sandbox=\"allow-scripts\" security=\"restricted\" style=\"position: absolute; visibility: hidden;\" title=\"&#8220;Aku Ini, Jangan Takut!&#8221; &#8212; Sacerdos2000\" src=\"https:\/\/sacerdos2000.com\/aku-ini-jangan-takut\/embed\/#?secret=v0bhqb6vVP#?secret=G1uE3HVOp5\" data-secret=\"G1uE3HVOp5\" width=\"500\" height=\"282\" frameborder=\"0\" marginwidth=\"0\" marginheight=\"0\" scrolling=\"no\"><\/iframe><\/p>\n<p>RP Joni Astanto MSC<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Sabda Kehidupan Selasa 05 Agustus 2025 Matius 14:28 (Mat 14:22-33) Lalu Petrus berseru dan menjawab Dia: &#8220;Tuhan, apabila Engkau itu, suruhlah aku datang kepada-Mu berjalan di atas air.&#8221; Berani Mencoba! Banyak pesan yang bisa&#46;&#46;&#46;<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":66662,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[1,20],"tags":[],"class_list":["post-82237","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-bacaan-harian","category-renungan-text"],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/katolikindonesia.org\/wp-content\/uploads\/2024\/12\/ardas-2025.png","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/82237","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=82237"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/82237\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":82238,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/82237\/revisions\/82238"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/66662"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=82237"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=82237"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=82237"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}